
Matahari telah memunculkan Cahayanya. Bersinar menyinari Ruangan Reni. Reni pun terbangun dan membereskan beberapa baju ke dalam Koper Hitam miliknya Lalu Mandi karena Harus siap-siap ke kantor. Keluar dari kamarnya lalu menuju ruang makan untuk sarapan.
"Bik Ijah nanti sampaikan ke Pak Eko untuk mengantarkan Koper ke Apartemen yang dijalan Xxxx. Tapi ingat jangan sampai ada yang tau saya tinggal di Sana. Oh iya bik Beberapa hari kedepan saya akan tinggal di Apartemen". Ucapnya menjelaskan
"Baik Non. Nanti saya sampaikan". Ucapnya sambil menunduk.
Pak Eko adalah Penanggung Jawab Keamanan di rumahnya.
"Eh iya bik. Tolong bik Ijah merawat rumah ini untuk beberapa hari kedepan. Dan jika ada yang bertanya siapa tinggal disini jangan beritahu orang. Kalau ada yang mencari saya. Bilang saja Tidak ada orang yang bernama Reni di rumah ini". Ucap Reni Jelas dan Tegas.
"Baik Non". Ucap Bik Ijah mengerti.
Reni telah selesai menyantap Sarapannya. Ia lalu pergi menuju ke kantor dengan menggunakan Taksi. Sesampainya di Depan Kantor ia menemukan Seorang Pria yang menurutnya asing dan tidak pernah melihatnya selama dia bekerja disana.
Mereka menuju lift. Ada telepon masuk di handphone Reni.
Tut Tut tut....
"Halo. Iya pak". Ujar Reni
"Keruangan saya". Ujar Rendi Tegas lalu mematikan teleponnya.
"Ba..." Tut.... (Belum selesai bicara telepon mati).
Tak lama Orang asing itu menerima telepon.
Tut Tut Tut....
"Halo iya Pak. Ada apa?". Ujar pria itu
"Sudah sampai Kantor?". Ucapnya Rendi tegas.
"Sudah Pak". Ucap Pria itu
"Masuk ke ruangan Sekarang". Ucapnya tegas
"Ba....". Belum selesai bicara Rendi menutup teleponnya.
"Idih boss Seenaknya saja menutup telepon". Gumam Pria itu dalam batin.
Mereka langsung menuju ke Ruang bossnya.
Setelah pintu lift terbuka Pria tersebut menuju ke ruangan Rendi dan Reni yang melihat pun bergegas mendahului pria itu. Pria itu yang kaget spontan berteriak
"Hey kecebong Hanyut". Sambil meneriaki Reni.
Reni yang mendengar Teriakkan Pria itu berhenti lalu membalikkan badannya.
"Apa kau panggil tadi?". Jawab Reni membelalakkan matanya.
"Iya kecebong Hanyut. Kenapa? Tidak suka?". Ucap pria itu Sambil mengangkat pundaknya.
__ADS_1
"Dasar Ember bekas". Sambil memandang tajam Pria itu.
Karena tidak suka di katai akhirnya adu mulut tak terhindarkan.
"Air comberan" ucap Pria itu
"Kaleng Kerupuk" ucap Reni
"Sendal jepit" ucap pria itu
"Cacing kremi" ucap Reni
"Sendok bengkok" ucap pria itu
"Gagang sapu" ucap Reni
Mendengar keributan di depan ruangannya. Rendi segera keluar dan memeriksanya.
Reni dan Pria itu masih saja adu mulut
"Sapu Ijuk" ucap Pria itu
"Kantong kresek" ucap Reni
"Baju kotor" ucap Pria itu
"Kertas Lecek...." ucap Reni sambil teriak
"Sudah cukup...". Ucap Rendi Tegas dan Teriak.
"Kalian Berdua masuk ke ruangan. Sekarang!!". Ucap Rendi Teriak.
Pria itu dan Reni menjawab "Baik Pak".
Ketika mau masuk ke Ruangan tetap saja mereka bertengkar di Pintu masuk.
Setelah mereka masuk. Pria itu Dan Reni Menunduk.
