Susuk Mayit

Susuk Mayit
Kematian Nenek Sarminah


__ADS_3

Mereka setuju. Sarminah akan diracun menggunakan sianida. Rizal segera pergi untuk mencari obat tidur dan sianida. Setelah hampir satu jam, akhirnya ia kembali. Obat tidur bubuk dicampurkan ke dalam sesendok air kemudian diminumkan kepada Sarminah yang masih dalam posisi duduk.


Anehnya, ia masih tetap melotot sambil berkali-kali minta dibunuh. Mereka bingung kenapa obat tidur tidak mempan terhadap tubuh Sarminah. Rizal pun kembali meminumkan sianida. Setelah beberapa menit, tetap saja Sarminah tidak tewas. Dia masih tegak dalam posisi duduk.


“Kau lihat Farah!” Gion menunjuk mboknya, “Mbok, kita udah nggak wajar. Sianida aja nggak mempan.”


“Lalu bagaimana ini?” tanya Ningsih.


“Tidak ada cara lain, kita cekik saja,” jawab Rizal.


“Tidak!” Farah menolak.


Tapi sekarang tidak ada yang peduli dengan penolakan Farah. Mereka tetap akan membunuh Sarminah demi menghentikan penderitaannya.


“Siapa yang berani melakukannya?” tanya Rizal.


Semua terdiam.


“Ya sudah, kita gantung saja,” Rizal memutuskan.


“Kalian sudah gila!” teriak Farah, hal itu terlalu sadis baginya.


“Kau tunggu saja di luar, Farah,” suruh Rizal.


Gion hendak memaksa Farah keluar dari kamar. Tapi, Farah menepis lengannya lalu keluar kamar. Mereka tidak memedulikan kerabatnya itu. Terpenting, sekarang bagaimana caranya mengakhiri penderitaan Sarminah.


Rizal mengikatkan sebuah tali tampar pada plafon kamar. Ia membuat simpul melingkar. Gion menyiapkan tiga buah kursi untuk menaikkan tubuh Sarminah. Setelah semua siap, Rizal dan Gion menggotong tubuh Mbok mereka. Sementara itu, Ningsih menahan kursinya.


“Sialan!” delik Rizal.


“Kenapa?” Gion mengerutkan dahi.


“Pampersnya bocor.”

__ADS_1


Perlahan tubuh Sarminah dinaikkan ke atas kursi. Sebuah tali dikalungkan di lehernya. Rizal masih menahan tubuh Sarminah dari bawah. Setelah semua sempurna, ia melepas pegangannya. Sarminah digantung, tangannya tidak meronta, kakinya tenang melayang di atas lantai, dan kedua matanya melotot.


Ia tidak lagi berucap apa-apa. Setelah satu jam digantung, Rizal dan Gion menurunkan tubuh Sarminah. Mereka memeriksa detak jantung dan denyut nadi, sudah tidak ada. Sarminah mati, itu membuat mereka tersenyum bahagia. Akhirnya upaya mereka untuk mengakhiri penderitaan Sarminah berhasil.


“Sekarang bagaimana?” tanya Gion.


“Kita makamkan lah.”


“Aku ingin ada pengajian dulu,” sergah Farah. Walau bagaimana pun, ia tetap sayang sama Mboknya.


“Ya sudah terserah mau kau.”


Farah beranjak ke kediaman Pak Sudarjo, ketua RT untuk mengumumkan kepada warga kalau Mbok Sarminah sudah meninggal. Pak Sudarjo sempat kaget mendengar berita tersebut. Sudah sekian lama Sarminah sekarat. Ia bergegas ke musala untuk mengumumkan kematian Sarminah.


Malam itu juga warga berkumpul di rumah Sarminah. Surat Yasin dibaca bersama-sama dilanjut tahlil. Pak Sudarjo kemudian membacakan doa untuk Sarminah.


Namun, ketika sedang dibacakan doa, lengan Sarminah yang sudah ditata untuk sedekaptiba-tiba jatuh ke lantai. Semua terkejut dan mengucap istighfar. Farah lalu membetulkan kembali.


Pak Sudarjo kembali melanjutkan lantunan doa. Lagi-lagi lengan Sarminah jatuh. Farah membetulkannya lagi. Warga mulai ketakutan. Mereka tidak berani menatap jenazah Sarminah.


Tak lama berselang, terdengar suara gong dipukul dari kamar. Itu membuat semua orang yang hadir di sana berteriak kaget. Dan... saat itu juga, jenazah Sarminah melesat, terbang begitu saja sambil tertawa terbahak-bahak. Kain yang menutupi tubuhnya berhambur ke mana-mana.


Tubuhnya seperti menguap menembus langit-langit rumah. Ia menghilang. Itu membuat semua orang lari terbirit-birit ketakutan. Mereka pasti akan mengingat suara tawa Sarminah yang terbahak dan besar itu.


