
"Ah!!"
Pepi terkejut. Ia langsung terduduk dengan tegak di tempat tidur.
"Siapa kamu?!"
Orang yang ada di tempat tidur akhirnya bangun, mengedipkan matanya yang berbentuk bulan sabit dengan polos, lalu berkata, "Sayang, ini aku~"
Pepi hampir muntah darah ketika mendengar suara yang familiar. Pembuluh darah di dahinya berdenyut, dan tangan di balik lengan bajunya nyaris menampar orang yang dibayarnya sepuluh juta hingga mati.
Ini sepuluh juta, sepuluh juta, sepuluh juta!
Pepi mengulangnya dalam keheningan tiga kali sebelum menggertakkan giginya dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Orden terlihat polos ketika menjawab, "Tentu saja tidur denganmu. Aku adalah milikmu sekarang. Hari ini dianggap sebagai malam pertama kita."
Pepi merasakan darahnya naik ke kepala. Ia spontan menampar dahinya. Lebih baik menampar dirinya sendiri sampai mati saja.
Masalah apalagi ini?!!
Ini bukan malam pertama denganmu!
Namun, memang benar pemilik asli tubuh ini membeli orang ini.
"Kita bicarakan nanti. Aku lelah sekarang." Pepi merasakan sakit kepala yang sangat buruk. Mengapa susah sekali untuk bisa tidur dengan tenang?
Orden langsung menunjukkan raut kekecewaan di wajah cantiknya. Dengan tatapan lemas, dia terlihat seperti makhluk kecil yang menyedihkan. "Apakah kamu merasa jijik padaku?"
Pepi: "???"
"Walaupun aku seorang pelacur, tapi seperti yang kamu tahu, aku hanya pernah ditampilkan sekali. Kamu memilihku begitu melihatku, menyelamatkanku dari kehidupan yang menyedihkan. Aku, aku, aku... Malam ini yang pertama bagiku!"
Pepi: "..."
Ini juga pertama kalinya bagiku, sobat! Karena kita sama-sama tidak berpengalaman, apakah kita tidak bisa lebih serius? Kita tidak dekat, tahu tidak!
Orden mulai cemberut, menutupi wajahnya dengan sapu tangan. "Aku memiliki tubuh yang murni dan polos, tetapi justru ditolak olehmu seperti ini!"
Bibir Pepi berkedut. Setelah berpikir sejenak, dia menyadari bahwa dirinya tidak begitu peka. Bagaimanapun, dia yang membawa Orden kembali, jadi dia tidak bisa membuangnya begitu saja.
Pepi dengan canggung mengelus bahu Orden. "Aku tidak bermaksud menolakmu."
Orden langsung melemparkan sapu tangan dengan penuh semangat. "Benarkah?"
__ADS_1
Mata bulan sabit yang indah milik Orden bersinar, meski tidak ada tanda-tanda air mata.
Pepi: "..."
Orden dengan senang berbaring dan menepuk tempat tidur di sebelahnya. "Ayo, Sayang, mari tidur."
Sejak datang ke sini, Pepi tidak hanya mulai mempertanyakan hidupnya, tapi juga mulai mempertanyakan karakternya sendiri bahkan kecerdasannya.
"Hari ini aku benar-benar lelah. Aku jatuh ke sumur dan terluka. Kamu sebaiknya kembali ke kamarmu dan istirahat," saran Pepi sambil mengusap dahinya.
Orden mengedipkan matanya. "Tapi aku baru saja tiba. Aku tidak punya kamar untuk tidur sendiri."
Pepi sadar bahwa itu benar. Memang ada kamar-kamar kosong di Keluarga Sigalung, tetapi entah penuh dengan barang-barang berantakan atau benar-benar kosong tanpa apa-apa di dalamnya. Hanya ada dua kamar yang tersedia untuk dihuni: satu kamar miliknya, dan satunya lagi ditempati oleh Rizqi dan Yurdha.
Pepi tidak punya pilihan lain selain mengambil tikar dari lemari. "Maka tidurlah di lantai untuk saat ini."
"Tidak! Aku ingin tidur sambil berpelukan dengan kamu, Sayang, agar tetap hangat di bawah selimut."
Dahi Pepi berdenyut. "Kenapa kamu butuh selimut di cuaca Juli yang panas ini?"
Pepi mulai merasa bahwa kewarasan dirinya hampir hilang, tepat di ambang bahaya.
Namun, Orden tetap tidak menyadari dan terus mengedipkan matanya. "Tapi, aku takut tidur sendirian. Aku hanya bisa tidur jika tidur di sampingmu, Sayang."
