Tika Untuk Dika

Tika Untuk Dika
Kenapa?


__ADS_3

"IBU JANGAN TINGGALIN TIKA BU AKU MOHON BANGUN BU BANGUN HUHUHU... IBU BANGUN.." teriak gadis itu sambil menangis histeris sangat menyayat hati, siapapun yang mendengarnya pasti akan ikut merasa sedih. siapa yang tidak sedih di kala orang yang kita sayang meninggalkan kita untuk selama-lamanya.


"sabar yak nak Tika, ikhlaskan ibu mu do'akan dia supaya mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya." ucap seorang tetangga yang simpati kepada nya.


"iyaa Aamiin bu terimakasih, hikss..hikss.." jawab tika sambil menahan isak tangisnya. Tak lama setelah persiapan selesai lalu jenazah ibu nya tika pun mulai di bopong menuju ke pemakaman yang terletak tidak jauh dari kampung tersebut.


Setelah jenazah ibu tika di kebumikan, perlahan-lahan tetangga yang lain pun pada pulang satu persatu terkecuali Tika dan satu adiknya yang masih sangat kecil sekitar 5 tahun.


"ibu.. padahal tika sudah janji sama ibu mau bahagiain ibu, tapi kenapa ibu malah meninggalkan tika sama dimas bu? kenapa bu? Allah ternyata lebih sayang sama ibu." ucap Tika lirih, kini air matanya sudah sangat kering akibat terlalu sering mengeluarkan air mata dari tadi.


"kakak.. kenapa ibu di kubur di dalam tanah? nanti ibu gak bisa nafas gimana? kakak ayo kita keluarin ibu sekarang, kasian ibu kak.." ucap dimas yang masih sangat polos itu.


"sayang gapapa, ibu udah bahagia disana, kita pulang yak sekarang." ajak tika sambil mengusap pipinya yang masih ada sisa air mata yang mengering.


"enggak mau dimas mau disini sama ibu kak, kenapa ibu ada di dalam tanah, dimas mau ikut sama ibu kak, huhuhu.." ucap dimas mulai menangis.


"dimas sayang.." Tika tak percaya sama apa yang telah diucapkan adik nya itu, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terus memeluk adiknya tak terasa kini air matanya mengalir kembali..


dia kembali mengusap air matanya, berusaha untuk tidak menangis lagi, bagaimanapun dia harus kelihatan tegar di hadapan adiknya itu, dia tidak boleh kelihatan lemah.


"sayang sini dengerin kakak, dimas sayang gak sama kakak?." tanya tika lembut namun tegas.


"sayang hiks.. hiks.." jawab dimas sesenggukan.


"dimas mau kan dengerin kakak? kalo dimas gak mau dengerin kakak, kakak bakalan sedih ibu juga pasti bakalan sedih kalo lihat dimas gak nurut sama perkataan kakak." tika memberikan nasehat kepada dimas.


"apa ibu akan bahagia kalau dimas nurut sama kakak?." tanya anak polos itu.


"tentu.. ibu pasti akan bahagia kalau liat dimas nurut dan jadi anak yang baik, sekarang dimas mau kan dengerin apa yang kakak katakan?"


"em.. iya dimas mau kak."


"yaudah sekarang kita pulang yak."


"iya." ucap dimas masih dengan wajah sedihnya..


"bu kita pulang dulu yak, kapan-kapan kita akan jenguk ibu lagi." ucap tika masih dengan perasaan yang amat sedih namun ia tahan karena ada adiknya sekarang di dekatnya, dia gak mau adiknya tau kalau kakaknya sekarang sangatlah rapuh.


sesampainya di rumah, tika membereskan rumah nya juga mulai membereskan barang-barang ibu nya, barang-barang ibu nya tika tidak terlalu banyak hanya memerlukan setengah jam buat membereskan itu semua.


setelah selesai dengan kegiatannya, tak terasa waktu Magrib pun tiba, Tika bersih-bersih terlebih dahulu setelah itu menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.

