Terpikat Gairah Sang Tunangan

Terpikat Gairah Sang Tunangan
Chapter 17


__ADS_3

Halo teman-teman!


Sebelum kalian membaca karya Author, Author punya rekomendasi cerita menarik untuk kalian baca. Judulnya Air Mata Shabila. Yuk, kepoin ceritanya. Dijamin kalian bakalan suka 😊



...****************...


...Happy Reading! ✨️...


Aku mengatakan tidak sama sekali ke Ayu dan Melody. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada nya, mengingat sikap menyebalkan nya yang terkadang kambuh itu saja membuat ku emosi, jadi bagaimana mungkin aku jatuh cinta sama dia.


Ayu dan Melody tersenyum seolah tidak mempercayai perkataan ku. Mereka kemudian berpamitan pulang dan meminta ku untuk masuk sekolah besok. 


Arfan masuk ke kamar setelah Ayu dan Melody pulang. Dia berasumsi bahwa aku sudah baik-baik saja karena melihat ku sudah bisa berbincang bersama teman-teman ku, di tambah dengan aku sudah tidak terlihat lemah seperti saat terakhir kali Arfan melihat ku.


Arfan lalu meminta ku untuk tidak memakai pakaian seperti itu lagi jika tidak ingin demam tinggi. Aku berkata pada Arfan bahwa aku demam karena duduk di lantai menunggu nya bangun.


Eh, tunggu dulu. Aku kemudian memicingkan mata ku ke arah Arfan yang berdiri di sebelah tempat tidur. Arfan bertanya kenapa aku melihat nya dengan pandangan aneh seperti itu.


"Bapak mindahin aku ke tempat tidur?" Tanyaku penasaran.


Arfan mengiyakan. Dia juga mengatakan bahwa aku berat banget saat Arfan menggendong ku untuk memindahkan ke tempat tidur.

__ADS_1


Seriously? Aku tidur di tempat tidur nya semalaman? Bersama Arfan? Aku lalu menuduh Arfan telah melecehkan ku.


Arfan meminta ku untuk tidak berpikiran yang bukan-bukan. Aku tidak mempercayai perkataan nya dan tetap menuduh nya telah melecehkan ku.


"Kenapa kamu selalu menuduh saya melecehkan kamu sih?" Tanyanya bingung.


Selalu? Arfan bilang selalu? Berarti dia ingat kejadian di Bali. Aku sekali lagi memastikan ke Arfan apakah dia ingat tentang kejadian di Bali.


"Tentu saja saya ingat. Mana mungkin saya melupakan seorang perempuan yang salah masuk kamar lalu menuduh melecehkan diri nya," Sahut Arfan dengan nada yang sedikit tinggi.


Aku kembali bertanya pada nya mengapa dia tidak jujur pada ku saat dahulu aku bertanya apakah dia pernah bertemu dengan ku sebelum nya. Arfan berkata dia hanya tidak ingin orang lain yang mendengar berpikir yang buruk tentang ku karena saat itu kita sedang berada di cafe dan orang lain yang menunggu Arfan selesai mencuci tangan nya.


Aku terdiam ketika mendengar jawaban dari Arfan. Aku sungguh tidak tahu kalau Arfan berpikiran sejauh itu. Arfan bisa saja membenci ku atau melaporkan ku ke kepala sekolah, tetapi, dia tidak melakukan nya.


Aku turun ke meja makan, aku melihat Adinda sedang berbisik ke Arfan, setelah itu dia melambaikan tangan ke arah ku untuk berpamitan. Aku membalas lambaian tangan nya sembari tersenyum. Arfan menutup pintu lalu ke meja makan menemui ku dan duduk di sebelah ku.


Aku memakan makanan yang ada di meja makan lalu melihat Arfan yang sedang bermain handphone dengan wajah yang tampak serius. Dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikan nya. Tanpa melihat ke arah ku, Arfan bertanya mengapa aku terus memperhatikan diri nya. Aku buru-buru melihat ke arah lain, tetapi, Arfan menaruh handphone nya di atas meja dan balik memperhatikan ku yang sedang makan.


"Kenapa salah tingkah gitu?" Tanya Arfan menggoda ku yang terlihat salah tingkah.


