
seorang gadis cantik berpawakan mungil serta kulitnya sawo matang khas orang Asia yang tengah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah yang sudah ia anggap seperti rumahnya sendiri mencari keberadaan seseorang yang ia khawatirkan.
" Rey...." ia menghampiri orang yang ia cari sedang duduk di tepi kolam renang bersantai.
" eh Arini....ngapain Lo di sini "
" w tadi di telpon Tante kalo Lo sakit " menunjukkan raut wajah yang khawatir
w cuma takut klo Lo ingat lagi sama Dina
" w gak papa kok..." Rey beranjak dari kolam masuk ke dalam rumah menuju dapur di ikuti Arini di belakangnya. entah mengapa ia sangat tidak nyaman saat Arini berada di dekatnya walaupun tak dapat di pungkiri Arini baik terhadapnya, tapi entah mengapa ia tak percaya kalau Arini lah gadis yang berada di dekatnya selama ini.
Arini terus mengikuti kemanapun Rey pergi seakan tak mau lepas dari Rey, sebenarnya di dalam hati Arini juga kesal terhadap sikap Rey yang selalu acuh padanya setelah apa yang ia lakukan untuk Rey tetap saja ia tak mau membuka hatinya untuk Arini.
__ADS_1
" Lo ngapain masih ikutin w " tanya Rey pada Arini saat Rey hendak masuk kamar Karana memang kamar Rey hanya ia dan mamanya yang boleh masuk jadi tak sembarang orang bisa masuk.
" emmm....w cuma mau pastiin aja klo Lo gak papa " Arini canggung
" w gak papa kok..... sekarang w mau istirahat gak mau di ganggu " Rey langsung masuk kamarnya tanpa mempedulikan Arini.
ish.... awas aja ya Lo Rey w pastiin Lo akan bertekuk lutut di hadapan w. Arini pun pergi dengan perasaan kesal Karana selalu di acuhkan oleh Rey, ia pun bergegas menelpon seseorang lalu pergi dari rumah Rey.
" assalamualaikum....." Dina masuk kedalam rumah yang nampak sepi mungkin ibunya sedang keluar pikir Dina.
Dina masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa modern dengan kasur queen size tempatnya mengistirahatkan tubuhnya kala lelah, ia melihat sekeliling dinding kamarnya terdapat banyak foto kenangan bersama orang terdekatnya seperti almarhum papanya yang meninggal tiga tahun lalu membuatnya yang masih berusia delapan belas tahun harus kuat membantu perekonomian keluarga untuk membiayai kuliahnya.
pandangan Ana beralih pada foto di sebelah sang papa terdapat foto laki-laki yang membuat ia mengenal kata cinta untuk pertama kalinya sampai akhirnya mereka berkomitmen untuk menjaga perasaan mereka masing-masing saat pemuda itu jauh hendak meneruskan pendidikannya, masih teringat jelas di benaknya terakhir kali mereka bertemu dan saling mengucapkan janji.
__ADS_1
*tumben Eza ngajak Dina ketemu di danau ini. bingung Dina melihat raut wajah Eza yang gelisah
emmm....Nana ada yang mau Eza bicarakan tapi janji Nana gak boleh sedih ya. dengan hati-hati dan serius Eza bicara
emang Eza mau bicara apa.
emmm....Eza mau pergi ke luar negeri untuk meneruskan pendidikan Eza di sana, Eza ingin seperti papa yang bisa menjadi pengusaha sukses.
Eza mau pergi.....Dina menatap Eza dengan mata berkaca-kaca
Nana jangan sedih Eza gak akan lama disana tapi...Eza mau kita buat janji kalau kita harus bisa jaga perasaan kita masing-masing jangan ada orang yang merusaknya sampai Eza kembali kita akan bersama
oke Nana mau dan Nana janji akan menjaga perasaan Nana buat Eza....Dina tersenyum begitu manisnya pada Eza...Karana ia tak mau egois hanya karena dirinya Eza menunda pendidikannya*.
__ADS_1