The Way We Met

The Way We Met
5. Bertemu Marco


__ADS_3

Nina keluar kelas dengan muka lesu. Pulang tandanya ia akan


bergelut lagi dengan pikiran-pikiran yang ada dikepalanya. Tentang kehilangan


Marco, tentang kerjaan yang terbengkalai, tentang suasana rumahnya, semua


membuat Nina muak. Ingin sekali Nina punya tujuan selain rumah. Sahabat? Nina


tak enak hati dengan Vania. Vania sedang sibuk-sibuknya di BEM.


Nina mengangkat kepala, mulai berjalan dan berusaha membuat


semuanya normal. Tepat lurus didepan matanya, ada sosok yang ia damba-dambakan


kehadirannya, dulu. Marco.


Marco selesai kuliah di gedung sebelah. Bagi Nina Marco


masih tampan seperti biasa. Rambut ikalnya diikat, kemeja flanel dan kaos warna


hitam, dan sneakers pemberian Nina. Hapal betul Nina dengan gaya Marco yang gak


pernah berubah itu.


Marco langsung menundukkan kepala begitu tau Nina


memperhatikannya. Ingin sekali Nina bertanya banyak hal kepada Marco. Karena


perpisahan mereka memang terkesan ngambang. Sebelumnya mereka tak bertengkar.


Tak pernah ada pertengakaran berarti antara Nina dan Marco.


“halo, co. Apa kabar? Rambutmu sedikit lebih panjang dari


biasanya. Apa perempuanmu itu tak mengajakmu ke tukang cukur langgananmu itu?”


gumam Nina, tentu saja dalam hati.


“Matamu sembab, co. Apa tugasmu lagi banyak-banyaknya? Gak


mungkin kan kalo menangisi perpisahan kita. Toh kamu yang minta.” Batin Nina


lagi saat tak sengaja melihat mata bengkak Marco.


Nina menatap Marco lagi. “Jaga kesehatan ya, co. Beruntung


kamu dikelilingi orang-orang baik. Semoga hidupmu lebih setelah gak sama aku.”


Nina melangkahkan kaki. Merasa sudah cukup meratapi Marco


hari ini.


“Tiiiiiiiiiin”  Suara


klakson mobil. Hampir saja Nina tertabrak. Nina kaget, semua mata tertuju pada


Nina. Hanya ada 4 orang disekitar sana. Gengnya Marco.


Marco berlari menghampiri Nina yang masih kaget. Belum


sempat menghampiri Nina, dihadapan Marco ada seorang laki-laki terburu-buru


keluar dari mobilnya. Menghampiri Nina, merangkul pundak Nina. Marco berhenti.


Pak Rama, dosennya. Pria yang hampir menabrak Nina itu pak Rama. Pria yang juga


merangkul bahu dan menenangkan Nina. Terlihat didepan mata Marco pak rama


meminta maaf sejadi-jadinya.


“Gakpapa pak. Saya kaget aja. Saya juga yang salah.” Jawab


Nina dengan muka yang lebih tenang.


“Nin gakpapa?” Tanya Aldo, sahabat Marco.


“Nin, nin gakpapa?” Tanya Farid, juga sahabat Marco.


“Gakpapa guys gakpapa.” Jawab Nina menenangkan.


“Kenal nih?” Tanya Rama.


“Kenal pak. Akrab banget.” Jawab Aldo sambil melirik ke arah


Marco yang berdiri agak jauh dari mereka.


“Pak tanggung jawab pak buat kaget anak orang.” Sambar


Farid, mencoba mencairkan suasana.


“Tenang guys. Nin, ayok ikut saya. Saya mau tanggung jawab.”


“Wah buaya juga nih sohib ngopi kita.” Aldo nyamber.


Nina melihat ke arah Marco. Masih berdiri disana, menyimak


obrolan mereka.


“Yuk nin.” Ajak Rama.


Nina tersenyum, menunduk, lalu berjalan memasuki mobil Rama.

__ADS_1


“Lah nin? Beneran?” Ucap Aldo kaget.


Farid dan Reza yang dari tadi diam pun ikut kaget. Marco apa


lagi.


“Duluan ya, bro. Co, duluan co.” Rama pamitan.


Didalam mobil, Nina hanya menunduk dan memainkan kukunya


ketika Rama melewati mereka dan membunyikan klakson. Mereka dan Nina dulu


sangat dekat. Sering main bareng, saling ngasih kejutan pas ada yang ulang


tahun. Mereka masih baik pada Nina. Hanya saja Nina akan terus teringat Marco


jika berada disekitar mereka.


“Gimana jantungmu nin?” Rama membuka pembicaraan.


“Aman pak.”


“Kamu kayak akrab banget sama geng kapak itu.”


“Iya pak. Kenal waktu ospek.” Jawab Nina.


“Bapak akrab juga sama mereka?”


“Temen ngopi.” Jawab Rama.


Jadi geng Marco yang ngajak dosennya ngopi.


Nina hanya tersenyum. Berbagai hal berkecamuk memutari otak


Nina. Tak membiarkan sebentar saja Nina tak mengingat Marco.


