That XX

That XX
Hunt


__ADS_3

Tamara—


Theodore Salim adalah pria dengan penuh pesona yang tak bisa di tolak oleh siapapun, khususnya wanita. Tak butuh waktu lama baginya untuk menarik wanita untuk jatuh ke pelukannya. Hampir seluruh klub di Jakarta juga sudah di datangi, dan hampir seluruh populasi wanita juga sudah tidur dengannya..


Jangan salah, aku tak termasuk dalam kalangan wanita-wanita itu. Ya, aku juga memiliki sifat yang tak jauh berbeda dengan Theo, tapi entah kenapa aku tak tertarik dengannya. Ya, ia tampan dan memiliki daya tarik yang tak terkalahkan oleh pria manapun. Memang benar seperti itu, tapi yang selama ini aku tahu, ia hanyalah manajer galak yang selalu memberi dokumen yang harus di selesaikan.


Percayalah, sifat menyebalkan itu saja sudah menutupi semua karisma yang ia miliki. Setidaknya itu yang aku pikirkan selama ini bekerja dengannya, tapi setelah pertemuan kami beberapa kali di bar itu, perlahan semua pendapat itu mulai sedikit berubah.


Yang paling terpenting tentu saja karena taruhan itu. Walaupun hanya sebuah Kate Spade yang tentu saja bisa kubeli jika niat menabung, aku juga bisa meminta pada dua sahabatku itu, mereka akan dengan senang hati memberikannya. Tapi, ini taruhan, harga diriku di pertaruhkan di sini.


“Jadi gimana?” tanya Gita.


Istirahat makan siang ini, aku dan Gita memutuskan untuk makan siang di kantin di banding ke luar kantor hanya untuk makan. Hanya membuang-buang waktu, lagipula makanan di kantin ini juga lumayan enak. Setidaknya masih bisa di terima oleh perutku yang sangat murahan ini.


Apa kalian percaya jika aku tak menyukai keju dan steak? Aku sangat yakin seratus persen jika kalian tak akan mempercayainya. Bagaimana mungkin seorang Tamara yang sangat angkuh ini tak menyukai dua makanan yang lumayan berkelas itu? Tapi ini serius, aku tak menyukainya. Karena itu, perutku sangat murahan, aku bisa menerima makanan jenis apapun kecuali dua makanan tadi, dan aku akan baik-baik saja.


“Apanya yang gimana?”


Gita pasti menanyakan tentang perkembangan taruhan yang sedang berlangsung ini, aku tahu, dan aku memilih tak mengatakan apapun. Karena selain harga diriku, ada ego yang juga harus kupikirkan disini. Sulit sekali untuk menjadi diriku sendiri.


“Yakin deh, kalau kamu cuman pura-pura aja. aku sempat ngeliat kamu sama Pak Theo di klub.”


“Jadi?” Aku mengangkat bahuku acuh, sengaja untuk memancing amarah seorang Gita. Pekerjaan tammbahan untukku adalah membuat emosi orang lain dengan semua kalimatku.


“Inilah kenapa Pak Theo benci banget sama kamu, kamu ngeselin kayak gini,” ujar Gita.


Aku tertawa mendengar kalimat itu. “Jadi aku lagi duduk bareng salah satu fans dari Theo, nih?” godaku.


“Tapi kamu beneran serius sama Pak Theo? Taruhan ini?”


Aku mengalihkan tatapanku pada Gita yang sedang menatapku heran. Wanita ini yang menyarankan untuk melakukan taruhan, tapi ia sendiri juga yang seperti tak yakin dengan apa yang tengah aku lakukan.


“Jadi taruhan ini gak serius?”


“Serius, tapi lihat kamu sama Pak Theo bikin aku jadi jantungan sendiri. Kalau kamu tiba-tiba di pecat gara-gara masalah ini gimana?”


Ada perbedaan antara aku dan para wanita pemuja Theo. Cara panggilan kami. Yang lainnya akan memanggil Theo dengan sebutan pak untuk menjaga kesopanan, hanya aku saja yang memanggilnya langsung sepert itu.


“Kamu takut aku di pecat atau kamu takut kalau Theo ini punya pacar?”


“Kamu juga gak mungkin secepat itu buat pacaran, kan? Sama yang kayak di lakuin kemarin itu.”


