The Way We Met

The Way We Met
3. Bapak Dosen


__ADS_3

Nina terbagun karena getaran handphone nya tak kunjung berhenti, mungkin sejak satu jam yang lalu. Lemas sekali badannya. Seharian kemarin ia tak makan. Ditambah angin dingin kota Magelang masuk kedalam tubuhnya dengan bebas.


Semalam Nina pulang ketika hari hampir berganti. Sesampainya di kamar, Nina muntah sejadi-jadinya. Masuk angin kolaborasi dengan asam lambung yang naik. Sudah jelas. Tapi Nina tak ada niatan untuk memesan makan dan minum obat. Malah ia menangis lagi sebentar, lalu ketiduran.


Akibatnya, hari ini ia bangun kesiangan lagi. Malah lebih siang dari kemarin.


Nina membuka handphone nya. Melihat banyak sekali pesan masuk. Di grup kelasnya ada belasan ribu pesan yang belum ia buka. Dibawahnya, tak kalah banyak pesan dari teman-temannya.


Nina membuka pesan dari Vania. Ada 35 pesan belum terbuka. Nina membaca dari atas. Isinya hanya menanyakan kabar Nina dan kekhawatirannya pada Nina.


“Astaghfirullah.” Teriak Nina kaget. Nina kembali membaca lima pesan terakhir dari Vania.


“Nin gue jemput ya.”


“Nin rumah lo kosong? Udah berangkat ya?


“Nina dimana lo? Bentar lagi masuk.”


“Nin dosennya udah dateng.”


“Nina.. Lo dicariin dosennya. Dimana lo sekarang?”


Nina lupa. Ini hari pertamanya di semester tujuh. Ditambah, ia adalah penanggung jawab mata kuliah ini. Ia meninggalkan banyak tanggung jawabnya hari ini. Nina tak menghubungi dosen mata kuliah sebelum perkuliahan dimulai, ia tak menyiapkan kontrak perkuliahan yang biasanya ditandatangani pada awal semester, ia tak mempersiapkan absensi teman-temas sekelasnya. Nina panik dan langsung membalas pesan Vania.


Setelah di scroll lagi, ada pesan dari nomor tak dikenal. Foto profil whatsapp nya pemandangan. Ala bapak-bapak sekali.


“Besok temui saya jam 9 di ruang dosen teknik sipil dan membawa data kelas anda.”


“Mati gue.” Batin Nina.


“Baik pak, mohon maaf saya melalaikan tugas saya hari ini.” Balas Nina setelah berpikir lama.


Yang ia tau nama dosennya Pak Abhirama. Bukan dosen asli jurusannya.


Nina memantau whatsapp nya dengan pak Abhirama. Sudah dibuka. Nina sedikit cemas. Selama ini Nina tak pernah membangun citra buruk didepan dosen. Itu tips dari Marco agar dikenal dosen dan sedikit banyak dipermudah oleh dosen.


Percuma, sudah memantau selama satu jam tapi tak dibalas oleh dosennya itu.


Nina beranjak mandi, dan memesan makanan. Sebenarnya tak ingin makan, tapi bagaimana bisa menyetir dalam keadaan kacau begini.

__ADS_1


Pukul 4 sore, Nina pulang ke kota asalnya. Membawa patah hati yang masih utuh.


“Aku harus kembali lagi kesini. Tempat ini indah. Hatiku saja yang sedang patah. Jika sudah pulih, aku janji akan kesini lagi. Mungkin dengan Vania dan Reza.” Kata Nina pada dirinya sendiri.


Reza adalah pacar Vania. Mereka akrab sekali, Vania, Reza, Nina, dan Marco sering double date. Setelah tidak dengan Marco mungkin tempatnya bercurah sekarang hanya Vania dan Reza.


Tak terpikir sedikitpun sosok laki-laki lain. Mungkin ia akan jatuh cinta lagi, atau bahkan akan menikah menyusul Marco. Tapi butuh waktu lama. Mungkin akan enam atau tujuh tahun lagi. Menebas mimpinya yang ingin menikah muda. Nina harus benar-benar siap dulu. Siap untuk segala kemungkinan jika ia jatuh cinta lagi. Yang terpenting ia harus siap tak mengenang Marco lagi.


Nina fokus ke jalan. Memutar playlist lagu-lagu rock yang sama sekali tak ia suka. Karena hanya lagu rock yang tak ia putar bersama Marco. Dari pop, jazz sampai dangdut adalah kesuakaan Nina dan Marco. Tak ingin ada terlalu banyak ruang untuk mengingat Marco.


Pukul 10 malam, Nina sampai depan rumahnya. Rumah itu tak pernah berubah. Tetap saja suram. Dari luar saja sudah tampak betapa dinginnya tembok-tembok bangunan itu. Warna catnya kusam, hanya diganti sekali selama 21 tahun Nina tinggal disana. Itu saat hari raya pertama Nina di dunia. Itu artinya 20 tahun yang lalu.


