
Tamara—
Sudah satu bulan sejak kejadian Theo menyusulku ke Bandung hanya untuk menanyakan kenapa aku meninggalkannya sendiri malam itu. Setelahnya, aku merasa hubunganku dengan Theo juga mulai aneh. Di kantor, hubungan kami masih seperti biasa antara atasan dan juga bawahan, semua itu bisa berubah ketika kami sudah di luar pekerjaan.
Tak ada pertemuan tak sengaja di klub malam lagi, lalu semua itu berganti menjadi Theo yang kadang menyambangi apartemenku. Tak perlu untuk kuceritakan lebih rinci karena kalian sudah pasti bisa menduga apa yang kami lakukan. Bahkan di rapat pagi ini, ia berangkat ke kantor dari apartemenku. Tentu saja setelah melewatkan pagi panjang yang sangat panas, percaya atau tidak, aku masih bisa merasakan semua sentuhannya di seluruh tubuhku.
“Untuk target pasar bulan ini, kita menyasar anak-anak muda yang sangat memahami perkembangan teknologi yang semakin pesat, di tambah lagi …,”
Suara manajer bagian pemasaran semakin hilang di pendengaranku. Ingatanku justru kembali pada malam dimana Theo muncul di pintu apartemenku.
“Kurasa hubungan kita tak sedekat itu untuk saling mengunjungi apartemen,” ucapku malam itu.
Theo menaikkan bahunya tak acuh dan langsung masuk ke apartemenku tanpa izin dariku. Ya, pria-pria seperti ini memang selalu seenaknya, berpikir bahwa ia lah yang berkuasa akan segala hal. Aku sudah tak kaget lagi, tapi tetap saja ia kurang ajar.
“Sepertinya kita harus memperjelas beberapa hal di sini. Hubungan kita tak sedekat itu, dan berhenti untuk merasa jika hubungan kita dekat,” ujarku lagi.
Lihatlah Theo yang dengan santainya duduk di sofa tunggal itu, dengan aura dominan yang ia miliki semakin menambah daftar karisma yang ia miliki. Ya, aku tak akan bohong untuk yang satu itu.
“Apa menurutmu itu perlu? Setelah semua hal yang kita lakukan, bahkan kamu gak segan untuk mendesahkan namaku dengan keras di setiap—“
“Oke, berhenti!” potongku.
Aku masih tak bisa mengerti dengan sikap Theo yang seperti ini. Tak mungkin hanya karena malam itu mampu mengubah perasaannya semudah itu, apalagi jika melihat seluruh rekam jejaknya dalam mendapatkan wanita.
“Apa maumu?”
Sepertinya Theo masih belum mengetahui tentang dirinya yang aku jadikan taruhan, kalaupun ia tahu, aku juga tak peduli. Aku hanya heran dengan sifatnya yang seperti ini. Jika para wanita tahu Theo yang seperti ini, mereka akan sangat kegirangan dan akan semakin semangat untuk mengejar pria ini.
“Aku ingin istirahat. Kepalaku sangat pusing karena banyaknya pekerjaan siang ini.” Theo menutup matanya dengan lengan kiri dan mulai menyamankan dirinya di sofa yang tengah ia duduki.
“Asal kamu tahu saja, pekerjaanmu pun hampir semuanya di limpahkan padaku.” aku menyilangkan tangan di dada dan menatapnya dengan kesal.
“Dimana kamarmu?” tanya Theo.
Aku menaikkan alisku, kira-kira apa yang akan dia lakukan lagi. Karena memang ini bukan pertama kalinya ia berkunjung ke apartemenku. Hari pertama ia mengunjungiku, itu hanya sebatas kunjungan biasa, lain kali akan kuceritakan bagaimana rinciannya. Lalu entah kenapa ini semua berakhir di atas ranjang.
“…, apa ada yang ingin di tanyakan?”
Aku tersadar dari lamunan ketika merasakan tendangan kecil di kakiku, aku menoleh dan menemukan Gita yang menatapku dengan alis naik. Gita lalu mengedikkan kepalanya dan aku segera menangkap sinyal yang ia kirimkan. Seluruh peserta rapat kompak menatapku dengan penuh tanya dan antusias yang tinggi.
