The Strongest Witch

The Strongest Witch
Disparitas


__ADS_3

Lolongan serigala terdengar nyaring saling bersahutan satu sama lain, seperti sebuah nyanyian di tengah suasana sunyi hutan belantara. Serta suara angin yang menggerakkan daun menciptakan bunyi gemerisik, membuat hutan malam ini tidak tenang seperti biasanya.


Bulan purnama terbentuk sempurna, menciptakan penerangan redup di tengah malam yang suram.


Di bawah tebing tinggi jauh di dalam hutan, terbaring tubuh seorang gadis kecil dengan mata yang terpejam. Wajahnya pucat, dan terdapat jejak darah yang telah mengering di sudut bibirnya serta hidungnya. Tubuhnya yang kurus mengenakan pakaian agak kebesaran, terlihat lusuh dan kotor serta terdapat robekan di beberapa bagian bajunya.


Rerumputan di sekitarnya banyak terpapar sesuatu berwarna cokelat tua, itu adalah darah mengering yang berasal dari tubuh si gadis. Ia jatuh dari ketinggian.


Tidak ada tarikan atau hembusan napas yang keluar dari hidung atau mulut gadis itu. Sehingga membuatnya tampak seperti mayat.


Seekor serigala liar datang, mengelilingi lalu mengendus tubuh gadis kecil itu. Merasa mendapat makan malam, mulut serigala itu terbuka hendak mengoyak daging di hadapannya, tetapi sebelum itu terjadi, jari-jari gadis itu berkedut dan ledakan energi terjadi di sekitarnya, lantas membuat serigala itu pergi dengan cepat menjauhinya.


Mata gadis itu tiba-tiba terbuka lebar menampakan kedua iris berwarna merah tua sedikit bercahaya redup, tetapi terlihat kosong.


Ia bertahan pada posisi itu untuk beberapa saat, sebelum tubuhnya tersentak dan kelopak matanya berkedip. Ketika membuka mata kembali, kedua iris matanya telah berubah warna menjadi biru safir.


Gadis itu terlihat lebih bernyawa daripada beberapa saat yang lalu ketika hanya terdiam sambil membuka mata.


Ia bangkit dari posisinya, lantas menyentuh bagian perut. Beberapa saat kemudian bahunya yang semula tegang mulai melemas dan gadis itu tersenyum lega. Matanya yang berwarna biru itu sudah dipenuhi embun, air matanya nyaris tak tertahan.


Ia mungkin merasa bahagia saat ini karena tubuh yang sebelumnya berlumuran darah itu masih baik-baik saja tanpa tergores sedikitpun. Tapi kebahagiaan itu sirna dalam sekejap, ketika gadis itu menyadari beberapa perubahan yang janggal.


Seluruh pikirannya kembali kosong menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ia benar-benar tidak percaya, menyadari kini tubuh yang ditempatinya bukan lagi tubuhnya yang asli, melainkan tubuh orang lain.


Rinka tertegun dalam kebingungan, ia merasa seperti tidak berada di tempatnya. Benar-benar tak bisa mempercayai keadaannya saat ini. Dirinya seharusnya telah mati, tetapi jiwanya malah masuk ke tubuh seorang gadis kecil yang juga baru saja mati.


Apa yang terjadi? Bagaimana bisa begini?


Rinka mengamati tangan yang lebih kecil dibandingkan miliknya itu, sambil kembali mengurutkan kejadian aneh yang baru dialaminya.


Kali ini, ia benar-benar mengalami kematian. Orang asing itu hanya mengatakan diperintahkan oleh 'Tuan', mungkin itu perintah Ayahnya. Ayahnya mungkin telah mencoba membunuhnya, tetapi sayang, tuhan tidak merelakan keinginan itu terwujud, karena ia masih hidup sampai saat ini meski harus berada di dalam tubuh yang berbeda.


Rinka mengepalkan tangannya, tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Selama ini ia merasa telah menyesuaikan diri menerima perlakuan buruk orang lain, tetapi menyadari fakta bahwa ayahnya sendiri tega membunuhnya, ia tak bisa berbohong kalau hatinya merasa sakit. Ada perasaan kecewa dan marah, tetapi perasaan hampa lebih mendominasi.


Saat ini Rinka berada di daratan yang berbeda, tidak mungkin untuk ia bisa kembali. Daratan tempat tinggalnya teramat jauh dengan daratan yang saat ini ia berada.


Sungguh, ia benar-benar tidak menyangka hal seperti ini dapat terjadi dalam kehidupannya. Sejak dulu ia seringkali ingin mengakhiri hidupnya, tetapi selalu gagal. Bahkan kali ini, sekalipun bukan atas kehendaknya, ia tetap bertahan hidup.


Sepertinya mulai sekarang ia harus membiasakan diri dengan kehidupan barunya, dengan identitas yang berbeda. Tidak lagi mencoba untuk bunuh diri, karena ini bukan tubuhnya. Ia takut pemilik sebelumnya akan menghukumnya karena menyalahgunakan tubuhnya. Konyol memang, tapi ia ingin menghapus perasaan itu.


