
Nina keluar kelas dengan muka lesu. Pulang tandanya ia akan
bergelut lagi dengan pikiran-pikiran yang ada dikepalanya. Tentang kehilangan
Marco, tentang kerjaan yang terbengkalai, tentang suasana rumahnya, semua
membuat Nina muak. Ingin sekali Nina punya tujuan selain rumah. Sahabat? Nina
tak enak hati dengan Vania. Vania sedang sibuk-sibuknya di BEM.
Nina mengangkat kepala, mulai berjalan dan berusaha membuat
semuanya normal. Tepat lurus didepan matanya, ada sosok yang ia damba-dambakan
kehadirannya, dulu. Marco.
Marco selesai kuliah di gedung sebelah. Bagi Nina Marco
masih tampan seperti biasa. Rambut ikalnya diikat, kemeja flanel dan kaos warna
hitam, dan sneakers pemberian Nina. Hapal betul Nina dengan gaya Marco yang gak
pernah berubah itu.
Marco langsung menundukkan kepala begitu tau Nina
memperhatikannya. Ingin sekali Nina bertanya banyak hal kepada Marco. Karena
perpisahan mereka memang terkesan ngambang. Sebelumnya mereka tak bertengkar.
Tak pernah ada pertengakaran berarti antara Nina dan Marco.
“halo, co. Apa kabar? Rambutmu sedikit lebih panjang dari
biasanya. Apa perempuanmu itu tak mengajakmu ke tukang cukur langgananmu itu?”
gumam Nina, tentu saja dalam hati.
“Matamu sembab, co. Apa tugasmu lagi banyak-banyaknya? Gak
mungkin kan kalo menangisi perpisahan kita. Toh kamu yang minta.” Batin Nina
lagi saat tak sengaja melihat mata bengkak Marco.
Nina menatap Marco lagi. “Jaga kesehatan ya, co. Beruntung
kamu dikelilingi orang-orang baik. Semoga hidupmu lebih setelah gak sama aku.”
Nina melangkahkan kaki. Merasa sudah cukup meratapi Marco
hari ini.
“Tiiiiiiiiiin” Suara
klakson mobil. Hampir saja Nina tertabrak. Nina kaget, semua mata tertuju pada
Nina. Hanya ada 4 orang disekitar sana. Gengnya Marco.
Marco berlari menghampiri Nina yang masih kaget. Belum
sempat menghampiri Nina, dihadapan Marco ada seorang laki-laki terburu-buru
keluar dari mobilnya. Menghampiri Nina, merangkul pundak Nina. Marco berhenti.
Pak Rama, dosennya. Pria yang hampir menabrak Nina itu pak Rama. Pria yang juga
merangkul bahu dan menenangkan Nina. Terlihat didepan mata Marco pak rama
meminta maaf sejadi-jadinya.
“Gakpapa pak. Saya kaget aja. Saya juga yang salah.” Jawab
Nina dengan muka yang lebih tenang.
“Nin gakpapa?” Tanya Aldo, sahabat Marco.
“Nin, nin gakpapa?” Tanya Farid, juga sahabat Marco.
“Gakpapa guys gakpapa.” Jawab Nina menenangkan.
“Kenal nih?” Tanya Rama.
“Kenal pak. Akrab banget.” Jawab Aldo sambil melirik ke arah
Marco yang berdiri agak jauh dari mereka.
“Pak tanggung jawab pak buat kaget anak orang.” Sambar
Farid, mencoba mencairkan suasana.
“Tenang guys. Nin, ayok ikut saya. Saya mau tanggung jawab.”
“Wah buaya juga nih sohib ngopi kita.” Aldo nyamber.
Nina melihat ke arah Marco. Masih berdiri disana, menyimak
obrolan mereka.
“Yuk nin.” Ajak Rama.
Nina tersenyum, menunduk, lalu berjalan memasuki mobil Rama.
__ADS_1
“Lah nin? Beneran?” Ucap Aldo kaget.
Farid dan Reza yang dari tadi diam pun ikut kaget. Marco apa
lagi.
“Duluan ya, bro. Co, duluan co.” Rama pamitan.
Didalam mobil, Nina hanya menunduk dan memainkan kukunya
ketika Rama melewati mereka dan membunyikan klakson. Mereka dan Nina dulu
sangat dekat. Sering main bareng, saling ngasih kejutan pas ada yang ulang
tahun. Mereka masih baik pada Nina. Hanya saja Nina akan terus teringat Marco
jika berada disekitar mereka.
“Gimana jantungmu nin?” Rama membuka pembicaraan.
“Aman pak.”
“Kamu kayak akrab banget sama geng kapak itu.”
“Iya pak. Kenal waktu ospek.” Jawab Nina.
“Bapak akrab juga sama mereka?”
“Temen ngopi.” Jawab Rama.
Jadi geng Marco yang ngajak dosennya ngopi.
Nina hanya tersenyum. Berbagai hal berkecamuk memutari otak
Nina. Tak membiarkan sebentar saja Nina tak mengingat Marco.
