TERSESAT DI KAMPUNG JIN

TERSESAT DI KAMPUNG JIN
ARIL KABUR


__ADS_3

Perasaan yang membuat grogi dan kaku. Perasaan yang membuat kekuatan mental Aril hilang seketika, dan terpaksa membuat dia harus menunduk.


Aril menunduk seperti orang tunduk dan takut pada musuh bebuyutan, tapi dengan suasana hati yang berbeda.


'Benar-benar perasaan yang aneh,' rutuk Aril dalam hati.


Tiba-tiba Dara bangkit dari sisi ranjang, tempat yang dia duduki dari tadi. Aril mengangkat wajahnya, pandangan mereka kembali bertemu.


"Aku mau salat dulu," ucap Dara pamit, dan dia bergegas meninggalkan Aril.


"Kan azan belum terdengar!"


Aril berkata demikian, karena dia memang belum mendengar suara azan Zuhur. Apalagi, ketika akan ditinggal Dara, seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya.


Entah apa yang hilang? Kalau uang, tidak mungkin, sebab Aril memang tidak punya uang. Namun yang pasti, selama ada di sini, Aril memang tidak pernah mendengarkan suara azan.


"Sebentar lagi waktu Zuhur sudah masuk, tapi kalau suara azan memang tidak pernah ada di kampung ini," jawab Dara, setelah dia menghentikan langkahnya.


"Kenapa?"


"Karena tidak ada langgar, apalagi mesjid. Di sini yang beragama islam cuma sedikit. Aku ke kamar mandi dulu ya, Mas!"


Selesai pamit, Dara melangkah meninggalkan Aril tanpa menunggu jawaban lelaki itu.


"Iya," jawab Aril, sementara langkah Dara sudah hampir sampai di pintu kamar.


Ternyata benar, setelah salat, Dara berangkat ke pasar. Dia tidak mengajak Aril ikut serta. Tapi Aril tidak kecewa, bahkan jika diajak pun, dia tidak akan ikut. Sebab Aril telah memiliki sebuah rencan. Rencana untuk kabur.


"Selama aku belum pulang, Mas di dalam rumah saja, tidak usah pintunya dibuka, kunci saja dari dalam," pesan Dara, ketika dia berpamitan. Pesan itu diiyakan oleh Aril.


Setelah Dara keluar rumah, Aril memang mengunci pintu, tapi dia tidak beranjak dari sana. Aril mencari celah untuk mengintip dari dalam. Sayangnya, tidak ada celah yang bisa dia gunakan untuk mengintip.


Mata Aril melirik ke arah jendela, tapi jendela itu juga tertutup rapat. Kemungkinan besar, juga tidak ada celah yang bisa dia gunakan untuk mengintip dari sana.


Aril memutuskan untuk kembali membuka pintu. Pelan-pelan pintu bergeser. Cahaya matahari siang yang tidak begitu terik, menyeruak masuk ke dalam rumah tersebut.


Aril pun mengintip dari celah pintu dengan hati-hati.


Bersamaan dengan itu, Dara telah menaiki sebuah andong, tapi kuda yang menarik andong tersebut bentuknya rada aneh. Tidak seperti kuda yang pernah dilihat Aril.


'Masa ada kuda yang bertaring? Kuda jenis apaan itu?' tanya Aril dalam hati.


Mata Aril mengarah pada pak kusir, siapa tahu pak kusirnya juga bertaring dan bertanduk. Namun, tak ada yang aneh dengan rupa pak kusir. Bentuknya biasa saja, seperti manusia. Cuma wajahnya yang rada pucat.


Aril tidak mau berlama-lama memikirkan tentang kuda dan kusirnya itu. Inilah kesempatannya untuk kabur. Kesempatan ini tidak boleh disia-siakan.


Siapa tahu, ini kesempatan pertamanya dan sekaligus untuk yang terakhir. Sekali ada peluang. Peluang itu harus diambil dengan segera, dan harus sukses untuk kabur. Tidak boleh tidak ...!