Apa rapat sudah selesai? Kenapa cepat sekali? Rasanya baru saja aku memasuki ruang rapat ini, dan rapat sudah berakhir.
“Umm, tidak ada. Saya sudah mengerti dengan semua penjelasan yang ada,” ucapku cepat.
Akan sangat memalukan jika aku ketahuan melamun di tengah-tengah rapat, dan dengan kurang ajarnya, objek lamunanku juga duduk tak jauh dari kursiku.
“Sepertinya hanya itu saja untuk hari ini, untuk detail proposalnya sudah kami kirimkan melalui surel masing-masing, harap segera di cek,” ucap sang moderator.
Semua anggota rapat segera membereskan mejanya masing-masing, begitupun denganku. Setelah ini, aku mungkin akan makan siang bersama yang lainnya, lalu kembali berkutat dengan tumpukan berkas yang sudah menggunung itu.
Mataku sedikit menoleh pada Theo yang akan keluar dari ruang rapat juga, mata kami bertemu untuk beberapa detik yang sangat singkat itu. Dia juga menganggapku tak ada jika di kantor. Hubungan kami ini sangat aneh, aku saja pusing hanya dengan memikirkannya.
**
Akhirnya, setelah satu bulan memutuskan untuk tak mengunjungi klub malam, aku kembali menginjakkan kaki di sini pada jum’at malam yang sangat hangat ini. Suasananya masih ramai seperti biasa dan di penuhi dengan berbagai kalangan yang sedang meliukkan tubuhnya di lantai dansa, serta yang hanya duduk sambil menikmati minumannya.
__ADS_1
Aku sedang tak ingin menari, mungkin akan lebih baik jika aku menikmati minumanku lebih dahulu. Jika adrenalinku mulai terpacu, aku akan segera turun di lantai dansa. Jangan salah, aku ini termasuk penari yang sangat handal, hanya satu gerakan dan banyak pria yang akan mulai mendekatiku.
Tamara Pricillia adalah lambang wanita yang memiliki banyak pesona yang sangat sulit untuk di tolak oleh siapapun. Buktinya, Theo saja tetap mendatangiku. Hobi sampinganku adalah menyombongkan diriku sendiri, karena aku sangat mencintai diri sendiri. Terserah jika ada yang tidak sependapat denganku, aku hanya mengatakan saja.
Kupikir, keberuntunganku tak seberapa baik malam ini. Mataku tak sengaja menatap objek yang tak seharusnya kulihat. Theo yang tengah bercumbu di ujung sofa dengan seorang wanita di sampingnya. Yang benar saja. Baru beberapa hari yang lalu ia bercinta denganku, dan kini ia sudah bersama wanita lain.
Udara di sekitarku mendadak berubah menjadi panas, seiring kedua sejoli itu yang juga semakin liar mengekspresikan ciumannya. Kenapa rasanya aku sangat muak melihat pemandangan itu?
Baiklah. Sepertinya sudah saatnya aku turun ke lantai dansa. Musik yang di mainkan juga sangat cocok dengan seleraku, dan tentu saja membuat adrenalinku terpacu. Aku melepas blazer yang kukenakan, menyisakan crop top berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihku. Tato yang ada di kedua lenganku serta di perut juga semakin terlihat jelas.
Apa aku harus menggaet seorang pria malam ini? Sayang sekali jika hanya menari dan menghabiskan minumanku.
Cairan alkohol yang mulai bercampur dengan darahku, musik kencang yang mulai menghentak indra pendengaranku, di tambah dengan keringat yang mulai membasahi tubuhku. Aku merasa benar-benar panas di seluruh tubuh.
“Mencoba untuk menggoda seluruh pria di klub ini, ya.”
Tubuhku seketika menegang mendengar bisikan itu di telingaku. Aku menghentikan tarianku tapi tak menolehkan tubuhku ke belakang, aku sangat tahu pemilik suara ini, bahkan tangannya sudah mendarat di perut telanjangku.
“Kamu tahu, pakaianmu ini sama sekali tak membantu untuk menutupi betapa indahnya tubuh ini. Akan lebih baik jika kamu melepasnya saja,” ucapnya lagi.
Kupikir Theo sudah berakhir di salah satu kamar hotel dengan wanita manapun yang menghampirinya, wanita tadi juga cukup cantik. Jadi, kenapa ia bisa ada di belakangku? Apa ia sengaja mengawasiku?
