That XX

That XX
Gossip


__ADS_3

Anastasia—


“Kamu yakin kamu suka sama Wira yang ini, Nas?” tanya Dean dengan raut wajah yang aneh.


Akhir pekan kali ini, kami bertiga berkumpul di apartemen Tamara yang letaknya berseberangan dengan gedung apartemenku. Kalian pasti akan bertanya kenapa kami tak tinggal bersama saja, atau mungkin menjadi tetangga sebelah pintu. Jawabannya ada pada Tamara yang tak ingin tersangkut masalah denganku jika aku memiliki skandal.


Ya, Tamara memang sekurang ajar itu, dan semua orang pasti sudah sangat tahu hal ini, kan? Tapi, ada benarnya juga alasan Tamara ini. Jika suatu saat nanti aku terjebak skandal, dan banyak wartawan yang mengerumuni gedung apartemenku, maka aku bisa mengungsi ke apartemen Tamara.


Kalau Dean jangan di tanya lagi, selain bekerja di salah satu pabrik makanan terbesar di Jakarta, yang juga memiliki Backyard Garden, ia sudah memiliki rumah minimalis yang ia tinggali sendiri. Beruntung memang sahabatku yang satu itu, tapi semua itu juga di dukung oleh keluarganya yang sangat berada.


"Kenapa? Ada yang salah?” tanyaku.


“Ya jelas salah, Nas. Selama ini Dean suka sama kamu, tapi kamu lebih milih fotografer yang belum kamu kenal banget ini,” sela Tamara.


Andai saja Tamara ini ingat bagaimana terpuruknya ia beberapa minggu yang lalu karena ulahnya sendiri, ia tak akan seberisik ini. Tapi, Tamara memang selalu berisik. Tanpanya, persahabatan ini benar-benar akan hambar karena tak ada Tamara yang berbuat onar.


Hanya helaan nafas yang kuberikan atas pertanyaan Dean tadi, dan juga selaan Tamara yang sangat menyebalkan. Aku kembali menatap Dean yang juga sudah menggelengkan kepalanya melihat sikap Tamara ini.


“Tunggu, jangan bilang kamu kenal sama Mas Wira?”


“Ya dan nggak. Aku cuman sekedar tahu dia aja, aku gak temenan sama dia,” jawab Dean. Ia terlihat santai menjawab pertanyaan itu sembari mengambil kentang goreng yang baru saja di goreng oleh Tamara.


Akan kuberitahu salah satu bakat terpendam dan sangat bermanfaat yang di miliki oleh Tamara selain menggaet pria. Memasak. Untuk ukuran wanita yang sangat liar seperti dia, Tamara cukup berbakat. Aku saja sama sekali tak bisa berkutat di dapur, mungkin hanya sekedar merebus air atau memasak mi instan.


Tamara menegakkan tubuhnya seolah mulai kembali mendapatkan pencerahan atas kalimat Dean barusan. Harusnya ketika kami di Bandung kemarin, aku dorong saja ia ke salah satu jurang yang kami lewati di jalan pulang.


“Kamu pasti nyari tahu tentang Wira ini, kan?” tuduh Tamara.


“Nggak kok, aku cuma kebetulan tahu aja. Dia pernah pakai Backyard Garden sebagai lokasi pemotretan.”


“Dan apa yang kamu tahu setelah itu?”


Sebenarnya aku cukup berterima kasih dengan kehadiran Tamara di sampingku. Kali ini aku serius. Walaupun aku adalah seorang model yang biasa berpose di hadapan banyak kamera, dan bertemu banyak orang, aku adalah tipe wanita yang sangat pendiam dan juga pemalu. Bahkan di hadapan sahabat-sahabatku.


Kehadiran Tamara dan semua pertanyaan yang ia lontarkan ini, seperti membantuku untuk mengeluarkan pertanyaan yang tak bisa kuutarakan.


“Kalian tahu istilah ini, kan? Kalau hanya pria yang bisa menilai pria lainnya, sama halnya kayak wanita, cuma kalian yang bisa menilai wanita lainnya. Dari segi penampilan, sifat, pembawaan dan lain-lainnya itu?”


Aku dan Tamara hanya menganggukkan kepala saja, menanti dengan sabar agar Dean bisa menyelesaikan kalimatnya.


