
Anastasia—
Gosip dan berita simpang siur adalah makanan sehari-hari untuk mereka yang bekerja di depan kamera. Publik figur. Atau untukku sebagai model yang sedang berada di puncak karier, dimana aku hampir memenuhi halaman depan majalah, serta hilir mudik di iklan televisi. Kini aku sedang kebagian getah dari gosip—yang kuharapkan—dengan Mas Wira.
Bukan bagian gosip itu yang menyedihkan, bagian dimana aku membaca klarifikasi dari pihak Mas Wira. Judul artikel itu mengatakan jika Mas Wira sudah memiliki kekasih yang berasal dari kalangan non selebriti. Jadi selama ini aku mengharapkan apa?
Salahku juga karena selama ini hanya memendam perasaan seorang diri, berharap—lagi-lagi—jika Mas Wira akan tahu apa yang kurasakan. Bodoh memang, zaman sudah berkembang dan aku masih mengharapkan ada keajaiban atau semacamnya yang terjadi untuk perasaanku sendiri.
“Kamu udah baca artikel itu lebih dari seribu kali, Nas,” ucap Mbak Nimas.
Aku tersenyum geli. “Mbak ngitungin manual apa gimana?”
Raut wajah Mbak Nimas terlihat khawatir, dan itu sudah kulihat sejak beberapa hari yang lalu ketika artikel ini muncul. Aku seharusnya sangat paham untuk mengontrol emosi di wajah karena seorang model, tapi Mas Wira berbeda, efeknya untuk diriku sangat luar biasa.
Aku menutup artikel itu. Kami sudah sampai di set pemotretan untuk projek baru Mas Wira yang sudah kutandatangani. Aku harus profesional, aku setuju untuk bergabung karena memang menyukai konsep yang di tunjukkan, Mas Wira hanya bonus. Satu hal yang tak lepas dari pikiranku sejak kemarin, apa kekasih Mas Wira akan hadir?
“Aku cuman kaget, Mbak, nanti juga ilang sendiri. Give me some more time.”
Aku keluar dari mobil van kami tanpa menunggu Mbak Nimas. Sejujurnya pikiranku kacau sejak gosip itu keluar, gosip pertamaku sebagai model. Aku takut dengan semua konsekuensi yang mungkin timbul, reaksi orang lain, atasanku, bahkan Mas Wira. Semua itu semakin memuncak ketika artikel ini keluar, ditambah lagi aku selalu di ingatkan untuk berhati-hati agar tak terjerumus gosip seperti ini lagi.
Sedikit saja kesalahan yang aku buat, akan memunculkan kesalahan-kesalahan lain yang mungkin di ciptakan pihak lain. Dunia yang kujalani ini sangat berat, sangat kejam, sebuah keajaiban aku masih bertahan disini sebagai Anastasia Renjani.
Sepertinya aku butuh liburan lagi. Hebatnya aku, gosip yang muncul tak membuatku mengambil cuti atau liburan sejenak. Ya, aku sempat melakukannya bersama Tamara, tapi itu bukan liburan. Liburan yang kumaksud ini adalah benar-benar liburan, aku bisa menenangkan pikiranku sejenak, dan hanya sendirian.
“Aku boleh minta jadwal liburan, Mbak? Dua hari atau tiga hari mungkin?” tanyaku pada Mbak Nimas yang sedang sibuk dengan tablet di tangannya.
“Kamu mau kemana? Jangan bilang Tamara ngajakin kamu keluar lagi?” selidik Mbak Nimas. Tatapan penuh perhitungan itu membuatku ingin tertawa kencang.
“Aku yang mau liburan, Mbak, aku juga butuh nenangin pikiran.”
Lagi-lagi tatapan simpati itu mampir di wajah Mbak Nimas, apa aku semenyedihkan itu hingga Mbak Nimas tak henti-hentinya memberikan raut wajah itu.
“Memang aku semenyedihkan itu, Mbak? Aku cuma mau liburan ini.”
“Nope. Aku cuma ngerasa kali ini masalahnya serius, kamu gak pernah minta liburan selama ini, kebanyakan juga Tamara yang maksa kamu liburan.”
Aku mengangkat bahu, lalu kembali duduk diam di depan cermin untuk menyelesaikan riasan untuk pemotretan kali ini. Aku ingin pekerjaan kali ini di selesaikan dengan cepat. Rasanya aku tak terlalu ingin untuk bertemu Mas Wira.
