TERSESAT DI KAMPUNG JIN

TERSESAT DI KAMPUNG JIN
SUARA-SUARA DI TENGAH MALAM


__ADS_3

Bapak Dara melangkah menghampiri Aril, dengan senyum mengembang di bibirnya. Senyum itu semakin mengikis kekhawatiran yang ada di hati Aril.


Meskipun demikian, Aril lebih senang melihat senyum yang mengembang di bibir Dara. Sehingga mata Aril lebih fokus pada senyuman gadis itu.


Senyum Dara teramat indah menurut Aril. Sayang, bila dilewatkan begitu saja. Jadi, senyum bapak Dara sebaiknya diabaikan dulu.


Ketika bapak Dara telah berada di dekat ranjang, barulah pandangan Aril beralih kepada lelaki klimis tersebut. Senyum masih menghias bibir lelaki yang sepertinya masih berusia empat puluh tahun itu.


Debaran yang ada di hati Aril serta merta lenyap entah ke mana.


Aril membalas senyum bapak Dara sambil mengulurkan tangan. Dengan sedikit menunduk, dia mencium punggung tangan bapak Dara sebagai tanda hormat. Tidak ada lagi rasa cemas atau was-was di hati Aril.


"Terima kasih, Pak! Bapak telah menyelamatkan saya," kata Aril.


Dia begitu tenang ketika mengucapkan rasa terima kasih, atas apa yang telah dilakukan bapak Dara pada dirinya.


"Semua Tuhan yang mengatur. Kebetulan waktu itu saya sedang berada di sana," jawab bapak Dara dengan ramah, tapi berbohong. Sebab, keberadaannya di curug waktu itu, bukanlah sebuah kebetulan. Tapi memang telah direncanakannya terlebih dulu.


Meskipun berbohong, namun keramahan yang diperlihatkan oleh bapak Dara, membuat Aril lepas dari segala rasa canggung.


Lelaki berwajah klimis itu duduk di kursi bekas Dara tadi, dia duduk sejajar dengan Aril, membelakangi dinding. Sementara Dara duduk di sisi ranjang dekat ujung kaki Aril.


"Saat ini kondisimu belum begitu pulih, masih perlu istirahat. Nanti akan Bapak buatkan ramuan untuk minum dan mandi," lanjutnya, sambil menepuk-nepuk bahu Aril.


"Ya, Pak. Terima kasih atas semua kebaikannya," ucap Aril, yang dijawab dengan anggukkan oleh bapak Dara.


Ternyata bapak Dara sangat ramah, senyum tidak pernah berhenti bermain di bibirnya. Sikap bapak Dara tersebut membuat rasa cemas yang tadi bercokol di hati Aril, kini telah hilang dengan sempurna.


"Namamu siapa, Nak?" Bapak Dara bertanya. Tangannya kembali bertengger di pundak Aril.


"Nama saya, Aril, Pak." jawab Aril memperkenalkan diri.


Ketika menyebutkan namanya, Aril teringat satu hal. Rasanya dia belum mengenalkan dirinya pada Dara. Mata Aril melirik ke arah gadis yang duduk di ujung kakinya itu. Gadis itu terlihat sedang menunduk.


Ingin rasanya Aril mengajak Dara berkenalan, dengan saling jabat tangan, untuk merasakan lembutnya telapak tangan gadis itu. Tapi, rasanya itu sudah basi, dan Aril juga merasa sungkan. Soalnya bersama mereka ada bapak Dara.


"Nama Bapak, Sarwo! Orang sekitar sini biasanya memanggil Bapak dengan sebutan Pak Sarwo." Bapak Dara mengenalkan dirinya yang ditanggapi Aril dengan anggukan.


Sesaat kemudian mereka larut dalam percakapan, kemudian dilanjutkan dengan makan malam.


Mereka makan di ruang tengah. Duduk bersila di atas sebuah tikar yang terbuat dari pandan. Panjang ruangan itu sekitar sembilan meter yang terbagi menjadi dua. Di sisi kanan, ada dua kamar. Tentu itu kamarnya Pak Sarwo dan Dara.