“Dan aku pikir, Wira ini bukan pria yang tepat buat kamu. Kalian tahu tipe flamboyan, yang selalu nyebarin pesonanya ke semua wanita. Tamara pasti tahu banget tipe pria yang kayak gini.”


“Aku belum pernah ketemu langsung sama si Wira ini, sih, tapi kalau dari foto yang di tunjukin Anas, dia lumayan ganteng, sih,” ujar Tamara.


Mas Wira yang aku tahu memang sangat ramah dan juga selalu tersenyum, aku bahkan selalu berpikir, apa dia sama sekali tak memiliki masalah untuk di pikirkan, kenapa hanya senyum yang ia tunjukkan. Sangat sering aku memikirkan hal itu, dan aku belum menemukan jawabannya. Yang aku tahu, Mas Wira hanyalah satu di antara pria baik yang kutemukan.


Dean mengedikkan bahunya. “Well, itu yang aku lihat sebagai sesama pria, sama sekali gak ada maksud lain. Semoga si Wira ini memang beneran baik kayak yang kamu bilang, Nas.”


“Aku cuma kagum aja sama dia, belum sampai tahap yang kayak kalian kira,” ucapku sedikit ragu. Sepertinya aku sudah sampai tahap yang sangat menyukainya.


“Kamu liat, Dean, betapa bohongnya sahabat kita yang satu ini,” balas Tamara.


Untuk kesekian kalinya dalam hidupku, aku kembali ingin mendorong wanita licik ini ke jurang.


**


Sepanjang hari itu, selama pemotretan itu berlangsung, aku tak pernah berhenti memikirkan ucapan Dean dan juga Tamara kemarin. Beruntung aku masih bisa fokus pada pekerjaanku, tapi tetap saja pikiranku masih terganggu hingga saat ini.

__ADS_1


Mungkin benar ucapan Tamara jika aku selama ini terlalu polos dan belum bisa membedakan mana yang baik dan juga mana yang buruk. Untuk dasarnya aku sudah mengetahuinya, tapi secara keseluruhan, aku belum bisa memastikannya. Aku butuh bimbingan penuh dari Tamara untuk urusan pria.


“Kamu udah denger tentang projek Wira?”


Aku menghentikan langkahku di depan ruang tunggu model lain ketika aku baru menyelesaikan hajatku di toilet tadi. Aku tak ingin menguping, tapi mendengar nama Wira di sebut, aku jadi ingin tahu lebih banyak lagi. Toh, giliran pemotretanku juga masih lama, selama aku tak ketahuan, tak akan menjadi masalah.


“Anastasia yang di pilih, aku heran kenapa harus dia lagi yang jadi modelnya. Wanita itu sama sekali gak cocok buat konsep yang di angkat Wira,”jawab seorang wanita di dalam sana.


Mungkin ada dua atau tiga model di dalam sana, aku tak mungkin membuka celah pintu itu lebih lebar lagi. Aku juga tak mengenali suara para model itu, aku hanya tahu jika mereka sudah pasti tak menyukaiku. Semakin terkenal dirimu, maka para pembenci juga akan semakin merajalela di sekitarku.


“Well, wanita itu pasti ngerengek buat di masukin ke dalam projek itu. Kamu tahu seberapa besarnya kekuatan uang, yang Anastasia punya cuma kecantikannya aja. Selebihnya, karena rengekan dia, atau mungkin dia ngelakuin banyak hal demi projek itu.”


Wah, aku tak menyangka jika banyak orang yang menggosipkanku hingga seperti ini. Membaca komentar negatif di media sosial saja sudah sangat membuatku emosi, kali ini aku mendengarnya secara langsung. Jika ada Tamara di sini, ia sudah pasti akan langsung melabrak wanita-wanita yang ada di dalam sana.


Apa katanya tadi? Aku merengek untuk mendapatkan projek ini? Bahkan Wira sendiri yang datang padaku dan menawarkan proposal yang ia miliki. Mereka saja yang sepertinya terlalu banyak mengkhayal dan berharap jika Wira akan memilih mereka.


Aku juga berada di industri ini karena bakat dan kerja keras yang kulakukan dan kuperjuangkan. Enak sekali mereka mengatakan hal-hal seperti itu seolah ucapan itu adalah kebenaran yang mutlak.


“Ya, Anastasia ini hanya punya wajah cantik yang bisa ia pamerkan. Aku yakin sifatnya ini sama sekali tak baik.”


