Susuk Mayit

Susuk Mayit
Potong Saja Kakiku


__ADS_3

Grup ronggeng Sadiman semakin lama semakin terkenal. Mereka bukan saja berkeliling di kampung Ci Ijau, tapi juga ke kampung-kampung lain seperti Parakan Beusi, Cirinten, dan kampung Babakan Haur.


Wajah Sarminah yang buruk rupa malah menjadi daya tarik sendiri di kampung-kampung tetangga, mereka juga terkagum-kagum dengan tarian Sarminah yang indah gerakannya. Bukan hanya anak-anak kecil saja yang menonton, orang-orang dewasa pun ikut berkrumun dan sesekali menyawer Sarminah.


Namun, tidak semua orang senang pada grup ronggeng Sadiman. Salah satunya, Acih seorang penari ronggeng yang sangat benci grup mereka. Apalagi pada Sarminah, menurutnya dia tidak pantas menjadi seorang penari ronggeng.


Maka malam itu sepulang menari, Sarminah didatangi Acih dan dua orang lelaki berbadan kurus yang tak lain adalah pesuruh Acih. Mereka menyeret Sarminah lalu memukuli wanita malang tersebut. Berkali-kali Acih melontarkan sumpah serapah. Sarminah berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang bisa mendengarnya karena rumah peninggalan Mbok Ibah itu terpisah dari pemukiman warga.


Acih tahu kalau Sarminah yang menjadi daya tarik grup ronggeng Sadiman. Maka dari itu dialah yang harus diberi pelajaran. Acih mengancam akan membunuhnya kalau dia berani menari lagi. Sarminah ditinggalkan sendiri di bawah pohon bambu, mukanya bonyok, lengannya berdarah, pergelangan kaki kirinya patah.


Acih sengaja mencederakannya agar dia tidak bisa menari lagi. Di tengah kegelapan, Sarminah berteriak kesakitan sambil menangis meminta tolong. Tubuhnya mulai melemah, matanya perlahan terkatup. Ia tidak sadarkan diri.


Keesokan paginya, saat Sarminah tersadar, ia sudah ada di atas tempat tidur di rumahnya. Melati mengambilkannya minum, sementara Sadiman duduk di samping Sarminah. Wajahnya terlihat khawatir, ia membasuhkan kain basah pada luka di lengannya Sarminah. Sesekali wanita itu meringis kesakitan saat kain menyentuh lukanya.


“Siapa yang berbuat ini padamu, Sarminah?”


“Acih, Bah. Dia membawa dua orang lelaki untuk memukuliku,” seketika Sarminah ber-aduh kesakitan saat hendak menggerakkan kaki kirinya.


“Kurang ajar! Biar kuberi pelajaran dia!” delik Sadiman.


“Jangan Bah. Dia banyak pesuruhnya. Sangat berbahaya, Bah.”


Sadiman tertunduk. Ada benarnya juga perkataan Sarminah. Acih itu orang kaya, dia bisa membayar orang untuk melakukan apa pun yang dia mau. Dan sekarang terbukti, kemauan Acih terkabul. Sarminah tidak akan bisa menari lagi, kakinya cedera. Lagi pula Acih juga mengancam akan membunuh Sarminah jadi walau pun sembuh ia tidak berani menari lagi.


“Aku tidak bisa menari lagi, Bah.”


“Aku akan menyembuhkanmu,” kata abah Sadiman.


“Kakiku patah, Bah.”


Sadiman terdiam. Ia melihat tulang kaki Sarminah yang menonjol ke luar, sangat parah dan sulit disembuhkan.


“Kakiku mungkin harus dipotong,” air mata keluar membasahi pipi Sarminah.


“Sarminah kalau kau mau abah bisa bantu kamu untuk menanamkan susuk mayat dalam tubuhmu.”


“Susuk mayat?” dahi Sarminah mengkerut, ia tidak pernah mendengar susuk itu sebelumnya.


