
Susuk Mayit:
Mungkin kalau ada orang yang kebetulan melintas di jalan Tanjung Sari, mereka tidak akan memperhatikan sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan tersebut, karena memang tidak ada yang menarik dari rumah itu.
Cat rumahnya sudah memudar, ada dua tiang sebagai penyangga di bagian depan, juga dua jendela kayu yang dibiarkan terbuka walau hari sudah semakin gelap. Di halamannya, berdiri dengan subur dan rindang sebuah pohon rambutan yang buahnya tidak pernah dipetik. Dibiarkan matang dan busuk begitu saja sepanjang tahun.
Di teras rumah ada dua kursi kayu dan sebuah meja yang jarang sekali diduduki. Rumah itu terletak di pinggir jalan sehingga setiap orang yang melintas akan berpikir kalau rumah itu terkesan selalu sepi walau sebenarnya ada dua orang penghuni di dalam. Penghuni rumah itu adalah Sarminah, wanita tua yang terbaring sakit selama bertahun-tahun, dan Atiah si pembantu yang setia merawatnya.
Tapi hari ini tidak seperti hari-hari biasanya, ada sebuah mobil sedan mewah yang terparkir di halaman rumah itu. Tidak biasanya Farah berkunjung secepat ini, rutinnya ia datang sebulan sekali untuk menengok buyutnya dan juga untuk menggaji Atiah. Farah adalah satu-satunya keluarga Sarminah yang masih peduli padanya.
Setelah anak Sarminah meninggal tidak ada lagi yang mau mengurusnya selain Farah. Mereka sudah bosan mengurus Sarminah yang terbaring sekarat selama bertahun-tahun. Sarminah memang sudah sangat tua, tapi entah kenapa ajal tak kunjung menjemputnya.
Sehari-hari, ia hanya terbaring di atas tempat tidur. Soal makan, minum, bahkan buang air ia lakukan di atas tempat tidurnya. Pembantu yang merawat Sarminah pun sudah berganti-ganti orang dan hanya Atiah lah yang paling betah merawat nenek tua itu.
Ia bekerja sendirian merawat Sarminah di rumah itu selama lima tahun. Namun, hari ini dia mau mengundurkan diri. Itulah yang membuat Farah bingung lantaran jarang sekali ada orang seperti Atiah yang mau bekerja seperti ini.
Di kamar Sarminah, Farah mencoba untuk membujuknya agar tidak mengundurkan diri. Ia bahkan menawarkan kenaikan gaji dua kali lipat, tapi keputusan Atiah sudah bulat. Ia tetap mau berhenti kerja. Berkali-kali Atiah meminta maap karena tidak bisa menerima tawaran gaji dari Farah. Sementara Farah sendiri tidak mungkin bisa mengurus buyutnya itu karena ia sangat sibuk dengan pekerjaanya. Setelah menawarkan kenaikan gaji sampai tiga kali lipat, ia akhirnya menyerah.
Anehnya, saat Farah menanyakan alasan kenapa Atiah mau berhenti kerja, wanita itu tidak mau menjelaskannya. Wajahnya terlihat cemas dan ingin segera pergi dari rumah itu. Farah mengeluarkan amplop yang berisi uang gaji Atiah selama sebulan dan pesangonnya. Tanpa banyak basa-basi lagi, setelah menerima uang itu, Atiah langsung pamit. Farah mengantarnya sampai beranda rumah. Setelah Atiah pergi, Farah menutup pintu lalu mengembuskan napas berat. Ia bingung ke mana harus mencari pengganti Atiah.
Farah melangkah ke kamar buyutnya. Di atas tempat tidur, Sarminah terbaring dengan tenang. Matanya terpejam, dadanya turun naik menandakan kalau dia masih hidup. Farah memperhatikan rambut buyutnya, rambut itu sempurna berwarna putih dan terlihat lebih panjang dari semenjak terakhir kali Farah menengoknya. Wajah Sarminah sangat keriput, kedua bibirnya tenggelam ke dalam mulut, kulit lehernya melambai, dan kedua kakinya kurus kering.
