
“Lepaskan aku!!!” Teriakku kencang kepada kurcaci-kurcaci itu.Tubuhnya memang kecil, tetapi kekuatan dan tenaganya melebihi orang dewasa.
"Jdugg......!!!" Aku berhasil menendang salah satu dari tiga kurcaci yang menyeretku tanpa ampun. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, aku dengan cepat menendang dua kurcaci lainnya dengan sekuat tenaga. Ketiga kurcaci kecil itu pun tersungkur jatuh.Tetapi dengan cepat mereka segera bangkit dan kembali mengejarku dengan cepat. Aku pun segera berlari sekuat tenaga menjauhi ketiga kurcaci itu. Tetapi, baru beberapa langkah aku berlari, aku kaget melihat apa yang ada di depan ku sekarang. Ada ratusan, bahkan ribuan kurcaci yang menatapku ganas dan seperti ingin membunuhku. Warna kulit mereka yang hitam, serta taring mereka yang panjang, rambut yang terurai panjang tidak terurus, ditambah lagi baju hitam kotor yang sobek-sobek menambah menyeramkan para kurcaci itu.
Aku terdiaam tidak bergerak melihat keadaanku sekarang. Aku sudah pasrah, mungkin hidupku akan berakhir disini, ditangan ribuan kurcaci hitam itu.
"Seettttt..." Satu tangan putih kecil memegang kakiku. Dilihat dari ukuran tangannya tampaknya itu juga tangan kurcaci.Tapi anehnya, tangan kecil itu bewarna putih bersih.
Sekejap aku pun menghilang........
🔰🔰🔰
“Dimana....??!! Dimana aku sekarang.....??!! Dimana para kurcaci-kurcaci hitam mengerikan itu??!! Tunggu dulu.....aku sepertinya mengenal tempat ini. INI ADALAH KAMARKU!!!!!.”Aku tersentak kaget saat menyadari aku berada dimana. Dan ternyata aku berada di kamarku sendiri.
“Berarti semua itu tadi hanya mimpi.... Tapi tidak mungkin rasanya kalau hanya sekedar mimpi, Itu terasa amat nyata bagiku.” Aku sangat bingung dengan apa yang barusan aku alami.
“Armaaa...!!!” Teriak seseorang dari luar kamarku.
“Bangun..!!! Cepet mandi sana...!!!Nanti kamu telat ke sekolah lo....” Suara nyaring perempuan itu terdengar jelas di telingaku.
“Iya bu.....” Aku pun segera bangkit dari tempat tidurku dan melakukan apa yang di suruh Ibuku tadi.
🔰🔰🔰
__ADS_1
Aku berjalan pelan menuju ruang makan setelah selesai mandi dan berganti pakaian.Aroma khas nasi goreng buatan ibu menyergap masuk kehidungku.Tapi nampaknya kali ini meja makan penuh dengan segala jenis makanan dan terdapat kue ditengah meja makan itu.Aku pun berjalan mendekat ke meja meja makan itu.Sepasang mata pun kini menoleh kearah ku.
“Happy birthday arma....selamat ulang tahun.”Ibuku segera bangkit dari kursi dan segera memelukku.
“Aduh ibu ini...inget aja kalau aku hari ini ulang tahunku.Aku aja lupa bu...”Aku tercengir malu didepan ibuku.
“Ya gak mungkin lah ibu lupa arma.....ini kan ulang tahun kamu yang ketujuh belas”.
“Hehehe....aku juga lupa lo bu kalau umur aku sekarang 17 tahun.”Aku semakin tercengir malu.
“Hahahaha....”Suara gelak tawa kami berdua memenuhi ruangan.
Memang kami hanya berdua tinggal di rumah ini.Aku hanya anak satu-satunya,dan ayah sudah lama meninggal.Aku tidak tahu pasti kapan ayah meninggal.Yang pasti sejak aku kecil aku sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.
“Ya pasti boleh lah....apa sih yang enggak buat kamu arma....ayo mau tanya apa?"ibu bertanya dengan senyuman yang merekah di pipinya.
“Bu.....kapan ayah meninggal?”Aku semakin menundukkan kepalaku.
Ekspresi muka ibu sekarang 180 derajat berubah.Senyum yang tadi mengambang di pipi ibu perlahan mulai menghilang.
“Mungkin kamu memang seharusnya mengetahui hal ini arma.Ayahmu meninggal tepat saat kelahiranmu arma."
“Ayah meninggal karena apa bu?!!”Aku sedikit menaikkan suaraku.Aku sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku ini.
__ADS_1
“Arma...kamu lahir tepat jam 12 malam.Saat itu ayah dan ibu sangat bahagia atas kelahiranmu didunia ini arma.tapi setelah itu ada kejadian aneh.Ayahmu mendadak menjadi sangat ngantuk sekali dan ayahmu pun pergi ke kamar.Disini lah kejadian aneh itu muncul arma.Tiba-tiba ada puluhan kurcaci yang masuk menembus pintu kamar ayah.Ibu segera berlari masuk kedalam kamar ayah."
Ibu berhenti bercerita dan mulai menyeka air matanya yang mulai menetes.
“Saat ibu masuk,tubuh ayah bergetar sangat kencang.Ibu bingung apa yang harus ibu lakukan.Tetapi perlahan getaran itu hilang dan berhenti.Ibu segera memegang tangan ayah.Tetapi tangan ayah menjadi sangat dingin dan seluruh badannya terlihat pucat. Dan ayah sudah tidak bernapas lagi."
Air mata ibu terus mengalir deras di pipinya.Tetapi aku baru menyadari sesuatu dari cerita ibu tadi.
“Ibu tadi bilang puluhan kurcaci?”Tanyaku memastikan.
“Iya arma...puluhan kurcaci hitam.”
Aku tersentak kaget mendengar jawaban ibu.
“Berarti......”gumamku lirih
Mimpi itu sebuah pertanda.
🔰🔰🔰
__ADS_1