
Brakkk
Pintu berhasil didobrak oleh para zombie di koridor sana.
Mereka berempat yang ada di dalam segera berlari untuk bersembunyi.
Marsell berlari ke kamar dan menguci pintu kamar itu.
Begitu menegangkan!
Apalagi terdengar suara zombie berusaha keras untuk membobol pintu kamar.
"Aagghhrrkk....Aagghhrrkk..."
Marsell bergegas bersembunyi di bawah kasur, rupanya ada Rangga yang sudah duluan bersembunyi disana.
Marsell sudah tau zombie bisa melihat mereka di siang hari, karena itu dia sangat takut ada zombie yang melihatnya, dia masih optimistis para zombie tidak akan melihatnya ke bawah karena zombie tidak memiliki akal, tidak mungkin ada zombie yang sengaja membungkukkan badan mereka untuk mencari mangsa.
Sementara itu Rere sangat ketakutan bersembunyi di kamar mandi. Dia membungkam mulutnya dengan tangan agar tidak bersuara, namun sialnya tadi ada zombie yang mengejarnya sampai ke pintu kamar mandi, zombie yang mengejar Rere terus menyerang pintu kamar mandi, diikuti oleh segerombolannya.
"Aaaaa..." Rere menjerit begitu melihat pintu kamar mandi yang berhasil di rusak oleh zombie.
Dia berusaha melawan dengan melemparkan benda apa saja di kamar mandi itu, " Cepat pergi! Pergi sana!" bentaknya dengan nada ketakutan.
Sayangnya mereka tak akan menyerah malah langsung menerkam Rere dan menggigit tubuhnya begitu ganas. Bahkan para zombie disana saling rebutan karena kelaparan.
"Arrrggghhh... tolong...tolong!" Rere hanya bisa menjerit dalam kesakitannya.
Sementara itu Alan berlari ke kamar yang satu lagi, sayangnya tubuhnya yang besar tidak bisa bersembunyi di bawah kasur, bahkan tidak muat bersembunyi di lemari yang ada di kamar itu. Alan terus melawan para zombie yang terus menerus menyerangnya.
Mungkin karena masih sore jadi para zombie masih bisa melihat, dengan mudah sekali zombie bisa melumpuhkan lawan, apalagi mangsanya begitu sangat menggiurkan.
"Aagghhrrkk...Aagghhrrkk...!"
Buukkk
Alan memukul zombie yang ada didepannya dengan lampu tidur, sayangnya tidak mempan.
Alan terkejut begitu melihat wajah zombie itu, dia menitikan air matanya. "Istriku." lirihnya.
Istri Alan yang sudah menjadi zombie sama sekali tidak mengenali Alan, malah dia menggigit wajah Alan dengan brutal.
__ADS_1
"Aaaggghhh..." Alan menjerit kesakitan.
Para zombie ikut menyerang Alan, bahkan mengrogotinya. Alan tak bisa melawan lagi. Dia semakin lemah tak berdaya, nasibnya begitu sial harus menjadi santapan istrinya dan para zombie disana.
...****************...
Hujan turun begitu deras, bahkan suara guntur menggelegar di angkasa, memang biasanya terasa begitu mencengkam, tapi kali ini mereka yang ada di rooftop sana begitu menikmati apa yang telah Tuhan kirimkan untuk mereka.
Rachel memeluk Cindy menggendongnya berteduh di pinggiran pintu darurat, bersama Ana, Adel, dan Mira. Sementara para pria sibuk menampung air hujan di ember bersih yang Diego bawa di apartemen.
"Ma, Cindy takut disini. Kita belum pulang juga Ma." lirih Cindy pada sang mama.
"Sebentar sayang, sebentar lagi kita pulang ya." Rachel sangat merasa bersalah pada Cindy karena telah membohonginya, padahal dia pun tidak tau waktu sebentar yang dia ucapkan itu berapa lama.
Cindy membasahi tangannya dengan air hujan, lalu memasukkan jarinya yang basah ke mulutnya.
"Cindy haus?" tanya Rachel dengan mata berkaca-kaca.
Cindy menganggukkan kepalanya.
Rachel menadahkan telapak tanganya di bawah air hujan, dia membiarkan Cindy meminumnya ditelapak tangannya, baru kali ini Rachel melihat Cindy kehausan seperti ini. Begitupun Rachel menadah air hujan untuk dirinya.
"Ah ya ampun segar sekali." seru Mira, bahkan dia membasuh wajahnya yang sangat terlihat kusam karena belum menemukan air dari semalam.