**
Setelah dua puluh tujuh tahun aku hidup, ini pertama kalinya aku berhasil merealisasikan mimpi untuk liburan seorang diri. Hanya tiga hari, tapi itu cukup untukku. Tanpa ada Dean atau Tamara yang akan merecoki hidupku.
Jangan salah paham dulu, aku mencintai dua sahabatku itu, hanya saja, terkadang kita butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Tak melulu soal bersama sahabat saja. Untuk kali ini saja aku butuh sendirian, sendiri itu menenangkan. Bayangkan betapa bingungnya Tamara dan juga Dean melihat sikapku kini, mereka pasti akan beranggapan jika aku sudah sangat depresi.
“Halo Renjani, bagaimana kabarmu?”
__ADS_1
Aku seketika tersadar dari ingatanku, bayangan ketika kemarin Mas Wira menyapaku di set pemotretan dengan senyum yang luar biasa ramah seolah tak terjadi apapun. Hatiku sesak menyaksikan kejadian itu, hingga sekarang pun aku masih menyukai senyum itu.
Sangat sulit untuk melenyapkan rasa suka ini pada pria itu, aku juga tak pernah benar-benar menghilangkan perasaan ini. Hanya saja, senyum itu terasa asing untukku, senyum manis itu terasa asing untukku. Karena aku tahu, aku tak bisa memilikinya lagi, tak ada kesempatan untuk itu.
Pemotretan itu berjalan lancar, aku sangat beruntung karena tak melakukan hal memalukan yang mungkin saja bisa kulakukan.
“Renjani, kamu punya waktu sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan.”
Aku dan Mas Wira memutuskan untuk sedikit menepi untuk membicarakan sesuatu yang hanya di ketahui Mas Wira.
“Ada apa ya, Mas? Apa foto-foto tadi kurang bagus?” tanyaku.
“Semuanya bagus, aku sangat puas dengan hasilnya, begitu juga dengan timku. Reputasimu sebagai model papan atas memang tak salah.”
Aku memberikan senyum tipis. “Lalu, ada masalah apa, Mas?”
“Soal gosip itu, aku minta maaf. Tak seharusnya menemuimu seperti kemarin, jika bukan karena pertemuan itu, gosip tak akan menyebar dan menjadi besar seperti ini.”
Kupikir, saat itu, hanya aku yang menyukai pertemuan kami, hanya aku yang bersyukur karena kami bertemu dengan tak sengaja, kupikir Mas Wira mengatakan itu untuk kekasihnya. Tidak cukupkah ia dengan artikel yang terbit itu? Kenapa harus menambahkan permintaan maaf seperti ini?
Well, beruntung sekali siapapun dia yang menjadi kekasih Mas Wira. Dan aku, cukup beruntung dengan diriku saat ini yang masih mampu bertahan dalam situasi ini. Mungkin ini salah satu petunjuk untukku menjauhi Mas Wira. Beruntungnya lagi, aku bukan Tamara yang akan mengejar seorang pria demi harga dirinya yang tinggi.
Jangan salah paham, aku bukan menjelekkan sahabatku sendiri, hanya saja itu memang kenyataan yang ada. Bukan sekali atau dua kali aku dan Dean mencoba menasehati Tamara untuk mengurangi sifat jeleknya itu, tapi Tamara tak semudah itu patuh, ia harus mendapatkan balasan yang setimpal dari apa yang ia lakukan agar jera dengan sendirinya.
Seharusnya aku cukup bersyukur dengan apa yang kumiliki saat ini, sahabat yang peduli, karier yang bagus, hidup yang menjadi lebih baik, di banding sibuk dengan perasaan kecewa ini sendiri. Akan ada waktunya hingga aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, nanti. Tak banyak orang yang bisa bersabar, dan aku harus melakukannya.
Aku memeluk diriku sendiri, aku sengaja hanya mengenakan selendang di balik gaun tanpa lengan yang kukenakan. Aku ingin merasakan angin yang menerpa kulitku, dan rasanya sangat menenangkan walau memang rasanya cukup dingin. Matahari hampir terbenam, langit juga semakin gelap, itulah kenapa udara juga semakin dingin.
“Kamu bisa kedinginan.”
Sontak aku menoleh, kupikir hanya ada aku di pantai ini. Aku tertegun melihat sosok di balik tubuhku, kupikir aku berhalusinasi. Tak mungkin Mas Wira juga ada di pantai ini, tak mungkin juga ia mengikutiku, itu akan sangat aneh.
“Mas Wira?” tanyaku, lebih kepada diri sendiri. Sosok yang sangat kuhindari serta yang tak mungkin bisa kutemukan secara sengaja ada di dekatku, di pantai yang sama. Kebetulan macam apa yang sedang terjadi?
