
Di suatu pagi sepulang dari hutan, Sarminah mendapati Mbok Ibah terkapar di halaman rumah. Ia meninggal. Malangnya nasib Sarminah, ia harus hidup sebatang kara di gubuk reot. Bayang Mbok Ibah selalu ada dalam benaknya. Apalagi kalau melihat barang-barang peninggalannya, sudah pasti Sarminah menangis tersedu-sedu.
Ia mewarisi profesi Mbok Ibah, jadi tukang pijat. Demi mencukupi kebutuhan hidup, ia harus rela memijat bapak-bapak yang kulitnya keras. Tak jarang, mereka juga bau ketiak. Terkadang Sarminah muntah-muntah setelah memijat mereka.
Sarminah tidak mau nasibnya berakhir jadi tukang pijat selamanya. Sampai pada akhirnya ia ingin menjadi penari ronggeng saja. Namun, orang-orang selalu meledeknya. Bahkan, orang-orang itu bersumpah demi semua dedemit di muka bumi ini. Bagi mereka, Sarminah mustahil bisa menjadi penari ronggeng.
“Mana ada penari ronggeng wajahnya jelek sepertimu, Sarminah?"
"Jangan mimpi!"
"Sangat mustahil. Mau sampai kiamat pun kau tidak akan pernah bisa jadi penari ronggeng."
"Kau pantasnya jadi demit, Sarminah. Kan keturunan demit, ya. Wajah kok jelek banget.”
Begitu cacian yang sudah biasa didengar Sarminah. Ada kalanya ia putus asa dan mengubur impiannya itu. Tapi, Sarminah selalu kembali pada tekadnya. Ia yakin pasti bisa mengikuti jejak ibunya. Hingga pada suatu malam, sepulang memijat pelangganya, ia mampir ke sebuah pertunjukan ronggeng.
Pertunjukan itu dipadati penonton. Sarminah sampai harus naik ke pohon duku agar bisa melihat para penari ronggeng. Setelah beberapa menit di atas pohon, ia merasa pegal kemudian turun.
Tiba-tiba terpikir di benaknya, ingin sekali Sarminah melihat ruang dandan para penari ronggeng. Selama ini, ia memang penasaran bagaimana cara mereka mematut diri hingga jadi sangat menawan di atas panggung.
Di tengah-tengah keramaian, Sarminah mengendap-endap ke belakang panggung. Di sana ada sebuah tenda yang ditutup seadanya dengan bilik bambu. Dari lubang bilik itu Sarminah mengintip pelan-pelan. Dilihatnya para penari ronggeng sedang berdandan. Ada tiga orang penari di dalam sana.
Mereka semua cantik. Tubuhnya juga indah dan berpakaian bagus. Sarminah menguping percakapan mereka bertiga yang sedang membahas lelaki tampan di kampung Ci Ijau. Sesekali para ronggeng itu tertawa sambil terus memupuk wajahnya dengan bedak.
“Tampaknya baju ini sudah tidak layak pakai,” Jumaira menunjukkan sebuah pakaian ronggeng kepada Sekar.
Sekar berhenti membedaki wajah. Ia menoleh ke arah Jumaira.
“Iya, buang saja.”
Dilemparlah pakaian tersebut ke belakang tenda. Sarminah melihat pakaian ronggeng yang dibuang. Segera ia memungutnya, kemudian mengenakan pakaian tersebut. Hatinya sangat senang. Tidak disangka-sangka pakaian itu pas di badannya.
Dengan perasaan gembira, ia menari-nari di belakang tenda layaknya penari ronggeng. Tak terasa kakinya tersandung akar pohon duku. Tubuhnya terjerembap ke semak-semak. Para sinden di dalam tenda mendengar suara tersebut. Mereka berhambur keluar untuk melihat siapa yang ada di belakang tenda.
Ternyata si wanita buruk rupa. Mereka kenal Sarminah. Dan, tentunya mereka membenci perempuan itu karena wajah Sarminah buruk rupa. Mereka yakin kalau Sarminah bisa membawa sial.
__ADS_1
“Oh, rupanya kau, Sarminah,” ucap Jumaira.
“Maling kau, ya!” Sekar membentak.
“Kita habisi saja dia,” Komariah mengusulkan ide kejam.
Dengan sadis mereka menyeret Sarminah ke tengah-tengah penonton. Di sana, mereka melepas pakaian sarminah.
Sarminah kemudian lari sambil menangis. Ia sangat terluka diperlakukan tidak manusiawi seperti itu.
Sarminah tidak pulang ke rumah, melainkan pergi ke makam ibunya. Malam-malam seperti itu, ia menangis tersedu-sedu di pinggir pusara ibunya. Ia tumpahkan semua kesedihan. Saat itu pula, dari kegelapan di antara batang-batang pohon, muncul sesosok kakek berpakaian hitam. Kakek itu mendekati Sarminah.
