
"Jadi Professor, apa
yang menyebabkan Anda datang kemari?" Xi Yang sepenuhnya penasaran
dengan kedatangan Li Yuan duduk di sofa yang berdekatan dengan wanita
itu.
Li Yuan hanya
berekspresi datar sebelum pada akhirnya memberikan pandangan aneh,
seolah-olah ia memandang kecoa. Pandangan itu membuat Xi Yang mengecil.
"Baiklah, Muridku. Aku
seharusnya tidak berurusan denganmu sekarang. Tetapi, pernah kah kamu
berpikir bahwa seharusnya ada sebuah kata turun dari mulutmu itu?"
Xi Yang tertegun, sebelum berpikir dan menebak. "Apakah itu tentang sesuatu yang seharusnya ada pada saya, Professor?"
"Hais..." keluhan terdengar dari bibir Li Yuan. "Apakah kau sudah memeriksa e-mailmu?"
"e-mail...kurasa, selama beberapa hari aku tidak pernah memeriksanya?"
Li Yuan menggeleng ringan. "Bukankah kau seharusnya memeriksanya, jika ingin tahu maksud kedatanganku kemari?"
Tanpa berpikir panjang, Xi Yang mengambil ponsel yang terletak di meja kamarnya. Ia buru-buru memeriksa kotak masuk e-mail nya.
Dari :Universitas Zhengzhou
subject: Hasil Permintaan Program Double Degree
Kepada Yth. Mahasiswa Xi Yang
Biro akademik Universitas Zhengzou telah memeriksa segala berkas dan persyaratan yang anda penuhi kepada kami.
Universitas Zhengzou
bekerja sama dengan Kementerian pendidikan Tiongkok telah menyetujui
aplikasi Anda. Segala hal mengenai persiapan kedepan sudah dikirimkan
kepada Biro Universitas Anda sekarang.
Terimakasih.
Ia tidak terkejut akan
hal ini. Berdasarkan informasi dari [Restart] ia sudah tahu sepenuhnya
dan memahami kebenaran. Namun, untuk kebaikan Li Yuan , Xi Yang memasang
ekspresi terkejut dan bergembira meski agak dipaksakan.
"Apa-apaan dengan ekspresi itu ...?" Cibir Li Yuan kesal.
Ia bahkan tidak mengira
bahwa kedatangannya jauh-jauh dari Zhengzou untuk memberi kejutan hanya
dibayar dengan ekspresi yang dipaksakan.
"Bukan, Prof. Bukan soal
itu, sebelumnya saya yang rendah ini sudah sepenuhnya yakin aplikasi
saya akan diterima. Jadi, saya akan tidak sepenuhnya terkejut..."
"Ha..? padahal gurumu
yang baik ini, jauh -jauh kemari untuk memberi kabar bagus namun kamu
hanya bersikap seperti itu? Xi Yang, bukankah setidaknya kamu harus
lebih megah dalam berpura-pura misalnya?"
"He..he... Saya yang
rendah ini tidak akan bisa berpura-pura pada Guru yang kuhormati."
Sambil memasang ekspresi bodoh Xi Yang menjulurkan lidah kecil
dibibirnya.
"Berhenti bermulut manis seperti itu. Jadi , apa yang akan kau lakukan sekarang, Yang'er?"
"Kurasa setelah urusanku selesai di sini saya akan segera mengurusi masalah itu."
"Baiklah, jika demikian... Hei... apakah kau sudah terbiasa dengan tempat ini?"
Xi Yang tersenyum kecil. "Kupikir..."
Li Yuan menghela nafas.
"Baiklah nanti malam sebaiknya kau ikut denganku berkeiling di
Pidingshan!Ku pikir, sebuah makan malam menjadi pilihan yang bagus untuk
perayaan. "
Xi Yang mengangguk.
***
Sementara itu di sebuah daerah semi perkotaan di Sinchuan.
"Yan'er ,
sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan dengan perlakuan dari Xi Yang. "
Seorang wanita paruh baya yang terlihat persis dengan gambaran
__ADS_1
kecantikan yang tak luntur duduk di ruang tengah bersama dengan Chu
Yana, wanita paruh baya itu adalah Li Yao ibu dari Xi Yang. Wanita itu
sekitar usia 45 tahun. Namun, keriput tidak membuat tampilannya tua.