“Iya, kau akan sembuh kembali. Bukan hanya itu Sarminah, tapi wajahmu juga akan berubah jadi cantik.”


“Syaratnya apa, Bah?”


“Makan daging mayat orang yang baru meninggal."

__ADS_1


“Tidak Bah, aku tidak sanggup,” Sarminah menolak.


Sadiman mengembuskan napas berat.


“Kakimu akan membusuk Sarminah,” Sadiman melirik kaki Sarminah yang tulangnya menonjol.


“Potong saja Bah. Lagi pula aku sudah terbiasa cacat. Sangat pantas bagi wanita berwajah buruk sepertiku punya kaki buntung.”


Melati mendekati kakeknya, ia memandangi Sarminah dengan penuh iba.


Sadiman tidak mau memaksanya untuk menggunakan susuk mayat, ia akhirnya hanya mengobati Sarminah dengan rempah-rempah alakadarnya. Semakin lama luka Sarminah semakin parah, kakinya membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap. Hingga pada suatu sore, ia meminta Sadiman memotong kakinya.


Wanita itu menjerit kesakitan sambil menggigit kain saat sebuah golok yang sudah diasah tajam menebas kakinya. Seketika, kakinya yang busuk tersebut putus. Ia mengerang-erang sambil menangis, suaranya membuat sekawanan burung pipit di dahan pohon kecapi terbang berhamburan.


Sadiman merawat wanita malang itu setiap hari. Kaki kiri yang sudah buntung dilumuri rempah-rempah agar lukanya cepat pulih. Setiap hari ia mengganti kain pembungkus kaki Sarminah.


Anehnya, luka itu tidak kunjung sembuh, malah semakin parah. Kakinya bernanah, mengeluarkan bau busuk, memar menjalar ke betis Sarminah. Setiap malam ia tidak bisa tidur karena menahan rasa sakit yang seperti membakar kakinya.


“Abah,” tengah malam Sarminah membangunkan Sadiman. Ia tidak kuat menahan sakit.


“Iya Sarminah?” masih dalam keadaan kantuk,


Sadiman menghampiri wanita yang sedang kesakitan itu.


“Tentu Sarminah. Kau akan sembuh dan berwajah cantik.”


“Berikan aku susuk itu, Bah. Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit.”


“Baik, nanti abah carikan daging mayat manusia," Sadiman menyeringai senang.


“Seberapa banyak aku harus memakannya?”


“Semua Sarminah. Semua bagian tubuhnya kecuali tulang.”


“Aku tak akan mampu, Bah.”


“Tidak perlu sekali habis, kau bisa menghabiskannya berhari-hari.”


“Tapi setelah aku melakukannya, apa aku benar-benar akan sembuh, Bah?”


“Setelah kau selesai memakan mayat itu. Abah akan tanamkan susuk mayat di tubuhmu.”


“Kalau begitu, lekas carikan mayat untukku, Bah.”

__ADS_1


***


Satu bulan berlalu, tapi belum juga ada orang kampung yang meninggal. Sementara itu, kaki Sarminah semakin parah, membusuk hingga menjalar ke paha mengundang lalat-lalat hijau yang selalu hinggap di kakinya. Sadiman kebingungan, kalau tetap dibiarkan seperti itu, Sarminah bisa meninggal.


“Melati, abah titip Sarminah, ya.


Tolong kau jaga dia, abah ada urusan di kampung seberang.” Anak itu megangguk.


Sadiman pergi ke kampung tetangga untuk memata-matai kuburan, mencari mayat yang baru saja meninggal. Sayangnya, tidak ada warga yang meninggal, Sadiman kesulitan mendapatkan mayat segar. Hingga akhirnya, ia menyerah dan pulang dengan tangan hampa.


Di perjalanan pulang, tepatnya di kampung Balangandang, ia melihat iring-iringan orang yang sedang memikul keranda. Wajah Sadiman seketika cerah, ia membuntuti proses pemakaman tersebut. Dan ternyata yang meninggal adalah seorang lelaki.


