
Nina menjadi pengecut lagi. Setelah sekian lama, ia mengulangi sikapnya lagi dalam menghadapi masalah. Lari. Sebelumnya, ada Marco yang selalu menopangnya. Membawa ia pulang dan menghadapi masalah bersama. Selalu ada Marco yang menggandeng tanganya. Membawanya masuk ke dalam rumah yang penuh masalah itu. Bahkan Nina menganggap itu bukan rumah. Marco lah rumahnya.
Marco adalah pacar Nina. Umurnya sebaya dengan Nina. Tapi Marco selalu bisa lebih dewasa dari seharusnya. Bagi Nina, Marco adalah bangunan kokoh bagi kerapuhannya. Rasa nyaman atas cemas yang Nina pikul sejak kecil. Marco adalah benar-benar segalanya bagi Nina.
Sekarang bagaimana bisa Nina hidup. Kalau alasannya hidup sudah pergi. Membayangkan menjalani hidup sendirian tanpa Marco membuatnya tak ingin hidup lagi.
Nina menatap kosong ke arah jendela mobilnya. Diluar hujan, dan Nina tak tau kemana ia akan pergi. Tak tau apa yang akan ia lakukan. Berada dibawah hujan membuat Nina muak. Itulah kesukaan Nina dan Marco. Meskipun sifatnya dewasa dan mengayomi, Marco selalu bisa mengimbangi Nina yang banyak maunya. Nina tersenyum tipis, kemudian menangis lebih keras lagi. Berada dalam mobil ini juga bukan hal yang menyenangkan. Nina mendapatkan mobil ini juga berkat dukungan Marco. Merek, tipe, hingga warna mobil ini adalah pilihan Marco. Agar Nina selalu merasa berada didekat Marco.
Benar saja, tak sedetikpun Nina tak ingat Marco. Seluruh kota ini adalah kenangannya bersama Marco. Keluar ataupun tetap didalam mobil, akan selalu teringat Marco. Dirumah ataupun pergi keluar, semuanya masih tentang Marco.
Drrrt... Drtttt...
Dari tadi handphone nya bergetar. Ia buka pesan yang masuk.
"Ah, hanya grup kelas." Katanya dalam hati.
Nina tak membuka ribuan pesan belum terbaca di grup kelasnya. Nina tak punya waktu untuk itu.
Jari Nina terus mengarah ke bawah. Ada nama Marco disana. Dibawah nama teman-temannya yang menanyakan kabarnya, yang tak ia buka juga.
Terlihat pesan yang hanya dibaca Marco. Bagaimana Marco begitu tega? Padahal dulu Marco tak pernah mau putus saling mengirim pesan. Bagaimana Marco bisa melakukan ini pada Nina.
Nina melihat jam di handphone nya. Sudah hampir gelap. Tapi nina masih tak tau harus kemana membawa hatinya yang patah ini.
__ADS_1
Nina kembali memainkan handphone nya. Membuka aplikasi booking hotel. Ada hotel yang menarik perhatian Nina. Bukan karena fasilitas atau pemandangan yang bagus yang menjadi prioritas Nina, Nina melihat lokasi kota nya. Sangat jauh dari kota tempat Nina berada sekarang. Tanpa pikir panjang, Nina menuju kota tersebut. Membawa mobilnya dengan cepat agar tak ada lagi celahnya untuk melamun. Mata dan pikirannya fokus ke jalan. Ia ingin segera sampai dan menyendiri di hotel itu. Berharap dapat sejenak melupakan Marco dan kebersamaan mereka selama lima tahun ini.
Drrrrtt.. Drrrrtttt.. Drrrrrt....
Drrrrt... Drrrrtttt.. Drrrrrttt..
Ternyata dari Vania. Nina mengangkatnya.
"Iya van apa?"
"YaAllah lo kemana si Nina?" Tanya Vania dengan nada sedikit kesal namun cemas.
" Gue pengen sendiri dulu Van."
"Sekarang sih belum Van. Gak tau besok."
"Nin gak lucu deh. Kasi tau lo dimana sekarang gue susul. Gue anter lo keliling kota. Gue anter lo belanja. Gue turutin semua kemauan lo."