“Aku cuman mau Kate Spade, Git. Setelahnya terserah kamu mau kayak gimana,” putusku.


Karena sejujurnya aku tak terlalu peduli dengan para pria, apalagi yang pernah menjadi teman tidurku. Tak pernah ada perasaan berlebih yang kumiliki untuk mereka, aku menyebutnya dengan penguasaan diri. Ada alasan kenapa aku menjadi seperti ini, tapi belum tepat rasanya jika kukatakan saat ini. Memori buruk akan lebih baik jika di simpan untuk diri sendiri, bukan di sebarkan.


“Aku heran kenapa kamu kebal banget sama Pak Theo, mau bilang kamu gak normal tapi temen tidur kamu banyak banget.” Gita menggelengkan kepalanya dengan kalimat yang ia buat sendiri.


Aku hanya tertawa saja mendengar kalimat itu. Memangnya itu sebuah kesalahan besar jika aku kebal terhadap pesona Theo? Bukan hanya Theo, tapi hampir seluruh pria yang kutemui. Tak ada satupun dari mereka yang mampu membuat hatiku tergerak untuk menjalin hubungan serius.


Mungkin aku hanya belum menemukannya, karena semuanya membutuhkan proses.


**


Perburuanku untuk mendapatkan hati Theo belum berakhir, perjalananku masih panjang untuk itu. Selain karena aku belum mengenal sifat Theo dengan baik di luar pekerjaan, jadi aku agak sulit untuk menentukan langkah. Yang bisa kulakukan hanyalah berjaga di bar biasa setiap jum’at malam.


Lama kelamaan aku yakin jika Theo akan menyadari jika ada yang tak beres denganku. Bagaimana mungkin bisa menjadi suatu kebetulan secara berulang kali? Di tempat dan jam yang sama pula?

__ADS_1


Jika sudah seperti ini, biasanya aku hanya merelakan harga diriku sedikit. Aku tak mungkin menggunakan egoku untuk mendapatkan pria dingin dan menyebalkan seperti ini. Aku yang sedang sibuk memainkan ponselku, tiba-tiba di kejutkan dengan segelas cocktail yang di suguhkan untukku.


“Aku belum memesan minumanku,” ucapku pada sang bartender yang baru saja memberiku minuman bening ini.


“Aku yang pesan.”


Aku menolehkan tubuhku, dan menemukan Theo dengan senyuman manisnya. Pria buaya dengan mulut manis sepertinya memang selalu memberikan senyuman manis untuk membuai seluruh korbannya. Beruntung aku sudah sangat kebal untuk semua ini.


“Kayaknya kamu datang lebih awal,” ujarku.


Theo duduk di sampingku dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ia hanya mengenakan kaos oblong putih dan juga celana jins, tapi hanya seperti ini saja ketampanannya sudah menjadi-jadi. Mataku mengakui ketampanannya, tapi pikiranku masih mampu berpikir dengan jernih.


“Aku hanya ingin mengobrol lebih jauh dengan teman baruku yang sangat menarik ini.”


“Benarkah?”


Oke, jika saat ini aku terlihat tersipu malu dan pipiku memerah, maka aku benar-benar sudah gila. Tamara tersipu di hadapan Theo? Aku ingin menenggelamkan diri di Palung Mariana rasanya.


“Bagaimana harimu?” tanya Theo.


Saat ini, yang sedang duduk di sebelahku adalah Theo yang benar-benar berbeda dari yang pernah kutemui di kantor sehari-hari, dan anehnya aku nyaman. Padahal aku terbiasa untuk mengutuk semua perbuatannya di kantor. Apa aku mengidap semacam penyakit psikologis?


“Cukup menyebalkan karena sifat atasanku.”


“Ceritakan tentang atasanmu kalau begitu.” Theo menatapku dengan senyum penuh arti. Aku tak ingin mencari lebih jauh tentang maksud dari tatapan itu, tak mungkin jika aku mengeluarkan semua unek-unek di hadapannya, kan? Dia pasti akan langsung memecatku hari senin nanti.


“Kamu yakin ingin mendengarnya? Tak ada hal baik tentangnya yang bisa kuberitahukan.”


Aku memang takut akan di pecat, tapi aku juga tak bisa mengatakan sebuah kebohongan. Aku terbiasa untuk berkata jujur dalam kondisi apapun, karena pasti akan berakhir baik untuk kedua belah pihak. Ingat-ingat saja jika di bohongi itu sangat tak mengenakkan.


