TERSESAT DI KAMPUNG JIN

TERSESAT DI KAMPUNG JIN
KEMARAHAN JIN KORIN


__ADS_3

Kini Aril menyadari, bahwa Basri benar-benar telah pingsan.


Kecemasan dan kekhawatiran semakin menghantui dirinya.


Tadi, Basri berteriak ketakutan sebelum dirinya pingsan, pertanda dia melihat sesuatu yang mengerikan.


Pocong.


Itu kata yang keluar dari mulut Basri. Berarti di sekitar sini ada makhluk yang berupa pocong. Pikir Aril.


Memikirkan hal itu, rasa takut pun kembali menjalar di hati Aril.


Kepala Aril berputar memperhatikan sekeliling, ingin memastikan apa sebenarnya, yang membuat Basri sampai pingsan.


Sementara itu, di depan goa makhluk tersebut tertawa kegirangan, ketika melihat Basri ketakutan, dan jatuh pingsan.


Sepertinya dia sedang menyaksikan sesuatu yang lucu, sehingga tawanya tidak kunjung reda.


Barulah ketika Aril menatap, tepat ke arahnya.


Makhluk tersebut menghentikan tawa, lalu membuka mulutnya lebar-lebar.


Saking lebar bukaan mulutnya, membuat bibir bagian atasnya, hampir sampai ke jidad.


Sehingga kedua mata makhluk itu tertutup, oleh bibir dan giginya.


Sementara gigi bagian bawah yang menyatu dengan dagu, turun sampai ke dada.


Mungkin karena lebarnya bukaan mulut makhluk itu, sehingga bagian pipi kiri dan kanannya retak merengkah, sampai ke bawah telinga.


Hal ini membuat bagian dalam tenggorokkannya terlihat dengan jelas.


Dari tenggorokkannya menjulur daging berwarna merah seperti lidah.


Lidah itu bergerak menjulur dengan perlahan keluar.


Sangat panjang.


Mungkin ada sekitar tiga jengkal orang dewasa, lidah itu berada di luar mulutnya.


Ujung lidah itu bergerak goal-geol ke kiri dan ke kanan. Seolah-olah menakut-nakuti Aril.


Namun, apa yang dilakukan makhluk itu, luput dari padangan Aril.


Meskipun mata remaja itu mengarah tepat ke wajah makhluk yang mengerikan tersebut.


Mungkin kuping Aril telah budeg, dan matanya jadi buta, tapi hanya khusus untuk makhluk astral, yang berbentuk pocong tersebut.


Sebab, suara binatang malam lainnya, masih masuk ke dalam gendrang telinga remaja tanggung itu.


Tiba-tiba makhluk berbentuk pocong menghentakkan kaki, lalu melayang ke udara.

__ADS_1


Hanya sekelebat saja, makhluk tersebut telah berada di samping Aril.


Sesaat dia memperhatikan wajah Aril, lalu menjulurkan lidah sambil menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


Goal-geol, seperti belut hidup sedang digantung.


Matanya mendelik, bola matanya pun berputar-putar seakan menggoda.


"Tri wi wi wi wiiilll ...! Tri wi wi wi wiiilll ...!"


Suara kembali keluar dari mulut si makhluk. Tapi kali ini bunyinya 'tri wi wi wi wiiilll.'


Entah suara macam apa pula itu, dan entah apa pula arti dan maknanya!


Owh, mungkin suara seperti itu, tujuannya untuk menggoda Aril.


Mirip 'ciluk ba,' kira-kira maksudnya.


Bisa ditulis namun tidak bisa diartikan.


Tapi Aril masih cuek, yang membuat makhluk itu melongo sambil geleng-geleng kepala.


Mungkin dia heran dengan tingkah polah Aril, yang tidak mempan digoda.


"Phuaahhhh ...! Phuahhhh ...!"


Merasa aksinya tidak mampu mempengaruhi Aril, akhirnya makhluk tersebut meniup Aril beberapa kali.


"Nah, rasain sekarang! Baru berasa, kan? Dingin, kan? Bhua ha ha ha!"


Makhluk mirip pocong tersebut kegirangan melihat sikap Aril, dia merasa aksinya menggoda Aril, kali ini membuahkan hasil. Sehingga gelak tawa keluar dari mulutnya. Persis seperti tawa Buto Ijo dalam cerita dongeng.


"Heran, kok tiba-tiba seperti ada tiupan angin di wajah saya," gumam Aril.


"Itu bukan angin, Coy ...! Itu napas inyong! He he he ...." seru jin korin kegirangan, sambil memajukan kepala ke depan muka Aril. Sehingga membuat jarak antara kedua muka mereka semakin dekat.


Suara tawanya kembali menggelegar. Kali ini suaranya mirip dengan suara tawa kakek sihir.


Tapi Aril tidak mendengarnya. Jangankan mendengar, melihat pun tidak. Meskipun wajah makhluk itu terpampang sebesar gaban, di depan mukanya.


"Bau amat anginnya. Seperti bau bangkai." Aril kembali bergumam, yang membuat makhluk tersebut dengan sontak menarik kepalanya dari hadapan Aril, ekspresinya berubah drastis. Kesal.


Ketika makhluk tersebut mendengar gumaman Aril, dengan seketika dia meniupkan nafas pada kedua telapak tangan, kemudian menghirupnya dengan tarikkan panjang.


Mungkin dia ingin merasakan aroma nafasnya, untuk membuktikan kebenaran omongan Aril. Apakah nafasnya benaran bau bangkai atau tidak.


"Nggak bau bangkai kok," gumamnya pelan dengan sedikit malu-malu. Setelah menghirup dan menikmati aroma nafasnya.


