The Strongest Witch

The Strongest Witch
Dia Tahu Rahasia Itu


__ADS_3

"Rinka! Bisa kau bantu aku, Yukito pemalas tidak mau membantu orang yang sedang kesulitan." Sedikit merengek, gadis berambut biru muda menarik tangan Rinka sambil menunjuk kesal pada kembarannya yang sedang bersantai di atas pohon.


Rinka tersadar dari lamunannya, ia mengangguk dengan ragu mengiyakan permintaan gadis itu. "Baiklah, akan ku bantu."


'Rasanya aneh.'


"Benarkah? Syukurlah aku masih memiliki teman yang baik, tidak seperti lelaki jelek pengangguran itu, ku harap dia tersedak apel dan jatuh dari pohon!" seru gadis bernama Yukina dengan dramatis, tak lupa menyumpahi pemuda yang masih dengan santai memakan apel di atas pohon, yang tak lain adalah saudaranya sendiri.


Rinka memiliki teman-teman yang menyenangkan dengan kepribadian yang berbeda, mereka sangat akrab dengan Rinka sebelum tubuhnya diambil alih olehnya.


Rinka pun mulai membantu Yukina mengumpulkan umbi-umbian dan membawanya dalam keranjang untuk di taruh ke gerobak. Pemuda di atas pohon tadi diam-diam memperhatikan Rinka yang tengah membatu saudarinya, tak lupa dengan senyuman ceria yang memang selalu terpancar di wajah cantiknya. Tanpa sadar pipi laki-laki itu memerah dan ia mengalihkan pandangannya dengan cepat ketika Rinka menoleh kearahnya.


"Hee apa, kenapa wajahmu memerah Yukito? Apa karena Rinka tersenyum padamu?" Terdengar ejekan dari seorang laki-laki berambut cokelat yang membawa sebuah keranjang berisi apel di tangannya. Ia melemparkan tatapan mengejek kearah Yukito yang berada di atasnya.


"Berisik kau! Lebih baik urusi urusanmu sendiri!" ujar Yukito. Melemparkan bekas apel kepada pemuda berambut cokelat, tepat mengenai kepalanya.


"Ah!" Kaito mengusap-usap kepalanya korban lemparan apel itu. Ia pun kembali memungut apel sisa itu dan melemparkan balik kepada si pelaku. "Daripada bersantai terus, lebih baik kau bantu gadis yang sok ceria itu."


Yukito mengerutkan keningnya seraya menghindari lemparan apel itu. "Maksudmu, Rinka?"


Kaito mengangkat kedua bahunya. "Siapa lagi." Ia mengalihkan tatapannya, memperhatikan Rinka yang masih membatu Yukina. Memandang gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kau … juga melihatnya kemarin, 'kan?" Kaito berujar pelan, berhasil membuat Yukito mematung oleh ucapannya.


"Dek Nezumi!" Kaito berlari menuju seorang gadis berambut ungu dan meninggalkan Yukito yang hatinya mulai dipenuhi kembali oleh perasaan bersalah.


"Bukan cuma aku yang bersalah. Kaito, kau juga," gumam Yukito pelan. Ia kemudian melompat turun dari pohon dan segera berjalan menuju tempat Yukina.


Ia dengan cepat mengambil alih keranjang yang dibawa Rinka lalu mengisinya dengan umbi-umbian yang sedang mereka petik. Rinka terkejut karena Yukito yang tiba-tiba mengambil keranjangnya, tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat ekspresi laki-laki itu. Ia masih belum mengerti cara menanggapi orang lain.


"Yukito! Jika kau tidak mau bantu kami lebih baik jangan. Sana lanjutkan saja acara menyantaimu itu." Yukino berkacak pinggang melihat Yukito, ia pikir Yukito hanya ingin mengganggunya dan Rinka yang sedang bekerja, dan ia berniat mengusirnya.


Yukito mengerutkan keningnya kesal. Ia kemudian berjalan ke belakang Rinka, Yukito menyibak rambut perak gadis itu yang menghalangi punggung, sedikit menurunkan kain di belakang pundaknya.


Rinka membulatkan mata, bukan karena perlakuan tak sopan Yukito, tetapi ada sesuatu yang ia tutupi di punggungnya. "Yukito, apa yang—"


Sebuah tamparan mendarat dengan keras di pipi Yukito, Yukina terkejut atas kelancangan kakaknya. Yukina tidak habis pikir, ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Yukito saat ini, bukan seperti Yukito yang biasanya.