Senyum yang diberikannya sama manisnya dengan wanita muda lain.
(Catatan: er biasanya dipakai dalam kata lain kecil atau little sebagai sapaan akrab bagi yang lebih muda, bisa juga dipakai kata Xiao)
Chu Yana hanya tersenyum kecil.
"Aish... jika Yang'er di sini , mungkin kamu akan diajak berkeliling ke kota kecil ini.
Memang sedikit membosankan hanya menetap di rumah, terlebih lagi ayahmu
sedikit terkilir dan belum bisa menyetir untuk mengajakmu berkeliling."
Sesal Li Yao.
"Jangan dipikirkan,
Bibi. Saya tidak keberatan untuk berdiam di rumah hanya untuk beberapa
hari. Lagipula, bibi terlihat sibuk dalam mengurusi Paman."
"Ah... Yang'er sangat beruntung memilikimu sebagai calon isteri."
***
Di Beijing
Di sebuah restoran bintang lima di pusat kota Beijing.
Seorang wanita muda
mengenakan sebuah gaun dengan potongan pendek berwarna biru, rambutnya
diikat pendek diujung belakang. Sementara sisi kiri dan kanan rambut
terdapat sebuah jepitan rambut perak dan dihiasi dengan permata biru.
Jika, diperhatikan penampilan wanita itu sangat sesuai dengan
karakteristik kecantikan sepenuhnya, matanya yang bewarna biru dan
kulitnya putih seperti salju yang paling penting adalah wanita itu
membawa aura yang berkharisma dan keindahan jika dipandang mata.
Wanita itu duduk di
salah satu meja restoran di lantai tiga yang menghadap kaca pembatas
antara balkon dan ruang makan yang luas dan bergengsi. Di atas meja
telah tersedia sepiring salad , sphagetti dan sebotol wine tahun 1980.
Di hadapan keindahan
kepada wanita itu lebih dari tiga puluh menit lalu.
"Song Nanhe... bukankah kamu agak keterlaluan tidak menggubrisku selama percakapan..?"keluh Yang Jie ragu.
Wanita dihadapannya
sekarang adalah puteri tunggal Twins Corporation. Usia wanita muda itu
sekitar tujuh belasaan. Tampilan wanita itu sekiranya sangat dingin
menanggapi keluhan Yang Jie.
"..."
Yang Jie tidak
mengeluarkan ekspresi marah ataupun kesal diwajahnya. Biar bagaimanapun,
wanita adalah tunangannya. Yang pasti selain latar belakang,
kecantikannya juga membuat orang terpesona, begitupun Yang Jie.
Yang Jie hanya tersenyum paksa. Ia merasa tidak dihargai oleh wanita di depannya.
Selain keindahan wanita
ini, setidaknya ia memiliki sikap dingin kepada hampir setiap orang,
termasuk Yang Jie. Song Nanhe tidak memandang seorang tanpa kompetensi
layak di matanya. Termasuk pria di depannya. Selain status pria itu
sebagai tunangannya , tidak ada yang mengharuskan Song Nanhe untuk
bersikap ramah. Tidak memiliki kemampuan dalam mengurus bisnis, rendah
dalam akademi , yang penting dan menjijikkan dia seorang Playboy.
Song Nanhe sudah
diperkenalkan lebih dari tiga tahun tentang pertunangan sepihak yang
diselenggarakan oleh kakeknya, Song Yojun. Adapun alasannya tidak lebih
dari sekedar bisnis dan politik dalam keluarga Song dan Yang yang
merupakan dua dari lima keluarga berpengaruh di Beijing.
Keluarga Song yang
menguasai industri dan perdagangan alat-alat elektronik dan kendaraan
bermotor membutuhkan dukungan dari keluarga Yang dalam penyediaan
__ADS_1
bahan-bahan mentah dan tambang. Jadi, untuk mempermudah dan memperluas
pengaruh keluarga Song , maka tiga tahun lalu Song Nanhe diikat dalam
pertunangan dengan Yang Jie.