“Kau rindu ibumu, hah?” Tanya kakek tersebut sambil melangkah mendekati Sarminah.
Sarminah waspada, walau pun ia sudah berpakaian rapi, tetap saja kejahatan bisa terjadi. Buru-buru menyeka air mata yang menjuntai di pipinya lalu mundur beberapa langkah ke belakang. Bulan sedang terang benderang menyinari malam, semakin dekat wajah kakek itu semakin jelas terlihat.
Rambutnya gondrong warna hitam berselang putih karena ada ubannya. Ia punya brewok yang sudah berwarna putih, ada tahi lalat yang cukup besar di bagian pipi kanannya.
“Jangan takut. Aku Sadiman,” kakek itu menyunggingkan senyum.
“Aku baru selesai ziarah dari makam istriku, kau Sarminah, kan?”
Sarminah mengangguk tampaknya hampir semua orang mengenal Sarminah. Pasti karena wajahnya buruk dan mengerikan. Manusia memang gampang dikenali kalau wujudnya tidak lazim dan berbeda dengan manusia lainnya.
“Aku dengar kau ingin menjadi penari ronggeng?”
Tanpa menjawab Sadiman, Sarminah lari terbirit-birit menjauh dari kakek tersebut. Ia takut dijadikan budak n@suf oleh kakek itu. Walau Sarminah jelek, tetap saja ada kemungkinan .
Sesampainya di rumah, Sarminah mengunci rapat-rapat pintunya. Kemudian menangis kembali.
Tidak pernah terpikir dalam hidupnya akan ditelanjangi seperti itu di depan umum. Malam itu juga, dendam tumbuh dengan subur dalam dadanya, ia ingin menghabisi tiga ronggeng tersebut. Kalau tidak bisa membunuh nyawa mereka, dia harus membunuh karier mereka. Bagaimanapun caranya, dia harus menjadi penari ronggeng tersohor di Ci Ijau.
***
Sore itu, Sarminah sedang menjemur pakaian di halaman rumah. Tiba-tiba terdengar suara tabuhan gamelan dari arah Timur. Sarminah mengerutkan dahi, sisa pakaian di ember yang belum dijemur ditinggalkan begitu saja. Ia melangkah mengikuti sumber suara gamelan tersebut. Ada jalan setapak dekat rumahnya, suara gamelan terdengar semakin jelas.
__ADS_1
Dan di bawah pohon durian, ia melihat Sadiman beserta tiga orang kawannya sedang menabuh gamelan. Di hadapan mereka, ada seorang gadis perempuan yang masih kecil, mungkin umurnya baru delapan tahun. Ia menari dengan lincah layaknya ronggeng kawakan. Sarminah mengintip dari balik pohon durian.
Benaknya mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya kakek tersebut? Kenapa dia punya grup ronggeng.
Sadiman menyadari ada yang mengintip di balik pepohonan. Ia memberhentikan alunan musik. Semua anggota menoleh pada Sadiman dengan tatapan heran kenapa permainan dihentikan.
Sambil tersenyum, Sadiman melangkah mendekati Sarminah yang masih berdiri di balik pohon. Menyadari hal itu, Sarminah beranjak pergi.
“Sarminah tunggu,” pinta Sadiman sambil berlari kecil menghampirinya.
Kali ini Sarminah mau berhenti.
“Kau suka menari, kan?
Bagaimana kalau kau ikut grup ronggengku?”
“Iya benar, kami setuju Bah. Kita butuh penari,” timpal tukang gendang, ia ikut menghampiri Sarminah.
“Apa kalian mau menerimaku yang buruk rupa ini?” tanya Sarminah sambil tertunduk.
“Ah, tidak masalah yang penting kau bisa menari,” jawab Sadiman.
“Kenalkan ini Icung, Kurawa, dan Sarkam mereka semua pemain musik. Sedangkan ini yang cantik dan lucu namanya Melati cucuku. Dia senang sekali menari,” Sadiman menyentuh pundak cucunya.
“Aku Sarminah.”
“Kami semua sudah kenal kamu Sarminah,” ujar Icung sambil tersenyum ramah.
“Selamat bergabung Sarminah,” Melati tersenyum.
Malu-malu Sarminah menerima tawaran tersebut. Dan semenjak saat itu, Sarminah bergabung dengan grup ronggeng Sadiman. Mereka tidak manggung seperti grup ronggeng besar pada umumnya. Yang mereka lakukan adalah menjadi grup ronggeng keliling kampung yang ditonton anak-anak kecil lalu dilempari uang koin.
___
Nantikan cerita Susuk Mayat selanjutnya.
__ADS_1