__ADS_1


"ya Allah sungguh apapun jalannya hamba yakin itu lah yang terbaik untuk hamba, maaf kan hamba yang belum bisa membahagiakan keluarga hamba ya Allah, ibu.. maafkan Tika karena tika belum bisa menepati janji tika untuk membahagiakan ibu hikss.. maafkan tika bu hiks.. hiks.. ya Allah maafkan segala dosa-dosa ibu hamba haramkan lah siksaan api neraka-Mu untuk ibu hamba ya Rabb, Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar, Aamiin." doa tika disertai tangisnya yang membasahi pipinya untuk kesekian kalinya.


semakin dewasa.. aku semakin sadar bahwa apa yang terjadi, tak perlu di tanya "kenapa" karena memang sudah begitu jalannya. batin tika


"maafkan hamba ya Allah, in syaa Allah hamba akan berusaha untuk ikhlas, dan menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya." gumamnya.


lalu setelah selesai sholat dan membereskan sajadah serta mukena nya, Tika mengenakan hijab nya lalu keluar kamar menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua, tidak banyak yang tika masak hanya telur dadar dan juga sayur toge, cukup untuk mereka berdua. dan yang lebih membuat tika bersyukur yaitu adiknya tidak pernah mengeluh walaupun keadaan mereka sangat kekurangan.


makanan pun telah selesai tika masak, lalu iya bergegas menuju kamar adiknya yang sedang tertidur pulas, saat melihat adiknya yang sedang tidur tak terasa air matanya pun kembali jatuh membasahi pipinya tika.


Dia sangat bersyukur karena memiliki adik yang sangat penurut juga baik hatinya.


"adek.. sayang bangun nak, yuk kita makan dulu yak, kakak udah masak tuh." ucapnya sangat lembut.


"ughhh kakak, tadi adek mimpiin ibu kak, ibu bilang sama adek kalo adek harus jadi anak yang kuat biar bisa jagain kakak, ibu juga bilang sama adek kalo ibu bahagia disana ibu bilang lagi kalau kakak jangan khawatirin ibu." ucapnya panjang lebar.


mendengar apa yang adiknya sampaikan, tika tidak bisa lagi menahan air matanya diapun menangis dihadapan adiknya, dia tidak bisa membohongi dirinya bahwa dia memang benar-benar sangat sedih.


"kak.. kakak kenapa? adek nakal yak? adek jahat yak sama kakak? hikss.. maafkan adek kak huhuhu..." dimas pun ikutan menangis di kala melihat sang kakak tiba-tiba menangis begitu saja.


"enggak sayang enggak.. dimas anak baik dimas enggak jahat, maafkan kakak sayang hiks.. hiks.. maafkan kakak dimas." mereka menangis sambil berpelukan..


setelah beberapa menit kemudian, mereka mulai tenang..


"kakak.."


"iya? kenapa dimas?." tanya tika heran kepada adiknya.


"dimas mau di suapin sama kakak boleh?" tanya dimas hati-hati.


"boleh dong sayang, kenapa sungkan gitu sama kakak."


"sini-sini dimas duduk di sebelah kakak."


mereka pun makan dalam satu piring bersama, begitu bahagia dan bersyukur nya mereka walaupun hanya makan dengan lauk pauk yang sangat seadanya.


malam itu sangat sunyi bagi rumah kecil yang sudah kelihatan tua, tapi lumayan masih tetap kokoh. beberapa saat setelah menjalankan sholat isya, tika hanya memandang melihat ke arah luar jendela sambil menatap langit yang lumayan cerah pada malam itu.


dia merenung, berharap apa yang terjadi hari ini adalah mimpi, namun sayang nya logikanya menepis, karena memang itu semuanya bukan mimpi.


Tak lama setelah itu ada yang mengetuk pintu kamarnya, tika pun berjalan menuju ke arah pintu dan membukakan pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.. yak siapa lagi kalau bukan adiknya.

__ADS_1


"ada apa dimas?." tanya tika sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan dimas.


