Tidak Nyata

Tidak Nyata
2. Maaf...


__ADS_3

kemudian... tino menunggu kakaknya kembali


***setengah jam berlalu dia terus memegang surat sambil menangis**


" Tino, aku pulang..." ucapnya pada tino


" kak... kakak..." jawabnya sambil menangis dan mengarah ke pelukan kakaknya


"tino... jangan menangis, laki laki kok menangis " ujar Inggrid berusaha menghibur tino


" maaf kak..." jawabnya pada inggrid


" harusnya aku yg minta maaf..." ucapnya pada tino sambil tetap berusaha menenangkan tino


" kamu adalah kakak terbaik yg pernah ada..." ucapnya dalam hati


" tino... bisakah kamu panggil aku inggrid seperti biasa?!" tanya inggrid pada tino sambil tetap berusaha menenangkannya


" ya... " jawab tino singkat


" pergilah tidur... sudah malam " ujar inggrid


" ok... good night " ucap tino pada inggrid


benih dendam juga sudah tertanam di hati tino... dia berpikir untuk balas dendam seperti inggrid...


" aku berjanji pada diriku sendiri dan ayah ibu aku akan menjaga inggrid walaupun nyawaku taruhannya..." janjinya dalam hati


di waktu yg sama


" aku berjanji pada diriku sendiri dan ayah ibu aku akan menjaga tino walaupun nyawaku taruhannya..."

__ADS_1


janjinya dalam hati


tengah malam


" hmmm... haus". ucap tino sambil berjalan ke dapur


" eh... siapa ?! hmmm... inggrid ?! " ucapnya dalam hati


" ngapain dia di situ ?! " ujarnya dalam hati sambil berjalan mendekat


" dia menangis ?! " ucapnya sambil tetap berdiri di tempat


" ibu... aku berjanji akan menjaga tino dan membalaskan dendam ibu dengan paman... ibu, bagaimana kabar ibu di sana?! ibu bisa melihat kan... tino tumbuh menjadi anak yg pintar... dia tidak pernah menyusahkan aku... dia anak yg ceria, walau aku tahu dia kesepian... aku percaya suatu hari nanti dia kan menjadi laki laki yg dapat di percaya... yg dapat diandalkan... sekarang dia sudah tahu kalau ibu meninggal karena di bunuh... tapi dia belum tahu bahwa ibu meninggalkan begitu banyak warisan yg sekarang berada di tangan paman dan dikendalikan oleh paman... ini tugas ku suatu hari akan ku ambil hak aku dan tino bu... semoga ibu bahagia di sana..." ucapnya sambil terus menangis dan menatap langit...


tino juga ikut menangis mendengar janji inggrid pada ibunya... kemudian ia menyadari bahwa...


" maaf kak... aku baru tahu ternyata selama ini kamu yg menangung semua beban yg begitu berat... kamu yg begitu menderita... sekarang aku tahu kenapa kamu menjadi orang yg begitu arogan dan dingin... maaf " ucapnya untuk inggrid dalam hati


" eh... tino, sejak kapan kamu di situ?! " tanya inggrid pada tino


" maaf... membuat kamu menangung beban yg begitu berat " ucapnya sambil memeluk menenangkan inggrid


" kamu ga salah tino..."ucapnya pada tino


" inggrid aku mau bantu kamu mendapatkan kembali warisan ibu... sekarang berasa di tangan paman kan?! aku yakin kita bisa mendapatkan kembali hartanya... kerena itu hak kita... " ujarnya pada inggrid semangat


" iya, cepat pergi tidur! " jawabnya pada tino


" aku mau minum dulu " ujarnya pada inggrid


" ohh... ya udah, aku ke kamar dulu ya..." jawabnya

__ADS_1


" ya..." jawabnya pada inggrid sambil berjalan ke arah dapur


pagi hari


" tino... cepat! " ujarnya pada tino


" iya, sebentar lagi " jawabnya pada inggrid sambil memakai sepatu


" aku pergi duluan ya..." ucapnya


" iya " jawabnya bergegas


di tengah perjalanan ada seorang pria menghalangi jalan


" permisi " ucapnya masih dengan sopan


" kalau ga mau gimana?!" jawab pria yg masih menghalangi jalan inggrid


" minggir !" ucapnya tegas


" ga mau!" jawab pria itu cepat


" hmph... merepotkan!" jawabnya sambil menyebrang jalan


" hei! tunggu... " ujar pria itu


inggrid terus menyebrang jalan dan tidak meladeni pria itu, sesampainya di sekolah


" inggrid kok baru sampai?!" tanya tino pada inggrid sambil terengah-engah


" jalannya di halangin sama sampah " jawabnya singkat

__ADS_1


" ohh... " jawab tino


" sampah ?! siapa pria yg menghalangi jalan inggrid ?!" tanya tino dalam hati


__ADS_2