__ADS_1


Aril mendorong pintu depan dengan pelan, celah pintu pun melebar. Ketika celah itu sudah cukup untuk dilewati tubuhnya, Aril menyelinap melewati pintu tersebut.


Dia begitu hati-hati, menjaga setiap gerak dan langkah, agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Entah kenapa Aril sehati-hati itu, padahal tidak ada siapapun di rumah ini.


Begitu pula ketika kaki Aril melangkah melewati halaman. Jelas sekali, gerak-gerik yang disertai kehati-hatian terlihat dalam setiap langkahnya. Sehingga membuat remaja tanggung itu berjalan seperti mengendap-endap.


Setelah melewati gerbang pintu pekarangan rumah, dengan cepat Aril menutupnya kembali, kemudian lelaki itu bergegas berjalan ke arah yang berlawanan dengan Dara tadi.


Menurut Aril, jika dia menuju arah yang sama dengan Dara, sudah dapat dipastikan, dia bakal sampai ke pasar.


Tentu hal tersebut akan membuat dia bertemu dengan penduduk kampung ini, bahkan dengan Dara sendiri.


Masyarakat jin pasti curiga padanya, dan itu akan menghambat langkahnya untuk keluar dari kampung Lubuk Agung.


Cukup lama Aril berjalan, tapi dia belum juga berjumpa dengan siapapun.


Meskipun ada beberapa rumah yang telah dia lewati, tapi tak satu pun makhluk berujud manusia yang dia temukan. Bahkan binatang ternak, pun tidak dia jumpai.


Rupanya kampung ini benar-benar sunyi dari makhluk hidup.


Langkah Aril semakin jauh meninggalkan rumah Dara, bahkan rumah penduduk pun mulai tidak ada. Hanya ada beberapa kebun, entah milik siapa.


Setelah beberapa kebun dia lewati, kini hanya jalan setapak yang terbentang di hadapannya. Jalan setapak itu dikelilingi oleh semak dan pepohonan.


Hutan ....


Aril semakin bergegas menyusuri jalan setapak berbentuk lorong, yang diselubungi oleh pohon rambat. Entah jalan bekas apa, Aril tidak peduli. Dia hanya ingin, agar dapat secepat mungkin keluar dari hutan ini.


Keluar dari hutan sebelum malam menyelimuti bumi. Namun, akhirnya langkah Aril harus terhenti, terhalang oleh dalamnya jurang yang membentang di hadapannya.


Kita alihkan dulu cerita pada Dara.


****


Setelah kembali dari pasar, betapa terkejutnya Dara melihat pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Gadis itu bergegas masuk rumah dan menuju kamar Aril.


Dia tidak menemukan Aril di sana, kemudian gadis itu mencari ke seluruh ruangan, bahkan dia juga mencari di sekitar area pekarangan rumah.


Cukup lama dia mencari Aril, tapi apa yang dicari tidak ditemukan. Dara mulai berfikir bahwa Aril sengaja kabur dari rumahnya.


Ketika hal tersebut terlintas dalam pikiran gadis itu. Seluruh persendiannya terasa lemas, dan seketika tenanganya hilang menguap entah ke mana.


Dara duduk di sisi ranjang dengan wajah sendu, perlahan bening merembes dari matanya, dan jatuh menggenangi pipi.


Ada kesedihan yang luar biasa di hati Dara atas kepergian Aril. Satu-satunya orang yang diharapkan untuk bisa keluar dari tempat ini, kini telah pergi.


Ya, baru semalam bapaknya bercerita, bahwa ibunya berada di kampung yang sama dengan kampung Aril, dan Aril mengenal siapa ibu Dara. Bahkan Aril sering datang mengunjungi ibu Dara yang bernama Romlah tersebut.

__ADS_1


Aril-lah yang diharapkan pak Sarwo untuk mempertemukan Dara dengan ibunya, tapi hal itu sepertinya tidak akan terujud, sebab Aril pun kini telah pergi.