"dimas mau tidur sama kakak malam ini, boleh?." tanya dimas masih terlihat sangat sungkan padanya, hati tika terlihat sangat sakit kala adiknya masih sangat sungkan terhadap nya, dia merasa bersalah. Karena kenapa? karena dulu tika jarang ada waktu buat dimas karena tika sibuk bekerja.


"maafkan kakak sayang, dimas boleh minta apa saja sama kakak asalkan kakak mampu untuk memenuhinya." jawab sang kakak sambil memeluk adiknya.


"yaudah yuk sekarang kita tidur, udah malem dimas gak boleh tidur terlalu malem." ucap tika.


"iya kak." jawabnya sambil tersenyum.


adzan subuh pun berkumandang sayup-sayup terdengar di telinga gadis cantik yang sedang terlelap tidur itu, tak lama dia bangun untuk mandi dan menjalankan kewajibannya. Setelah selesai, kemudian tika mengenakan hijabnya, lalu setelah itu pergi ke dapur untuk melihat ada bahan makanan atau tidak disana.


raut wajah tika sekarang terlihat sedih karena tidak ada bahan makanan satupun yang tersisa, terpaksa dia harus pergi ke warung buat beli telur untuk mereka sarapan.


setelah kembali dari warung, tika hanya membeli 2 telur dan 2 mie instan buat mereka makan. Tika hanya bisa membeli itu untuk saat ini, karena uang tika saat ini sudah habis untuk biaya pengobatan juga pemakaman ibu kemarin.


waktu itu jam menunjukkan pukul jam 6 pagi, seorang pria masih sangat lelap dalam tidurnya, dia enggan untuk bangun, namun suara dari balik pintu kamarnya sangat menggangu telinga nya membuatnya terpaksa melangkahkan kakinya menuju arah sumber suara tersebut.


"ada apa si mah.. Dika masih ngantuk." gerutu dika.


"kamu ini gimana si, mamah teriak-teriak dari tadi baru sekarang kamu bukain pintu? tega kamu yak dik, huh." ucap mamahnya dika kesel.


"kan dika juga gak nyuruh mamah buat teriak-teriak depan kamar dika, itukan salah mamah sendiri." jawab dika tak mau mengalah.


"kamu ini yak, melawan terus dari tadi." ucap mamah dika kesel langsung menjewer kuping anaknya.


"akhh mamah.. mamah sakit mah, iya.. iya ampun dika salah mah jangan jewer lagi sakit tau."


"huh siapa suruh melawan terus dari tadi."


"huft.. iya, terus ada apa mamah pagi-pagi udah gedor-gedor pintu kamar dika." tanya dika sambil terus mengelus kupingnya sendiri karena memang masih terasa sakit akibat jeweran mamahnya.


"ck... nanti aja deh, mending kamu bersihin diri kamu dulu sana." lalu mamah dika pun berlalu pergi meninggalkan dika yang diam mematung.


sedangkan di sisi lain, tika masih asik dengan kegiatannya menyuapi adiknya, yak sekarang rutinitas tika selain kerja adalah menyuapi adiknya sesekali.


setelah selesai sarapan, tika bingung memikirkan bagaimana caranya dia bisa bekerja sedangkan adik nya di rumah sendirian sekarang.


"apa aku bawa aja ke tempat kerja yak? apa boleh bawa anak kecil ke tempat kerja? tapi kan di belakang restoran ada tempat bermain anak-anak disana, mungkin gapapa kalo aku bawa dimas kesana, sekalian saja nanti aku juga akan minta izin sama bos semoga saja dibolehin, Aamiin" gumam tika.


Tika mengajak dimas untuk ikut bersamanya ke tempat kerja dan dimas pun mau, lalu tika pun menghidupkan sepeda motor nya peninggalan almarhumah ibu nya itu. Hanya butuh waktu 15 menit Tika dan dimas pun sampai di restoran, lebih tepatnya tempat kerja tika, setelah menasehati dimas dan meninggalkan dimas di belakang restoran yang ada tempat bermain anak-anak nya, tika kembali bekerja di restoran tersebut sebagai waiters.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2