TERSESAT DI KAMPUNG JIN

TERSESAT DI KAMPUNG JIN
BASRI PINGSAN


__ADS_3

Mungkin tidak lebih dari dua menit, makhluk itu meneliti pintu goa yang telah dipagari oleh jeruji kayu tersebut. Sesaat kemudian dia kembali berdiri tegak, dengan pandangan beralih ke arah Aril dan Basri.


Dengan posisi tegak seperti saat ini, serta adanya cahaya terang dari api unggun, bentuk makhluk tersebut dapat terlihat dengan jelas.


Seandainya Aril dan Basri menoleh ke belakang, pasti mereka dapat melihat rupa wajah makhluk itu.


Namun, Aril dan Basri tidak melakukannya, sebab mereka tidak menyadari akan kehadiran makhluk yang terbungkus kain putih tersebut. Mereka terus berjalan beriringan sambil berbicara.


Entah apa yang mereka bincangkan. Mungkin cerita mereka masih berkisar tentang kejadian yang dialami Aril selama dia hilang.


Ada sekitar satu menit makhluk tersebut berdiri diam, dan terpaku dengan ekspresi datar, menatap ke arah dua pemuda yang semakin jauh meninggalkannya.


"Tempat inyong kok sudah berantakkan begini, pintunya dipagar dan di dalamnya ditaburi sampah." Makhluk itu berkata, mirip gerutuan, tapi suaranya seperti mendes4h.


Kepalanya bolak balik menatap ke arah Aril dan Basri, lalu ke arah pintu goa, kemudian beralih pada api unggun yang semakin membesar.


Gedumelan tak jelas, seakan tak berhenti keluar dari mulutnya. Entah apa yang dia gerutukan, namun yang jelas, beberapa kali kata 'inyong' menyertai kalimat makhluk itu.


Bisa dipastikan, bahwa makhluk tersebut berasal dari Banyumas, ini terlihat dari kata-kata 'inyong' yang diucapkannya berkali-kali.


Sementara sampah yang dia maksudkan tadi, adalah daun yang dipakai Aril dan Basri untuk alas lantai goa.


"Dasar manusia tidak memiliki etika, sudah tempat inyong di acak-acak jadi tak karuan. Membakar sampah sembarangan. Mana apinya semakin besar lagi. Kalau hutan ini terbakar bagaimana? Mau tanggung jawab?"


Sepanjang gerutuan makhluk tersebut, tatapannya tidak lepas dari Aril dan Basri. Suara yang keluar dari mulutnya tetap mendes4h.


"Awas, ya! Inyong kerjain kalian!" Dia kembali berkata, setelah matanya sempat beralih pada api unggun yang semakin membesar.


Tiba-tiba kedua mata makhluk tersebut menyala. Seperti ada gumpalan api yang memenuhi rongga matanya. Sementara cahaya dari gundukkan api unggun, membuat wajah si makhluk terlihat semakin jelas.


Makhluk itu tidak memiliki hidung, hanya berupa rongga saja yang diapit oleh dua pipi yang sangat pucat.


Rongga itu berada di atas bibirnya yang berwarna coklat kehitaman. Namun, makhluk itu cuma memiliki satu bibir, yaitu bibir bagian atas.


Sementara bibir bagian bawah sampai ke dagu, hanya terlihat berupa tulang, tanpa dilapisi kulit sedikit pun.


Dengan bentuk mulut yang demikian, sehingga membuat giginya begitu jelas terlihat. Mirip gigi manusia, cuma rada besar.


Makhluk tersebut membuka mulutnya. Perlahan bukaan mulut itu semakin besar dan melebar.


Dagunya yang hanya berupa tulang, bergerak turun sampai ke dada. Seiring dengan itu, bagian sisi mulutnya meretak, dan merengkah sampai ke bawah telinga.


Dilihat dari cara dia mengaga, seolah dia sengaja mempertontonkan gigi, lidah, dan bagian dalam rongga mulutnya yang berwarna merah. Semerah darah.


