Tolong jangan baca itu

Tolong jangan baca itu
Bab.4. The Relationships


__ADS_3

"Jadi Professor, apa


yang menyebabkan Anda datang kemari?" Xi Yang sepenuhnya penasaran


dengan kedatangan Li Yuan duduk di sofa yang berdekatan dengan wanita


itu.


Li Yuan hanya


berekspresi datar sebelum pada akhirnya memberikan pandangan aneh,


seolah-olah ia memandang kecoa. Pandangan itu membuat Xi Yang mengecil.


"Baiklah, Muridku.  Aku


seharusnya tidak berurusan denganmu sekarang. Tetapi, pernah kah kamu


berpikir bahwa seharusnya ada sebuah kata turun dari mulutmu itu?"


Xi Yang tertegun, sebelum berpikir dan menebak. "Apakah itu tentang sesuatu yang seharusnya ada pada saya, Professor?"


"Hais..." keluhan terdengar dari bibir Li Yuan. "Apakah kau sudah memeriksa e-mailmu?"


"e-mail...kurasa, selama beberapa hari aku tidak pernah memeriksanya?"


Li Yuan menggeleng ringan. "Bukankah kau seharusnya memeriksanya, jika ingin tahu maksud kedatanganku kemari?"


Tanpa berpikir panjang, Xi Yang mengambil ponsel yang terletak di meja kamarnya. Ia buru-buru memeriksa kotak masuk e-mail nya.


Dari :Universitas Zhengzhou


subject: Hasil Permintaan Program Double Degree


Kepada Yth. Mahasiswa Xi Yang


Biro akademik Universitas Zhengzou telah memeriksa segala berkas dan persyaratan yang anda penuhi kepada kami.


Universitas Zhengzou


bekerja sama dengan Kementerian pendidikan Tiongkok telah menyetujui


aplikasi Anda. Segala hal mengenai persiapan kedepan sudah dikirimkan


kepada Biro Universitas Anda sekarang.


Terimakasih.


Ia tidak terkejut akan


hal ini. Berdasarkan informasi dari [Restart] ia sudah tahu sepenuhnya


dan memahami kebenaran. Namun, untuk kebaikan Li Yuan , Xi Yang memasang


ekspresi terkejut dan bergembira meski agak dipaksakan.


"Apa-apaan dengan ekspresi itu ...?" Cibir Li Yuan kesal.


Ia bahkan tidak mengira


bahwa kedatangannya jauh-jauh dari Zhengzou untuk memberi kejutan hanya


dibayar dengan ekspresi yang dipaksakan.


"Bukan, Prof. Bukan soal


itu, sebelumnya saya yang rendah ini sudah sepenuhnya yakin aplikasi


saya akan diterima. Jadi, saya akan tidak sepenuhnya terkejut..."


"Ha..? padahal gurumu


yang baik ini, jauh -jauh kemari untuk memberi kabar bagus namun kamu


hanya bersikap seperti itu? Xi Yang, bukankah setidaknya kamu harus


lebih megah dalam berpura-pura misalnya?"


"He..he... Saya yang


rendah ini tidak akan bisa berpura-pura pada Guru yang kuhormati."


Sambil memasang ekspresi bodoh Xi Yang menjulurkan lidah kecil


dibibirnya.


"Berhenti bermulut manis seperti itu. Jadi , apa yang akan kau lakukan sekarang, Yang'er?"


"Kurasa setelah urusanku selesai di sini saya akan segera mengurusi masalah itu."


"Baiklah, jika demikian... Hei... apakah kau sudah terbiasa dengan tempat ini?"


Xi Yang tersenyum kecil. "Kupikir..."


Li Yuan menghela nafas.


"Baiklah nanti malam sebaiknya kau ikut denganku berkeiling di


Pidingshan!Ku pikir, sebuah makan malam menjadi pilihan yang bagus untuk


perayaan. "


Xi Yang mengangguk.


***


Sementara itu di sebuah daerah semi perkotaan di Sinchuan.


"Yan'er ,


sebaiknya tidak usah terlalu dipikirkan dengan perlakuan dari Xi Yang. "


Seorang wanita paruh baya yang terlihat persis dengan gambaran

__ADS_1


kecantikan yang tak luntur duduk di ruang tengah bersama dengan Chu


Yana, wanita paruh baya itu adalah Li Yao ibu dari Xi Yang. Wanita itu


sekitar usia 45 tahun. Namun, keriput tidak membuat tampilannya tua.