"Kau ini apa-apaan! Jangan berbuat hal macam-macam pada Ri—" ucapannya terhenti, Yukina tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika ia melihat lebam yang sangat lebar di pundak Rinka. Berkat kulitnya yang putih, lebam itu terlihat jelas di area pundaknya.

__ADS_1


Nezumi, gadis berambut ungu yang bersama Kaito segera berlari mendekat ketika melihat kakak beradik itu bertengkar. Dan ia seketika terperangah ketika melihat keadaan Rinka.


Rinka menggigit bibirnya kemudian segera menepis tangan Yukito. Ia berbalik dan menatap Yukito dingin. "Sudah ku bilang, aku baik-baik saja."


Yukito hanya mengalihkan wajahnya ketika Rinka menatapnya seperti itu. Sementara Nezumi yang khawatir memintai Rinka penjelasan.


"Itu, tidak baik-baik saja. Perlihatkan punggungmu," ujar Nezumi.


Rinka menggeleng, dan mundur satu langkah dari gadis itu. "Aku baik-baik saja."


Nezumi menahan Rinka yang hendak menjauh kemudian membalikkan badannya, membuat gadis itu sedikit meringis. Nezumi menyingkirkan rambut Rinka dan menyentuh pundaknya pelan. Kemudian cahaya berwarna hijau berpendar diantara telapak tangannya.


Nezumi merasa sangat bersalah, ia tahu dengan pasti penyebab luka di punggung sahabatnya. Jika bukan untuk menyelamatkan dirinya, Rinka tidak akan dilukai oleh anak-anak itu. Harusnya ialah yang diganggu oleh mereka, tetapi Rinka menolongnya.


Perlahan ruam biru pada kulitnya mulai menghilang dan Rinka merasa pundaknya menjadi lebih ringan. Ia kemudian berbalik menatap Nezumi yang menundukkan wajahnya. Rinka kemudian tersenyum, salah satu tugas yang harus ia jalankan karena telah mendiami tubuh itu. Ia telah memutuskan untuk tidak membiarkan mereka mengetahui kenyataan bahwa Rinka Taira telah meninggal, dan yang menempati tubuhnya adalah orang lain.


"Aku baik-baik saja," ucap Rinka berusaha meyakinkan.


Memang benar, penyebab kematian gadis itu adalah karena Rinka berusaha melindungi sahabatnya dan berakhir dengan dirinya yang di rundung oleh anak-anak kalangan masyarakat atas yang selalu mengganggu mereka. Ia menyayangkan tindakan Rinka karena terlalu berani menantang anak-anak itu, terlebih mereka adalah anak-anak dari para petinggi di wilayah timur.


Seharusnya gadis itu tahu, berurusan dengan anak dari para petinggi hanya akan membuatnya dalam bahaya. Itu hanya akan menyia-nyiakan nyawanya. Tidak akan ada keadilan yang akan membalas kematiannya, tentu saja kematian seorang masyarakat terbuang seperti mereka hanya akan dianggap sebagai kecelakaan, dan para pelaku akan melakukan apapun agar terbebas dari tuduhan. Sang hakim pun tetap akan membela mereka yang berada di tingkat lebih tinggi, meskipun tahu kebenarannya.


Namun, teman-temannya lebih berharga dari nyawanya sendiri. Itu prinsip yang selalu ada di benak Rinka Taira.


Namun, ia juga tidak berhak berkomentar apapun. Rinka Taira memiliki sesuatu yang berharga yang ingin ia lindungi. Sementara itu, kehidupannya di masa lalu hanya menjadi sampah, Rinka Taira memiliki hati lebih baik daripada dirinya.


Hidup di dunia ini terlalu kejam. Sebisa mungkin Rinka tidak ingin menyia-nyiakan nyawanya lagi.


"Daripada itu, lebih baik kita cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan biar cepat pulang," ucap Rinka kembali pada nada bicara yang biasa. Suasana menjadi hening dan canggung, tidak ada yang berani bicara sejak saat itu. Sampai sore pun tiba, matahari sudah mulai tenggelam.


Mereka menyelesaikan pekerjaan kemudian dengan kompak meminta izin untuk pulang kepada pengawas mereka. Memang merepotkan, tapi ketika mereka bekerja ada beberapa orang akan mengawasi mereka. Dan hanya seorang Yukito yang pandai memilih waktu untuk bermalas-malasan sehingga ia tidak pernah ketahuan.


Rinka bersama Nezumi dan Yukina, sementara dua bocah laki-laki berjalan di belakang mereka.


