Terjebak Di Pulau Zombie

Terjebak Di Pulau Zombie
Bab 28


__ADS_3

Co-pilot menggunakan teropong ke arah rooftop sana, dia melihat ada orang-orang melambaikan tangannya ke helikopter itu. Namun dia terkejut begitu melihat di bawah sana terdapat banyak orang-orang yang menyeramkan, "Oh dibawah ada monster yang mengerikan, mungkin kah monster itu yang disebut zombie?"


Bagi mereka kata zombie itu sudah tidak asing karena pernah mendengar berita tentang experimen gagal yang menyebabkan manusia berubah menjadi monster.


"Lalu bagaimana menurutmu? Haruskah kita menolong mereka?" Pilot sendiri sangat ragu untuk menolong mereka.


Co-pilot berpikir sebentar, resikonya terlalu tinggi untuk menolong mereka. "Aku melihat ada dua anak kecil disana, mengingatkan aku pada anakku,"


"Ya sudah kita tolong saja, tapi jangan sampai memasukkan orang yang terkena luka cakaran apalagi luka gigitan zombie, mereka sudah pasti terinfeksi." Pilot memutuskan untuk menolong mereka.


Kedelapan orang di rooftop itu sangat bernafas lega sepertinya awak helikopter melihat mereka, mereka melihat helikopter diatas sana terbang menuju ke arah rooftop apartemen, itu artinya sebentar lagi mereka akan segera meninggalkan pulau ini.


Di dalam apartemen, Marsell dan Rangga mendengar suara helikopter begitu jelas, bisa dipastikan helikopter itu datang untuk menolong orang-orang yang ada di rooftop.


Zombie-zombie berlarian ke balkon mencari bunyi helikopter yang semakin terdengar begitu dekat. Bahkan zombie yang di kamar pun ikut berlari ke balkon, mereka membuka mulut mereka lebar-lebar sambil meraung mencari sumber suara. Bahkan ada yang saling berloncatan untuk menjangkau helikopter padahal jauh sekali dari jangkauan mereka.


"Kita harus pergi dari sini." bisik Marsell pada Rangga.


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Rangga.


"Ayo cepat kita harus keluar." Marsell segera keluar dari kolong kasur dengan hati-hati.


Rangga mengikutinya dengan perasaan takut.


Mereka terbelalak melihat ada banyak zombie di ruang apartemen yang berhamburan pergi ke balkon malah banyak yang terus berloncatan.


"Aaaggrrrhhkk...!"


Marsell dan Rangga segera berlari karena di siang hari zombie akan bisa melihat mereka.


Otomatis para zombie mendengar suara mereka.


Tanpa diduga saat berada di dekat pintu, Marsell mendorong Rangga hingga terjatuh lalu berlari meninggalkannya.


"Tolong!" teriak Rangga.


Otomatis Rangga tidak bisa menyelamatkan dirinya, belum sempat dia bangun, para zombie sudah mengeruminya, mencabik-cabik tubuhnya secara berutal.


Ada sebagian zombie berlari mengejar Marsell, bahkan saat Marsell berhasil masuk ke tangga darurat, disana ada banyak zombie juga. Para zombie menyerangnya, bahkan berhasil menggigit tangannya, tapi Marsell tidak menyerah, dia terus berontak dan melawan, lalu berlari menuju rooftop.


"Arrrggghhh...." Marsell mengerang kesakitan karena ada yang zombie yang mengigit lengannya lagi. Dia tidak boleh menyerah, mendorong dan memukul zombie itu lalu berlari lagi, tak peduli ada banyak zombie mengejarnya.


Helikopter mulai menurunkan ketinggiannya bersejajaran dengan pinggir rooftop, awak helikopter perlahan-lahan menurunkan tangga tali penyelamat dari helikopter.


Co-pilot menyuruh mereka untuk cepat naik, mereka mendahulukan anak kecil dulu, Diego membantu Cindy untuk menaiki tangga itu, terlihat Diego sedang berbicara serius dengan co-pilot setelah co-pilot ingin melihat luka di tangan Diego karena melihat tangan Diego yang di tutupi kain.


Setelah mengambil kesepakatan bersama, kemudian Diego turun kembali membantu Adel juga untuk naik keatas.


Sekarang giliran wanita.


Saat Mira memanjat tali tangga, mereka dikejutkan dengan suara pintu darurat yang terbuka.


Braakk


Mereka melihat Marsell berlari dikejar oleh zombie.


Bahkan Marsell malah mendorong orang yang berada di dekatnya, Victor, agar zombie yang mengejarnya menjadi fokus pada Victor. Victor yang tiba-tiba di dorong oleh Marsell dia tidak memilki persiapan sama sekali untuk melawan, sampai banyak zombie menyerang dirinya.


"Aaaggrrh..." Victor meringis kesakitan.