Tak lama setelah dia selesai berbicara, terdengar suara "plak" keras. Pepi mengangkat kakinya dan menendang, mengirim bayi raksasa di tempat tidur itu terlempar. "PERGI!"
Orden berbaring di tikar rumput dan matanya perlahan terbuka, memperlihatkan ketenangan yang dewasa, bukan lagi sorotan polos. Dia menatap wanita yang sedang tidur dengan mata yang dipenuhi rasa ingin tahu.
Seperti apa sebenarnya orang ini?
********
Keesokan paginya, Pepi terbangun oleh suara ayam di halaman.
Pepi membuka matanya dengan mengantuk dan disambut dengan wajah tampan yang membesar. Pria tampan itu mengerjapkan matanya. "Sayang, sudah bangun?"
Terkejut, Pepi berguling ke belakang dan kepala mereka terbentur tembok, menyebabkan air mata membasahi pipinya.
"Sayang, ada apa denganmu?" Orden bertanya cemas.
Pepi memegang kepalanya, lalu menatap marah dan melihat bahwa dia masih mempertahankan ekspresi polos di wajahnya!
"Apakah kamu sengaja melakukannya?! Kamu hanya ingin menakut-nakuti aku sampai mati, bukan?"
__ADS_1
Dia tidak dapat mengerti mengapa. Tapi setiap kali melihat pria ini, sesuatu hal buruk akan terjadi!
Setelah menakut-nakutinya, Orden masih akan memasang ekspresi polos seolah dia adalah makhluk paling sengsara di dunia ini!
"Mengapa aku harus menipumu? Kamu adalah sayangku, bukan?"
Pepi menggosok dahinya yang mulai bengkak sambil turun dari tempat tidur. "Lupakan! Aku tak mau menghabiskan waktu berbicara denganmu."
Saat Pepi berjalan menuju halaman, dia melihat Yurdha memberi makan ayam-ayam.
Yurdha mengenakan baju biasa yang agak pudar tapi rapi. Anehnya, menurut ingatan Pepi, Yurdha selalu tampak bersih apa pun yang dia kenakan, bahkan saat hanya mengenakan baju sederhana. Dia memiliki tampilan seorang pemuda kaya.
"Tuan Putri sudah bangun," kata Yurdha begitu melihat Pepi. "Masih ada roti yang baru di dapur."
Dibandingkan dengan sifat buruk Rizqi, Yurdha sungguh lembut. Namun, Pepi masih bisa merasakan jarak di dalam nada bicaranya.
Pepi membersihkan tenggorokannya. "Um, Rizqi ada di mana?"
"Dia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Musim panas sedang memuncak dan musim bercocok tanam sedang terhambat, jadi dia memanfaatkan waktu itu untuk mencari pekerjaan di kota."
"Oh..."
Di zaman ini, seorang pria yang sampai harus meninggalkan rumah seperti ini dianggap memalukan. Pepi tidak mengharapkan dia melakukan hal-hal seperti itu.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku dan mengerjakan jahitan."
Pepi berhenti sejenak. Seketika dia ingat kalau Yurdha sangat pandai dalam hal menjahit meskipun kakinya cidera. Dia benar-benar seorang lelaki yang baik dan berbakat, elegan di segala pekerjaan dan mahir di dapur.
Lelaki sejati seperti ini, langka dan berharga bahkan di abad ke-21, seperti spesies yang terancam punah di zaman kuno. Sangat tidak terduga bahwa dia memperoleh keuntungan yang begitu besar.
Saat Pepi melihat Yurdha mendorong kursi roda kembali ke dalam rumah, dia tak bisa menahan diri untuk menghela nafas dalam hatinya. Sangat disayangkan sekali. Pepi berbalik dan terkejut melihat wajah penuh sakit hati Orden.
"Apa yang terjadi denganmu?" Pepi menatapnya dengan mata terbelalak.
Orden terlihat kasihan dan berkata, "Aku baru saja masuk dalam keluarga ini, tapi sudah tidak disukai."
"Plis, jangan lebay!" Pepi menggosok pelipisnya.
Pepi pergi ke dapur, mengambil roti, dan membaginya menjadi dua untuk Orden. Mereka pun makan bersama.
Orden memegang roti dengan gembira dan berkata, "Seperti yang kukira, kamu masih menyimpanku di hatimu, Sayang"
Pepi langsung menyumbat roti ke mulut Orden. "Diam!"
__ADS_1
Pepi dengan cepat menyelesaikan roti tersebut dan berkata, "Aku harus pergi sebentar."
Tiba-tiba, Orden berteriak, "Sayang, kamu mau pergi ke mana? Aku akan pergi bersamamu!"