“Tapi kudengar dia sangat tampan,” jawab Theo.


“Bagaimana denganku?”


Aku menaikkan kedua alisku, tak mengerti dengan apa yang di bicarakan Theo. Ia masih menatapku penuh arti, entah apa yang ia cari dari semua itu. Ada jarak waktu hingga enam puluh detik untuk kami saling menatap.


“Well, hanya sedikit aneh.”


“Aku juga merasakan hal yang sama, tapi entah kenapa aku sangat menyukainya.”


Senyum itu, entah kenapa seperti ada yang lain pada senyuman itu. Mungkin benar ucapan Anas dan juga Dean, tak seharusnya aku ikut masuk dalam permainan ini lagi. Tamara yang selalu gegabah untuk memutuskan sesuatu, yang selalu di liputi oleh egonya.


Pada akhirnya aku hanya memberinya senyum yang sedikit canggung. Tak masalah jika ia mengetahui taruhan yang kami lakukan, aku hanya takut ada hal lain di mata itu. Aku hanya harus menyelesaikan permainan ini dan mendapatkan hadiah sebuah tas yang tak sebanding sebenarnya, dan juga rasa bangga karena sudah menaklukan pria ini, atasanku sendiri.


“Bagaimana kalau kita menginap? Tempatku atau tempatmu?” ajakku.


**


Tahu apa hal gila yang kulakukan saat ini? Aku mengambil cuti selama satu minggu setelah kejadian malam itu. Aku sama sekali tak memiliki wajah lagi untuk menghadapi Theo. Malam itu benar-benar menjadi pengalaman yang sangat menakjubkan untukku, juga pengalaman **** terbaik untukku.


Jadi, dengan semua alasan itu, aku memutuskan untuk mengambil cuti dengan alasan sakit, aku bahkan meninggalkan Theo begitu saja di kamar hotel yang kami sewa malam itu. Aku tak membutuhkan bagaimana pendapatnya tentang yang terjadi, aku hanya butuh waktu sebelum kembali menghadapinya.


“Sampai kapan kamu mau sembunyi kayak gini?” tanya Anas.


Hanya satu orang yang sangat kupercaya untuk kuajak kabur seperti ini, siapa lagi kalau bukan Anas. Mbak Nimas saja sampai tak mampu menahan amarah karena aku menculik Anas begitu saja.


“Aku cuti, Nas, bukan kabur,” elakku.

__ADS_1


Aku hanya pergi ke Bandung untuk sedikit menjernihkan pikiranku, dan kebetulan aku membutuhkan Anas di sampingku. Lupakan saja soal Dean, karena ini urusan wanita. Ia hanya akan membuat suasana menjadi semakin tak nyaman.


Anas hanya melengos mendengar jawabanku, ia sudah sangat mengerti diriku sekali. Terakhir kali aku bertaruh untuk seorang pria, juga terjadi hal yang sama seperti ini. Ia juga sudah sangat hapal, bahkan bosan dengan sifat Tamara yang sudah berulang-ulang seperti ini. Tamara adalah jenis wanita keras kepala yang sangat sulit untuk di ubah.


“Coba kalo Dean tahu soal hal ini, berapa banyak ceramah yang bakal dia kasih ke kamu. Tapi percuma juga sih, karena kamu juga gak akan dengerin semua itu.”


“Makanya aku gak ajak Dean kesini, karena tahu hal kayak gitu bakal kejadian. Kamu juga jangan kasih tahu dia, aku bisa nyelesain semua ini sendirian,” ucapku.


Aku belum bisa mengubah sikap burukku ini, belum ingin untuk melakukan hal itu juga, karena beban masa laluku juga yang masih belum bisa kulepaskan. Aku selalu memiliki masalah dengan pria, itulah kenapa aku selalu tidur dengan berbagai pria berbeda.


“Aku ngerasa kalau Theo ini beda, Nas. Itulah kenapa aku jadi kayak gini, aku bahkan gak berani ketemu dia setelah malam itu,” ucapku.


“Kamu gak takut ya, kalau tiba-tiba kamu di pecat sama dia?”


“Bukan itu bagian yang aku takutin, Nas. Aku cuman gak bisa buat ketemu sama dia.”


