
❤️❤️❤️❤️
"Hooollee holleee om Iqbal menang!!!" Teriak Lira saat motor Iqbal sampai di titik finis pertama.
Galuh nyamperin Iqbal dan langsung memeluknya. Spontan, gue langsung raih kepalanya Lira buat ngeharap gue. Jangan sampae anak cantik gue liat yang begituan.
"Anjjiiinngg!!! Gue nggak terima ini. Elo pasti main curang kan!!!" Teriak Varo saat sampai di area finis.
"Varo, elo udah kalah masih aja nggak terima ya!!! Padahal ini semua ide elo kan??!!" Galuh teriak-teriak belain Iqbal.
Lira celikukan seperti nyariin sesuatu.
"Lira nyariin apa?" tanya gue.
"Tadi om itu bilang ada anjiing kan pa? kok Lila nggak liat?" pertanyaan polosnya.
Hadeeeewww bingung mau jawab gimana. Gue garuk-garuk kepala sambil nyari ide.
Pprraaakkk!!!
Vero banting helm yang tadi dia pakae. Dia deketin Iqbal dan langsung jotos pipinya Iqbal.
Gue udah liat bau-bau nggak beres disini. Gue dan Haikal bawa anak-anak masuk ke mobil.
"Lira didalam dulu sama Duta ya. nggak boleh keluar."
"Papa mau kemana?"
"Papa mau bantuin temen-temen papa dulu. Kasian mereka."
"Emang meleka kenapa pa?"
"Mereka lagi main free fire." jawab sekenanya.
"mirip yang di hape papa itu ya?" Pasti anak gue inget game perang-perangan di hape gue yang emang namanya free fire.
"Anggap aja iya. Lira disini sama Duta ya." Gue natap Duta. "Duta, tolong jagain Lira ya. kalian nggak boleh keluar dari mobil."
"Iya om." Iisshh ini Duta punya jiwa pelindung. "Papi hati-hati ya." Dia ngomong sama Haikal.
"Iya sayang. kamu jangan kemana-mana ya. Disini aja sama Lira." pesan Haikal pada anaknya.
"Iya pi."
Pas kita mau pergi, Galuh datang. "Bantuin mereka gih."
"Jagain anak gue ya." pinta gue.
"Iya, mereka aman sama gue." Galuh ikutan masuk kedalam mobil.
Agak tenang ada yang jagain anak-anak. Gue dan Haikal langsung lari ke TKP. Kita ngebantuin yang lainnya. Gue dah lama banget nggak tawuran kek gini. Rasanya kangen dan ada kesenangan tersendiri.
__ADS_1
Eros ngelemparin sebatang kayu ke gue. Dengan sigap gue nangkap kayunya. Dan langsung gue gebukin ke kaki lawan. Dia kaya'nya patah tulang deh. Kok langsung lumpuh gitu sih. Aaahh bodo amat. Gue kan lagi tawuran, itu sih nggak penting.
Sekitar 45 menit tawuran berlangsung. Gengnya Varo udah bisa dinyatakan kalah. Dan mereka semua menyerah lalu pergi.
Gue ngos ngosan, lama nggak gelud. Ternyata capek banget. Kaos gue sampae basah karna keringat dan ada beberapa bercak darahnya si lawan. Sebenarnya yang bikin capek tuh karna gue ngehindari pukulannya lawan di wajah gue.
Ya kali gue pulang dengan wajah yang buruk rupa. Yang ada gue bakal diomelin 7 hari 7 malam nggak abis-abis.
"Hoolleee hhooolllee papa menang plee pile!!" Itu teriakan anak gadis gue. Gue langsung ketawa kecil. Aaiisshh anak gue udah tau gelud.
Dia lari kearah gue dan gue langsung peluk dia. Gue gendong kaya' tadi.
"Lira seneng ya?"
"Seneng dong. Papa hebat. Papa jagoan. Milip kapten Amelica itu."
"Eh tapi Lira nggak boleh cerita sama Mama ya. Papa bisa di marahin."
"Iya pa. Lila nggak celita. Lila nggak mau liat papa di malahin mama."
"Anak papa pinter deh." Gue cubit hidungnya Lira.
"Kal, ke mall bentar yuk." ajak gue ke Haikal.
"Ngapain Re?"
"Gue mau beli baju. ya kali gue pulang pake baju begini. Bisa-bisa nggak dikasih jatah tiap malam."