"Victor!" teriak Diego.


Doorrr

__ADS_1


Doorrr


Walaupun ini pertama kalinya Diego menembak, tapi tembaknya berhasil tepat sasaran di kepala zombie. Namun sialnya ada zombie yang berhasil mengigit lehernya. Victor segera melawan, di bantu oleh Diego.


"Victor!" Diego menatap Victor dengan tatapan sendu melihat ada luka gigitan di leher Victor.


Victor hanya diam dengan mata berkaca-kaca.


Dave, Ana, dan Rachel langsung berlari untuk menahan pintu agar tidak ada banyak zombie yang masuk.


Sementara Diego terus menembak belasan zombie yang masih berada di rooftop, sampai tak tersisa satupun zombie disana.


Namun sialnya Dave, Rachel dan Ana sangat kewalahan menahan pintu.


Marsell hanya diam merebahkan dirinya di lantai sambil meringis kesakitan karena luka bekas gigitan zombie di tangannya. Dan tidak ada yang tahu itu karena mereka yang ada disana fokus untuk menahan pintu.


Diego bergegas mendorong kursi besi panjang merapatkannya dengan pintu. Dia menyuruh Ana untuk cepat naik ke helikopter apalagi co-pilot terus berteriak agar mereka cepat naik.


"Tapi kalian bagaimana?" tanya Ana pada Dave.


"Kita akan menyusul." jawab Dave.


Ana dengan berat hati berjalan dengan cepat untuk memanjat tangga tali itu, Dave terus memperhatikan Marsell yang gelagatnya sangat aneh. Dia terbelalak begitu melihat Marsell yang matanya putih semua, Marsell berlari menyerang Ana.


Dave segera berlari untuk menolong Ana, dia menendang tubuh Marsell dengan keras.


"Cepat naik!" suruhnya pada Ana.


Ana segera naik ke atas walaupun hatinya sangat merasa tidak tenang melihat Dave yang berkelahi dengan Marsell.


Dave kalah kekuatan menghadapi Marsell, sampai Marsell mengangkat tubuhnya, dan membanting tubuh Dave ke lantai dengan keras.


"Dave!" teriak Ana, dia tidak bisa berkonsentrasi memanjat tangga tali itu.


Victor yang merasa dirinya akan menjadi seperti Marsell juga, dia segera berlari menghajar Marsell, bahkan dia membiarkan dirinya yang tergigit oleh Marsell ketika Marsell berlari untuk mengigit Dave.


"Aaaggrrrhhkk!"


Marsell mulai berlagak seperti zombie, sementara Victor matanya mulai memutih. Diego ingin menembak Marsell tapi sayangnya pelurunya sudah habis.


"Ah sial!" Diego mengumpat. Dia menyuruh Rachel naik ke helikopter. Dia rasa mereka tidak akan bisa terus menahan pintu lebih lama lagi. "Cepat kamu naik!"


Rachel tidak mungkin tega meninggalkan Diego sendirian.


"Nggak, kamu juga harus naik."


Diego terus fokus menahan pintu, apalagi tangan Zombie sudah berhasil menelusup ke sela-sela pintu.


Dave yang badannya terasa remuk, dengan sekuat tenaga berusaha untuk berdiri, dia bingung antara harus menolong Victor yang tak berdaya berkelahi dengan Marsell atau membantu Rachel dan Diego yang berusaha keras menahan pintu.


Dave terkejut begitu melihat Marsell mengigit badan Victor dan membanting tubuhnya ke bawah.


"Oh Dokteeer!" teriak Dave dengan mata berkaca-kaca.


Begitu pun juga Diego, dia sangat terpukul dan hatinya sakit melihatnya.


Dave melihat pedang yang selalu digunakan oleh Diego, dia meraih pedang itu untuk melawan Marsell.


"Aaaggrrrhhkk...Aaaggrrrhhkk..." Marsell telah berubah sepenuhnya menjadi zombie, dia terus berusaha menyerang Dave yang tubuhnya masih kesakitan.


Dave menitikan air mata, walau pun saat ini Marsell berubah menjadi zombie tapi baginya Marsell adalah sahabatnya, dia tidak mungkin tega membunuh Marsell, apalagi menebas kepalanya.


Prang

__ADS_1


Dave menjatuhkan pedangnya ke lantai.


Ana yang sudah berada di dalam helikopter, dia terkejut melihat Dave yang tak ingin melawan Marsell. Kegelisahan melanda dirinya, dia takut Marsell akan melukai Dave.


"Oh tidak Daveee!" Ana menjerit histeris begitu melihat Dave yang akan di serang oleh Marsell.


Doorr


Co-pilot Helikopter terpaksa menembak kepala Marsell, dia memang tidak memiliki persiapan sama sekali, karena tidak tau akan ada kejadian seperti ini, dia hanya memiliki satu peluru di senjatanya.