Jika dilihat dari
penampilan Yang Jie adalah dikatakan tampan. Tinggi , postur dan wajah
Yang Jie diatas rata-rata orang Tianxia. Sembilan dari sepuluh wanita
akan tertarik dengan pria itu jika dinilai dari tampang. Namun, Song
Nanhe adalah wanita kesepuluh.
Dimata Song Nanhe segala
tabiat dari Yang Jie sudah dikumpulkannya. Pria ini, setidaknya
memiliki lima wanita , salah satu adalah wanita sahabatnya. Jika,
seorang wanita teman baiknya sendiri diambilnya ,maka tidak salah bahwa
Yang Jie adalah sampah. Empat wanita lain adalah seorang Mahasiswa di
Peking , seorang dokter magang , sekertaris ayahnya ,dan seorang pelayan
di bar.
Yang lebih penting pria di hadapannya ini memiliki kecenderungan hypersexs.
Jadi, setelah mengamati
dan mengumpulkan informasi dari tunangannya, Song Nanhe mulai menyusun
suatu rencana untuk pembatalan pertunangan. Biar bagaimanapun, wanita
muda ini tidak mau memiliki suami masa depan yang bajingan dan
pengkhianat. Jadi, sejak satu tahun lalu Song Nanhe mulai menyusun
rencana untuk membuat salah satu dari lima wanita Yang Jie hamil dan
meminta pertanggungjawaban .
Namun, sayangnya itu
semua gagal sampai sejauh ini . Padahal ia sudah memerintahkan orang
kepercayaannya untuk menyisipkan obat kesuburan pada wanita-wanitanya.
Sayangnya jika itu terjadi wanitanya akan menggugurkan kandungannya.
Song Nanhe tidak habis pikir bagaimana para bitch ini menghargai kehidupan dari janinnya. Namun, Song Nanhe tahu bahwa itu mungkin karena bujukan dari bajingam di depannya.
Malam ini adalah makan
malam yang diatur oleh kakeknya. Bajingan di depannya, bahkan terlambat
dua puluh menit dari waktu yang diatur. Adapun, Song Nanhe adalah orang
yang tepat waktu entah orang yang ditemuinya adalah orang paling
menjijikkan baginya. Jadi, sejak Yang Jie tiba Song Nanhe sudah bersikap
dingin pada Yang Jie. Dia hanya menikmati hidangan di atas mejanya.
"Aku akan ada urusan dengan orang lain. Selamat malam."
Sehabis makan dan membersihkan tepi bibirnya dengan tisu secara elegan, Song Nanhe berdiri, lalu beranjak pergi.
Di depan pintu masuk ruang restoran seorang wanita berpakaian seperti pria menyambutnya kemudian membuka sebuah pintu dari limosine hitam.
Sementara Yang Jie mengumpat kesal.
"Gadis kecil ini, akan
kuingat bagaimana kau memperlakukanku setelah aku memporakporandakanmu
di atas rajang," umpat Yang Jie menjilat bibirnya sambil memperhatikan
bagian bokong yang seksi milik Song Nanhe.
***
Sementara di dalam mobil.
"Apakah dia tadi memperhatikanku dari belakang, Wujin?"Tanya Song Nanhe yang duduk tanpa ekspresi.
"Ya , Nona Muda. Pria itu sama sekali tidak menahan untuk memikirkan suatu yang jahat dan tidak senonoh pada Anda."
"Keluarga Yang ... Jika bukan karena pengaruh mereka yang besar , kupikir akan sulit menghancurkan orang itu."
Song Wujin hanya
memperhatikan tampilan nona muda itu, tanpa melanjutkan bertanya atau
berkata menanggapi Song Nanhe , Wujin menunjukkan ekspresi datar.
"Lalu, bagaimana dengan kelanjutan masalah pertunangan itu, apakah ada kemungkinan kita bisa membatalkannya lagi?"
Song Wujin menggeleng ringan. "Saya pikir untuk saat ini tidak , Nona Muda."
"Sangat disayangkan..."
Limosine melaju kencang
dan megah di jalan-jalan protokol Beijing hingga membawa ke tujuan
mereka ke salah satu apartemen tiga puluh lantai.
__ADS_1