“Marco mikir apa ya pas aku masuk mobil pak Rama.” Nina
ucapkan kalimat itu ratusan kali dalam hati.
“Marco, jangan salah paham ya. Kalo kamu minta penjelasan
aku bisa jawab sejelas-jelasnya.”
Kata Nina dalam hati, sambil berkali-kali cek notifikasi
handphone nya.
Percuma. Tak ada nama Marco di layar ponselnya. Bahu Nina
melemas. Sedih tak habis-habis.
“Nin?” Suara Rama mengagetkan Nina.
“Ah enggak pak.”
“Mending kamu tunjukin jalan. Ini dari tadi saya
ngeraba-raba arah.”
“Eh. Iya pak maaf.” Jawab Nina nyengir.
Mobil rama menuju sebuah jalan besar di selatan kota ini.
“Loh. Ini sih jalan ke rumah saya.” Celetuk Rama.
“Masa sih pak?”
“Iya perumahan permata indah.”
“Itu sih deket banget belakangnya ruko.”
Sampailah mereka berdua didepan sebuah ruko. Ada papan besar
berwarna putih. Helenina. Papan itu bertuliskan Helenina dengan motto dibawahnya,
Your Favorite Fashion Shop.
“Yuk pak.” Ajak Nina.
Mereka berdua masuk kedalam toko. Nuansa bohemian yang
sedang tren.
Mata Rama menyapu setiap sudut ruangan ini. Tangannya memilah
satu-persatu baju yang digantung di display. Gaya anak muda jaman sekarang.
Gaya berpakaian Nina. Tapi dari tadi Rama tak menemukan baju anak.
“Sebelah sini pak.” Nina mengajak rama masuk ke butiknya
lebih dalam.
Ada dua orang pegawai yang ersenyum pada Rama. Mereka
melewatinya. Di bagian butik yang agak dalam, Nina berhenti dan terpampang
beberapa baju anak yang digantung.
Rama memilah satu demi satu baju.
__ADS_1
“Kenapa disini? Terlalu ke dalam buat display.” Tanya Rama.
“Belum terlalu matang pak persiapannya. Baju anak ini baru
banget muncul idenya. Belum ada model, belum ada katalog, belum ada display
yang kira-kira cocok. Makannya kan instagramnya aja campur sama produk dewasa. Masih
ngeraba pasar pak.”
“Sayang banget loh. Bagus-bagus banget. Anak saya pasti
suka.”
“Wah seneng banget saya.” Ucap Nina tersenyum.
Rama sudah memegang 7 setel baju. Gak sadar, semuanya bagus.
“Udah bawa aja pak.” Kata Nina.
“Gak ya, gak mau. Ayo berapa. Saya bayar.” Jawab Rama
“Udah pak, itung-itung promosi.”
“Kalo kamu mau nyogok saya gak mau ya.”
Setelah perdebatan panjang, rama akhirnya diijinkan
membayar.
“Ini pak. Titip buat anak bapak.” Nina menyodorkan kotak
kado berwarna khas unicorn.
“Makasih Nin. Ngerepotin jadinya.”
“Dikit aja kok.” Jawab Nina nyengir.
“Sialan.”
“Yaudah, yuk saya antar pulang.” Tambah Rama
“Nggak usah pak, saya tidur sini kok.” Jawab Nina
“Oh oke deh kalo gitu. Makasih banyak ya.”
Rama melangkahkan kaki keluar. Nina segera bingung.
Sebenarnya tak ada niat tidur di ruko. Sedikit sekali barang Nina disini. Nina
hanya tak enak hati pada pak Rama karena jika harus mengantarnya pulang, sama
saja memutari kota ini.
“Yaudah itung-itung menyendiri.” Batin Nina.
Nina naik ke atas, menuju kamar paling depan. Menuju kamar
mandi dan mandi, meskipun tak ada handuk disini. Unrung masih ada perlatan
mandi. Nina melihat pakaian yanga da di lemari. Hanya ada piyama dengan atasan
dan bawahan yang semuanya tidak cocok.
Pilihan Nina jatuh pada celana panjang mickey mouse warna
pink dan kaos hijau neon dengan tulisan ospek fakultas teknik. Nina merebahkan
badannya dikasur. Ingin segera tidur. Memikirkan Marco lebih lelah dar kuliah
seharian penuh.
Tok..tok..tok..
“Mbak Nina. Sudah tidur?” Tanya seseorang didepan pintu.
Rini. Pegawainya. Dengan sedikit berat Nina membuka lagi
pintu yang baru saja dia kunci.
“Apa rin?”
“Ada yang cari mbak.”
“Siapa?” Tanya Nina bingung. Apa Marco? Buru-buru Nina
merapikan rambut basahnya.
“Mas yang tadi.” Jawab Rini
“Yang pake dasi tadi?”
“Iya mbak.”
“Apa ada yang ketinggalan ya?” Batin Nina
Nina melangkahkan kaki menapaki tangga menuju bawah. Pak
Rama berdiri disana.
“Belum makan kan kamu?” Tanpa basa-basi, pak rama
__ADS_1
menyodorkan plastik berisikan kotak nasi dan minuman kemasan.