Rinka baru tahu bagaimana rasanya mempunyai teman, karena sebelumnya ia tidak pernah berinteraksi dengan siapapun, terkadang ia hanya akan diam ketika teman-temannya mulai bercanda, ia tetap tidak bisa mengimbangi mereka.


Tak lama satu persatu dari mereka memisahkan diri karena arah yang mereka tuju berbeda. Hingga menyisakan Rinka dan si laki-laki berambut cokelat, Kaito.


Kaito berjalan santai di samping Rinka dengan kedua tangannya yang ia taruh di belakang kepala. Ia melirik gadis itu yang berjalan tanpa mengeluarkan suara.

__ADS_1


Rinka merasa aneh karena dalam ingatannya Kaito seharusnya sudah mengambil jalan kearah kiri ketika melewati taman. Tapi laki-laki itu masih berjalan mengikutinya, kearah rumahnya.


Rinka akhirnya memutuskan untuk bertanya, "Kaito, bukan kah kau harus mengambil jalan ke kiri menuju rumahmu? Kenapa ikut bersamaku?"


"Hm?" Kaito terdiam sejenak dan melirik gadis itu dari ujung matanya. "Rupanya kau ingat, ya?"


Rinka sedikit tersentak, mengapa nada bicara Kaito sedikit berbeda. Ia meremas jemarinya yang ia sembunyikan di belakang punggungnya.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku ingat. Bukan berarti karena jarang mengunjungi rumahmu, aku jadi lupa." Rinka tersenyum untuk mengurangi rasa canggung yang lagi-lagi hinggap di hatinya


'Kaito terlihat aneh, kuharap hanya perasaanku saja.' batin Rinka.


Kaito yang berada beberapa langkah di depan gadis itu menurunkan tangannya, ia kemudian berbalik dengan tatapan serius di matanya. Kaito sedikit menunduk mensejajarkan tinggi badannya dengan Rinka.


"Aku tahu," ujarnya. Ia melangkah semakin mendekat, memaksa Rinka mengambil langkah mundur untuk menghindari tatapannya.


Rinka semakin meremas jarinya kemudian tersenyum canggung. "Aku tidak mengerti apa maksudmu."


Kaito menatap tepat di manik mata berwarna biru milik Rinka dan alis sedikit menekuk. "Tidak usah berbohong. Aku tahu."


Laki-laki berambut coklat itu mengepalkan tangannya. "Karena Rinka seharusnya sudah meninggal malam itu. Aku …."


"Aku tidak bisa menyelamatkannya," ujar Kaito, bisa dirasakan nada penyesalan dalam ucapannya.


Seolah petir menyambarnya, Rinka terkejut mendengar ucapan Kaito. Tidak menyangka jika ada orang lain yang akan mengetahui hal itu. Apakah sebenarnya Kaito ada disaat kejadian?


"Maaf." Rinka melemaskan bahunya. Lantas apa lagi yang bisa ia sembunyikan dari laki-laki ini. "Aku memang bukan gadis yang sama yang menempati tubuh ini. Dia memang sudah tidak ada lagi."


"Aku tahu. Aku memang sangat terkejut melihatmu yang jatuh ke jurang waktu itu, tiba-tiba muncul dihadapan kami. Awalnya ku pikir hanya halusinasi, tidak mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali. Dan aku sadar, sifatmu sedikit berbeda dengannya. Lalu menyadarinya, jika Rinka memang sudah tiada," ucap Kaito.


"Maaf." Rinka tidak tahu harus menjawab apa.


Kaito terlihat mengusap hidungnya kemudian mengangkat wajahnya. "Tidak apa, bukan salahmu. Lagipula … sepertinya sudah waktunya untuk ia beristirahat. Tapi aku mohon tetap hidup untuknya, dan hidup seperti biasa, kumohon padamu."


Rinka terdiam menatap Kaito. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Dan mungkin untuk sekarang inilah ujian hidup barunya, sangat sulit untuk berpura-pura menjadi orang lain. Haruskah ia tetap menjalani kehidupannya yang sekarang?


Bagaimana pun ia telah terjun ke dunia ini. Permulaan takdir yang entah akan membawanya kemana, ia hanya bisa menjadi air dan mengikuti alurnya. Jadi untuk menerima permintaan itu, Rinka harus menyanggupinya.


"Aku mengerti."

__ADS_1


Ada keinginan jauh di dalam lubuk hatinya, jika ia tidak ingin menyia-nyiakan nyawanya kembali, ada setitik harapan yang muncul, berharap ia bisa merubah hidupnya kali ini.


To be continued.


__ADS_2