"Argghhhhhgggghh ...." Makhluk tersebut menggeram ke arah Aril dan Basri.


Meskipun makhluk tersebut menggeram dengan suara yang keras, tapi Aril dan Basri tidak mendengarnya. Mereka masih melangkah sambil berbincang. Tak satu pun dari mereka yang menoleh ke belakang.


Beberapa kali makhluk tersebut menggeram, bahkan suaranya semakin keras. Tapi, Aril dan Basri tetap saja tidak mendengar. Acuh.


Merasa dicuekkin, akhirnya si makhluk menghentikan aksisnya. Muka dan mulutnya kembali berubah seperti semula.

__ADS_1


"Si4lan amat 'nih bocah berdua! Pada budeg kali ya? Capek-capek inyong menggeram sambil buka mulut, mereka malah cuek bebek. Dia kira mulut inyong tidak pegal, apa! Atau ... apa kesaktian inyong sebagai jin korin sudah nggak ada ya? Hilang menguap, gitu?"


Sambil menggerutu, makhluk tersebut tidak henti menggaruk kepalanya dengan ekspresi melongo. Mungkin dia masih heran, kenapa geramannya tidak terdengar oleh Aril dan Basri.


Rupanya makhluk tersebut adalah sebangsa jin. Jin korin atau jin pendamping manusia.


Melihat pakaian yang melekat di tubuh makhluk mirip pocong itu. Sudah bisa dipastikan bahwa, manusia yang didampingi jin ini, telah meninggal dunia alias ko'it.


Dan, juga bisa dipastikan, bahwa manusia yang pernah dia dampingi, memang berasal dari Banyumas. Terbukti oleh 'Inyong.'


Sungguh aneh, meskipun pakainnya seperti pocong, tapi dia dapat mengeluarkan satu tangannya untuk menggaruk kepala.


Mungkin pakaian pocong jenis itu dibuat di era moderen bangsa jin, sehingga dirancang dengan khusus, agar jin yang memakainya bisa dengan leluasa, menggaruk kepalanya sendiri.


Ini cuma mungkin, loh! Tidak menuduh. Jadi, yang merasa dirinya jin, nggak usah pada tersungging, eh, tersinggung maksudnya.


"Oke, jika makhluk kerdil berdua ini memang budeg. Apakah mereka tidak akan tertarik melihat wajah inyong, bila inyong tiup tengkuknya," makhluk tersebut bergumam pelan.


Mungkin pocong ini pocong alay, sebab, dia berharap agar pemuda segagah Aril dan Basri tertarik melihat wajahnya.


Makhluk itu kembali membuka mulut, kali ini dia hanya membuka sedikit saja dari bagian mulut tersebut. Membuka sekedar untuk meniup.


"Phuahhhh ... phuahhhh ...!"


Makhluk itu melakukan dua kali tiupan, ke arah Aril dan Basri.


"Hiiiiiyyyy ...."


Basri merasa ada sesuatu yang mengikuti mereka dari belakang. Tapi, dia tidak mau menoleh untuk memastikannya.


Bila itu benar. Biarlah orang yang ada di belakangnya, yang pertama berhadapan dengan sesuatu itu, dan orang itu adalah Aril, pikir Basri.


Karena otak Basri telah berpikir demikian, sehingga langkahnya dipercepat, berusaha untuk berada di depan Aril.


Aril pun mempercepat langkahnya untuk mengimbangi Basri, agar mereka tetap berjalan bersisihan. Tapi Basri tidak mau kalah, dia justru mempelebar langkahnya.


Karena Basri tetap ingin berjalan di depan, sementara Aril berusaha mengimbanginya dengan langkah cepat. Akibatnya, jalan kedua pemuda tanggung itu seperti bergegas.


Anehnya, Aril tidak merasakan apa-apa, seakan tidak terpengaruh oleh tiupan makhluk berujud pocong tersebut.


Mungkin itu terjadi karena Aril telah dilindungi oleh ilmu pak Sarwo, ketika Aril dalam masa penyembuhan waktu itu.


"Bas! Ngapain jalan buru-buru?"