“Benarkah? Kenapa tidak melepasnya saja sekarang?” tantangku.
Tanpa kalimat pembuka lebih dulu, tangan Theo perlahan menjalar naik menuju bagian tubuhku yang tak tertutup kain. Aku hanya mengenakan crop top yang tentu saja beberapa bagian tubuh atasku terekspos. Ah, sial sekali Theo dan tangan terampilnya itu. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar ******* tak keluar dari bibirku.
“Seperti ini maksudmu?” Aku tak bisa melihat tangannya yang sudah menjalari seluruh tubuhku, Aku hanya bisa merasakan tangan besar dan hangat itu mengisi seluruh kulitku. Inilah alasan banyak wanita yang rela mengejarnya hanya untuk kenikmatan satu malam. Aku bisa memahami itu.
“Tapi aku lebih suka jika hanya ada kita berdua di sini,” bisik Theo lagi.
Aku berjalan lurus menuju kursi yang aku duduki tadi untuk mengambil blazer dan juga tas yang kubawa tadi. Mendadak aku jadi tidak memiliki mood untuk menari atau lebih lama berada di klub ini. Sampai aku berjalan hingga pintu keluar, tak ada tanda-tanda Theo yang mengejarku. Ya tentu saja, ia sibuk dengan salah satu wanitanya.
“Kamu mau kemana?”
Tanganku di tarik sedikit kasar ketika aku hampir membuka pintu mobilku. Sudah bisa di pastikan jika itu Theo tanpa perlu menoleh ke belakang. Baiklah, ia masih memiliki sedikit rasa peduli padaku. Tapi, kenapa sekarang aku justru terdengar seperti kekasih yang cemburuan?
“Aku mau pulang, ada masalah?”
“Kamu mabuk, aku akan mengantarmu.”
Aku tertawa sumbang mendengar kalimat yang barusaja ia lontarkan. Aku tak tahu jika Theo bisa selucu ini. “Kenapa? Wanita itu belum memuaskanmu, atau kamu yang kurang puas dengan pelayanan yang di berikan wanita tadi?”
“Apa maksudmu?” tanya Theo. Wajahnya kini berubah menjadi beberapa kali lipat di banding kemarin.
“Bukankah memang seperti itu, kamu datang ke apartemenku hanya untuk meniduriku, lalu kamu kembali ke asalmu dengan kembali menjadi sosok pemuda yang mempermainkan banyak wanita?”
Cengkeraman Theo di tanganku ia lepaskan. Kini ia kembali mengintimidasiku dengan memojokkanku di antara badan mobil dan dirinya. Sudah jelas aku sangat kalah untuk bagian ini, dia pria dan memiliki tenaga yang lebih kuat di banding diriku yang sudah tak memiliki kuasa sedikitpun.
“Ada yang salah? Kamu memang seperti itu, dan kita juga seperti itu,” ucapku.
Ada yang berbeda dari mata Theo. Kemarahan, frustrasi, yang membuatku semakin bingung, karena mata itu tak akan pernah berbohong.
Pada akhirnya aku sudah menduga, ia akan menciumku, dengan seluruh kemarahan dalam dirinya.
**
__ADS_1
“Jadi sebenarnya apa hubungan kamu sama Theo?” tanya Anas.
Aku sudah menceritakan apa yang terjadi padaku dan Theo malam itu, Anas juga sudah mengetahui semua tentangku dan Theo selama ini. Aku paling terbuka pada Anas dalam segala hal, kupikir persahabatan kami memang sudah sedekat itu.
“Dia atasanku, Nas.”
“Nggak ada atasan dan bawahan yang tidur bareng kayak kalian ini, Ra. Kenapa kamu nggak jujur aja sama perasaan kamu ini?”
“Apa yang mau di jujurin, Nas. Memang hubungan kami kayak gini aja, aku juga udah ceritain semuanya ke kamu, kan? Nggak ada lagi yang aku sembunyiin,” ujarku.
Ini bukan akhir pekan, kebetulan aku ta memiliki pekerjaan tambahan serta pekerjaanku yang selesai lebih cepat dari dugaan. Aku memutuskan untuk makan malam bersama Anas, aku juga butuh tempat untuk menceritakan semua keluh kesahku, khususnya tentang Theo ini.