Oke, sudah cukup. Aku tak bisa mendengar ini lebih lama lagi. Mereka benar-benar sudah keterlaluan. Mungkin mereka hanya sebagian kecil yang mengataiku seperti ini, belum sebagian besar. Mungkin juga tiap aku menjalani pemotretan, banyak dari rekan modelku yang lain juga melakukan hal seperti ini.


Sudah sangat pasti seperti itu, karena selama ini juga aku sama sekali tak memedulikan hal lain selain pekerjaan. Inilah kenapa aku lebih memilih berdiam di ruang tungguku di banding berkeliaran seperti ini, padahal aku juga memiliki toilet sendiri di ruang tunggu.


“Kamu dari mana aja, Nas?” tanya Mbak Nimas.


“Toilet, Mbak.”


“Giliran kamu sekarang, Nas.”


Aku segera berjalan menuju tengah studio sembari menanti rekan modelku yang lain. Aku menunggu-nunggu seperti apa wajah mereka yang sudah mengataiku dengan sebegitu kasar tadi.


Tak membutuhkan waktu lama untukku menyelesaikan pemotretan ini, karena aku juga tak nyaman berlama-lama bersama mereka. Aku segera pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun, bahkan tersenyum. Aku tak peduli apa lagi yang akan mereka katakan tentangku, toh juga sudah buruk, kan?


Pukul tujuh malam, dan aku sudah menyelesaikan semua jadwal. Waktu yang sangat singkat, dan besok masih ada pekerjaan lain yang menantiku. Seperti inilah hari-hari yang biasa kulalui setiap harinya.


“Mbak, aku mau nanya sesuatu,” ucapku.


“Apa?” Mbak Nimas terlihat sibuk menyetir tanpa menoleh ke arahku.


“Tentang Mas Wira …,”


Aku sebenarnya masih menimbang, haruskah aku mengatakan ini pada Mbak Nimas. Jika aku tak mengatakan pada Mbak Nimas, rasanya aku bisa gila jika harus menahan ini seorang diri.


“Kenapa sama Wira?”


“Kalau dia itu ramah ke semua wanita, Mbak.”


Ada jeda yang cukup panjang hingga keheningan mengisi mobil van ini. Mbak Nimas ini jika sedang bekerja maka akan sangat berapi-api, tapi akan sangat diam jika pekerjaan sudah selesai.


“Aku gak pernah kenal dia secara personal, kamu beneran sesuka itu sama dia?” tanya Mbak Nimas.


“Aku penasaran aja, Mbak.”


“Aku bakal ngomong ini sebagai manajer yang bertanggung jawab untuk semua hidup dan karier model kamu. Berhati-hati terhadap semuanya, juga tentang perasaan suka kamu pada Wira. Kamu gak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, bisa aja akan ada banyak yang gunain kelemahan kamu ini untuk jatuhin kamu.


“Kamu lagi ada di puncak karier kamu, hal yang sangat krusial. Sedikit aja masalah, dan udah di pastikan semuanya akan hancur. Mbak Bintang belum tahu ini, aku harap kamu berhati-hati, Nas.”

__ADS_1


Aku sudah tahu ini. Bagaimana aku selalu berharap bisa bangun di pagi hari sebagai Tamara ataupun Dean, yang tak perlu memikirkan tentang sikap di hadapan banyak orang. Aku sangat ingin menjadi Tamara yang selalu ceria dan bisa berbicara seenaknya. Bekerja di depan kamera benar-benar menyiksaku.


Tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa, ini jalan yang sudah kupilih dan aku mencapainya dengan keringat dan juga perjuangan yang tak mudah. Menyerah di sini hanya demi perasaanku juga terasa sangat salah.


**


Hal yang aku takutkan, Mbak Nimas khawatirkan, dan juga Mbak Bintang antisipasi akhirnya terjadi. Aku tak tahu awalnya darimana atau bagaimana ini bisa terjadi. Aku bahkan tak tahu pernah melakukan hal itu di hari-hari sebelumnya. Tapi lagi, kecepatan kekuatan wartawan dan juga netizen sangat tak bisa di kalahkan.


Dalam sekejap, foto-fotoku dan Mas Wira sudah beredar di internet dengan tajuk yang sangat memprovokasi. Pertama kalinya dalam hidupku mendapat gosip yang seperti ini, skandal pertamaku di dunia model.