Aku menoleh ke arah Arfan. "Siapa juga yang—–"


Arfan lalu menempelkan punggung tangan nya ke arah kening ku yang membuat ku seketika berhenti berbicara. Wajah Arfan begitu dekat dengan ku. Jika di lihat dari jarak sedekat ini siapa yang tidak salah tingkah. Arfan kemudian melepaskan punggung tangan nya dari kening ku. Dia menyuruh ku untuk menghabiskan makanan nya setelah itu pulang karena demam ku sudah benar-benar sembuh. 

__ADS_1


Jantung ku astaga…. Dia kenapa membuat detakan jantung ku menjadi lebih cepat. Mood makan ku menjadi hilang karena sikap nya yang tiba-tiba membuat ku deg deg an.


Arfan meminta ku untuk mendatangi nya jika aku sudah selesai makan, sementara dia menunggu ku di mobil. Aku mencuci piring makan ku lalu ke kamar Arfan untuk mengambil tas ku, setelah itu menemui Arfan yang menunggu ku.


Aku menanyakan tentang luka-luka nya, apakah dia masih merasakan sakit. Dia menggelengkan kepala. Aku melihat Arfan yang hanya diam selama perjalanan pulang. Aku memperhatikan wajah nya, kenapa dia masih terlihat ganteng meski pun ada beberapa luka di wajah nya.


Sesampai nya di rumah, Arfan menemui Ayah dan Ibu ku. Ibu menanyakan kondisi ku sembari memeluk ku yang baru saja tiba. Aku menjawab kalau aku baik-baik saja, dan demam ku sudah sembuh. Jadi Ibu tidak perlu khawatir. Ibu terlihat lega setelah mendengar jawaban ku. Ibu juga berterima kasih kepada Arfan karena sudah menjaga ku dan menolong ku ketika peristiwa semalam terjadi.


Arfan tersenyum dan mengatakan bahwa dia hanya kebetulan berada di sana jadi dia menolong ku. Ayah mengajak Arfan untuk makan malam dahulu sebagai permintaan maaf karena sudah di repotkan oleh anak nya.


Kami makan malam bersama, Arfan terlihat sungkan saat ingin mengambil lauk yang ada di atas meja makan. Ibu meminta Arfan untuk tidak usah malu, karena nanti ketika Aku dan Arfan sudah menikah, kami akan sering makan bersama. 


Aku melihat ke arah Ibu yang sedang tersenyum manis sembari menaruh lauk di piring Arfan. Sedangkan Arfan hanya tersenyum ramah ke Ibu ku.


Selesai makan, aku mencuci piring-piring kotor, sementara Ayah dan Ibu mengobrol bersama Arfan di ruang tamu. Ayah memanggil ku untuk ke ruang tamu jika aku sudah selesai mencuci piring.


Aku mengampiri Ayah, Ibu, dan Arfan di ruang tamu. Ayah meminta ku untuk belajar dengan Arfan karena nilai bahasa inggris ku jelek. Aku menolak permintaan Ayah, aku tidak mau belajar dengan dia. Lebih baik aku belajar sendiri saja.


Namun, Ibu memaksa ku untuk belajar dengan Arfan. Aku tak punya pilihan selain menuruti keinginan kedua orang tua ku. Arfan kemudian pamit kepada Ayah dan Ibu, lalu aku mengantarkan Arfan sampai ke mobil nya. 


Aku mencurigai Arfan telah memaksa kedua orang tua ku supaya aku belajar dengan dia. Arfan lalu berkata dia tidak pernah memaksa, kedua orang tua ku lah yang meminta nya untuk menjadi guru private ku karena mengetahui nilai ku yang jelek.


Arfan meminta untuk di mulai besok setelah pulang sekolah di rumah nya. Aku meminta untuk belajar di cafe saja, tetapi, Arfan menolaknya karena dia tahu aku pasti tidak akan fokus jika belajar di sana. Sebelum Arfan memasuki mobil nya, dia sekali lagi berpesan pada ku untuk tidak lagi memakai pakaian seperti kemarin jika tidak ada diri nya. Aku mengiyakan nya lalu Arfan pergi mengendarai mobil nya.

__ADS_1


__ADS_2