“Maaf aku telat, Jakarta macet banget.” Dean muncul tiba-tiba di meja kami dengan napas yang naik turun.
Tak adil rasanya jika aku hanya bersama Anas, karena sejatinya aku memiliki dua orang sahabat. Jika kami sudah berkumpul bersama seperti ini, aku tak perlu menceritakan ulang lagi, jadi aku juga tak lelah.
“Kamu telat setengah jam, makan malam kali ini kamu yang bayar,” ucapku kejam.
Yah, lagipula jika hanya membayar makanan sebanyak ini, rasanya tak seberapa untuk Dean. Kekayaannya tak akan habis selama tujuh turunan, minta saja rumah darinya, di pastikan ia akan dengan senang hati membelikannya.
“Biasa aku juga yang bayar, kan?” Dean mengedikkan bahunya tak acuh.
Inilah yang aku suka dari Dean, dia sangat tak peduli dengan apa yang aku lakukan, bahkan untuk urusan uang sekalipun. Ia sama sekali tak takut untuk jatuh miskin, karena hatinya sudah sangat kaya akan kebaikan. Aku mengatakan ini dengan tawa di dalam hati, aku tak akan memberitahu Dean tentang semua yang baru saja kukatakan. Karena jika ya, maka ia akan langsung besar kepala.
“Oke, kalo gitu aku nambah pesanan lagi, kamu mau juga, Nas?”
Anas hanya menggelengkan kepala, padahal ia sudah mengenalku sangat lama dan sudah sangat hapal sikapku, masih saja ia heran dengan apa yang baru saja kulakukan. Aku segera memanggil pelayan di dekat kami untuk memesan menu makanan lagi.
“Kamu laper apa doyan, sih? Porsi kamu udah mau ngalahin porsinya kuli,” timpal Dean.
“Kalau kamu hanya bayar yang sedang kami makan sekarang, rasanya gak adil. selain ini dikit banget, kamu tahu sendiri kalau Anas ini selalu diet, enak di kamu dong kalo gitu.”
Resiko ketika harus nongkrong bersama Anas, Porsi makannya tak banyak karena die yang ia jalani. Resiko menjadi seorang model yang harus mempertahankan berat badan idealnya, bahkan jika kupikir lagi, hidup mereka sangat tak berwarna. Apa yang menyenangkan dari di soroti kamera. Itu sangat tak nyaman.
“Biarin aja, Dean. Mungkin dia butuh pengalihan isu masalahnya,” ucap Anas.
“Apalagi kali ini, Theo ini lagi? Kenapa, sih, masalah kalian selalu berputar di cowok?” Dean menyilangkan tangan di dada, menatap kami bergantian dengan tatapan penuh penghakiman.
“Aku kan pernah bilang, Nas, jangan pernah ajak Dean buat ngomongin masalah kayak gini. Pusing banget dengerin omelan dia,” protesku.
“Nggak papa, Ra, kasian dia nggak ada temennya.”
Untuk pertama kalinya aku tertawa karena ucapan Anas yang nyeleneh seperti ini. Kalian tahu? Anas ini adalah lambang kepolosan untuk semua wanita yang ada di Jakarta ini. Mendengar ia mengatakan kalimat ejekan seperti ini membuatku sedikit syok, Dean juga tak jauh beda. Lihat saja ekspresinya yang terlihat sangat aneh di mataku itu.
“Belajar dari mana kamu, Nas, ngomong kayak gitu?” tanyaku dengan tawa yang belum reda.
“Gak nyangka pikiran kamu sama aku sedangkal itu, Nas.” Dean menimpali.
“Harusnya yang kayak begini ini di masukin ke berita utama media. Gila, sih, seorang Anastasia yang polos bisa kejam juga.”
Kami berdua tertawa, di iringi dengan Anas yang juga tertawa. Hanya berkumpul seperti ini mampu menaikkan moodku menjadi lebih baik. Permasalahan tentang Theo menguap begitu saja, seolah tak terjadi apapun.
Itulah kenapa aku lebih memilih kehilangan hal lain, di banding kehilangan mereka berdua. Rasanya akan sangat menyakitkan jika kehilangan mereka yang sudah selalu ada di sampingku dalam situasi apapun.
**
__ADS_1