
Namaku Shilla, umurku 17 tahun. Aku tidak mempunyai saudara, aku hidup sendiri.. sebatang kara, Aku menumpang tinggal pada bibiku yang seorang janda. Sehari-hari aku bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah makan dekat dengan rumah bibi .
Aku putus sekolah, karena aku tidak bisa membiayai sekolahku yang sangat mahal. semenjak orang tuaku meninggal beberapa tahun yang lalu, aku menghidupi diriku sendiri. Sesekali aku membantu bibi, namun bibi selalu menolak jika aku bantu. Karena dia selalu bilang untuk aku menabung guna kehidupanku di masa depan.
Setiap malam, aku selalu pulang telat dibantu temanku yang bernama Ririn. Aku selalu bekerja lembur untuk mendapatkan uang tambahan. Ririn adalah seorang gadis yang seumuran denganku, nasibnya sama denganku.. tapi nasib Ririn lebih mengenaskan.
Malam ini aku dan Ririn diminta oleh pak Joko untuk mengantar makanan ke rumah sanak saudaranya. Karena beberapa hari yang lalu salah satu putrinya telah meninggal dunia. Aku dan Ririn pergi ke tempat saudara pak Joko, pak Joko menuliskan alamat agar kami tidak tersesat.
Jujur saja aku dan Ririn adalah dua gadis bodoh yang selalu lupa arah jika sedang berbicara. terkadang malah Kami sering tersesat, karena kebiasaan mengobrol yang tidak ada habis-habisnya. Malam ini aku dan Ririn rencananya disuruh pak Joko untuk menginap di rumah saudara pak Joko. Karena hari ini hari peringatan dari mendiang keponakan pak Joko yang meninggal.
Ku langkahkan kakiku dan kulihat sebuah rumah sederhana, namun sangat besar.
"Mengapa rumahnya sangat menyeramkan, seperti ini?" ucapku sambil menatap sebuah rumah, dengan nuansa interior yang biasa-biasa saja namun hatiku serasa seperti seorang gadis yang bertemu dengan hantu.
"Memangnya ada apa?" tanya Ririn kepadaku.
"Entahlah, mungkin itu hanya pikiranku saja," jawabku kepada Ririn.
Sesaat kemudian.. aku dan Ririn masuk ke rumah saudara pak Joko. Ternyata hari ini adalah hari ketiga kematian keponakan pak Joko. keluarga itu mempersilakan aku masuk dan menyuruhku untuk tidur di rumah mereka. Karena pak Joko telah memberitahu kepada mereka, kalau kedua pegawainya akan menginap di tempat mereka untuk membantu mereka.
Aku duduk disebuah ruangan kecil bersama Ririn, sesaat kemudian.. entah apa yang terjadi, aku seperti melihat sekelebat bayangan hitam.
Tiba-tiba bulu kudukku merinding, begitu juga dengan Ririn.
"Shilla, kamu merasakan sesuatu tidak?" tanya Ririn kepadaku.
"Emangnya kenapa?" tanyaku kepada Ririn.
__ADS_1
Aku yakin, Ririn juga bisa merasakan kalau ada sekelebat bayangan hitam yang tadi berseliweran di depan kami, entahlah...
"Memangnya ada apa?" tanyaku lagi kepada Ririn.
"Kenapa bulu kudukku merinding ya," ucap Ririn kepadaku.
Akhirnya kami membantu, aku dan Ririn membantu keluarga pak Joko yang mempersiapkan acara doa untuk mengenang kematian keponakan pak Joko.
Saat malam semakin larut, tiba-tiba aku dan Ririn yang tidur satu ruangan nampak mendengar sesuatu jeritan dan tangisan. Karena Kami merasa terganggu dengan tangisan itu.. aku dan Ririn terbangun, menatap ruangan kami tempati, tidak ada orang di sana. Namun sesaat kemudian.. tiba-tiba bulu kudukku dan Ririn merinding semua. entah apa yang terjadi, ada suara yang menangis meraung-raung seperti seorang yang sedang kesakitan.
"Kau dengar tidak, Rin?" tanyaku kepada Ririn.
"Iya, aku dengar," jawab Ririn.
"Siapa yang nangis malam-malam begini?'' tanya Ririn kepadaku.
Sesaat kemudian, karena aku dan Ririn Yang penasaran.. kami berdua keluar dari kamar dan mencari asal suara tersebut.
"Aku takut Sil," ucap Ririn kepadaku.
"Jangankan kamu, aku juga takut kali," jawab ku kepada Ririn.
Kami berdua sama-sama ketakutan, terpaksa kami mencari keberadaan asal suara itu, terlihat rumah itu tidak ada orang yang berseliweran. nampaknya mereka berada di sebuah ruangan yang terkunci.
"Kenapa tidak ada orang sama sekali," ucapku saat melihat tidak ada satu orang pun yang ada di rumah tersebut
"Kok seram Sil," ucap Ririn kepadaku.
__ADS_1
"Iya," jawabku .
Saat kami berada di suatu kamar yang terkunci, terdengar suara tangisan itu semakin kencang. Aku dan Ririn yang terkejut karena hal itu spontan kami saling berpelukan.
"Siapa ini?" tanyaku kepada Ririn.
"Nggak tahu," jawab Ririn.
Saat Kami sering bertanya, tiba-tiba suara itu sudah berada di belakang punggung kami.
"Kembalikan.. kembalikan," ucap suara yang tidak ada wujudnya tersebut. sontak Hal itu membuat aku dan Ririn berteriak ketakutan, karena suara teriakan kami yang begitu keras.
Hal itu membuat orang-orang yang ada di rumah itu itu langsung berhamburan ke tempat kami berada.
Setelah saat itu, aku dan Ririn akhirnya kembali ke tempat kami berada. Sudah terlihat, bahwa kami sangat ketakutan saat berada di rumah itu. aku dan Ririn selalu terngiang suara tangisan itu, hingga suatu malam.. Aku dan Ririn yang berada di rumah makan saat shift malam. tiba-tiba suara rintihan tangisan itu terdengar kembali. Hal itu membuat Aku dan Ririn saling menatap.
"Kembalikan... kembalikan,"
Suara rintihan itu lagi...
"Kya!!"
Suara teriakanku dan Ririn...
Setelah kejadian itu aku berharap kehidupanku akan normal kembali sebuah kehidupan yang ingin kujalani.
Setelah kejadian itu, akhirnya Ririn lebih memilih untuk keluar dari pekerjaannya. sedangkan aku aku tetap ada pekerjaan yang terkadang terasa berat karena ulah bosku Yang gila itu.
__ADS_1
** Bersambung **