
Sial, tetangga sebelah kamar Nina adalah sepasang pengantin baru yang tengah berbulan madu. Semalam setelah membersihkan badan, Nina memesan teh hangat dari hotel. Rencananya, Nina akan menyeruputnya di balkon sambil memandangi pemandangan telaga pada malam hari. Berharap setelahnya, tidurnya akan nyenyak dan tak terlalu banyak pikiran yang ia bawa tidur.
“ Hahaha. Nanti aku pengen punya anak tiga. Dua laki-laki dan satu perempuan.” Terdengar suara perempuan.
Nina menoleh, di samping kanan kamarnya, keluar sepasang yang sepertinya pengantin baru. Berjalan menuju balkon sambil tangan sang lelaki merangkul pundak si perempuan.
“ Kan rumah kita kecil yang. Apa cukup kalo punya anak tiga? Dua aja ya?”
“Nanti kan aku temani kamu sampai rumah kita cukup luas untuk anak-anak kita main. Kalaupun rumah kita tetap sempit, setidaknya kita saling mencintai. Itu cukup membuat megah hidup kita. “
Sial. Nina mengumpat dalam hatinya.
“Mereka ini tak tau apa ada gadis patah hati lagi nyruput teh disini.” Gerutu Nina dalam hati.
“Kamu nanti mau dipanggil apa? Abi? Ayah? Papa?” Ucap si wanita dengan nada manja.
“Hello?” Nina mengumpat lagi dalam hati.
Tapi mendengar pembicaraan pengantin baru ini, Nina jadi ingat. Ia pernah berandai-andai bersama Marco.
Malam itu, cukup larut memang. Pukul 12 malam selesai nonton film, Nina tak mau langsung pulang seperti biasa. Keliling kota dulu, lewat jalan Tunjungan yang penuh gemerlap lampu. Atau sekedar menyebrangi jembatan Suramadu dan balik lagi. Pokoknya Nina ingin lebih lama lagi bersama Marco. Diatas motor, mereka berdua berandai-andai tentang masa depan.
Tentang memilih motif sprei, mencari kaos kaki yang hilang sebelah, atau pertengkaran-pertengkaran kecil seperti menaruh handuk basah diatas kasur. Hal-hal ringan tentang rumah tangga yang membuat mereka bahagia. Membayangkan seatap dengan manusia asyik ini. Manusi penyabar dan pemimpin hebat ini. Setiap hari hati Nina tak pernah berhenti berdebar karena Marco.
“Kamu mau rumah yang kaya apa yang?” Tanya Nina pada marco.
“Rumah yang ada kamunya.”
“Yaela maksudnya yang tinggi, besar, lebar, punya kolam renang, atau gimana?”
“Pengen rumah yang ada kebunnya. Tapi kita yang urus sendiri. Itung-itung latian ngasi makan anak.” Jawab Marco.
“Mau interior yang kaya gimana?”
__ADS_1
“Rumah yang bikin kamu nyaman aja.”
“Kenapa gitu?”
“Kan nantinya yang banyak dirumah kamu. Buat aku, kalo yang ngelayani aku nyaman aku juga ikut nyaman.”
Nina tersenyum mendengar jawaban Marco yang macho ini.
Terkadang mereka juga iseng-iseng melewati perumahan yang sedang dibangun. Memilih rumah mana yang paling mereka sukai. Menganalisis rumah mana yang paling cocok mereka tinggali bersama kedua anaknya yang tentunya juga masih dalam khayalan.
“Kayanya aku bakal milih rumah ini deh yang.” Kata Marco pada Nina, setelah memutari perumahan itu enam kali.
“Ih apaansi kenapa dipojok.”
“Kalo dipojok itu kita lebih bebas. Kan kita mau punya kebun yang banyak tanamannya. Ini nanti bakal rimbun banget nih.” Ucap marco sambil menunjuk rumah didepannya. Kali ini mereka berhenti. Melihat lebih jeli sekeliling rumah itu.
“Yang, aku kan penakut. Gimana bisa kamu milih rumah dipojok gini. Bayangin dipojokan biasanya ada apa aja.”
“Kalo kamu lagi kerja gimana?”
“Kamu bisa main kemana aja. Nanti aku jemput. Kita pulangnya barengan.”
“Aku sih sukanya rumah yang di sebelah pos itu yang. Lebih aman aku juga lebih nyaman.”
“Yaudah yuk liat.” Ajak Marco sambil menyalakan lagi motornya. Mereka masih awal semester dua waktu itu.