Dalam satu minggu ini, aku merasa sangat gelisah. Baik Theo maupun kejadian malam itu, tak pernah lepas dari pikiranku. Hingga saat ini kejadian itu masih terbayang jelas, dan itu sangat mengganggu pikiran.


“Kamu suka sama Theo-Theo ini?” tanya Anas.


“Kamu gila?!”


Bisa kali, jangan pake teriak, Ra,” omel Anas


Sangat tak mungkin jika aku menyukainya, aku tak mudah untuk menyukai seorang pria, apalagi pria itu adalah Theo. Aku tak pernah membayangkan akan menyukainya, mungkin kembali bersama Jeremy masih lebih baik jika harus menjalin hubungan dengan Theo.


“Ya udah, malam ini kita balik ke Jakarta.”


“Ya memang kita harus balik, kamu mau Mbak Nimas ngamuk gara-gara kamu nyulik aku kayak gini?”


“Lagian Mbak Nimas gak pengertian banget, aku kan juga biasanya memang kayak gini sama kamu.”


“Terserah kamu deh, aku mau beresin barang-barang dulu,” ucap Anas. Ia berlalu menuju kamar seperti ucapannya.


Tak banyak yang bisa di lakukan di vila yang sengaja kusewa ini. Mungkin hanya seperti berjalan-jalan di sekitar vila untuk menghirup udara segar, dan itu sudah kulakukan selama satu minggu ini. Ini adalah hari terakhir aku berada di sini, mungkin untuk terakhir kalinya tak akan menjadi masalah.


Aku belum pernah mengelilingi vila ini di sore hari, munngkin udaranya akan semakin baik di tambah senja. Ah, aku hampir melupakan satu hal penting di sini. Aku sudah mendapatkan Kate Spade yang di janjikan Gita, dan sudah pasti aku sangat bangga dengan hal itu. Lucu sekali karena aku bangga untuk hal-hal remeh seperti ini.


Selama satu minggu ini, aku benar-benar hilang kontak dengan rekan-rekan kerjaku setelah mengirimkan bukti bahwa aku tidur dengan Theo. Mungkin mereka juga mengerti jika aku butuh waktu sebelum kertas pemecatan mampir ke meja kerjaku.


“Gila banget kamu, Ra, berani-beraninya ngelakuin ini dalam keadaan sadar. Kalau kamu mabuk mungkin gak masalah,”


Itu adalah hal pertama yang di katakan Gita ketika melihat foto yang kukirimkan, serta kuceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Tadinya aku ingin menerima tantangan Gita dengan membuatnya jatuh cinta padaku, tapi aku tak bisa masuk ke dalam hal ekstrem itu. Itu terlalu beresiko untukku.


Bodohnya aku karena melakukan itu dalam keadaan sadar, jika saja kami sama-sama mabuk, mungkin aku tak akan seperti ini. Kalimat ajakan yang kukatakan saja masih sangat asing terdengar di telingaku, itu alam bawah sadarku yang mengatakan hal semacam itu.


Langkahku terhenti ketika mencapai halaman terluar vilaku. Tak pernah terbayang di benakku jika pria ini akan menyusulku hingga di sini, lagipula bagaimana caranya hingga ia tahu vila yang kusewa? Aku benar-benar tak mengatakan akan menginap di Bandung pada siapapun.


“Kamu tahu, sangat sulit untuk mencarimu,” ucapnya.


Kami hanya berjarak satu meter, wangi parfumnya masih sama dengan wangi yang kucium malam itu. Kupikir, aku benar-benar sudah terlalu jauh untuk berkhayal. Aku membalikkan tubuhku, semoga setelah aku melakukannya, bayangan dirinya benar-benar akan hilang.


“Kamu mau lari lagi?” tanyanya.


Baru satu kali aku melangkah, dan suara itu sudah membuatku tiba-tiba membeku di tempat. Ini benar-benar nyata? Maksudku, pria tadi yang berdiri di hadapanku benar-benar nyata? Bukan hanya hologram atau yang lainnya, atau mungkin karena aku terlalu sering berhalusinasi?


Aku membalikkan tubuh lagi untuk memastikan penglihatanku. Lihat apa yang kudapat? Theo tersenyum manis padaku.

__ADS_1


**


__ADS_2