Biasanya kalau Sarminah merasa lapar, ingin buang air atau haus, matanya pasti terbuka kemudian melenguh macam suara kerbau yang sedang disembelih, memberi pertanda kalau Sarminah ingin dilayani. Untuk urusan makan, selama bertahun-tahun Sarminah hanya makan gerusan biskuit yang dicambur air kemudian pembantu yang merawatnya akan menuangkan makanan itu ke mulut Sarminah. Itu pun si pembantu harus membukakan mulut Sarminah terlebih dahulu.
Saat Farah sedang memandangi kondisi Sarminah, tiba-tiba nenek itu melenguh, matanya terbuka. Farah paham itu, segera dia memeriksa bokong buyutnya, tapi masih kering. Pampersnya belum bocor karena tadi pagi Atiah memakaikannya sebanyak tiga lapis.
“Mbok mau apa?” Tanya Farah sambil senyum ke wajah Sarminah.
__ADS_1
“Haus, ya?” Farah meraih segelas air dari atas meja kecil di samping tempat tidur Sarminah. Ia sendok air tersebut.
Namun, Saat Farah menuangkannya ke mulut Sarminah, air itu malah dimuntahkan.
“Mbok lapar?” Tetap saja ketika Farah menuangkan makanan ke mulut Sarminah, nenek itu perlahan memuntahkannya lagi.
Farah menyeka rambutnya yang panjang, ia bingung sebenarnya apa yang diinginkan buyutnya itu. Ia terus melenguh tidak karuan. Suaranya bahkan terpantul ke dinding kamarnya. Dalam kebingungan, ia merogoh telepon genggam, bermaksud untuk menghubungi kerabat yang lain. Tapi, semua kerabatnya itu tidak ada yang peduli, mereka malah menyuruh Farah untuk menyuntik mati Sarminah lantaran sudah bosan mengurusnya lagi.
Sudah beberapa kali Sarminah dibawa ke rumah sakit, tapi penyakitnya tidak kunjung sembuh sedangkan biaya rumah sakit semakin membengkak. Akhirnya mereka membawa pulang Sarminah dan menyuruh orang lain merawatnya.
Saat Sarminah masih melenguh, tiba-tiba terdengar suara gong ditabuh. Suara itu terdengar hanya sekali pukulan saja. Memang di samping kamar Sarminah ada sebuah ruangan khusus untuk menyimpan barang-barang lama milik Sarminah. Farah bergegas mengecek ada apa di kamar sebelah, ia heran siapa tadi yang menabuh gong padahal di kamar itu sepi. Seketika Farah teringat tentang alasan Atiah berhenti, ada apa sebenarnya? Kenapa Atiah terlihat sangat ketakutan?
Satu hari sebelumnya, seperti biasa setiap malam Atiah menggerus biskuit untuk Sarminah. Malam itu hujan sedang deras, kilat berkelebatan, semburat cahayanya mematul pada dinding tua. Sebuah radio dibiarkan menyala, menyiarkan lagu dangdut jadul kesukaan Atiah.
Kepala Atiah mengangguk-angguk sambil ikut bernyanyi dengan suara pelan. Ia menuangkan air sedikit demi sedikit pada mangkuk kecil berisi gerusan biskuit lalu diaduk hingga halus. Setelah dirasa selesai, ia kemudian beranjak ke kamar Sarmninah. Dan... betapa terkejutnya saat ia melihat Sarminah tiba-tiba berdiri menghadap jendela.