Mereka berdua tidak sedang mencari rumah, tidak juga terburu-buru menikah. Tapi mereka berdua berharap, dengan ucapan-ucapan yang mereka ucap tentang kebaikan itu, akan membuat malaikat turut serta mengaminkan.
Marco memang selalu berhasil menyirami mimpi-mimpi Nina. Nina yang pemurung, jauh beda setelah bertemu Marco sejak kelas satu SMA lalu. Setiap hari selalu ada harapan yang Nina panjatkan dan Marco selalu mengaminkan, sekaligus membantu Nina mewujudkannya.
Kini, kembali pada dimensi saat ini. Nyatanya Nina sendirian, melihat bentangan pemandangan indah dengan teh hangat yang sudah dingin. Dengan udara dingin yang sangat, tanpa jaket. Ditemani obrolan romantis sepasang pengantin baru. Rasanya ucapannya pada Vania sore lalu ingin ia tarik kembali. Nina ingin lompat saja dari lantai lima saat itu juga.
Nina beranjak masuk, saat obrolan pengantin baru itu makin ngaco saja.
__ADS_1
Nina membaringkan tubuhnya dikasur. Memandang langit-lagit. Berharap segera terpejam. Tapi tak hanya seluruh sudut kota Surabaya, seluruh sudut pikirannya pun masih tentang Marco. Nina menangis sejadi-jadinya. Tak pernah menyangka semuanya bakal jadi seperti ini.
Marco yang tampak tak akan perna meninggalkan Nina, kini sudah pergi. Benar-benar memilih wanita itu setelah ribuan kali Nina bertanya meyakinkan.
“Kenapa setelah kamu bawa aku menuju hidup yang lebih cerah, kamu malah pergi dan bikin hidupku redup lagi?”
“Kenapa setelah mengantarkanku ke titik ini, titik aku bisa mandiri secara finansial dan gak bergantung uang orangtuaku, kamu malah milih jalan lain. “
“Kenapa gak kita nikmatin hasil kerja keras kita selama ini,co?”
“Aku salah apa sama kamu sampe kamu ada cewek lain?”
“Banyak rencana yang belum kita wujudin. Banyak tempat yang belum sempet kita kunjungin. Rasanya aku gak sanggup kalo harus tau kamu jalanin sisa rencana kamu sama orang lain.”
“Perjalanan kita masih panjang,co. Kalo aku ada kurang seharusnya kamu ngomong. Aku masih bisa perbaiki. Aku bakal ngelakuin apapun buat kamu.”
“Jahat kamu co. Setelah kamu buat aku sangat bergantung sama kamu. Kamu malah pergi gitu aja.”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saja memutari otak Nina. Dan Marco tak punya satupun jawaban atas pertanyaan Nina. Marco hanya bilang terima kasih dan banyak sekali maaf.
Nina berhasil terlelap setelah 3 jam lamanya menangis dan berteriak-teriak memaki keadaan.
Hari minggu, Nina bangun pukul sebelas. Menatap kearah jendela kaca yang tak ia tutup semalam. Terlihat dari kejauhan telaga yang ia tatapi dari semalam.
“Mungkin kalo pagi makin indah kali ya” Gumam Nina dalam hati.
Terlihat dari tempat tidur Nina, Banyak keluarga menikmati liburan disana. Menaiki boat, mencoba naik kuda, sekedar berfoto, atau menikmati pecel pincuk dipinggiran telaga. Mungkin indah ya rasanya. Nina tak tau. Karena semenjak itu, Tak ada lagi fungsi keluarga baginya.
Nina tak ingin naik boat atau naik kuda, Nina hanya ingin duduk ditepian danau. Sendirian.
Nina mandi dan berganti pakaian. Tak memakai riasan apapun. Lagipula untuk apa? Tak ada yang memilihkannya warna lipstik lagi.
Dengan perut kosong, Nina berjalan menuju arah telaga. Memakai kaos tipis dan celana jeans, Nina memang tak membawa jaket. Meninggalkan dompet dan handphone di kamar hotel. Nina hanya membawa sedikit uang barang kali lapar. Nyatanya, dari siang sampai malam, Nina duduk di tepian telaga itu. Tanpa makan, tanpa minum. Tanpa pakaian yang siap untuk hawa dingin. Kini kesedihannya sampai pada level tak mampu mengeluarkan air mata lagi.------
__ADS_1