“Kamu kayak abis ngeliat setan.” Mas Wira tertawa renyah, lalu berjalan mendekatiku.
Tawa itu bahkan terasa sangat nyata. Apa ini benar hanya halusinasi?
“Awalnya aku gak percaya kalau itu kamu, dan setelah di perhatikan lebih jauh memang kamu. Kebetulan aku ada pemotretan di Lombok, aku bersama dengan tim ku juga,” ucap Mas Wira.
Ah, memang sebuah kebetulan. Apa yang kuharapkan lagi? Bisa saja ia juga datang bersama kekasihnya. Aku tersenyum pahit, kenyataan yang harus kuterima dan sangat memukulku keras. Jika gosip ini belum muncul, ini akan menjadi kebahagiaan yang tak akan ternilai harganya, kini semua itu sudah tak sama lagi.
“Sunset nya bagus, Mas,” ucapku.
Canggung dan sangat asing. Aku cukup tahu batasan apa yang kumiliki, kini kami hanya rekan kerja, dan aku tak boleh terlibat skandal dengan siapapun lagi.
__ADS_1
“Sunrise nya juga bagus disini, kamu harus liat sebelum pulang ke Jakarta.”
“Aku balik ke penginapan dulu, Mas.
“Renjani...,”
Nama itu masih terdengar sangat indah ketika ia yang mengucapkan, sangat indah hingga rasanya jantung ini ingin meledak. Aku masih menyukai semua hal yang di lakukan ataupun ucapkan oleh Mas Wira, aku belum kebal dengan semua pesonanya.
Aku membalikkan tubuh menatap Mas Wira. Hanya senyum yang ia berikan tanpa mengatakan sesuatu.
“Semoga liburan kamu menyenangkan.”
Baiklah. Ini sudah cukup. Aku akan mulai melupakan apa yang sudah terjadi, sudah seharusnya aku melakukan ini. Cukup kenang ia di dalam sudut hatiku.
**
“Gimana liburan kamu?” tanya Tamara.
Liburan ya? Bahkan dalam liburan, aku sama sekali tak menemukan ketenangan sedikitpun. Jika seperti ini, walaupun aku di beri liburan selama satu bulan, rasanya akan sama. Bagaimana caranya untuk lepas dari bayangan Mas Wira.
Aku hanya memberi gelengan sebagai tanda jika itu berakhir dengan buruk. Sangat buruk. Dan aku masih memiliki kontrak kerja hingga enam bulan ke depan, sungguh sebuah mimpi buruk.
“Ajarin aku, Ra.”
Tamara terlihat kaget dengan raut wajah yang kutunjukkan, serta nada yang tiba-tiba antusias.
“Apapun yang ada di pikiran kamu sekarang ini, mending lupain aja,” jawab Tamara dengan enggan.
“Gimana caranya supaya bisa lupa sama Mas Wira? Mabuk atau one night stand?” lanjutku.
Tamara menghela nafas panjang, aku tahu ini memang ide yang sangat gila. Aku bahkan selalu menasehati Tamara jika ia melakukan keduanya, dan kini aku yang mengusulkan ide itu, dengan sadar, lalu hanya karena seorang pria.
“Aku gak keberatan buat lakuin keduanya, tapi kalau sampai Dean tahu, bisa-bisa aku di bunuh sama dia. Dean itu melebihi orang tua kita.”
Aku terkekeh geli. Ya, beruntung kami memiliki Dean sebagai penengah kami. Dia bisa menjadi yang paling waras jika kami berdua sudah kehilangan kendali dan memunculkan sisi gila kami. Kenapa aku tak menyukai Dean saja agar semua perasaan ini menjadi mudah?
Kalian tahu? Dean adalah wujud dari pria sempurna, yang aku sangat yakin jika kalian juga sangat menginginkan dirinya. Tampan, mapan, gentleman, lalu apalagi yang kalian butuhkan? Dia bisa mewujudkannya jika sudah mencintai seorang wanita.
“Jadi obatnya patah hati apa?” tanyaku pasrah.
“Jatuh cinta lagi, jatuh cinta lebih dalam sama seseorang yang bisa bikin kamu lupa sama Mas Wira-mu itu.”
“Gitu, ya.”
Permasalahannya adalah, aku tak ingin jatuh cinta jika itu bukan Mas Wira.
__ADS_1
**
Hola, adakah yang nungguin kisah Ana dan Tamara? Gimana pendapat kalian tentang kisah mereka? Komen dong 😉