Transmigrasi, Menjadi Ratu Harem

Transmigrasi, Menjadi Ratu Harem
Episode 10


__ADS_3

Pepi berlari sekuat tenaga dan akhirnya berhasil mengejar. "Tunggu, aku juga ikut!"


Kereta hampir berangkat ketika Pepi tiba-tiba datang.


Kak Nanda yang mengendarai kereta langsung turun dan bertanya, "Pepi? Kamu juga ikut?"


Mendengar hal ini, banyak orang di kereta itu menjulurkan kepala, mengenakan ekspresi terkejut. "Oh, Pepi juga pergi bekerja? Sepertinya memang sedang sulit akhir-akhir ini!"


Sambil ngomong, mereka berbalik melihat Rizqi di dalam kereta dan bercanda, "Pasti karena kamu pelit hingga memaksa istri kamu ikut kerja. Tak masuk akal, benar-benar tak masuk akal!"


Tawa meletus. Pepi naik ke kereta tanpa menggubris kata-kata mereka. Dia hanya duduk dengan tenang, acuh tak acuh terhadap semuanya.


Melihat Pepi tidak terpengaruh, penumpang di kereta itu juga kehilangan minat. Sebagian besar karena mereka takut kalau dia sampai turun tangan, terlebih setelah kejadian kemarin ketika dia berhasil menjatuhkan seorang wanita ganas - berita itu sudah tersebar di seluruh desa. Pepi yang membuat bahkan suaminya gemetar ketakutan mampu mengalahkan seorang wanita kuat!


Setelah kejadian ini, siapa yang berani mencoba mengganggunya lagi?


Pepi duduk di kereta dan melirik Rizqi, hanya untuk menyadari bahwa tidak ada satu pun lelaki di antara para penumpang yang ramai itu.


Melihat seorang lelaki seperti dia terjepit di antara para wanita melakukan pekerjaan kotor dan paling melelahkan di pelabuhan, sepertinya dia benar-benar telah kehilangan martabatnya.

__ADS_1


Entah mengapa, Pepi merasa iba.


Tak peduli seberapa garangnya dia, di dalam hatinya pasti merasa malu. Selain harus menanggung tatapan aneh dari orang-orang, dia mungkin menghadapi ejekan seperti ini setiap hari. Dia pernah memahami kesulitan yang dihadapi wanita, dan sekarang dengan alami dia juga dapat memahami kesulitan yang dihadapi oleh lelaki.


Sementara itu, Rizqi tetap memasang ekspresi datar seperti biasanya, seakan tidak peduli apapum. Namun, sebuah tangan berminyak mendadak muncul dan menempel di kakinya. Meskipun Rizqi spontan mengepalkan tangannya yang tersembunyi di balik lengan bajunya, dia tidak berkata sepatah kata pun.


Sebagai seorang lelaki, membuat kehebohan di muka umum merupakan tindakan yang tidak pantas, jadi lebih baik di bertahan dalam diam. Sekalipun dia bisa mengalahkan wanita itu, dia tetap tak bisa menantang hukum masyarakat yang memihak kepada wanita. Dia takut akan dibawa ke pihak berwenang!


Namun, kesabarannya hanya semakin membuat orang tersebut berani. Tangannya terus bergerak naik ke pahanya, semakin dekat dengan "milikknya".


Raut wajah Rizqi semakin dingin dan urat di dahinya mulai berdenyut. Dia sangat ingin memukul tangan itu dan mematahkannya saat ini juga!


Pepi menepak tangan menjijikkan itu dengan kasar dan berseru dingin, "Kau sendiri? Sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan?"


"M-Memangnya aku melakukan apa!"


Nyonya Sarina yang sudah mendekati empat puluh tahun sangat mesum. Kali ini, dia sengaja duduk di samping Rizqi, dia berharap bisa mendapatkan keuntungan karena Rizqi masih muda dan tampan dibandingkan dengan suaminya yang tak bersemangat!


Sayangnya, ekspresi Nyonya Sarina jelas-jelas menunjukkan muka bersalah ketika matanya bertemu dengan Pepi. Deru jantungnya kian meningkat!

__ADS_1


Pepi adalah orang terakhir yang naik ke kereta, dan dia duduk di arah diagonal dari tempat Nyonya Sarina dan Rizqi. Itulah mengapa dia langsung bisa melihat tangan menjijikkan Nyonya Sarina yang membelai paha suaminya.


Mengangkat dagunya, Pepi dengan tegas berkata, "Kamu sendiri tahu apa yang telah kamu lakukan barusan. Aku tidak akan bicara terang-terangan karena masih memikirkan kehormatanmu. Tapi jika hal itu terjadi lagi, jangan harap tanganmu selamat."


Nyonya Sarina gemetar dan seketika mengingat adegan di mana Pepi menjatuhkan seorang wanita. Dia segera menundukkan kepalanya.


"Sana pergi! Siapa yang mengizinkanmu duduk di samping suamiku?" Pepi mengutuk.


Nyonya Sarina tidak berani berkata sepatah kata pun dan dengan cepat berdiri. Pepi pun langsung menduduki tempat yang baru saja ditinggalkan oleh Nyonya Sarina, sedangkan Nyonya Sarina tidak punya pilihan selain mengambil tempat Pepi.


Atmosfer di dalam kereta menjadi mencekam dan sunyi. Tidak ada yang berbicara atau bergerak.


Rizqi memandang Pepi, membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak yakin apa yang harus dikatakan.


Pepi menatap ke depan dan mendengus, "Jangan berpikir macam-macam. Jika ada yang melawan saya di depan semuanya, muka saya mau ditaruh dimana?"


Rizqi ragu sejenak, mengatupkan bibirnya, dan akhirnya berbisik, "Terima kasih."


Pepi memalingkan wajahnya dan melipat tangannya sebelum bersandar di kereta untuk tidur. Dia tidak tahan dengan mereka sekarang. Semuanya membuat dirinya sangat kesal!

__ADS_1


__ADS_2