Terpikat Gairah Sang Tunangan

Terpikat Gairah Sang Tunangan
Chapter 6


__ADS_3

Halo teman-teman!


Sebelum kalian membaca karya Author, Author punya rekomendasi cerita horor untuk kalian. Judulnya Museum Misterius. Dijamin kalian pasti suka. Yuk, kepoin ceritanya 😊



...****************...


...Happy Reading! ✨️...


Ayu dan Melody yang ikut membaca isi surat itu seketika histeris kegirangan. Mereka menanyaiku tentang inisial A yang tertulis di surat. Mereka juga bertanya apakah buket mawar yang di kirimkan kepada ku berasal dari pacar ku. Aku menjawab kalau aku nggak punya pacar. Ayu dan Melody tentu saja nggak percaya. Apalagi sebuket besar bunga mawar merah ini menjadi bukti. Terutama surat yang tertulis berinisial 'Love A' diakhir.


Mereka juga menduga kalau buket bunga ini berasal dari secret admirer. Aku jadi penasaran, apakah buket bunga ini dari Arfan? Aku mencoba mengirim chat ke dia untuk memastikan apakah rasa penasaran ku ini benar atau salah.


Lima menit kemudian Arfan membalas chat ku.


Iya. Buket bunga nya sudah sampai ya? Hope you like it.


Aku terdiam sejenak setelah membaca chat nya. Dia yang sedingin freezer itu bisa melakukan hal seperti ini. Benar-benar di luar dugaan ku. Namun, tak bisa di pungkiri, aku tersenyum melihat bunga-bunga mawar yang Arfan berikan.


Kami lalu pulang karena Melody ada urusan keluarga sore ini. Sesampai nya rumah, Ibu melihat ku membawa sebuket besar bunga mawar dan bertanya apakah bunga tersebut dari Arfan. Aku mengiyakan pertanyaan Ibu ku. Ibu lagi-lagi memuji Arfan. Aku masuk ke kamar karena nggak ingin mendengarkan pujian dari Ibu.


Aku menaruh buket bunga itu di atas meja. Aku kembali melihat surat dari Arfan. Tanpa sadar aku tersenyum saat membaca nya.


Besok nya


Kak April, nanti saat acara makan siang, jangan lupa kakak pakai gaun yang kemarin itu ya.


Itu adalah chat dari Adinda. Padahal cuma makan siang, tapi kok harus pakai gaun segala sih. Meskipun begitu, tetap saja aku ikutin permintaan nya. Aku memakai gaun polos berwarna biru muda dian heels berwarna putih.

__ADS_1


Aku keluar kamar dan melihat Ayah ku berpakaian rapi duduk di ruang tamu. Di susul Ibu ku yang keluar dari kamar memakai gaun berwarna cream. Ibu memuji ku yang terlihat sangat cantik memakai gaun itu.


Sesampai nya di tempat tujuan, aku bertanya kepada Ayah dan Ibu ku apakah benar kita akan makan siang di sini. Ibu ku membenarkan. Kedua orang tua Arfan mengundang kita untuk makan siang di sebuah hotel yang terbilang mewah.


Kami memasuki lift menuju ke restuarant. Lift terbuka lalu kami keluar. Aku berhenti di depan restaurant. Tiba-tiba aku menjadi insecure dan takut melakukan kesalahan di depan keluarga Arfan. Ibu memanggil ku, aku kembali berjalan memasuki restaurant.


Keluarga Arfan sudah menunggu kedatangan kami. Ayah dan Ibu ku bersalaman dengan kedua orang tua Arfan. Arfan dan Adinda pun juga ikut bersalaman.


"April cantik sekali," Puji mama Arfan.


Aku tersenyum malu-malu ke mama Arfan. Aku melihat Arfan yang sedang menatap ku. Lalu pandangan ku berubah ke arah Adinda yang juga memuji ku. Mereka menyuruh kami duduk lalu meminta menu dengan salah satu staf yang bekerja. Arfan memperhatikan ku saat aku sedang memilih menu. Adinda yang melihat nya lalu menyenggol lengan Arfan dan mengolok nya. Aku melihat Arfan, tetapi, dia langsung memalingkan wajah nya.


Sembari menunggu makanan datang, Ayah dan Ibu ku mengobrol dengan orang tua Arfan. Aku diam saja karena nggak mengerti perbincangan orang tua.


Makanan yang di pesan datang. Ayah dan Ibu masih tetap mengobrol saat menyantap makanan yang di hidangkan. Setelah selesai makan, staf yang berkerja membawakan kue ulang tahun lalu meletakkannya di meja kami.


Orang tua Arfan memberikan ku kado. Dengan perasaan sungkan, aku menerima kado pemberian mereka. Tak lupa aku ucapkan terima kasih kepada orang tua Arfan. Adinda juga memberikan ku kado. Aku menatap heran Adinda yang memegang sebuah goodie bag di tangannya. Adinda hanya tersenyum seolah tau apa yang ku bingungkan.


"Terima dong kak hadiah dariku. Aku sengaja membelikan nya untuk kak April," Bujuk Adinda yang terus memegang goodie bag.


Aku menerima kado dari Adinda dan masih dengan perasaan bingung. Arfan, tentu saja nggak memberikan ku kado. Kenapa aku harus berharap padanya. Adinda izin ke toilet dan aku ikut dengan nya.


