The Strongest Witch

The Strongest Witch
Kematian Dan Perpindahan Jiwa


__ADS_3

Sore hari itu begitu tenang, langit berwarna jingga kemerahan yang belum terlalu gelap. Suara hewan-hewan kecil turut mengisi suasana yang sepi.


Diantara bangunan rumah berjajar, seorang gadis berpakaian putih dengan perpaduan kain biru, terlihat sedang fokus membaca di sebuah gazebo, di dekat danau kecil. Ia membaca satu persatu halaman pada buku yang terlihat cukup usang, kertas yang sudah berwarna kecoklatan dan ada beberapa sobekan kecil pada ujungnya.


Sesekali ia memperbaiki helaian rambut yang mengganggu, menyelipkannya pada belakang telinga.


Parasnya yang lembut, terlihat sangat cantik dari samping. Semua orang bahkan mengakui kecantikannya adalah yang tercantik di wilayah barat, mengalahkan kecantikan Putri Ketiga dari sang Raja pemimpin negeri itu. Namun, sayang gadis itu sama sekali tidak memiliki energi sihir, dan ia dirumorkan bisu. Sungguh kecantikan yang sia-sia.


Di dunia itu, kekuatan sihir adalah segalanya. Yang kuatlah yang berkuasa. Diskriminasi terhadap yang lemah kerap kali terjadi. Para pemimpin atau petinggi negeri sering menutup mata mereka, yang lemah akan tetap kalah. Walaupun terlahir di keluarga bangsawan sekalipun, kau pasti akan dibuang oleh masyarakat.


Sistem dunia yang amat memuakkan. Rinka sangat membencinya. Seolah tidak ada keadilan bagi mereka yang lemah, yang seharusnya mendapat perlindungan.


Karena terlalu fokus membaca. Rinka, gadis itu sampai tidak menyadari seseorang yang berjalan mendekat sedari tadi. Gadis yang dua tahun lebih muda dari Rinka berhenti tak jauh dari tempatnya. Ia kemudian menatap Rinka tanpa ekspresi, memperhatikan gerak-gerik sang kakak.


"Membaca pun, kau tidak akan pernah berubah menjadi pintar. Karena kau terlahir bodoh."


Mendengar sindiran itu, Rinka hanya mengeratkan pegangan pada bukunya. Membalas ejekan dari adiknya hanya akan berakibat buruk.


"Ah, aku lupa kau itu bisu. Tapi kau tidak tuli, 'kan?" Mia, gadis itu membuang nafas kasar. "Dengar, malam ini kau tidak diizinkan untuk menginjakkan kaki di rumah utama. Jadi jangan pernah menampakkan diri di hadapan orang-orang. Atau reputasi Ayah akan rusak."


Aku sudah tahu. Rinka hanya membalas dalam hati, enggan bahkan hanya untuk sekedar mengangkat wajahnya.


Melihat sikap tak acuh kakaknya, Mia mengerutkan keningnya merasa kesal karena di abaikan. Ia berjalan dengan cepat mengambil buku di tangan Rinka dan berniat melemparnya ke danau. Namun, ia berhenti begitu melihat wajah Rinka tanpa ekspresi yang seperti boneka tanpa jiwa. Mia lantas melempar buku itu ke samping dengan muak, menghentakkan kaki seraya berjalan pergi.


Rinka bisa melihat Mia yang menjauh seraya mengepalkan tangan. Ia merasa heran, padahal tidak melakukan apa-apa dan hanya diam di tempat, itu saja sudah membuat orang lain membencinya. Hanya dengan melihatnya saja, bisa membuat orang-orang merasa muak seakan ia seorang penganggu.


Sejujurnya, Rinka tidak suka ketika orang-orang menatapnya dengan jijik, selalu menghina dan merendahkannya. Ia membenci mereka semua. Padahal bukan keinginannya menjadi lemah, sedangkan ketika dirinya masih memiliki kekuatan, mereka semua menyanjungnya, memperlakukannya dengan hormat.


Kenapa hati manusia bisa dengan cepat berubah?


Terkadang yang dipikirkannya ketika sedang merasa terpuruk atas hinaan yang didapat adalah mati. Ia ingin mati dan mengakhiri penderitaannya. Namun, ia lebih membenci dirinya yang tidak memiliki keberanian untuk mengakhirinya.


Menyadari waktu telah lama berlalu dan matahari telah tenggelam, Rinka beranjak dari tempat itu setelah mengambil bukunya dan kembali ke kamar.


Dari luar, ia bisa mendengar suara riuh mulai memenuhi halaman depan rumah mereka, sepertinya perayaan akan segera dimulai.