“Marco mikir apa ya pas aku masuk mobil pak Rama.” Nina


ucapkan kalimat itu ratusan kali dalam hati.


“Marco, jangan salah paham ya. Kalo kamu minta penjelasan


aku bisa jawab sejelas-jelasnya.”


Kata Nina dalam hati, sambil berkali-kali cek notifikasi


handphone nya.


Percuma. Tak ada nama Marco di layar ponselnya. Bahu Nina


melemas. Sedih tak habis-habis.


“Nin?” Suara Rama mengagetkan Nina.


“Ah enggak pak.”


“Mending kamu tunjukin jalan. Ini dari tadi saya


ngeraba-raba arah.”


“Eh. Iya pak maaf.” Jawab Nina nyengir.


Mobil rama menuju sebuah jalan besar di selatan kota ini.


“Loh. Ini sih jalan ke rumah saya.” Celetuk Rama.


“Masa sih pak?”


“Iya perumahan permata indah.”


“Itu sih deket banget belakangnya ruko.”


Sampailah mereka berdua didepan sebuah ruko. Ada papan besar


berwarna putih. Helenina. Papan itu bertuliskan Helenina dengan motto dibawahnya,


Your Favorite Fashion Shop.


“Yuk pak.” Ajak Nina.


Mereka berdua masuk kedalam toko. Nuansa bohemian yang


sedang tren.


Mata Rama menyapu setiap sudut ruangan ini. Tangannya memilah


satu-persatu baju yang digantung di display. Gaya anak muda jaman sekarang.


Gaya berpakaian Nina. Tapi dari tadi Rama tak menemukan baju anak.


“Sebelah sini pak.” Nina mengajak rama masuk ke butiknya


lebih dalam.


Ada dua orang pegawai yang ersenyum pada Rama. Mereka


melewatinya. Di bagian butik yang agak dalam, Nina berhenti dan terpampang


beberapa baju anak yang digantung.


Rama memilah satu demi satu baju.

__ADS_1


“Kenapa disini? Terlalu ke dalam buat display.” Tanya Rama.


“Belum terlalu matang pak persiapannya. Baju anak ini baru


banget muncul idenya. Belum ada model, belum ada katalog, belum ada display


yang kira-kira cocok. Makannya kan instagramnya aja campur sama produk dewasa. Masih


ngeraba pasar pak.”


“Sayang banget loh. Bagus-bagus banget. Anak saya pasti


suka.”


“Wah seneng banget saya.” Ucap Nina tersenyum.


Rama sudah memegang 7 setel baju. Gak sadar, semuanya bagus.


“Udah bawa aja pak.” Kata Nina.


“Gak ya, gak mau. Ayo berapa. Saya bayar.” Jawab Rama


“Udah pak, itung-itung promosi.”


“Kalo kamu mau nyogok saya gak mau ya.”


Setelah perdebatan panjang, rama akhirnya diijinkan


membayar.


“Ini pak. Titip buat anak bapak.” Nina menyodorkan kotak


kado berwarna khas unicorn.


“Makasih Nin. Ngerepotin jadinya.”


“Dikit aja kok.” Jawab Nina nyengir.


“Sialan.”


“Yaudah, yuk saya antar pulang.” Tambah Rama


“Nggak usah pak, saya tidur sini kok.” Jawab Nina


“Oh oke deh kalo gitu. Makasih banyak ya.”


Rama melangkahkan kaki keluar. Nina segera bingung.


Sebenarnya tak ada niat tidur di ruko. Sedikit sekali barang Nina disini. Nina


hanya tak enak hati pada pak Rama karena jika harus mengantarnya pulang, sama


saja memutari kota ini.


“Yaudah itung-itung menyendiri.” Batin Nina.


Nina naik ke atas, menuju kamar paling depan. Menuju kamar


mandi dan mandi, meskipun tak ada handuk disini. Unrung masih ada perlatan


mandi. Nina melihat pakaian yanga da di lemari. Hanya ada piyama dengan atasan


dan bawahan yang semuanya tidak cocok.


Pilihan Nina jatuh pada celana panjang mickey mouse warna


pink dan kaos hijau neon dengan tulisan ospek fakultas teknik. Nina merebahkan


badannya dikasur. Ingin segera tidur. Memikirkan Marco lebih lelah dar kuliah


seharian penuh.


Tok..tok..tok..


“Mbak Nina. Sudah tidur?” Tanya seseorang didepan pintu.


Rini. Pegawainya. Dengan sedikit berat Nina membuka lagi


pintu yang baru saja dia kunci.


“Apa rin?”


“Ada yang cari mbak.”


“Siapa?” Tanya Nina bingung. Apa Marco? Buru-buru Nina


merapikan rambut basahnya.


“Mas yang tadi.” Jawab Rini


“Yang pake dasi tadi?”


“Iya mbak.”


“Apa ada yang ketinggalan ya?” Batin Nina


Nina melangkahkan kaki menapaki tangga menuju bawah. Pak


Rama berdiri disana.


“Belum makan kan kamu?” Tanpa basa-basi, pak rama

__ADS_1


menyodorkan plastik berisikan kotak nasi dan minuman kemasan.


__ADS_2