Sarminah tidak menjawab. Atiah tersenyum ragu-ragu, hatinya campur aduk, ada senang, heran, dan sekaligus takut. Sudah lama sekali Sarminah terbaring, dan baru sekarang Atiah melihatnya bisa berdiri. Rambut Sarminah tergerai panjang sepinggang. Rambut itu putih semua, kebetulan Sarminah sedang mengenakan daster yang juga berwarna putih. Bayangan Sarminah hilang timbul tersorot cahaya kilat.
“Susuk mayat,” lirih Sarminah. Baru kali itu juga Atiah mendengar suara Sarminah.
Ia bingung apa maksud Sarminah berkata seperti itu.
“Susuk mayat? Maksud Mbok apa, ya?” Atiah mendekat perlahan. Kilat terus berkelebatan.
“Bunuh aku...,” Sarminah kembali berucap aneh. Malah minta dibunuh.
“Mbok?” Atiah tersenyum, perlahan ia angkat lengannya untuk menyentuh pundak Sarminah.
__ADS_1
Tangannya berhasil menyentuh pundak itu, terasa sekali lengkungan tulangnya. Maklum saja, tubuh Sarminah hanya tinggal tulang dan kulit. Sangat kurus dan sangat kering. Walau pundaknya sudah disentuh, Sarminah tidak memalingkan badan. Ia tetap berdiri menghadap jendela yang tirainya terbuka.
“Mbok, makan dulu yuk. Aku udah siapin makanan buat Mbok.”
“Mbok?” lanjut Atiah.
Tubuhnya seperti patung, tidak dapat digerakkan. Saat Atiah sedang berusaha untuk berkomunikasi dengan Sarminah, terdengar suara gamelan di kamar sebelah. Suaranya berbaur dengan iringan angklung, gambang, dan gong.
Semua alat tersebut adalah milik Sarminah, sudah lama sekali terbengkalai di kamar sebelah. Atiah tidak pernah membersihkannya, banyak sarang laba-laba yang membungkus peralatan tersebut.
Bayangkan saja, siapa malam-malam begini yang memainkan alat-alat tua itu? Atiah semakin ketakutan. Selama dia bekerja, belum pernah sekali pun mengalami hal-hal aneh seperti ini. Ragu-ragu Atiah keluar dari kamar, menuju sumber suara tersebut.
Pintu kamar didorong perlahan, dada Atiah turun naik, dahinya sudah berkeringat. Derit engsel pintu yang sudah lama tak diminyaki terdengar nyaring. Betapa terkejutnya Atiah ketika melihat banyak lelaki yang sedang asik memainkan gamelan di kamar tersebut.
Semua lelaki terlihat asing. Dari mana datangnya mereka? Kenapa mereka bisa ada di kamar ini? Atiah mengerutkan dahinya, dan saat hendak balik badan, berdirilah seorang lelaki muda berparas rupawan mendekati Atiah. Ia mengenakan blangkon bercorak batik warna kuning, celana panjang hitamnya cingkrang semata kaki. Ada sebuah selendang warna ungu yang melingkar di leher lelaki tersebut.
Ia tersenyum mendekati Atiah. Kemudian selendang itu dikalungkan pada lehernya, perlahan Atiah digiring masuk ke dalam kamar. Suara gamelan semakin bertalu-talu, Atiah terperdaya. Ia tidak sadarkan diri, tatap matanya kosong dan tubuhnya menari-nari bersama lelaki tampan itu.
Atiah seperti masuk ke dalam kumparan cahaya, seketika ia terkejut saat melihat dirinya berada di sebuah panggung pertunjukkan ronggeng. Orang-orang ramai menontonnya dari bawah sambil bersorak-sorak memanggil nama Atiah.
Ia meraba pakaiannya sambil terheran-heran, Atiah mendapati dirinya sudah berpakaian seperti seorang ronggeng, kebaya, sarung batik, rambutnya dikonde, ada bunga melati di rambut belakangnya. Selendang terselempang di lehernya. Di mana ini? Atiah kebingungan.
BERSAMBUNG..
Nantikan cerita selanjutnya ...
___
__ADS_1