"Hoiiii, kalau ngomong jaga mulut dong! Enak aja ngatain bau bangkai ...! Kamu tu yang bau bangkai ...!" Makhluk itu kelihatan marah, ketika pandangannya beralih pada Aril.


Beberapa kali dia mengarahkan tinjunya pada Aril, dengan gaya bak Muhammad Ali melepaskan jeb-jeb andalannya. Tapi tidak ada satupun dari jeb-nya itu yang menyentuh tubuh Aril. Lewat begitu saja.

__ADS_1


Tiba-tiba kedua bola mata makhluk tersebut berubah menjadi merah, seperti bola api. Mungkin hal itu terjadi karena amarah yang telah memuncak di dalam hatinya. Apalagi, jeb-jebnya dianggap angin lalu oleh Aril.


Entah ilmu apa yang dipakai Aril, sehingga makhluk astral yang berniat menggodanya, justru yang uring-uringan dan marah-marah tidak karuan.


"Udah bau bangkai, kayak ada aroma kencing bau pesingnya lagi. Seperti kencing orang habis makan jengkol busuk. Bikin eneg aja. Jengkol busuk kok dimakan!" Aril kembali menggerutu, sambil mengibaskan telapak tangan di depan hidungnya.


"Oooo, benar-benar menghina inyong, manusia satu ini, ya!Lama-lama inyong telan juga nih orang! Belum tau dia, jika inyong mampu menelan manusia bulat-bulat!" Jin korin bertambah keki.


Kekekiannya semakin menjadi-jadi, ketika tiba-tiba Aril menungging. Sikap Aril benar-benar membuat jin korin merasa dilecehkan. Apalagi bagian pantat Aril mengarah tepat pada wajah jin korin tersebut.


Aril menungging dengan niat untuk mendekatkan telinganya ke hidung Basri. Mungkin ingin merasakan hembusan nafas sahabatnya tersebut. Memastikan apakah Basri masih bernafas atau tidak.


Brooootttttt ...


Tanpa disangka-sangka, dari pantat Aril terdengar suara kentut yang sangat keras. Entah karena kaget, jin korin yang berada tepat di belakang Aril terlonjak, dan melompat mundur beberapa meter.


Makian dan sumpah serapah kembali meluncur dari mulutnya.


"Dasar manusia tidak tau sopan santun! Manusia yang tidak memiliki akhlak! Sudah jelas inyong lagi berdiri pas dekat pantatnya, pakai kentut lagi! Mana angin kentutnya sampai berasa di wajah inyong. Dasar manusia si4lan, manusia tidak berakhlakul karimah!"


Jin korin memaki-maki tidak jelas, sambil mengibaskan tangan ke depan wajahnya. Mungkin kentut Aril sangat bau, sehingga bangsa jin pun mampu dibuatnya kalang kabut.


Sementara itu, Aril masih khusuk mendengarkan helaan nafas dari hidung Basri. Tanpa merasa bersalah sedikit pun, apalagi merasa berdosa terhadap makhluk yang berada di belakangnya, yang telah dia bikin kalang kabut.


[Aril kalau lagi khusuk memang begitu, tidak mempan sama gangguan jin. Tapi khusuk-nya, jika lagi nggak ibadah saja. Giliran lagi salat, pikirannya melayang ke mana-mana. ]


"Alhamdulillah, Basri masih hidup," ucap Aril penuh rasa syukur.


"Alhamdulillah, pala lu peang ...! Teman ente masih hidup! Tapi inyong hampir semamput karena bau kentut!"


Ucapan Aril dijawab dengan ketus beraroma makin oleh jin korin. Tapi tetap saja Aril tidak dapat mendengarkanya.


Jin korin masih mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Melihat raut wajah makhluk tersebut yang mengenaskan. Bisa dipastikan, bahwa kentut Aril benar-benar bau.


Mungkin bau kentut Aril over dosis seperti itu, disebabkan oleh ikan bakar. Sebab, selama tinggal di rumah pak Sarwo, lauk yang dimakan Aril memang hanya ikan bakar, dan selalu ikan bakar.


"Kapok inyong menggoda manusia macam ini. Mending inyong telan aja bulat-bulat. Inyong balas dengan bau yang ada di dalam perut inyong. Biar dia nikmati seperti apa baunya isi perut inyong. Keh keh keh!" Makhluk tersebut kembali bergumam. Kali ini diiringi kekehan nyaring mirip nenek sihir. Mak lampir, tepatnya.


Sementara itu, ujung tangannya masih sibuk turun naik mengipasi bagian wajah, berharap agar aroma kentut Aril segera berlalu.


Makhluk tersebut bergerak ke arah Aril dengan perlahan. Sementara Aril telah pindah posisi. Sekarang dia sedang duduk berjongkok di dekat kaki Basri. Dia memijit bagian telapak kaki Basri, berusaha agar temennya itu segera bangun dari pingsannya.


Setelah makhluk tersebut berada persis di samping Aril. Dia ikut duduk berjongkok di sana. Dia menatap wajah Aril beberapa saat, dengan tatapan dingin tapi datar. Kemudian makhluk itu mendekatkan kepalanya ke muka Aril dengan pelan-pelan.


Tatapan makhluk itu tidak beralih dari wajah Aril. Tatapan yang tajam, datar, tapi seakan memindai untuk menyelidiki.


Kebencian tergambar dari wajahnya, yang dari bagian mulut ke bawah berbentuk tengkorak itu. Kedua muka mereka semakin dekat, mungkin jaraknya tidak sampai satu jengkal lagi.


Tatapan makhluk itu bertambah tajam, kini kedua bola matanya terarah tepat ke manik mata Aril. Tapi Aril masih tidak merasakan apa-apa.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2