MAKAN SIANG BERSAMA, APAKAH ADIPATI WIRYASETYA DAN JUGA ANASTASIA RENJANI BERKENCAN?


KENCAN RAHASIA SANG FOTOGRAFER DAN SANG MODEL!


Itu hanya dua dari sekian banyak tajuk berita yang di muat oleh media, masih banyak lagi yang lainnya. Siang itu, aku hanya bisa berdiam di apartemen tanpa melakukan apapun. Tak ada jadwal yang kulakukan, Mbak Nimas juga melarangku melakukan hal lain di luar apartemen.


Orang yang boleh kutemui hanyalah Dean dan juga Tamara, selain itu, aku tak boleh sedikitpun terlihat di publik manapun. Sepertinya baru kemarin aku mendapatkan nasehat dari Mbak Nimas untuk berhati-hati, lalu kini aku sudah mendapatkan kesialan itu. Aku saja tak tahu bagaimana para wartawan bisa mendapatkan foto itu.


“Kamu baik-baik aja, Nas?”


Dean dan juga Tamara tiba-tiba muncul dengan raut khawatir di ruang tengah. Hanya mereka berdua yang tahu kata sandi apartemenku setelah Mbak Nimas, jadi mereka bisa menjangkauku dengan mudah jika sesuatu seperti ini terjadi.


Aku memberikan senyum manisku pada kedua sahabatku, secara keseluruhan aku baik-baik saja, hanya sedikit kaget dengan banyak artikel yang tiba-tiba muncul pagi ini. Aku sangat ketakutan, dan wartawan pasti sudah banyak yang menunggu di bawah sana.


“Aku baik-baik aja, cuman agak kaget aja. Kalian bawa makanan, gak? Aku laper banget,” jawabku.


“Demi kamu, aku sampe harus bolos kerja. Udah pasti potong gaji ini,” gerutu Tamara.


“Aku ganti nanti tiga kali lipat.”


“Jangan, Nas. Kesenengan nanti dia kalo di manjain,” ucap Dean


“Sewot banget, sih. Wajar aku kayak gitu, kamu udah kaya. Aku buat beli apartemen aja mesti nahan hawa-hawa buat jajan.”


“Iya, mau Kate Spade aja juga mesti ikut taruhan, kan? Terus gunanya kami berdua di sini itu buat apa kalo nggak buat bantuin kamu, hah?”


Sudah lama sekali aku tak mendengar pertengkaran ini. Hanya dengan melihat dan juga mendengarkan pertengkaram ini saja sudah membantuku untuk melupakan masalah yang sednag kuhadapi saat ini.


“Iya, sampe nyulik aku seminggu ke Bandung. Kamu tahu berapa banyak iklan yang aku tunda gara-gara kamu, bahkan aku juga sampe batalin salah satu produk demi kamu,” timpalku.


Tamara menatap kami tak percaya, sedikit kesal dan juga menahan amarah. “Ini kalian mau mojokin aku terus minta ganti rugi? Kok kalian kayak gitu sama sahabat sendiri, kalian nggak inget jasa-jasaku selama ini buat kalian?”


“Aku udah lupa, kamu masih inget, Nas?”


“Kamu berjasa apa aja emang, Ra?”


Dengan kesal Tamara duduk di sebelahku dan melipat kedua tangannya di dada. Bibirnya ia buat semaju mungkin agar terlihat lucu, tapi justru sangat mengesalkan untukku.


“Pokoknya aku ngambek!”


Aku mengalihkan tatapanku pada Dean lalu berinisiatif untuk pergi ke dapur, aku tak mungkin tahan jika sedikit lama melihat penampakan seperti ini. Tamara tak cocok untuk menjadi lucu dan ngembek seperti itu.


“Durhaka banget kalian astaga! Kok aku di tinggalin sendirian!”


Aku dan Dean hanya tertawa saja melihat hal itu. Apapun yang terjadi, Tamara tetap akan menjadi yang paling berisik di antara kami semua, jadi biarkan saja. Dan juga, biarkan aku sedikit tenang hari ini. Sejak pagi jantungku benar-benar di buat olahraga karena berita yang ada, aku hanya ingin bersenang-senang.


Hari ini saja, aku ingin melupakan masalah yang ada.

__ADS_1


**


__ADS_2