Senyum yang diberikannya sama manisnya dengan wanita muda lain.


(Catatan: er biasanya dipakai dalam kata lain kecil atau little sebagai sapaan akrab bagi yang lebih muda, bisa juga dipakai kata Xiao)


Chu Yana hanya tersenyum kecil.


"Aish... jika Yang'er di sini , mungkin kamu akan diajak berkeliling ke kota kecil ini.


Memang sedikit membosankan hanya menetap di rumah, terlebih lagi ayahmu


sedikit terkilir dan belum bisa menyetir untuk mengajakmu berkeliling."


Sesal Li Yao.


"Jangan dipikirkan,


Bibi. Saya tidak keberatan untuk berdiam di rumah hanya untuk beberapa


hari. Lagipula, bibi terlihat sibuk dalam mengurusi Paman."


"Ah... Yang'er sangat beruntung memilikimu sebagai calon isteri."


***


Di Beijing


Di  sebuah restoran bintang lima di pusat kota Beijing.


Seorang wanita muda


mengenakan sebuah gaun dengan potongan pendek berwarna biru, rambutnya


diikat pendek diujung belakang. Sementara sisi kiri dan kanan rambut


terdapat sebuah jepitan rambut perak dan dihiasi dengan permata biru.


Jika, diperhatikan penampilan wanita itu sangat sesuai dengan


karakteristik kecantikan sepenuhnya, matanya yang bewarna biru dan


kulitnya putih seperti salju yang paling penting adalah wanita itu


membawa aura yang berkharisma dan keindahan jika dipandang mata.


Wanita itu duduk di


salah satu meja restoran di lantai tiga yang menghadap kaca pembatas


antara balkon dan ruang makan yang luas dan bergengsi. Di atas meja


telah tersedia sepiring salad , sphagetti dan sebotol wine tahun 1980.


Di hadapan keindahan


kepada wanita itu lebih dari tiga puluh menit lalu.


"Song Nanhe... bukankah kamu agak keterlaluan tidak menggubrisku selama percakapan..?"keluh Yang Jie ragu.


Wanita dihadapannya


sekarang adalah puteri tunggal Twins Corporation. Usia wanita muda itu


sekitar tujuh belasaan. Tampilan wanita itu  sekiranya sangat dingin


menanggapi keluhan Yang Jie.


"..."


Yang Jie tidak


mengeluarkan ekspresi marah ataupun kesal diwajahnya. Biar bagaimanapun,


wanita adalah tunangannya. Yang pasti selain latar belakang,


kecantikannya juga membuat orang terpesona, begitupun Yang Jie.


Yang Jie hanya tersenyum paksa. Ia merasa tidak dihargai oleh wanita di depannya.


Selain keindahan wanita


ini, setidaknya ia memiliki sikap dingin kepada hampir setiap orang,


termasuk Yang Jie. Song Nanhe tidak memandang seorang tanpa kompetensi


layak di matanya. Termasuk pria di depannya. Selain status pria itu


sebagai tunangannya , tidak ada yang mengharuskan Song Nanhe untuk


bersikap ramah. Tidak memiliki kemampuan dalam mengurus bisnis, rendah


dalam akademi , yang penting dan menjijikkan dia seorang Playboy.


Song Nanhe sudah


diperkenalkan lebih dari tiga tahun tentang pertunangan sepihak yang


diselenggarakan oleh kakeknya, Song Yojun. Adapun alasannya tidak lebih


dari sekedar bisnis dan politik dalam keluarga Song dan Yang yang


merupakan dua dari lima keluarga berpengaruh di Beijing.


Keluarga Song yang


menguasai industri dan perdagangan alat-alat elektronik dan kendaraan


bermotor membutuhkan dukungan dari keluarga Yang dalam penyediaan

__ADS_1


bahan-bahan mentah dan tambang. Jadi, untuk mempermudah dan memperluas


pengaruh keluarga Song , maka tiga tahun lalu Song Nanhe diikat dalam


pertunangan dengan Yang Jie.