Dave segera berlari menghampiri Diego dan Rachel yang masih berusaha sekuat tenaga menahan pintu, "Biar aku yang tahan. Kalian cepat naik!"


Mereka memang tidak bisa selamat jika tidak ada satu orang pun yang menahan pintu.


"Gak, biar aku saja." Diego teringat dengan pembicaraan dia dengan kedua awak helikopter, saat dia membantu Cindy naik ke dalam helikopter, co-pilot melihat ada luka cakar di tangan Diego, mereka sangat ketakutan sekali karena menurut mereka luka cakar juga bisa membuat orang itu terinfeksi walaupun dalam jangka waktu berhari-hari atau bahkan mingguan.


Awalnya pilot dan co-pilot ingin membatalkan rencana mereka untuk menolong semua orang yang ada di rooftop, mereka takut ada yang terinfeksi disana, tapi Diego meyakinkan mereka bahwa hanya dirinya yang memiliki luka cakar, karena itu dia memohon pada mereka untuk membawa orang-orang di rooftop sana selain dirinya.


Diego memperlihakan luka cakar pada Dave dan Rachel, "Aku terinfeksi, lebih baik sekarang kalian pergi." bahkan luka itu malah terlihat menghitam.


Rachel dan Diego terkejut melihatnya mungkin karena dari kemarin Diego menutup lukanya dengan kain.


Rachel enggan untuk meninggalkan Diego "Bukankah itu luka yang waktu itu, tapi kamu gak berubah kan? Kamu gak terinfeksi!"


"Kamu salah, luka ini akan tetap membuat aku terinfeksi secara perlahan. Karena itu aku...aku minta maaf, aku tidak bisa menepati janji aku untuk menikahi kamu." Diego berusaha untuk tidak menitikan air matanya. "Terimakasih kamu sudah mengenalkan Cindy padaku. Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah walaupun hanya sebentar."


Mereka berbicara sambil terus menahan pintu dengan sekuat tenaga.


Diego menyuruh Dave untuk membawa Rachel pergi, "Tolong bawa dia pergi."


Dave sangat keberatan untuk pergi tanpa Diego "Tapi..."


"Jangan biarkan aku melukai kalian jika infeksi di tanganku sudah menyebar ke tubuhku." Diego memohon pada Dave, "Ini permintaan terakhir aku. Kamu harus selamat, hanya kamu yang bisa diandalkan untuk melindungi mereka semua karena hanya kamu satu-satunya pria yang selamat disini."


Doorr


Doorr


Para zombie semakin kuat mendobrak pintu.


Tak ada pilhan lain, Dave terpaksa menarik Rachel membawanya pergi.


"Nggak. Dieeggoo!" Rachel menolak untuk dibawa oleh Dave, dia menangis sejadi-jadinya, tidak rela meninggalkan Diego sendirian disini.


"Dieggooo!" Rachel terus berteriak sambil menangis. Dia tidak sanggup meninggalkan Diego.


Rachel terus berontak pada Dave yang membawanya semakin jauh dari Diego.


"Ingatlah, kak Rachel memiliki Cindy." Dave mencoba untuk menyadarkan Rachel bahwa Rachel tidak boleh ikut mati karena ada Cindy yang membutuhkan mamanya.


Perkataan Dave benar, Rachel terpaksa menaiki tangga tali dengan perasaan hancur. Dia tak bisa berhenti menangis.


Begitu juga Dave, dia menangis, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Diego tapi Dave tidak memiliki pilihan lain apalagi luka di tangan Diego sangat membuatnya yakin bahwa Diego juga terinfeksi. Dave terpaksa naik ke dalam helikopter, saat ini hanya dia pria satu-satunya yang selamat, itu artinya hanya dia yang bisa diandalkan oleh mereka.


Co-pilot mulai menarik kembali tangga tali, dan menutup pintu. Perlahan helikopter itu menaikan tingginya dan mulai pergi.


"Papa!" Cindy berteriak karena Diego tidak ikut bersama mereka.


"Mama, papa mana? Kenapa papa gak ikut bersama kita?" Cindy menangis sesegukan, "Cindy gak mau pulang. Cindy mau pulang kalau papa juga ikut bersama Cindy."


Rachel tidak bisa menjawab pertanyaan Cindy, dia memeluk putrinya dengan perasaan yang begitu terluka, hatinya sangat hancur saat ini, dadanya terasa begitu sesak. Baru kali ini Rachel menangis di depan Cindy.


Mereka yang ada di dalam helikopter juga ikut menangis, menangisi Diego yang tak bisa ikut pergi bersama mereka.

__ADS_1


Brakkk


Pintu darurat pun terbuka lebar karena Diego tidak sanggup menahan pintu sendirian.


__ADS_2