"Apa yang kalian Ributkan?". Ucap Rendi
"Dia Pak yang menyerobot duluan". Ucap Pria itu.
"Tidak Pak. Dia yang Duluan Ngatain saya". Ucap Reni
"Sudah cukup, jangan ribut lagi". Ucap Rendi Tegas.
Keduanya Menunduk tanpa suara.
"Saya panggil kalian berdua untuk menggantikan Dina Sementara yang saya Tugaskan di Kota B. Untuk sementara waktu kalian yang harus mengerjakan tugas Dina di Ruang Redaksi". Ucap Rendi menjelaskan
"Baik Pak". Keduanya menjawab serentak.
__ADS_1
"Kenapa harus dengan dia?" Ucap Reni dalam batin.
"Kenapa harus Biang Reseh ini sih?" Ucap Pria itu dalam batin.
"Dina perkenalkan Dia Deri yang bertugas di Kota B. Karena ada masalah yang harus diselesaikan segera jadi saya mengutus Dina kesana. Dan Deri menggantikan sementara tugas Dina di sini. Jadi saya harap kalian berdua bisa bekerjasama kedepannya". Ucap Rendi Tegas.
"Baik Pak". Ucap mereka berdua sambil menunduk.
"Baik silahkan kalian mulai mengerjakan tugas kalian". Ucap Rendi
"Baik Pak. Permisi". Ucap mereka berdua.
Mereka keluar ruangan lalu menuju ruang redaksi. Karena masih emosi akhirnya mereka bekerja sendiri-sendiri tanpa ada suara sedikitpun.
Reni melakukan tugasnya. Deri pun melakukan tugasnya.
Tak Terasa sampailah jam makan siang. Karena mereka tak saling berbicara membuat ruangan itu sunyi. Perut Reni dan Deri bunyi bersama memecah kesunyian.
Grgrgr.....
Tiba-tiba mereka tertawa. Saling memandang satu sama lain.
"Wkwkwkwk.... Kamu lapar?" Mereka berdua menanyakan hal yang sama.
"Iya. Saya lapar". Ucap Reni
"Saya juga lapar nih". Ucap Deri sambil memegang perutnya yang berbunyi.
"Ayo kita makan. Diseberang jalan ada tempat makan yang enak loh". Ucap Reni
"Ayo. Kebetulan saya tidak tau daerah sini". Ucap Deri semangat.
"Ayo ikut aku". Ucap Reni
"Iya. Tunggu sebentar saya merapikan meja dahulu". Ucap Deri sambil merapikan mejanya.
Mereka berdua lalu menuju lift. Mereka turun lalu keluar gedung dan menyebrang jalan menuju rumah makan tempat Reni biasa makan.
"Disini Saya dan Dina biasa makan". Ucap Reni Sambil menunjuk ke arah rumah makan.
"Eh iya maaf soal yang tadi". Ucap Reni
"Iya, tidak apa-apa. Saya juga minta maaf". Ucap Deri
Mereka memesan makanan setelah beberapa lama pesanan datang. Mereka langsung menyantap makanan pesanan masing-masing. Setelah menyantap makanannya mereka kembali lagi ke ruangan.
Diruangan mereka sangat sibuk karena banyak Tugas yang dikirim Dimana harus di koreksi untuk dinaikkan ke Media.
Setelah mengkoreksi dan menaikkan ke media tak terasa jam menunjukkan waktunya mereka Pulang.
Semua karyawan Pulang menuju Rumah masing-masing. Reni pulang ke Apartemennya. Ia langsung merebahkan diri di atas kasur. Setelah merasa cukup istirahatnya. Ia Ke kamar mandi lalu mandi agar badannya terasa segar. Setelah merasa segar ia ke dapur untuk memasak makan malamnya. Karena semua persediaan telah disiapkan Pak Eko. Jadi ia tak harus membeli semua bahan-bahan untuk dimasak. Ia masak lalu memakan makanan buatannya. Ia duduk di depan teras apartemen sambil memandang langit malam dengan pemandangan Gedung di pusat kota. Sekitar 1 jam ia memandangi Langit malam ia kembali ke kamarnya untuk tidur.
__ADS_1