Pintu kamar tidur Pak Sarwo, berdekatan dengan pintu depan, rumah semi permanen itu.


Bila dilihat dari halaman rumah, pintu depan ini persis berada di tengah, dan membagi bangunan menjadi dua bagian yang sama besar.


Sementara bagian belakang ruangan, dihubungkan oleh sebuah pintu yang sejajar dengan pintu depan. Inilah pintu satu-satunya untuk masuk ke ruang belakang, yang dibatasi oleh dinding semi permanen juga.


Dengan keadaan seperti itu, membuat ruang tamu dan ruang tengah menyatu tanpa sekat. Pintu kamar pak Sarwo dan Dara menghadap ke ruangan ini. Ruangan yang mereka gunakan untuk duduk bersila sambil menikmati makanan yang terhidang.

__ADS_1


Ruang belakang agak kecil dan terbagi menjadi tiga bagian. Di ruangan ini, terdapat dapur, kamar mandi, dan satu kamar tidur yang letaknya sejajar dengan kamar Dara dan Pak Sarwo.


Dapur dan kamar mandi bersebelahan, berjarak sekitar empat meter, dari pintu kamar yang ditempati Aril. Hanya itu satu-satunya kamar tidur di sana, sehingga kamar tidur yang ditempati Aril cukup besar.


Sehabis makan, Aril sempat bertanya tentang peristiwa yang dia alami. Tidak begitu banyak yang bisa diketahui Aril dari Pak Sarwo. Ceritanya hampir sama dengan apa yang dikatakan Dara tadi.


"Saat ini kesehatanmu belum pulih dengan sempurna. Besok, setelah mandi, barulah pikiranmu mulai pulih, kemudian secara perlahan kamu akan dapat mengigat kembali seperti dulu," jawab Pak Sarwo, ketika Aril bertanya soal ketidak mampuannya mengingat masa lalu.


Hampir jam sepuluh malam, pembicaraan mereka baru berakhir.


Aril kembali ke ruang belakang tempat kamarnya berada. Ternyata ranjangnya telah kembali rapi. Seprai dan sarung bantal pun telah diganti dengan yang baru.


Aril merebahkan tubuh di atas ranjang, beberapa kali dia menguap pertanda kantuk mulai menyerang.


Cuaca cukup dingin. Untunglah kasurnya sangat empuk. Sehingga mampu membuat hangat tubuh Aril yang terbenam di sana.


Apalagi, ada selimut berwarna biru yang bisa menutupi seluruh tubuhnya, membuat cuaca dingin tidak terasa lagi bagi Aril.


Tidak begitu lama, terdengar dengkuran halus dari mulut pemuda itu. Pertanda dia telah terlelap.


Sementara itu, Dara baru keluar dari dapur, di tanganya ada panci kecil tanpa gagang, berwarna perak, yang berisi air bening. Setelah menyerahkan panci itu pada Pak Sarwo, Dara memasuki kamarnya. Mungkin gadis itu mau tidur.


****


Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin. Lapat-lapat terdengar suara aneh dari luar. Suara itu seperti berada dekat jendela.


Entah suara apa itu? Walau mirip suara manusia, tapi tak terdengar percakapan layaknya percakapan manusia.


"Arghhhh ...!"


"Hhissstt ...!"


"Sstttttt ...!"


Hanya suara seperti itu yang terdengar susul menyusul. Silih berganti. Terkadang diikuti oleh bunyi dedaunan yang bergesekkan karena tiupan angin. Namun, tak ada satu pun suara binatang malam yang terdengar.


Biasanya di daerah perkampungan seperti ini, bila malam telah menjelang, akan disambut oleh nyanyian binatang malam yang bersenandung sampai pagi.


Meskipun nyanyian itu terdengar indah bak sebuah simphoni. Tapi terkadang juga memekakkan telinga. Namun, tak akan menimbulkan rasa takut.


Tapi berbeda dengan suara yang terdengar malam ini. Desis4n, er4ngan dan suara seperti orang berbicara di luar. Pasti akan menimbulkan rasa takut bagi yang mendengarnya.