Malam ini akan diadakan sebuah perayaan untuk menyambut kepulangan Panglima perang yang kembali membawa sebuah kemenangan besar bagi negeri Nakahara, setelah memenangkan perang dengan negeri yang sudah cukup lama berselisih.


Ia sudah mendapatkan peringatan untuk tidak coba-coba datang, yah walaupun diperbolehkan, ia tetap tidak akan pernah datang.


Rinka pun berbaring di ranjang kayunya. Menempatkan tangannya di atas kening seraya menghela napas panjang.


Ia sedikit tersenyum kecut, setidaknya hari ini sebuah hal baik terjadi. Hari ini tidak ada makian sepanjang hari yang akan membuat telinganya terasa panas. Meskipun itu adalah hal kecil, ia masih bisa bersyukur. Setidaknya ia bisa membaca buku favoritnya sepanjang hari tanpa ada gangguan.

__ADS_1


Hari ini ..., di hari ulang tahunnya. Tepat sepuluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Kejadian yang telah mengubah hidupnya menjadi penderitaan.


Perlahan rasa kantuk mulai menyerang, Rinka memejamkan mata membiarkan dewi mimpi membawanya ke alam bawah sadar.


...***...


Rinka terbangun dengan keringat dingin memenuhi dahi, nafasnya terengah-engah dengan degup jantung yang berpacu kencang. Mimpinya selalu tanpa sadar membuatnya ketakutan.


Lagi-lagi ia mengalami mimpi buruk itu, mimpi yang seolah mengingatkannya pada sebuah kenangan buruk. Entah milik siapa, tapi dirinya selalu gemetar seolah merasakan ketakutan yang sama yang dialami gadis di dalam mimpinya.


Rinka memimpikan seorang gadis berambut hitam yang menangis terisak. Wajahnya tak terlihat jelas lantaran gadis itu selalu menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan.


Gadis itu sangat ketakutan, di tengah lautan mayat serta darah yang terlihat seperti sungai. Awan yang gelap, serta sunyinya tempat itu selalu membuat Rinka tak bisa berhenti gemetar. Ia seolah mengalaminya sendiri, sendirian, diantara tumpukan mayat itu.


Namun, semua itu hanyalah mimpi. Ia hanya harus melupakannya dan terbangun seperti biasa.


Mengatur napas untuk menenangkan diri, netranya jatuh ke langit malam yang bertabur bintang. Ia bisa melihatnya dengan jelas dari balik jendela. Sepertinya malam masih sangat panjang. Sialnya, gara-gara mimpi barusan Rinka merasa tidak bisa kembali tidur dengan tenang.


Di tengah suasana yang hening. Suara derit pelan dari arah pintu membuat perhatiannya teralihkan. Rinka memandang ke sudut kamarnya dengan seksama. Bukan hanya perasaannya, tetapi pintu itu memang sedikit terbuka. Dengan penasaran, ia melangkahkan kaki untuk memeriksa apakah ada orang di depan sana, ataukah memang kecerobohannya yang lupa merapatkan pintu.


Rinka meraih gagang pintu, telinganya dengan cepat menangkap suara dari arah belakang, dan sebelum ia dapat bereaksi apapun, sebuah benda tajam dengan cepat menembus punggungnya. Mengiris kulit dan daging melewati perutnya, rasa sakit seketika menjalar bersamaan dengan darah yang mulai mengalir menodai pakaian dan membasahi lantai.


Tangan Rinka mencengkeram gagang pintu dengan kuat, ia terbungkam melihat benda tajam mengkilat itu berada di perutnya.  Tubuhnya mulai limbung ke lantai. Rinka merasakan rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Energinya seolah tertarik habis dan lenyap seketika, rasa sesak mulai mengerubunginya.


"Maaf Nona, ini adalah perintah Tuan."


...***...


Clak.


Terdengar suara air menetes dengan sangat jelas.


Rinka, gadis itu tidak mengetahui bagaimana ia bisa terjebak di sebuah tempat yang sangat gelap. Tidak ada yang bisa dilihat. Bahkan langit bertabur bintang yang selalu dilihatnya tampak tertutupi awan pekat.


Rinka baru sadar bahwa tubuhnya berada di posisi berdiri. Ia bisa merasakan kaki telanjangnya yang dingin karena menyentuh air. Mengapa ia bisa ada disini?


Tidak tahu berada di tempat seperti apa, Rinka berusaha menerka tempat dimana ia berada, terbangun dengan posisi berdiri membuatnya cukup kebingungan. Ia mulai melangkah mencari jalan keluar, atau setidaknya mencari secercah cahaya yang bisa meneranginya.


