THE DEVIL REVENGER

THE DEVIL REVENGER
Chapter 3: Kematian Sang Raja


__ADS_3

Ravana menatap Lilith dengan keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan. Mereka berdiri di tengah medan pertempuran yang penuh dengan kegelapan yang mengancam.


"Lilith, permainanmu yang kotor ini sudah berakhir." kata Ravana dengan tekad yang tak tergoyahkan.


Dengan tawa sinis Lilith berkata, "Oh, Ravana, kau tidak bisa menghentikanku. Aku telah mengetahui semua tentang dirimu. Baik itu tentang kekuatan, sifat, pola pikirmu dan kelemahanmu. Kau tak seharusnya melawanku Ravana."


Ravana melancarkan serangan pertamanya dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Pedangnya bersinar terang, memancarkan cahaya yang sangat terang ke segala arah seperti bara api neraka. Namun, Lilith dengan mudahnya, menahan setiap serangan tersebut menggunakan Azrael.


"Kebodohanmu akan segera menjadi bumerang bagimu, Ravana. Kekuatanku jauh melampaui imajinasimu." kata Lilith dengan nada yang sinis dan sombong.


Lilith membalas serangan Ravana dengan serangan Azrael. Sambil menyerangnya Lilith memasang jebakan di seluruh tempat yang pernah ia lewati menggunakan Dark Magic-Nya untuk memberikan celah menyerang. Serangan dari jebakan itu datang dari segala arah, memaksa Ravana untuk menghindarinya sebisanya.


"Aku tidak akan menyerah, Lilith! Aku akan melawanmu hingga napas terakhirku." kata Ravana, siap untuk mengorbankan dirinya untuk memberikan waktu Diablo melarikan diri.


Namun, Lilith tidak terpengaruh oleh kata-kata Ravana. Dia menggunakan berbagai tipu daya untuk mengalahkannya. Lilith menggunakan ilusi, jebakan, kutukan dan berbagai Dark Magic lainnya untuk menciptakan peluang untuk mendaratkan serangan pada Ravana. Ia berhasil mendaratkan tusukan dari tangan yang dilapisi Dark Magic.


"Tidak mungkin! Kau cara yang tak terpuji!" kata Ravana sambil tersungkur ke tanah.

__ADS_1


Lilith tersenyum dengan arogan dan berkata, "Tak terpuji atau tidak, di dunia ini, yang selamat adalah yang paling cerdik. Dan kau, Ravana, hanyalah orang bodoh yang hanya dapat menggunakan otot."


Dengan gerakan yang licik, Lilith berhasil mengalahkan Ravana. Dia memanfaatkan tipu muslihat untuk mengikat dan membatasi gerakan Ravana. Ravana berjuang dengan gigih, tetapi semakin lama semakin lemah karena serangan yang curang itu.


Lilith dengan arogan berkata, "Kau pikir kau bisa menandingiku? Aku akan menunjukkan padamu kekuatan kegelapan yang sesungguhnya."


Dengan memanfaatkan sihirnya, Lilith merasuki pikiran Ravana. Dia menghapus semua ingatan Ravana dan mengubah ingatan Ravana menjadi jahat dan patuh padanya, kesadarannya yang dulu menghilang sepenuhnya.


Lilith dengan tawa puas berkata, "Kini, Ravana, kau akan menjadi pelayan setia ku. Bersamaku, kau akan menguasai dunia ini."


Ravana, yang telah kehilangan masalalunya berpihak kepada kejahatan dan mematuhi Lilith. Dia kini menjadi budak yang setia kepada Lilith, dan melaksanakan segala kejahatnya.


"Akhirnya saatnya kita mengakhiri ini, Diablo. Agar kekuatanmu yang terkutuk tidak akan lagi mengancam dunia yang akan ku kuasai." kata Lilith dengan senyuman angkun.