Ana tak mau kalah, dia membasuh wajahnya dengan air dan meminumnya juga. Air hujan ini adalah sebuah anugrah, memberikan rasa kesegaran dan membuat tubuh mereka rilex kembali.
Diego, Dave, dan Victor malah membahasi tubuh mereka dengan air hujan, mereka tidak tau kapan lagi merasakan segarnya air hujan, apalagi Diego sedang menunggu air hujan yang dia tampung di ember.
Dave melihat ke bawah, dia terkejut begitu melihat tidak ada zombie satupun di bawah sana, apa mungkin mereka sedang berteduh?
"Apa zombie takut air? Sama sekali tidak ada zombie dibawah." seru Dave.
Victor segera berlari mendekati benteng, dia membulatkan matanya begitu melihat suasana dibawah yang sangat sepi, sama sekali tidak kelihatan ada zombie. "Sekarang aku mengerti mengapa tidak ada zombie di pantai sini. Mereka takut air."
"Apa itu artinya kita bisa melarikan diri dari sini saat turun hujan?" tanya Dave, matanya berbinar-binar, akhirnya dia mengetahui kelemahan zombie disana. "Apa kita harus kembali ke pantai saja?"
"Tinggal di pantai juga berbahaya, sama sekali tidak ada tempat untuk berteduh, ada kemungkinan zombie bisa mengejar kita sampai ke tepi pantai. Tidak mungkin kita berdiam diri terus di air laut."
Perkataan Victor memang benar adanya, Dave menjadi frustasi karena tidak menemukan akal bagaimana caranya mereka bisa keluar dari pulau ini.
Diego ingin membersihkan luka cakar di tangannya, dia terkejut begitu melihat luka cakar dia tangannya yang menghitam, Diego segera menutup kembali luka itu dengan kain. Dia memilih bergabung dengan Dave dan Victor.
__ADS_1
"Aku menemukan sebuah peta."
"Peta?" Victor mengerutkan dahinya.
...****************...
Malam itu hujan sudah reda, delapan orang yang ada di rooftop begitu sangat menikmati makan malam mereka walaupun terpaksa harus memakan mie mentah dan snack yang dibawa oleh Diego di apartemen lantai 13.
Mereka makan dengan beralasan kertas yang dibawa oleh Diego.
Diego memberikan jatahnya pada Cindy, dia tau sekali Cindy pasti belum kenyang. "Cindy mau tambah lagi?"
"Papa gak makan?" Cindy malah balik nanya.
"Papa sudah kenyang tadi makan di bawah." Diego terpaksa berbohong karena dia tau Cindy pasti belum kenyang.
"Boleh Pa?" seru Cindy, benar saja dia masih ingin nambah lagi tapi malu memintanya.
Diego menganggukkan kepala, membiarkan Cindy memakan jatah makanannya, Diego dengan ragu-ragu mengusap rambut Cindy dengan perasaan berdebar-debar, dia memandanginya dengan penuh kasih sayang.
"Kita makan berdua." Rachel menawarkan jatahnya pada Diego untuk dimakan berdua bersama calon suaminya.
"Ehmm...ehmm..." mereka yang ada disana malah menggoda Diego dan Rachel.
Diego dan Rachel menjadi salah tingkah.
"Aku sudah kenyang, kamu makan sendiri aja." Diego menolak tawaran Rachel.
"Bukannya kamu bilang akan menikahiku? Bagaimana kalau kamu mati karena kelaparan? Apalagi anak kita tidak suka dibohongi." bisik Rachel pada Diego, dia tidak ingin perkataannya terdengar oleh Cindy, karena Diego telah berbohong kepada puterinya walaupun demi kebaikan.
Diego terpaksa menganggukan kepala, dia memakannya sedikit jatah Rachel.
Ana dan Dave merasa tersentuh dengan pengorbanan Diego, mereka malah rebutan untuk menyerahkan jatah makanan mereka pada Adel.
"Udah, biar jatah aku saja buat Adel." kata Ana, pelan.
Mereka semua yang ada disana berbicara memang begitu sangat pelan.
"Nggak, aku saja. Kamu harus habiskan semuanya." Dave tidak mau mengalah.
Adel terpaksa membawa setengah makanan milik Diego dan setengah makanan milik Ana, biar adil. "Makasih ya om ganteng dan tante cantik." kata Adel dengan pelan. Padahal anak 7 tahun itu saat ini bersama orang-orang yang sama sekali tidak dia kenali tapi rasanya begitu nyaman karena bertemu dengan orang yang tepat.
__ADS_1