"Arghhhh ...!"


Kali ini suara itu cukup keras, dan mampu membuat Aril terbangun.


Aril menajamkan indra pendengarannya. Dia ingin memastikan, suara makhluk apa yang barusan dia dengar, suara yang telah mengganggu lelap tidurnya. Tapi, suara itu tidak terdengar lagi.


Hanya desauan angin berhembus yang memasuki kuping Aril, dipadu dengan gesekkan dedaunan, dan deritan dahan yang meliuk karena diterpa angin malam. Namun, hal tersebut justru bikin Aril bergidik.

__ADS_1


Aril menutup kepalanya dengan selimut, dia diam dengan menajamkan indra pendengaran. Rasa was-was kini muncul dalam hati pemuda tersebut.


Beberapa saat kemudian, deritan pohon meliuk pun tak terdengar lagi. Entah apa yang membuatnya raib begitu saja. Suasana berubah menjadi sunyi, tanpa ada suara yang terdengar sama sekali, bahkan suara nyamuk pun tak ada.


Krikkk krikkkk ....


Sunyi mencekam ....


Dalam suasana yang sunyi dan mencekam itu, Aril merasakan sesuatu yang mendesak, yang harus segera dikeluarkan.


Rupanya tidak suara tadi saja yang membuat tidur Aril terganggu. Tapi air yang ada di kantung kemihnya, juga ikut andil membuat dia terbangun malam ini.


Aril segera bangkit, turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi.


Ketika Aril membuka pintu kamar tidur. Matanya agak menyipit. Sebab, pencahayaan yang ada di lorong ruangan antara kamar tidur, dengan dapur serta kamar mandi, tidak begitu terang.


Penerangan yang minim hanya menghasilkan cahaya remang-remang di lorong ruangan tersebut.


Beberapa kali Aril mengucek mata, berharap pandangannya bisa lebih jelas. Setelah itu, Aril kembali mengayunkan kaki, tapi hanya beberapa langkah saja.


Kakinya tiba-tiba terhenti, ketika ada sekelebat bayangan yang melintas di depannya dengan kecepatan tinggi.


Ukurannya sebesar orang dewasa. Karena gerakkannya terlalu cepat, membuat ujudnya tidak terlihat, hanya seperti bayangan putih saja. Tapi hal itu mampu membuat Aril merinding.


"Ahhhh ...!"


Mulut Aril menganga dengan mengeluarkan suara mendes4h karena kaget. Namun, mata Aril dengan tajam mengikuti ke mana arah bayangan itu pergi, yang kemudian hilang seperti menembus dinding.


Setelah bayangan itu hilang, Aril semakin mempertajam matanya. Dia memperhatikan seluruh area ruangan. Namun, tak ada yang terlihat, selain dari perabotan yang teronggok di beberapa tempat.


"Tidak ada apa-apa," batin Aril menghibur diri.


Kakinya terus melangkah menuju pintu kamar mandi. Setelah sampai di depan kamar mandi, tangannya bergerak menggantung hendak menjangkau gagang pintu. Belum lagi tangan Aril menyentuh gagangnya, tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendiri.


Kriiiieeetttttttt ...!


Karena kaget, dengan reflek Aril menarik tangannya. Meskipun terkejut, tapi pemuda itu tidak beranjak dari tempat dia berdiri. Dia berusaha melawan rasa takut yang kini kembali menghampiri.


Sambil berusaha menenangkan diri, Aril memperhatikan gerakkan pintu tersebut. Suara deritan panjang terus mengiringi gerakkan pintu yang terbuka secara perlahan.


'Mungkin ini karena tiupan angin,' pikir Aril.


Ketika gerakkan pintu itu telah berhenti, Aril segera melangkahkan kaki memasuki kamar mandi. Namun, ketika telah berada di dalam kamar mandi, dia merasa sedang diawasi.


Seperti ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya.


Kepala Aril mendongak ke atas, menatap ke arah tempat yang dianggapnya mencurigakan. Matanya dengan tajam memeriksa langit-langit dan seluruh bagian dalam kamar mandi itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2