Dan sepertinya tuhan juga menginginkannya.

__ADS_1


Angin kembali berembus, menghantarkan rasa dingin ketika menerpa tubuh kecilnya sehingga membuat Rinka menggigil. Sepertinya fajar sebentar lagi tiba, itu sebabnya udara sangat dingin.


Sebuah cahaya berwarna biru terang tiba-tiba muncul tak jauh dari tempat Rinka berada. Ia mengerutkan keningnya memperhatikan benda aneh itu yang mengapung di udara.


Benda itu bukanlah benda mati, karena ia bisa terbang kesana-kemari dengan bebas. Mereka disebut dengan Roh Hutan. Rinka mengetahuinya dari buku yang sering ia baca. Namun, biasanya mereka tidak muncul di depan manusia, dikarenakan mereka menganggap manusia sebagai pengganggu. Sebuah kebetulan Rinka bisa melihat mereka secara langsung.


Roh Hutan merupakan jenis makhluk sihir yang cukup berbahaya. Tubuh mereka berbentuk seperti kue pie kecil diselimuti oleh api berwarna putih atau biru dan memiliki ekor, serta lingkaran berwarna merah di tengah tubuh mereka.


Dalam buku yang Rinka baca, Roh Hutan akan bersifat jahil ketika mereka merasa terganggu oleh kedatangan manusia. Roh Hutan tidak bisa disentuh, mereka akan langsung membakar manusia atau benda apapun yang menyentuh mereka dengan seketika.


Jadi saat ini Rinka merasa ketakutan, menyadari benda kecil itu perlahan mendekatinya. Benda itu mengapung pelan menuju kearahnya, dan Rinka tidak punya cukup tenaga untuk menghindar.


Tanpa diduga, Roh kecil itu menyentuh tangannya. Rinka merasakan dingin samar di ujung jarinya. Bukannya membakar, Roh itu justru mengangkat tangannya, menarik-narik beberapa kali seolah menyuruhnya untuk berdiri.


Rinka menurut dengan hati-hati, takut malah membuat Roh itu terusik dan berakhir membakarnya. Ia menggerakkan tubuh barunya perlahan untuk berdiri. Dan saat itu juga ia menyadari jika tubuhnya yang sekarang memang lebih kecil dari tubuhnya yang dulu. Karena tubuh yang ia tempati saat ini milik gadis berusia tiga belas tahun, sedangkan ia sudah berusia sembilan belas tahun.


Rinka merasakan sebuah dorongan lain pada punggungnya, rupanya ada dua Roh Hutan yang mendorong punggungnya. Menyeramkan, tetapi entah mengapa Rinka merasa takjub. Cahaya mereka sungguh indah, menerangi sekitar dengan cahaya yang lembut.


Ketika mereka berusaha menuntunnya, gadis itu memilih untuk menurut. Ia mulai melangkahkan kaki dan merasakan sedikit perbedaan ketika berjalan. Kakinya ini terasa lebih pendek dan ringan.


Rinka berjalan ke dalam hutan tanpa tahu tujuan, hanya membiarkan para Roh Hutan itu menuntunnya. Ia berjalan cukup lama sehingga tanpa sadar melewati perbatasan pohon rimbun, rupanya Roh Hutan itu menuntunnya keluar dari hutan.


Rinka bisa melihat pagar pembatas yang terbuat dari kayu yang menandakan ia benar-benar telah keluar dari hutan belantara. Ia juga melihat ladang, seharusnya perumahan juga tak jauh dari sana.


Terimakasih telah menuntunku keluar.


Rinka berjalan menuju perumahan yang memang terbilang cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Ia melewati ladang yang ditanami berbagai macam bahan pangan dan umbi-umbian. Ladang yang biasa menjadi tempat bekerja dirinya, ralat tempat Rinka Taira bekerja.


Itu benar, entah bagaimana bisa kebetulan mereka memiliki nama yang serupa, hanya beda marga atau nama belakangnya saja. Selain itu, ciri fisik mereka juga sama, rambut perak serta mata biru. Terlepas dari umur mereka, Rinka merasa menjadi dirinya sendiri yang berpindah tempat ketimbang ia merasuki tubuh orang lain. Hanya saja ia kembali menjadi anak-anak karena ukuran tubuhnya.


Maaf Rinka, sepertinya aku bukan orang tepat yang bisa mengisi ragamu. Aku ini hanya seorang yang lemah dan tidak berguna.


Dalam ingatannya, Rinka mengetahui gadis pemilik tubuh ini bernama Rinka Taira. Dia merupakan tingkat rendah dari bangsa penyihir di negeri ini. Ia tinggal bersama seorang ibu, yang pasti sekarang sedang menunggunya pulang.


Sejujurnya, Rinka tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika bertemu ibunya nanti. Ia tidak yakin bisa bersikap alami selayaknya gadis itu yang masih mendiami tubuhnya. Bagaimana jika semua orang tahu kalau yang mendiami tubuh ini bukan lagi Rinka yang asli? Apa ia akan dikucilkan kembali?