Harapan Dara jadi pupus. Pupus untuk bertemu dengan ibunya. Ibu yang tak pernah dia kenal bentuk dan rupanya, tapi ibu yang selalu mendatangkan kerinduan di hati Dara, rindu untuk berjumpa.


Belasan tahun rindu itu dia pendam, kemudian harapan itu datang lewat Aril. Namun, kini musnah seiring dengan kaburnya pemuda itu dari rumah.


Dara merebahkan tubuh di atas ranjang, sementara bening semakin deras merembes dari pelupuk mata. Harapannya yang telah pupus membuat tubuhnya terasa lemas seakan tak bertulang.


Dia membenamkan tubuhnya di atas empukknya kasur, dengan cucuran air mata semakin deras.


Tidak ada niatnya untuk beranjak dari tempat itu. Seakan dia begitu larut dengan kesedihan. Kesedihan karena hilangnya harapan untuk bertemu sang ibu.


Sampai terdengar suara ketukkan di pintu, barulah gadis itu bangkit dan menyusut air yang membasahi pipinya, kemudian Dara bergegas menuju pintu depan.


"Bapak ...! Aril kabur ...!"


Tangis gadis itu pecah setelah membuka pintu. Dia langsung menghambur ke dalam pelukkan bapaknya.


Dengan terkejut pak Sarwo menyambut pelukkan Dara. Walaupun berusaha untuk tenang, tapi kesedihan jelas terlihat di wajah pak Sarwo. Sementara tangis anaknya bertambah kencang dalam pelukkan lelaki itu.


"Sudahlah ... sabar, Nak!" kata pak Sarwo dengan suara serak, sambil membelai bagian belakang kepala Dara.


Mata pak Sarwo berkaca-kaca menahan tangis, karena menyaksikan kesedihan anaknya. Penyesalan atas perbuatannya di masa lalu, kembali menggerogoti hati makhluk itu.


Penyesalan yang selama ini bersemayam di hati pak Sarwo semakin besar. Derita yang dialami Dara sekarang, semua murni karena kesalahan dirinya.


Bukan hanya Dara saja yang menderita, tapi mantan istrinya juga ikut menanggungkannya, semua itu terjadi karena ulah pak Sarwo.


Beberapa belas tahun yang lalu, pak Sarwo begitu berhasrat untuk menikah dengan manusia. Dia memang berhasil memenuhi hasratnya, hasrat yang menyalahi kodrad. Pernikahan antara dua makhluk yang berbeda alam.


Meski istrinya tidak bisa hidup tenang di alam jin, tapi pak Sarwo tetap memaksakkan kehendak, dengan tetap melarang dan mencegah istrinya keluar dari kampung Lubuk Agung.


Setelah Dara lahir, keinginan istrinya untuk kembali ke alam manusia tak bisa dibendung lagi. Sementara pak Sarwo tetap keukeuh mempertahankan Romlah untuk tinggal bersamanya.


Akibatnya, ibu Dara tersebut seperti orang gila. Kerjanya hanya mengoceh setiap saat. Karena rasa kasihan, akhirnya pak Sarwo mengembalikan istrinya ke alam manusia.


Sejak saat itu, pak Sarwo sendiri lah yang mengurus anaknya. Namun, setelah Dara mulai besar, dia selalu bertanya tentang ibunya.


Bahkan Dara meminta pak Sarwo untuk menjemput ibunya. Tapi pak Sarwo tidak punya kekuatan untuk melakukannya.


Jangankan menjemput ibu Dara ke alam manusia, untuk sekedar menemui pun, pak Sarwo tidak mampu.


Kesalahan yang dilakukan pak Sarwo, membuat dia harus menerima hukuman dari kelompok jin yang lain.


Seumur hidup, pak Sarwo tidak boleh lagi memasuki alam manusia. Begitu pula dengan Dara, dia tidak diperbolehkan keluar dari kampung Lubuk Agung.


Terima kasih atas like dan komentarnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2