Terjebak Di Pulau Zombie

Terjebak Di Pulau Zombie
Bab 22


__ADS_3

Walaupun di rooftop sana aman, tapi Rachel masih tetap ingin terus menggendong Cindy. Dia duduk di kursi yang ada di rooftop sana karena sangat kelelahan.


Rachel sangat mengkhawatirkan Diego, dia berharap Diego bisa menyusul mereka ke rooftop.


Begitu juga Ana, dia terus mengusap-usap punggung Adel untuk menenangkannya, Adel pasti sangat ketakutan dengan semua kejadian di pulau ini dan berusaha menyemangati Mira yang telah kehilangan Nino.


Di tangga darurat, Tio merasakan ada yang aneh pada tubuhnya, tubuhnya terasa sangat kesakitan dan panas sekali. Dia menyadari dirinya telah tergigit zombie, dia pikir tidak akan terinfeksi karena luka gigitannya begitu kecil.


"Cepat lari!" Tio menyuruh Diego untuk berlari meninggalkan dirinya. "Biar aku yang melawan mereka." Tio mengatakannya dengan nafas yang begitu berat. Dia menebas kembali leher zombie yang menyerangnya dengan golok.


Diego sangat keberatan dengan permintaan Tio, namun tidak sempat menjawab perkataannya karena harus melawan zombie-zombie yang menyerangnya.


"Zombie akan semakin bertambah banyak, lebih baik kamu cepat lari." Tio terus saja menyuruh Diego untuk meninggalkannya.


"Gak bisa, kita harus berlari bersama."


Victor turun ke bawah, membantu menyerang para zombie yang terus berlarian menaiki tangga. Dave membawa sebuah meja yang yang ada di koridor sana. Dia meletakkan meja itu di tangga untuk memperlambat para zombie mengejar mereka.


Diego, Dave, Victor, dan Tio segera berlari dengan cepat menaiki tangga menuju rooftop, para zombie mengejar mereka walaupun agak telat karena terhalangi meja.


Mereka berhasil sampai di rooftop, namun mereka dikejutkan oleh Tio, tiba-tiba Tio menutup pintu rooftop dan menguncinya dari dalam. Tio sengaja melakukannya karena mereka tidak akan mungkin tega meninggalkan dirinya sendirian.


Diego dan Dave tidak mengerti mengapa Tio melakukan itu. Mereka langsung menggedor-gedor pintu.


Victor menghentikan mereka, "Dia terinfeksi. Dia sengaja melakukannya untuk melindungi kita." Victor mengetahuinya saat memperhatikan wajah Tio dan matanya.

__ADS_1


Tio berlari dengan cepat turun melewati anak tangga, jangan sampai ada zombie yang tau mereka bersembunyi di rooftop, apalagi sampai menyerang pintu darurat.


Karena itu dia harus memukul mundur mereka sebisa mungkin walaupun harus menahan sakit karena ada beberapa zombie yang berhasil mengigitnya.


Tio membuka pintu exit, memancing para zombie untuk mengikutinya, dia berlari ke koridor, dia mengerang kesakitan apalagi tubuhnya sangat terasa panas. "Aggrrhhh..."


"Pak Tio!" Rangga sangat mengenali suara gurunya. Dia meminta Marsell untuk membuka pintu , "Cepat buka pintunya, ada Pak Tio di luar."


Tapi Marsell malah menyuruh Rangga diam, "Stttt..."


Marsell mendengar suara bergemuruh di koridor sana. Sepertinya banyak sekali zombie berlarian memasuki koridor mengejar Tio.


"Agghhkkkrr...Agghhkkkrr..."


Mereka yang ada di dalam apartemen merinding mendengarnya, suara erangan zombie begitu terdengar bergemuruh, pasti banyak sekali jumlah zombie yang mengejar Tio di koridor itu.


Tio menendang sebuah dinding kaca dan langsung melompat terjun ke bawah. Membiarkan dirinya mati mengenaskan seperti itu sebelum dirinya menjadi zombie.


Bahkan banyak zombie berhamburan, ikut meloncat dari atas mengejarnya, banyak zombie berjatuhan dari atas, otomatis banyak dari mereka tidak akan hidup lagi karena kondisi kepala mereka yang terluka bahkan pecah dan tentunya mengalami patah tulang, termasuk Tio.


Mereka yang ada di atas rooftop sana, langsung melihat ke bawah saat mendengar suara pecahan kaca, rupanya Tio melompat dari apartemen, diikuti oleh entah itu puluhan atau ratusan zombie yang terjun sampai mereka saling menindih di bawah. Ada beberapa zombie ikut mati ada juga yang masih bisa berdiri kembali.


Mereka sangat bersedih dengan apa yang telah dilakukan Tio untuk melindungi mereka, termasuk pengorbanan Nino juga.


Ana dan Mira saling memeluk, "Ana, Nino An..." Mira tak bisa meneruskan perkataannya.

__ADS_1


Dave pun sama, dia melihat ke bawah memperhatikan banyak zombie yang berlaru lalang disana. Matanya berkaca-kaca karena telah kehilangan sahabatnya, di tambah pengorbanan orang yang baru dikenalinya itu, Tio.


Victor menggendong Adel, dia tau Adel sangat ketakutan karena itu dia ingin membuatnya tenang.


"Adel gak melihat nenek, nenek Adel dimana?" lirih Adel.


Victor mengalihkan pembicaraan Adel. "Lihatlah ke atas sana, ada banyak sekali bintang." suruh Victor.


Adel pun mengadah ke atas. Dia terperangah melihat keindahan bintang-bintang yang bertaburan di langit sana.


"Sangat indah bukan?" tanya Victor.


"Iya om, indah sekali." seru Adel sambil tersenyum lebar.


Diego mendekati Rachel yang masih mencoba untuk menenangkan Cindy yang pastinya sangat ketakutan dengan kejadian hari ini.


Diego duduk disebelah Rachel dan Cindy, "Mau papa gendong lagi?" tanya Diego pada Cindy.


Cindy sangat girang sekali bisa melihat Diego lagi, "Papa!"


Diego membawa Cindy untuk duduk dipangkuannya.


"Setelah dari sini, papa janji ya tidak akan meninggalkan mama dan Cindy, papa akan tinggal bersama kita." Cindy mengatakannya sambil menangis.


Diego dan Rachel hanya saling berpandangan. Mereka menjadi salah tingkah, Diego ingin menjawab iya tapi dia takut Rachel keberatan. Dan dia juga takut dia tidak bisa memenuhi janjinya pada Cindy, dia takut dia tidak bisa kembali pulang bersama mereka.

__ADS_1


Sementara di dalam apartemen, Marsell, Rere, Alan, dan Rangga tidak bisa tenang karena mendengar raungan segerombolan zombie di koridor sana. Mereka tidak boleh bersuara, mereka takut dengan jumlah mereka yang sangat banyak bisa membobol pintu apartemen itu. Karena masih ada banyak zombie yang tidak ikut terjun ke bawah sana.


__ADS_2