Jika dilihat dari


penampilan Yang Jie adalah dikatakan tampan. Tinggi , postur dan wajah


Yang Jie diatas rata-rata orang Tianxia. Sembilan dari sepuluh wanita


akan tertarik dengan pria itu jika dinilai dari tampang. Namun, Song


Nanhe adalah wanita kesepuluh.


Dimata Song Nanhe segala


tabiat dari Yang Jie sudah dikumpulkannya. Pria ini, setidaknya


memiliki lima wanita , salah satu adalah wanita sahabatnya. Jika,


seorang wanita teman baiknya sendiri diambilnya ,maka tidak salah bahwa


Yang Jie adalah sampah. Empat wanita lain adalah seorang Mahasiswa di


Peking , seorang dokter magang , sekertaris ayahnya ,dan seorang pelayan


di bar.


Yang lebih penting pria di hadapannya ini memiliki kecenderungan hypersexs.


Jadi, setelah mengamati


dan mengumpulkan informasi dari tunangannya, Song Nanhe mulai menyusun


suatu rencana untuk pembatalan pertunangan. Biar bagaimanapun, wanita


muda ini tidak mau memiliki suami masa depan yang bajingan dan


pengkhianat. Jadi, sejak satu tahun lalu Song Nanhe mulai menyusun


rencana untuk membuat salah satu dari lima wanita Yang Jie hamil dan


meminta pertanggungjawaban .


Namun, sayangnya itu


semua gagal sampai sejauh ini . Padahal ia sudah memerintahkan orang


kepercayaannya untuk menyisipkan obat kesuburan pada wanita-wanitanya.


Sayangnya jika itu terjadi wanitanya akan menggugurkan kandungannya.


Song Nanhe tidak habis pikir bagaimana para bitch ini menghargai kehidupan dari janinnya. Namun, Song Nanhe tahu bahwa itu mungkin karena bujukan dari bajingam di depannya.


Malam ini adalah makan


malam yang diatur oleh kakeknya. Bajingan di depannya, bahkan terlambat


dua puluh menit dari waktu yang diatur. Adapun, Song Nanhe adalah orang


yang tepat waktu entah orang yang ditemuinya adalah orang paling


menjijikkan baginya. Jadi, sejak Yang Jie tiba Song Nanhe sudah bersikap


dingin pada Yang Jie. Dia hanya menikmati hidangan di atas mejanya.


"Aku akan ada urusan dengan orang lain. Selamat malam."


Sehabis makan dan membersihkan tepi bibirnya dengan tisu secara elegan, Song Nanhe berdiri, lalu beranjak pergi.


Di depan pintu masuk ruang restoran seorang wanita berpakaian seperti pria menyambutnya kemudian membuka sebuah pintu dari limosine hitam.


Sementara Yang Jie mengumpat kesal.


"Gadis kecil ini, akan


kuingat bagaimana kau memperlakukanku setelah aku memporakporandakanmu


di atas rajang," umpat Yang Jie menjilat bibirnya sambil memperhatikan


bagian bokong yang seksi milik Song Nanhe.


***


Sementara di dalam mobil.


"Apakah dia tadi memperhatikanku dari belakang, Wujin?"Tanya Song Nanhe yang duduk tanpa ekspresi.


"Ya , Nona Muda. Pria itu sama sekali tidak menahan untuk memikirkan suatu yang jahat dan tidak senonoh pada Anda."


"Keluarga Yang ... Jika bukan karena pengaruh mereka yang besar , kupikir akan sulit menghancurkan orang itu."


Song Wujin hanya


memperhatikan tampilan nona muda itu, tanpa melanjutkan bertanya atau


berkata menanggapi Song Nanhe , Wujin menunjukkan ekspresi datar.


"Lalu, bagaimana dengan kelanjutan masalah pertunangan itu, apakah ada kemungkinan kita bisa membatalkannya lagi?"


Song Wujin menggeleng ringan. "Saya pikir untuk saat ini tidak , Nona Muda."


"Sangat disayangkan..."


Limosine melaju kencang


dan megah di jalan-jalan protokol Beijing hingga membawa ke tujuan


mereka ke salah satu apartemen tiga puluh lantai.


 

__ADS_1


 


__ADS_2