Tempat itu terasa begitu kosong, sangat tenang dan sunyi, kecuali suara langkah kakinya yang berjalan di genangan air, suara angin pun bahkan tidak dapat terdengar. Benar-benar tempat yang hampa.


Langkahnya terhenti. Cahaya yang di harapkannya muncul. Namun, dalam sekali kedipan mata, ia seolah ditarik kebelakang secepat cahaya.


Ia berpindah tempat.

__ADS_1


Di depannya, Rinka melihat sosok seorang perempuan berada di tengah telaga biru. Kedua tangan terikat oleh rantai panjang yang tak terlihat ujungnya.


Langit biru cerah membentang luas tepat diatasnya. Di sekelilingnya adalah taman bambu yang berada di tepi telaga dengan air biru yang jernih. Gemerisik daun dan suara mahluk kecil terdengar nyaman di telinga.


Di seberang telaga, terdapat sebuah bangunan besar yang terlihat seperti kastil Raja.


Pandangan Rinka kembali teralih pada wanita itu. Ia duduk bersimpuh dengan mata terpejam. Ia tidak mengambang di atas air, sebab terdapat sebuah pijakan yang menopang tubuhnya. Namun, mengapa ia harus di rantai?


Rambut hitam panjangnya sampai menyentuh permukaan air di bawah. Ia mengenakan pakaian berwarna putih polos. Tangannya yang terbelenggu rantai tampak putih pucat, seperti mayat.


Rinka mulai merasa penasaran akan sosok di depannya, tetapi ia hanya bisa mengamati dari bibir telaga yang cukup jauh.


Tiba-tiba, wanita itu mengangkat wajahnya mempertemukan iris mata berwarna merah dengan iris mata berwarna biru safir miliknya. Tak ada ekspresi, tetapi aura kuat langsung menyelimuti atmosfir. Rinka merasa hawa disekitarnya berubah berat.


Sangat cantik. Rinka tanpa sadar mengagumi paras elok wanita itu. Namun, entah mengapa ia merasa tak asing dengan wajah itu. Ia merasa seperti tengah bercermin, melihat dirinya sendiri dengan tampilan yang lebih dewasa, serta rambut yang berwarna hitam.


Wanita itu memancarkan aura kuat yang mendampingi kecantikannya. Kulit putih yang terlihat pucat, bibirnya yang tipis itu hampir tidak memiliki rona lagi. Rinka hampir mengira jika wanita itu telah meninggal, kalau saja wanita itu tidak menatapnya sekarang.


Lama-kelamaan, Rinka mulai merinding. Wanita itu tetap bertahan pada posisinya. Rinka hapal beberapa mitologi makhluk jahat yang menurutnya menyeramkan. Pikirannya jadi melayang kemana-mana.


"Akhirnya kita bertemu, Gadis kecil."


Pemikiran anehnya buyar setelah mendengar suara serak wanita itu dan digantikan oleh rasa terkejut, apakah wanita itu tahu kalau dia akan datang ke tempat ini?


Tiba-tiba semuanya menjadi putih. Rinka kembali merasakan tarikan kuat, dan bayangan senyuman menyeringai dari wanita itu menjadi pemandangan terakhir sebelum ia terbangun.


Rinka mengedarkan pandangan ke sekeliling, rupanya ia telah kembali ke dunia nyata.


Mimpi yang aneh, ia pikir benar-benar telah mati di tangan orang asing itu. Sial, mimpinya benar-benar mengerikan. Syukurlah rupanya ia masih hidup.


Iya, dia masih hidup. Namun, mengapa baju yang dikenakannya telah berubah?


Rinka ingat saat akan pergi tidur, ia masih mengenakan pakaian berwarna putih dan biru. Sekarang ia mengenakan pakaian berwarna kuning yang agak kedodoran di badannya. Entah itu hanya perasaannya saja, tetapi Rinka merasa tubuhnya telah mengecil, seperti kembali menjadi anak-anak.


Rinka menengadah, memandang langit malam bertabur bintang, bukan lagi langit-langit kamarnya.


Ia berada di sebuah hutan.


Rasa pusing mendera kepalanya. Seperti sebuah batu besar menghantam, ingatan ketika seseorang menusuknya dengan pedang kembali terputar jelas, bersama dengan beberapa potongan ingatan asing yang entah milik siapa, mulai memenuhi kepalanya.


Rinka berusaha mencerna semua kejadian yang terputar di dalam pikirannya. Berputar-putar acak seperti kaset rusak dan membuat kepalanya sakit. Meski merasa syok dan tidak percaya, semua gambaran itu akhirnya membawanya pada satu kesimpulan.


... Ia telah mati dan bereinkarnasi ke tubuh orang lain.

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2