Nina membuka pagar dan memarkirkan mobilnya di garasi. Membuka kunci pintu depan dan melangkahkan kaki masuk. Tak ada yang menyambutnya dengan wajah kekhawatiran seperti layaknya orang yang anggota keluarganya baru kabur.


Nina melihat mamanya duduk di sofa depan tv dan menghadap laptop. Suara pintu terbuka tak cukup membuat bundanya menolehkan kepala.


Nina berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Sepulang kuliah, ia biasanya menyalakan semua lampu di rumah ini agar tak terlalu suram. Sekarang ia membiarkannya gelap. Mungkin ini yang dirasakan bunda saat ditinggalkan papa.


Nina langsung membaringkan tubuhnya ke kasur. Tapi lupa belum mempersiapkan basa-basi apa yang akan ia ucapkan ke pak dosen itu.


“Ah persetan dengan reputasi.” Nina memilih tidur.


Brak..


Nina akhirnya terbangun.


“Banting apa lagi orang itu.” Batin Nina.


Yang selalu dilakukan bundanya jika terlalu lama mendengar alarm Nina yang tak kunjung dimatikan, adalah membanting entah itu barang apa. Apapun yang menimbulkan suara keras.


Nina beranjak dari kasurnya, mampir ke kaca sebentar. Melihan benjolan dibawah matanya semakin besar dan gelap. Dari pada orang yang patah hati, Nina lebih terlihat sebagai korban kekerasan. Mandi sebentar, pakai kaca mata dan masker sudah cukup.


Nina berangkat. Melewati tembok-tembok dingin itu. Bersiap menemui dosen galak. Setidaknya itu anggapan Nina jika melihat dari pesannya kemarin.


“Assalamulaikum.” Ucap Nina sambil mengetuk ruang dosen teknik sipil.


“Pak permisi, saya sedang mencari pak Abhirama.” Kata Nina pada laki-laki umur 30 an. Wajahnya cukup tampan dan perawakannya tinggi besar. Mungkin ini yang kata teman-temannya dosen muda idola para mahasiswi.


“Ada perlu apa mbak?”

__ADS_1


“Saya dirusuh menghadap pak.” Jawabnya lagi. Nina tiba-tiba berdebar. Ia akan menghadapi omelan dosen senior karena kelalaiannya.


“Mas Kasman tolong panggilin Rama.” Kata dosen itu pada office boy.


“Rama? Gak sopan banget bapak ini.” Kata Nina dalam hati.


Duarr... Imajinasi Nina tentang pak Abhirama ini berubah. Yang dihadapannya kini adalah pria tampan mungkin sekitar 27 atau 28 tahun. Badannya tinggi dan atletis. Ada jenggot dan kumis tipis sekali.


Ah.. mungkin ini yang benar. Dosen muda kesukaan mahasiswi fakultas teknik. Jauh lebih tampan dari bapak yang ditemui Nina tadi. Tapi perduli apa Nina. Nina bukan mahasiswi ganjen. Nina tetap fokus meminta maaf atas kesalahannya kemarin.


Dosen itu melempar senyum bijak ke Nina.


“Kamu penanggung jawab mata kuliah digital desain yang saya hubungi kemarin?”


“Iya pak.” Jawab Nina pelan.


“Duduk mbak.” Suruh dosen itu.


Nina duduk. Berhadapan dengan pak Rama. Nina menyebutnya pak Rama sekarang.


“Bawa dokumen yang saya minta?”


“Ini, pak” Kata Nina sambil menyodorkan berkas di tangannya.


Pak Rama mengisi dan menandatangani kontarak perkuliahan.


“Kemarin saya sudah diskusi sama temen kelasmu tentang kontrak. Jadi tolong kontrak ini kamu foto dan kirimkan ke grup kelas. Minggu depan sudah mulai berlaku aturan dalam kontrak. Lalu tolong isi daftar hadir. Semua masuk, kecuali kamu.”


“Baik pak.” Nina menyengir tipis.


“Baik silahkan kembali.”


“Hah sudah?” Batin Nina. Nina tak dimarahi sedikitpun.


Sebelum pergi, Nina melihat pak Rama tampak mengetikkan sesuatu di handphone nya.


“Baik pak, terima kasih. Maaf atas kelalaian saya kemarin. Saya permisi pak.”


“Eh mbak tunggu. Kalau tidak ada kelas minta tolong temani saya sebentar ke gedung rektorat.”

__ADS_1


Nina berdua bersama pak Rama, dosen idola. Menuju gedung rektorat yang ada di kampus 2.


__ADS_2