"Gue pengen sama Marco, Van." Jawab Nina dengan suara bergetar menahan tangis.
"Nin, sini deh cerita ke gue. Jangan ngilang gini"
"Kasih gue waktu dulu ya Van. Gue gak akan bunuh diri kok. Dulu Marco selalu ngajarin gue kalo bunuh diri itu dosa."
__ADS_1
Vania diam sejenak. Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara hujan dari luar mobil Nina.
"Ati-ati ya Nin. Gue yakin lo mampu. Telfon gue sewaktu-waktu kalo lo butuh."
"Iya Van. Makasih ya. Gue nyetir dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Nina kembali melanjutkan perjalanannya. Vania memang sahabatnya. Tapi tetap tidak ada yang lebih mengerti Nina dari pada Marco. Nina adalah mahasiswa aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Sangat aktif malahan. Vania memang selalu bersedia mendengarkan curhatan Nina bahkan ketika Nina menelfon nya tengah malam dan menangis hingga pagi. Padahal Vania belum beristirahat sama sekali. Nina memang selalu bersedia. Tapi rasanya terlalu membebani Vania jika masalahku pun harus ku curahkan ke Vania. Dan pilihan paling ideal adalah Marco. Ia berjanji akan jadi petunjuk arah ketika kaki Nina tak tau harus ke arah mana. Ah, semua hidup Nina memang tentang Marco.
4 jam sudah Nina berkendara. Mengarahkan setir ke kota yang sama sekali belum pernah ia kunjungi. Kota yang cukup jauh untuk perjalanan tanpa arah ini. Nina tak tau sedikitpun tentang jalanan kota ini. Tapi setidaknya kota ini belum pernah ia datangi bersama Marco.
Nina menyalakan maps di handphone nya. Mengetik nama hotel yang sudah ia pesan lewat aplikasi. Cukup rumit, batin Nina.
Nina melewati hamparan alam yang asri. Banyak pepohonan meskipun banyak juga mobil wisatawan. Banyak warung-warung ala rest area yang dipenuhi wisatawan.
Tempat ini untuk berbahagia, batin Nina. Tampak rombongan keluarga tertawa lebar. Di jalan, ada sepasang kekasih bergandengan. Sesekali si cewe mencubit lengan kekasihnya. Dua hal yang benar-benar tak Nina miliki. Ia malah datang dengan sakit hatinya. Berharap sedikit demi sedikit pulih. Ia tak meminta segera. Karena lima tahun juga bukan waktu yang singkat untuk melahirkan kenangan.
Nina sampai pada hotel yang ia tuju. Bangunan tinggi berwarna putih yang lebih mirip villa. Ramai sekali sekitar sini.
Ah, Nina lupa. ini kan malam minggu. Untuk apa juga mengingatnya. Malam minggunya kini dan seterusnya hanyalah malam penuh seandainya-seandainya. Tak ada lagi berkeliling kota dengan motor matic milik Marco. Kepala Nina disandarkan ke bahu Marco. Sampai Marco sesekali protes karena harus mengendarai motor dengan kepala miring. Hihihi. Senyum malu Nina mengingatnya. Dan lagi, Nina ingin menangis tapi ditahannya. Orang-orang tidak akan perduli se hancur apa hatiku saat ini.
Bergegas Nina masuk lobby. Berjanji lagi dan lagi, takkan membiarkan melamun hingga mengingat Marco lagi.
__ADS_1
Nina check in, kamarnya di lantai lima. Lantai paling tinggi hotel ini. Diantar pegawai hotel, Nina terkejut melihat bentangan pemandangan yang sangat indah. Kamarnya menghadap langsung ke telaga indah. Center of interest wisata di kota ini. Kerlipan lampu malam dari hotel-hotel dan warung-warung sekitar telaga dapat Nina lihat dari balkon kamarnya. Hembusan angin dingin kota ini menjadi paket komplit malam ini. Membuat Nina tersenyum bahagia melihatnya. Yang kemudian tak sampai satu menit Tarikan bibirnya mengendur. Matanya berkaca-kaca. Seaindainya ia kesini bersama Marco.