Terjebak Di Pulau Zombie

Terjebak Di Pulau Zombie
Bab 27


__ADS_3

Malam ini terasa semakin mencengangkam, Marsell dan Rangga tidak bisa melarikan diri, dari sore mereka masih bersembunyi di bawah kasur dengan penuh ketakutan karena ada beberapa zombie di kamar sana.


Nasibnya berbeda dengan delapan orang di rooftop sana, mungkin karena tak ada zombie yang mengetahui keberadaan mereka, mereka bisa hidup dengan tenang malam ini.


Cindy dan Adel sudah tidur dengan nyenyak, sementara keenam orang dewasa disana sedang membicarakan soal peta yang dibawa oleh Diego.


"Rupanya disini ada sebuah dermaga" Diego menujuk letak Dermaga di peta yang dia temukan di apartemen lantai 13. "Disana pasti ada kapal atau perahu yang bisa kita tumpangi."


Mereka yang ada disana terperangah mendengarnya, ada rasa lega dan senang mendengarnya.


Victor termenung sebentar, "Jarak 12,9 km? Mungkin butuh lebih dari dua jam berjalan kaki kesana."


"Lebih dari dua jam?" Mereka tercengang mendengarnya, bukan karena jaraknya tapi karena takut mereka selama dua jam itu dikejar oleh para zombie, mustahil untuk selamat.


"Tapi bagaimana caranya kita keluar dari sini? Pintu tak bisa dibuka karena dikunci dari dalam dan juga banyak zombie di luar." kata Mira, dia merinding membayangkannya.


"Itu artinya kita harus menunggu hujan turun lagi." jawab Diego, "Aku yang akan membuka pintu, biar aku yang melakukan rappeling lagi nanti."


"Bagaimana kalau hujan turun gak lama, gak sampai dua jam? Apalagi zombie di dalam apartemen ini akan tetap menyerang karena aman dari air hujan." tanya Rachel pada Diego.


Diego terdiam, rupanya idenya bisa membahayakan mereka walaupun mungkin ini satu-satunya cara yang bisa dia lakukan.


"Kami pria yang ada disini yang akan melawan mereka. Yang penting perempuan dulu bisa selamat sampai ke kapal." jawab Dave.

__ADS_1


Ana keberatan dengan jawaban dari Dave, "Aku gak setuju kalau sampai ada yang berkorban lagi disini."


"Kita juga pasti akan berusaha untuk selamat." Victor mencoba menyakitkan mereka. "Kita tidak bisa mengandalkan pesawat atau helikopter yang melintas."


"Kita harus menunggu hujan di malam hari, untuk berjaga-jaga jika durasi hujan tidak lama, kita bisa berusaha agar mereka tidak mendengar suara ataupun langkah kita." Diego rasa mereka lebih baik pergi di malam hari saja, dan harus saat datang turun hujan, walaupun tidak tau pasti kapan akan turun hujan di malam hari.


...****************...


Dua hari berlalu, hujan yang dinanti tak kunjung datang, dan selama dua hari itu mereka tidak melihat ada pesawat yang melintasi pulau ini, membuat mereka yang ada di rooftop sana sedikit frustasi.


"Jangan patah semangat, kita harus yakin bisa keluar dari sini!" Diego berusaha untuk menyemangati mereka walaupun sebenarnya dirinya juga sangat ingin sekali segera meninggalkan pulau ini.


Sebenarnya dia sangat mencemaskan luka cakar di tangannya, jika dia merasakan ada tanda-tanda tidak wajar pada dirinya, dia akan membunuh dirinya sendiri.


Seperti biasa Diego mencari pengganjal perut, walaupun Dave dan Victor menawarkan gantian mereka yang melakukan rappeling, tapi Diego tidak mengizinkannya. Karena dia tau Victor dan Dave belum pernah melakukannya.


"Aaggrrhhkkk... Aaggrrhhkkk..."


Di kolong kasur, Marsell mendengar suara zombie yang meraung-raung ke arah jendela, mungkin melihat ada seseorang yang melakukan rappeling di dinding apartemen, melewati lantai 15 sana, dia terbelalak begitu melihat wajah Diego, rupanya dia masih hidup dan malah melakukan rappeling di dinding apartemen.


Ternyata ada yang masih hidup di rooftop, itulah yang ada dipikiran Marsell saat ini, dia harus bernekad bisa ke rooftop, bagaimanapun caranya, karena ada sedikit peluang untuk bisa selamat di jika dia terus berada di rooftop.


...****************...

__ADS_1


Siang ini, Diego hanya menemukan satu bungkus besar biskuit saja di lantai 10, rupanya di lantai 10 tidak ada zombie juga. Dia tidak akan membiarkan Cindy dan Adel kelaparan, termasuk dirinya dan lima orang lainnya, walaupun nyawa taruhannya.


Diego memilih beristirahat sejenak di rooftop sana, dia harus mencari apa saja yang bisa digunakan senjata atau apapun yang bisa mereka gunakan. Dia membiarkan Cindy yang duduk manja di pangkuannya sambil memakan biskuit. Diego sangat merasa sedih melihat putrinya harus merasakan kelaparan, terlebih lagi dia belum bisa membawa putrinya dan Rachel pergi dari sini.


Diego mencium pucuk kepala Cindy dengan lembut dengan mata berkaca-kaca.


Rachel yang duduk di samping Diego, dia sangat tersentuh dengan perlakuan Diego kepada Cindy, padahal mereka cuma beberapa hari bertemu tapi dia bisa merasakan Diego begitu sangat menyayangi Cindy.


Mereka yang ada disana terlonjak begitu mendengar suara helikopter.


Mereka mengadah ke atas, benar saja ada sebuah helikopter melintas walaupun jaraknya sangat jauh.


"Oh itu ada helikopter!" seru Mira.


Dua awak asing di helikopter tidak sengaja melihat ada kata HELP diatas rooftop, mereka memang bukan tim penyelamat yang sengaja melintasi pulau itu, tapi mereka terketuk hatinya begitu melihat ada kata HELP dibawah sana. Mereka berbicara dalam bahasa asing, namun author tulis terjemahannya saja.


"Lihatlah disana ada kata help, bukan?" tanya co-pilot menunjukkan ke salah satu rooftop di apartemen itu.


"Sepertinya iya. Haruskah kita menolongnya?" sang pilot malah balik bertanya kepada co-pilot.


Co-pilot menggunakan teropong ke arah rooftop sana, dia melihat ada orang-orang melambaikan tangannya ke helikopter itu. Namun dia terkejut begitu melihat di bawah sana terdapat banyak orang-orang yang menyeramkan, "Oh dibawah ada monster yang mengerikan, mungkin kah monster itu yang disebut zombie?"


Bagi mereka kata zombie itu sudah tidak asing karena pernah mendengar berita tentang experimen gagal yang menyebabkan manusia berubah menjadi monster.

__ADS_1


__ADS_2