Haikal ketawa kecil. "Duta, kita ke mall bentar ya, nemenin papanya Lira beli baju." dia ngomong sama anaknya.
"Iya pi."
Nggak lama, kita sampai di mall. Gue nuntun Lira masuk buat beli baju. Tapi Duta ngajakin mampir ke kedai ice cream yang ada di depan mall. Ya udah, gue masuk milih maju sendiri. Lira gue titipin ke Haikal bentar.
Saat udah dapat bajunya, gue bayar dan langsung gue pakae. Baju gue yang tadi, gue buang di tong sampah. Sayang emang, itu kaos baru gue pakai 2 kali. Tapi lebih sayang lagi kalo kena omel bini.
"Re!!"
Baru aja keluar dari ruang ganti, gue dah dengar suara cempreng seorang wanita.
"MasyaAlloh, cubung!! Lo bikin jantungan aja." Gue ngelus dada. Tiara berdiri di depan gue dengan nenteng tas kecil tapi keliatan sangat mahal.
"Lama nggak ketemu ya. Elo tambah ganteng aja." Mulai dia keliatan aslinya yang agresif dan centil. Dia dah jalan mau raih lengan gue.
"Stoop!!! Jangan sentuh gue ya!! gue nggak mau anak gue liat."
"Anak??!!" Tiara mastiin. lalu dia ketawa. "Bercanda nya nggak masuk akal banget.
"Siapa yang bercanda sih??"
"Nggak akan ada yang percaya kalo lo dah punya anak. Kapan kawinnya coba? Elo kan polos, soal gituan."
__ADS_1
Kamvreet emang ya!!! Ini Tiara ngeremehin kemampuan gue.
"Serah lo ya!! Gue nggak peduli lo mau percaya apa nggak." Gue ngeloyor ninggalin dia. Gue keluar mall dan masuk ke kedai tempat Haikal nungguin.
"Re, elo masih aja ya, jual mahal sama gue." Lagi-lagi Tiara ngelingkaring tangannya dilengan gue. Kerasa empuk banget itunya.
Gue berusaha lepasin tangannya, tapi malah dia makin eratin genggamannya.
"Lepasin monyet!! Gue nggak mau anak gue tau ya!!!" gue mulai nge gas.
"Biarin aja dia tau. Biar dia ngomong sama bini lo. terus kalian cerai."
"Emang ******* lo ya!!"
"Tante ngapain gondelin papa?" Ternyata Lira udah berdiri didepan gue.
"Papa??" Ucap Tiara dengan sangat terkejut.
"Dia mau culik papa nih." gue langsung lepas cengkraman tangan Tiara dengan paksa.
"Jadi dia ini olang jahat pa?"
"Selama dia pegang papa, dia jahat karna mau rebut papa dari Lira. Tapi kalo dia nggak pegang papa, dia nggak jahat.
Lira berkacak pinggang. "jangan ngangguin papa nya Lira. tante jahat!!" gue ketawa dalam hati. Iiihh anak gue cocok juga kalo galak gini.
"Udah yuk, kita ketempat Duta. Nggak usah ladenin Tante ini."
"Re, ini beneran anak elo?" Tiara masih keliatan nggak percaya.
"Lo nggak liat, gue sama dia ada miripnya?"
Tanpa meduliin Tiara, gue gandeng tangannya Lira ke tempat Haikal.
Sesampainya di tempat duduk Haikal, gue liat disana juga ada Linxi sama kak Nick.
"Papa," Sapa Linxi dan langsung lari ke arah gue. Gue jongkok dan cium pipinya. "Linxi di beliin ice cream sama uncle pa. Papa mau coba nggak?"
"Boleh deh." Gue ikutan duduk gabung sama mereka. "Kak Nick kok disini? mbak Fhika sama mbak Diani mana?"
"Ada di lantai 4. Capek buntutin mereka." Kak Nick nyandarin tubuhnya di papan kursi.
"Papa, ayo buka mulutnya. aaaa..." Linxi ngasih sesendok ice cream. Gue pun buka mulut dan masuk lah ice cream itu ke mulut gue.
Sekilas jadi inget saat gue ngidam beberapa tahun yang lalu. Gue ketawa sendiri.
"Pa, coba punya Lila. Ini, aaaa...."
Eehhh gue malah jadi disuapin anak-anak gue. kak Nick ketawa liat gue.
bersambung.....
__ADS_1
jangan pelit jempol ya!!! like dan tinggalin jejak nya buat ngehargain penulis👌👌😀😀