Aril meraih tangan Basri, dan berusaha menghentikan langkah sahabatnya itu. Aril melakukan hal tersebut, karena dia merasa repot, mengikuti langkah Basri yang panjang dan cepat.


Karena kuatnya cekalan tangan Aril, Basri pun terpaksa menghentikan langkahnya. Akibatnya perjalanan mereka jadi terhenti.


"Kamu tidak merasakan sesuatu?" tanya Basri dengan manik mata mengarah tepat pada wajah Aril.


"Merasakan apa?"

__ADS_1


"Sepertinya ada sesuatu di kudukku. Rasanya dingin seperti kena tetesan es yang mencair. Bulu kudukku sampai merinding ... Hiiiiiyyyy!" Basri bergidik.


Tatapan Basri tidak beralih dari wajah Aril. Rona ketakutan terlihat jelas di mukanya.


"Saya tidak merasakannya," jawab Aril, sambil memegang tengkuk.


"Coba kamu pegang kudukmu, periksa! Siapa tahu ada sesuatu di sana!" usul Aril.


"Ihhhh, nggak berani!" Basri kembali bergidik.


Setelah mengusap bagian tengkuknya beberapa kali, Aril memiringkan tubuh, dengan kedua mata mengarah ke kuduk Basri.


Aril memperhatikan kuduk Basri seperti memindai. Mencari penyebab, apa yang membuat kuduk temannya itu menjadi dingin. Siapa tahu, ada binatang kecil yang mampir di sana. Seperti pacet misalnya.


"Tidak ada apa-apa di kudukmu, kok!" kata Aril kemudian.


"Tadi seperti ada yang meniup," ucap Basri dengan berbisik.


"Meniup?"


"Iya!"


Basri meyakinkan dengan jawabannya, bahkan dipertegas dengan beberapa kali anggukkan.


Melihat raut wajah temannya yang pucat, mau tidak mau Aril harus mempercayai apa yang dikatakan Basri, kemudian dia memutar tubuh, menghadap ke arah goa yang telah mereka tinggalkan beberapa meter. Ada sesuatu yang mendorong batin Aril untuk melihat ke arah sana.


Aril tidak melihat apa-apa di sana. Tapi, ada sesuatu yang aneh yang menjalar di hatinya. Perasaannya ada sesuatu yang memperhatikan mereka dari sana, persis dekat pintu goa. Tapi, entah apa.


Karena Aril cukup lama menatap ke arah goa, Basri pun mengarahkan pandangannya ke tempat tersebut.


"A-a-ada pocong!?"


Basri berteriak kaget dengan mata mendelik dan mulut menganga. Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Basri. Sebab, mendadak tubuhnya menjadi kaku, lalu ambruk ke permukaan bumi. Pingsan.


Aril pun tidak kalah kagetnya ketika mendengar teriakkan Basri. Suara Basri seakan menusuk gendrang telinganya.


Refleks, Aril memutar tubuh ke arah Basri. Cuma sekilas saja dia melirik ke arahnya, kemudian mata Aril beralih ke tempat yang ditunjuk oleh temannya tersebut.


Aril tidak melihat apa-apa. Tapi cuma sesaat matanya mengarah pada goa. Pandangan Aril terpaksa kembali pada Basri, ketika mendengar suara gedebuk.


Ternyata Basri telah pingsan dengan sukses, dan tergeletak di atas tanah.


"Basri ...! Basri ...!"


Sambil berjongkok, Aril memanggil nama temannya itu, kemudian dia menepuk-nepuk pipi Basri. Berusaha untuk membangunkannya.


Basri tetap bergeming, meskipun tepukkan Aril telah beberapa kali menyentuh pipinya. Tidak ada renspon sedikipun dari sahabatnya itu, yang membuat Aril semakin cemas.


"Basri ...! Basri ...!"


Aril menarik kedua tangan Basri untuk mendudukkannya. Tubuh Basri terangkat dalam posisi duduk dengan mata terpejam, tapi kemudian jatuh lagi, ketika Aril melepaskan peganggannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2