Jenazahnya tidak pernah ditemukan lagi. Rumah itu menjadi sangat angker. Setiap malam suara tawa Sarminah selalu terdengar di langit-langit rumah itu dan membuat warga ketakutan. Farah sudah memasang plang kalau rumah itu dijual. Namun sampai sekarang belum juga laku.


Siapa sebenarnya Sarminah?


Dulu sekali, di sebuah kampung bernama Ci Ijau, Sukanti seorang perempuan cantik yang merupakan penari ronggeng tersohor melahirkan bayi perempuan berwajah buruk. Ia tidak menyangka kalau bayinya akan lahir dalam keadaan jelek seperti itu, tidak punya batang hidung, bibirnya sungging, matanya rapat sebelah, pipinya seperti habis terkena luka bakar.


Siapa sebenarnya Sarminah?


Dulu sekali, di sebuah kampung bernama Ci Ijau, Sukanti seorang perempuan cantik yang merupakan penari ronggeng tersohor melahirkan bayi perempuan berwajah buruk. Ia tidak menyangka kalau bayinya akan lahir dalam keadaan jelek seperti itu, tidak punya batang hidung, bibirnya sungging, matanya rapat sebelah, pipinya seperti habis terkena luka bakar.

__ADS_1


Dijamin semua orang yang melihat bayi Sukanti akan bergidik ngeri atau bisa jadi ngilu. Orang-orang kampung itu berkata, pasti bayi Sukanti kena kutukan karena bayi itu adalah hasil hubungan gelapnya dengan Burhan.


Tapi, anak tetaplah anak. Sukanti tidak mau menyesali kelahiran putrinya itu. Juga tidak pernah menangisi kepergian Burhan, lelaki bajingan yang menghamilinya. Dari penghasilan menari ronggeng itulah ia menghidupi putrinya.


Sarminah begitu nama yang diberikan pada gadis buruk rupa itu. Tidak ada yang mau berteman dengan Sarminah. Ia sering terlihat bermain sendirian di bawah pohon bambu hanya sebuah boneka yang terbuat dari batang kayu yang menjadi temannya sehari-hari.


Nasib malang belum sampai di situ, saat usianya menginjak lima belas tahu, ibunya meninggal karena sakit, ia tidak pernah tahu penyakit apa yang diderita ibunya. Semenjak saat itu kehidupannya semakin sulit, untung saja ada Mbok Ibah, dukun paraji yang pernah membantu ibunya saat melahirkan, dia bersedia memungut Sarminah sebagai anaknya.


Mbok Ibah ini sudah sangat tua, ia lahir saat Indonesia masih dijajah Belanda. Bahkan di zaman Jepang, ia sempat menjadi jagun ianfu, budak pemuas tentara Jepang. Dia adalah wanita yang beruntung karena masih bisa selamat dari cengkraman tentara Jepang. Teman-temannya banyak yang meninggal di tempat lokalisasi. Ada yang bunuh diri atau tewas oleh tentara Jepang.


Sekarang nenek tua itu harus mengurus Sarminah si gadis buruk rupa. Mbok Ibah yang sudah bungkuk membawa Sarminah ke rumahnya, selama bertahun-tahun ia menghidupi Sarminah dari hasil memijat warga kampung hingga Sarminah tumbuh dewasa.


Satu hal yang tidak bisa dihilangkan dalam dirinya, ia ingin seperti ibunya, menjadi penari ronggeng yang tersohor di Ci Ijau. Tapi, dengan keadaan wajahnya yang buruk rupa tersebut, bagaimana mungkin ia mengikuti jejak ibunya. Seorang penari ronggang harus punya paras yang cantik dan tubuh indah.


Kalau macam Sarminah rasanya sangat mustahil bisa seperti ibunya. Setiap malam, di kamarnya yang sempit berdinding bilik, ia sering latihan menjadi ronggeng. Memperagakan gerakan-gerakan ronggeng yang sering ia tonton saat ada pertunjukan di kampung.


“Belum tidur, Cu?” Ucu adalah panggilan sayang Mbok Ibah pada Sarminah. Ia membuka pintu kamar dan tersenyum pada Sarminah.


“Belum, Mbok.”


“Mau jadi penari ronggeng, tah Cu?” tanya Mbok Ibah dengan logat sunda yang kental.


“Seperti ibuku, aku mau jadi penari tersohor di Ci Ijau,” Sarminah berujar sambil terus memperagakan tarian walau terpatah-patah.


Mbok Ibah masuk ke kamar Sarminah dengan gontai, ia duduk di tepi tempat tidur yang hanya beralaskan tikar daun pandan.


“Tarianmu bagus, Cu. Jadi ingat ibumu.”


“Terima kasih Mbok. Lihat ini,” Sarminah semakin lincah saja menari di depan Mbok Ibah sampai-sampai membuat nenek tua itu terkagum.


“Hati-hati Cu,” Mbok Ibah terkekeh, ia takut anak angkatnya tergelincir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2