Diablo dengan ekspresi marah berkata, "Kau akan menyesal telah menghianatiku, Lilith! Kekuatanku tak layak untuk penghianat sepertimu!"


Diablo melepaskan serangan dahsyatnya, mengirimkan gelombang Dark Energy ke arah kelompok tersebut. Namun, mereka semua tangguh dan bersiap untuk menghadapinya. Seraphina menggunakan kemampuan sihirnya untuk melindungi mereka dengan Magic Barrier, sementara Ravana mengayunkan pedangnya yang membara dengan kecepatan yang membabi buta.

__ADS_1


"Kalian semua, jangan lengah! Kita harus bekerja sama agar dapat mengalahkannya!" Kata Ravana yang sudah menjadi budak setia Lilith.


Sementara itu, Lilith merasakan kekuatan Azrael yang mengalir melalui dirinya. Dia menggenggam pedang itu dengan kuat, siap untuk melawan Diablo secara langsung. Setiap gerakan pedangnya mengeluarkan nyala merah darah dan aura kematian yang pekat.


"Diablo, kau telah melampaui batasmu. Kini saatnya aku mengakhiri kekuasaanmu." kata Lilith sambil siap menerjang Diablo.


Lilith dan Diablo saling berhadapan dalam pertempuran yang hebat. Mereka saling beradu serangan dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Pedang Azrael milik Lilith dan kekuatan Demon God Diablo bertabrakan dengan keras, menghasilkan dentingan yang menggetarkan bumi.


Malachi menggunakan kemampuan berubah menjadi bayangan untuk menyerang Diablo dari titik buta, Namun dengan mudah Diablo menghindarinya. Seraphina melepaskan serangan Light Chain yang melilit Diablo untuk menghentikan pergerakannya. Diablo, meremukkan lilitan tersebut dengan kekuatannya yang tersisa. Acedia menggunakan Time Magic-nya untuk memperlambat pergerakan Diablo. Moros menghantam Diablo ke tanah dengan tubuh raksasanya. Kemudian Lucius menggabungkan Hell Flame Lance dan Shadow Curse untuk menusuk jantung Diablo.


Perlahan tapi pasti, kekuatan Diablo mulai melemah. Terlalu banyak serangan dan tekanan yang dia hadapi dari Lilith. Dia makin terdesak, dan setiap gerakannya semakin lambat dan melemah.


Lilith melihat peluangnya. Dengan gerakan secepat kilat, dia mengarahkan pedang Azrael dengan tepat ke jantung Diablo. Pedang itu menembus tubuh Diablo, memancarkan cahaya yang menerangi medan peperangan.


"Kali ini tak ada tempat untukmu di dunia ini, Diablo." Kata Lilith dengan penuh arogan.


Diablo, dengan tatapan yang melemah, jatuh ke tanah dalam kehancuran. Dengan kekuatan Authority of Envy milik Lilith, dia mengambil kekuatan milik Diablo yaitu Demon God Authority. Jiwa Primordial Demon God-nya terpecah menjadi tujuh bagian yang terpisah dan terserap oleh Dosa Malachi, Ravana, Seraphina, Moros, Acedia, Lucius, dan bahkan Lilith sendiri. karena Jiwa Primordial Demon God milik Diablo, kekuatan mereka bertujuh mengalami kebangkitan sepenuhnya dan melebur ke tubuh mereka yang membuat tubuh mereka bertrasformasi.

__ADS_1


Karena Tebasan Azrael yang terjatuh dari langit, pedang itu dapat menghilangkan suatu eksistensi ketiadaan. Tubuh Diablo perlahan mulai memudar menjadi debu gelap yang terbawa angin, sedangkan sisah serpihan jiwanya lenyap tersedot void atau biasa di sebut ujung dari ketiadaan. Setelah memastikan bahwa Diablo telah benar-benar tiada, Lilith meninggalkan medan pertempuran dengan rasa lega dan kesombongan untuk menguasai dunia.


To be continued...


__ADS_2