Tak terasa gadis itu berjalan sampai di depan pintu rumahnya, ia hanya meyakini apa yang ada dalam ingatannya sampai membawanya ke depan pintu sebuah rumah, rumah gadis itu, Rinka.


Rumah yang sangat sederhana. Namun, entah mengapa hatinya merasa nyaman berada di sana walaupun hanya berdiri di luarnya saja. Ini begitu tiba-tiba, Rinka tidak mengerti perasaan nyaman yang ia rasakan. Ia hanya berspekulasi jika perasaan yang timbul murni dari pemilik tubuh sebelumnya, dan ia ikut merasakannya.


Ah, dia sangat ingin masuk.

__ADS_1


Dengan ragu Rinka meraih gagang pintu dan berniat membukanya. Namun, sebelum itu terjadi, pintu lebih dulu terbuka dan sosok seorang wanita dewasa dengan raut wajah menyeramkan menatapnya dengan marah.


Beliau adalah ibunya Rinka.


Rinka menurunkan tangannya yang tergantung di udara secara perlahan, lantas meneguk ludahnya kasar dan menunduk menatap tanah. Ia merasakan hawa dingin di sekitarnya.


"Rinka! Darimana saja kamu?" bentak wanita itu marah.


Rinka bergidik ngeri, ia tidak tahu jika ibu gadis itu sangat menyeramkan.


"A–anu … i-itu aku—"


"Rinka!"


Rinka seketika mengatupkan kembali bibirnya tak berani menjawab. Tiba-tiba, pergelangan tangannya ditarik paksa dan diseret masuk ke dalam rumah.


Ingatan lain muncul, ingatan yang berasal dari dirinya. Sebuah kenangan buruk yang tiba-tiba muncul. Ia mengingat kembali ketika dipaksa masuk ke sarang ular berbisa untuk mengambil telur.


Rinka masih ingat ketika ular menggigit kakinya dan membuatnya tak sadarkan diri selama satu minggu. Selama itu, ia harus terus mendengarkan perkataan menyakitkan yang berasal dari orang-orang yang merawatnya. Mereka terus mengeluhkan hal yang sama, yaitu betapa merepotkannya mengurus seorang anak pembawa sial.


Anak ini memang pembawa sial, bahkan untuk dirinya sendiri.


"Jika ibu sedang menasihatimu jangan melamun, tatap mata ibu, Rinka!"


Rinka tersentak, ia tanpa sadar melupakan keadaannya saat ini. Ibunya sangat marah. Mungkin setelah ini, beliau akan menghukumnya karena telah mengabaikan ucapannya.


Tiba-tiba wanita itu berjongkok. Memegang pundak Rinka dengan sangat kuat. Saat itu, Rinka mendengar isakan yang membuatnya mendongak menatap wajah sang ibu.


"Sudah ibu bilang, kamu seharusnya biarkan saja mereka, ibu tidak mau melihatmu terus terluka, Sayang." Tangisannya pecah, tak kuasa membendung air mata yang terus menumpuk. Hati wanita itu terluka membayangkan betapa banyak luka yang harus diterima oleh putrinya.


Rinka tiba-tiba merasa hatinya sakit, menatap wajah berlinang air mata dari seorang wanita yang seharusnya ia sebut sebagai ibu di dunia ini. Ini pertama kali seseorang menangis untuknya.


Tangan yang lembut beralih menyentuh pipinya, menyalurkan perasaan hangat yang mengalir ke dalam hati. Tanpa sadar, air mata Rinka ikut tumpah bersamaan dengan rasa sesak yang menyeruak ketika melihat raut wajah sang ibu. Tidak ada lagi ekspresi marah, atau aura yang menyeramkan, hanya ada raut wajah seorang ibu yang mengkhawatirkan putrinya.


Rinka bisa melihat rasa sakit melalui mata sang ibu, membuat hatinya bergetar. Ia tidak yakin apakah perasaannya ini murni dari hatinya, sebab dirinya tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.


"Rin, kenapa kamu diam saja? Apa mereka melakukan sesuatu yang menyakitimu?"


Tiba-tiba, ingatan Rinka dipenuhi hal lain yang membuatnya gemetar ketakutan. Pertanyaan dari sang ibu membuat Rinka dipaksa mengingat kembali bagaimana cara Rinka Taira meninggal. Merasakan perasaan gadis itu ketika ajalnya tiba, ia dijatuhkan dari tebing yang sangat tinggi, kemudian menghantam permukaan dengan sangat keras. Itu membuatnya merasa trauma.


Rinka tanpa sadar memejamkan mata kuat-kuat serta menutup telinganya. Ia seolah mendengar suara-suara aneh yang memanggil, ketika bayangan itu terus muncul dan berbisik di dalam kepalanya. Tubuhnya lemas seketika.

__ADS_1


Dan tanpa dapat dicegah, Rinka ambruk tak sadarkan diri di tengah suara-suara gaduh yang berkecamuk di kepalanya.


To be continued.


__ADS_2