Di toilet aku bertanya tentang kebingungan ku kepadanya. Kenapa dia memberikan banyak kado untuk ku. Dia menjawab hanya memberikan ku satu kado, yaitu sebuah goodie bag yang tadi dia pegang. Lalu gaun ini? Bukan kah dia membelikan ku untuk kado ulang tahun ku?


Adinda tertawa mendengar nya. Dia berkata kalau sebenarnya gaun itu bukan dari nya, tetapi, dari kakak nya, Arfan. Arfan meminta nya untuk membelikan ku gaun.


Jadi gaun ini dari dia? Guru menyebalkan itu tahu juga caranya menyenangkan orang lain. Meminta adiknya untuk membelikan ku gaun sebagai hadiah ulang tahun nggak terlalu buruk. 


Adinda mengolok ku yang terdiam saat mengetahui gaun tersebut dari Arfan. Aku keluar dari toilet dan di susul oleh nya. Ayah dan Ibu ku sedang bersalaman dengan kedua orang tua Arfan karena acara makan siang telah selesai.

__ADS_1


Kami memasuki lift bersama menuju parkiran. Kami lalu saling berpamitan satu sama lain. Saat aku membuka pintu mobil, handphone ku berbunyi menandakan ada chat yang masuk. Aku kemudian meminta izin ke Ayah dan Ibu ku untuk nggak ikut pulang bersama mereka karena mau pergi ke suatu tempat. 


Ayah dan Ibu ku mengizinkan nya. Kemudian mobil mereka meninggalkan ku, begitu juga dengan mobil orang tua Arfan. Setelah itu aku menghampiri mobil Arfan. Dia membukakan ku pintu dan menyuruh ku masuk.


Arfan lalu menghidupkan mobil nya dan kita pergi meninggalkan hotel. Ketika lampu lalu lintas berubah merah, aku bertanya kepada nya kita mau kemana. Arfan mengangkat kedua bahu nya. Lah, dia mengajak ku, tetapi nggak tahu mau kemana. Arfan menanyakan hal yang sama padaku. Apakah nggak ada tempat yang ingin aku tuju. Aku berfikir sejenak. Seperti nya kalau aku mengerjai dia seru juga. Aku lalu meminta Arfan menuju ke tempat yang ku sebutkan.


Sesampai nya di tempat tujuan, Arfan melihat sebuah tempat karaoke. Dia lalu melihat ku yang sedang tersenyum. Aku meminta nya untuk turun dan mengikuti aku ke dalam tempat karaoke. Arfan terlihat terpaksa mengikuti ku.


Aku memesan small room untuk waktu dua jam. Setelah itu kita kemudian menuju ruangan yang di pesan. Aku mulai memilih lagu-lagu yang ku suka. Sementara, Arfan hanya duduk saja.


Aku bernyanyi menikmati irama lagu-lagu kesukaan ku. Sudah lama aku nggak karaoke seperti ini. Aku meminta Arfan untuk bernyanyi karena dia hanya duduk sambil meminum minuman yang di pesan nya. Arfan menolak nya, tetapi, aku memaksa nya untuk bernyanyi. Dia kemudian menyanyikan satu lagu bernada sedih.


Sebenarnya dia kalau nggak menyebalkan itu ganteng. Aku jadi tahu kenapa Ayu dan Melody naksir dia. Dua jam pun selesai. Saat nya untuk ku pulang. Arfan lalu mengantarkan ku.


Ayah ku melihat mobil Arfan berhenti di depan rumah. Aku keluar dari mobil lalu salim ke Ayah dan mengucapkan salam, setelah itu aku masuk ke kamar. Arfan juga salim ke Ayah dan duduk bersama Ayah di ruang tamu. Aku kemudian membawakan dua gelas teh hangat untuk mereka.


Malam nya, Arfan berpamitan untuk pulang. Ayah meminta ku mengantar Arfan ke teras. Aku berterima kasih padanya untuk bunga mawar dan gaun mahal yang dia berikan. Arfan dengan cepat menduga kalau Adinda yang menceritakan tentang siapa yang membelikan gaun itu.


"Jangan terlalu lama terbawa perasaan senang, nanti telat ke sekolah atau nggak bawa buku lagi," Celetuk nya yang melihat ekspresi wajah ku masih menunjuk kan rasa senang.


Balik lagi deh sikap menyebalkan nya. Baru juga merasakan senang di hari ulang tahun ku.


Arfan membuka pintu mobil nya lalu mengambil sesuatu. Sebuah goodie bag yang berukuran tidak terlalu besar di berikan nya kepada ku.


"Ambil lah, ini kado dari ku," sembari memberikan goodie bag tersebut padaku. Aku mengambil nya dengan ragu. Kenapa begitu banyak yang dia berikan? Apakah ini prank? Kalau benar ini prank, kenapa prank nya bagus-bagus banget sih.


"April" Arfan melambaikan satu tangan nya ke wajah ku karena melihat ku diam. Arfan kemudian berpamitan dan pergi.


Aku masuk ke kamar dan membuka kado dari nya. Sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam ada di dalam goodie bag tersebut. Aku membuka nya dan melihat sebuah kalung berlian dengan huruf A sebagai mata kalung nya. Aku menghubungi Arfan dan mengucapkan terima kasih. Aku lalu memandangi kalung tersebut dan tersenyum melihat kado yang Arfan berikan.

__ADS_1


__ADS_2