Malamnya saat semua warga sedang terlelap tidur, Sadiman mengendap-endap ke pemukiman warga. Ia mencuri cangkul dan sebuah karung besar. Setelah itu, ia segera ke pemakaman untuk menggali kuburan orang yang baru meninggal tadi siang. Dengan tergesa-gesa, ia mulai membongkar kuburan .


Keringat membasahi seluruh badan, sesekali ia menoleh ke sekeliling, memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya. Selang beberapa saat, ia berhasil mengangkat mayat itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah karung, tapi sialnya tidak muat.


Sadiman mengeluarkan sebuah golok. Ia memotong bagian perut mayat itu hingga terburai semua isi perutnya. Akhirnya mayat tersebut bisa dimasukkan ke dalam karung. Ia mengikat karung itu dengan sebuah tali yang terbuat dari sobekan bajunya sendiri.


Dengan susah payah, Sadiman berhasil membawa mayat itu. Ia keluarkan isi karung di hadapan Sarminah. Seketika wanita itu mual melihatnya. Untung saja Melati sudah tidur dan tidak melihat apa yang dibawa kakeknya.


Selama berhar-hari Sarminah dikurung di dalam kamarnya, Melati tidak diperbolehkan masuk karena Sarminah sedang berusaha untuk menghabiskan seonggok mayat. Di dalam kamar itu, ia memakannya sedikit demi sedikit. Tidak jarang Sarminah muntah-muntah.


Sadiman sudah mencincang mayat itu agar mudah disantap Sarminah.


Setelah satu minggu, akhirnya ia berhasil memakan semua organ tubuh dari mayat lelaki itu. Yang tersisa hanya tulang belulang saja.


Setelah tahu kalau Sarminah telah menghabiskannya, Sadiman membawa dua buah jarum sepanjang telunjuk orang dewasa. Lalu jarum tersebut ditusukkan ke kening Sarminah dan perutnya. Sarminah menjerit kesakitan, Sadiman membacakan mantra-mantra, bibirnya bergetar, dan matanya terpejam.


Asap seketika muncul dari sela-sela tanah, memenuhi kamar Sarminah. Ia meniup pelan-pelan asap putih yang menghalangi pandangannya, tampaklah Sarminah yang sudah berubah menjadi wanita yang sangat cantik.


Bibirnya tipis imut, wajahnya putih dengan tahi lalat kecil di pipi sebagai pemanis, matanya sipit, rambutnya tergerai indah sepinggang, ia tidak memakai kain sehelai di atas tempat tidurnya. Entah apa yang terjadi, pakaiannya yang lusuh dan bau seketika hilang begitu saja.


Sadiman menutupi tubuh Sarminah dengan kain. Semenjak saat itu Sarminah berganti nama menjadi Nini Bogem. Wajahnya sudah benar-benar berbeda dari sebelumnya, ia kembali menari dengan grup ronggeng Sadiman.


Nama Nini Bogem semakin terkenal, grup ronggeng Sadiman semakin besar dan tidak bisa ditandingi. Bukan sekali dua kali Acih mendatangi Nini Bogem untuk menghabisinya, tapi semenjak punya susuk mayat, wanita itu makin sakti. Semua pesuruh Acih kalang kabut, tidak bisa menghabisi Nini Bogem.


***


Bertahun-tahun Sarminah menggunakan nama panggung Nini Bogem. Tidak ada yang mengenalinya, mereka menganggap Sarminah si tukang pijat itu sudah mati. Sadiman dan Melati juga merahasiakan identitas asli Nini Bogem. Sarminah hidup panjang umur sampai ronggeng tidak lagi laku.


Hingga pada suatu hari ia jatuh sakit dan mengalami sekarat yang berkepanjangan. Susuk itu, ya susuk mayat yang membuatnya susah untuk mati. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa mengeluarkan susuk itu kecuali Sadiman.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2