Transmigrasi, Menjadi Ratu Harem

Transmigrasi, Menjadi Ratu Harem
Episode 9


__ADS_3

Pepi yang frustasi karena kejadian tadi siang dan juga keadaan ekonominya yang malang akhirnya melewatkan makan malam bersama ketiga suaminya. Ia benar-benar tidak ingin melihat keluarga kikir ini untuk sekarang.


Merasa ada yang tidak beres, Rizqi pun bertanya, "Apa yang terjadi dengannya?"


Pertanyaan ini ditujukan kepada Orden. Orden kini menjadi "cinta baru" Pepi, mengikutinya kemana pun dia pergi sepanjang hari, jadi dia tentu saja tahu apa yang sedang terjadi.


Namun, pertanyaan Rizqi sebenarnya tidak bermaksud untuk memperhatikan Pepi. Dia hanya takut Pepi buat ulah lagi dan dia lagi yang harus membereskannya.


Orden menggigit roti sambil menggelengkan kepala. "Mana kutahu."


Saat berbicara, dia melirik Yurdha. Sejak Pepi keluar dari kamar Yurdha, suasana di sekitar Pepi langsung menjadi intens. Sekarang pun Orden bisa merasakan kecanggungan Yurdha. Mungkinkah mereka bertengkar?


Meski begitu, Orden tidak peduli. Ini bukan uruasannya. Dengan ekspresi yang tidak mau ikut campur, Orden menikmati rotinya sebelum meninggalkan meja makan.


Sayangnya, Rizqi langsung menangkan tatapan Orden tadi. Hatinya bergetar. Dia segera menarik Yurdha dan bertanya, "Apakah dia melakukan sesuatu padamu?"


Insiden sore tadi spontan menghantui kepala Yurdha seiring pertanyaan Rizqi. Seketika dia terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Tapi, keraguan Yurdha inilah yang mendorong Rizqi berdiri dari kursi dan bersiap untuk memerangi Pepi.


"Aku akan buat perhitungan dengannya!"


Yurdha kaget dan segera menahannya. "Kakak, tunggu! Tidak ada yang terjadi denganku. Dia tidak melakukan apapun!"


"Benar-benar tidak ada?" Rizqi masih memandangnya dengan curiga.


"Benar-benar tidak ada..." Yurdha menjawab dengan tidak berdaya.

__ADS_1


Melihat reaksi Yurdha, Rizqi menghembuskan napas lega. Tampaknya adiknya tidak diperlakukan dengan buruk. Ia kembali duduk dan bertanya lagi, "Jadi, ada apa dengan Pepi? Apakah kamu membuatnya kesal?"


Sejujurnya Rizqi pun ragu karena adiknya merupakan orang yang cukup ramah dan paling santai sedunia. Yurdha menarik sudut bibirnya, tampaknya masalah telah menghampirinya.


"Bukan apa-apa, hanya salah paham."


Rizqi mengangguk, "Oke kalau begitu."


Bila Yurdha tidak ingin membicarakannya, dia juga tidak akan memaksa. Selama adiknya tidak diperlakukan dengan buruk oleh Pepi, tidak akan ada masalah di antara mereka. Namun, ada perasaan aneh dalam hatinya. Sejak Pepi bangun dari insiden sumur, perasaan aneh ini semakin kuat. Bahkan dia pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Keesokan paginya, Pepi pergi keluar. Di satu sisi, dia tidak ingin melihat suaminya yang menjengkelkan di rumah dan di sisi lain, dia tidak ingin terus hidup malas-malasan.


Karena dia tidak dapat meminjam uang untuk modal usaha, lebih baik dia pergi keluar dan mencari cara untuk mendapatkan uang. Meskipun itu berarti melakukan pekerjaan kasar, tetap saja lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa di rumah.


Dia lelah dengan kehidupan yang miskin dan terkekang ini!


Pepi ingat bahwa keluarga yang paling berpengetahuan dalam desa adalah Keluarga Siraga. Keluarga Siraga dianggap kaya di Kecamatan Smolage. Mereka tidak hanya memiliki dua puluh hektar tanah pertanian yang baik di desa, tetapi mereka juga memiliki minimarket di kota.


Karena urusan bisnis mereka di kota, mereka memiliki hubungan dengan orang-orang di luar daerah Smolage. Ketika orang-orang di desa ingin mencari pekerjaan atau memohon bantuan, mereka harus melalui Keluarga Siraga sebagai orang perantara.


Tentu saja, agen ini juga mengenakan biaya, tapi Pepi tidak peduli. Dia langsung pergi ke Keluarga Siraga.


Rumah Keluarga Siraga jauh lebih baik dibandingkan rumah Keluarga Sigalung yang sederhana. Dindingnya yang tinggi terbuat dari batu bata dan rumahnya juga berubin ditutupi keramik yang bagus. Tidak hanya itu, tapi perabotan rumahnya juga bersih dan tertata rapi.


"Wah, siapa ini? Pengunjung yang jarang terlihat! Kenapa Pepi punya waktu untuk datang ke rumahku?" Werin Siraga memiliki penampilan yang glamor dengan tubuh dan wajah yang bulat, jelas terlihat kalau dia sering makan enak.

__ADS_1


Pepi tersenyum dan menjawab, "Aku ingin mencari pekerjaan di sini bersama kakakku. Sekarang ini musim bercocok tanam sedang berhenti, jadi aku punya sedikit waktu luang."


Werin Siraga terlihat terkejut, "Oh, kamu tidak bercanda, kan? Bukannya suamimu yang bekerja? Sejak kapan kalian bertukar posisi? Mungkinkah suamimu tidak menafkahimu?"


"Bukannya ada wanita yang bergantung sepenuhnya pada pria untuk mencari nafkah? Karena sekarang saya memiliki waktu luang, wajar kalau saya mencari sesuatu agar produktif," jawab Pepi.


Werin Siraga memandanginya dari atas ke bawah. Ada desas-desus di desa bahwa Pepi yang pemalu ini telah mengalahkan seorang wanita yang kuat. Meskipun dia tidak mempercayainya, tapi sekarang dia melihat Pepi mencari pekerjaan lagi. Rasanya seperti berubah 180 derajat.


"Okelah kalau begitu, kebetulan tempat kerja suamimu sedang membuka lowongan. Kamu bisa bekerja di sana. Gajinya sendiri sebesa sepuluh ribu rupiah per hari," usul Werin Siraga.


"Sepuluh ribu?!" Pepi membesarkan matanya.


Itu berarti dia bahkan tidak bisa menghasilkan 1 juta dalam sebulan?!


Werin Siraga langsung menyindir, "Kenapa? Kurang? Kalau kamu merasa kurang, jangan lakukan. Masih banyak orang yang mau pekerjaan ini."


Ini benar-benar eksploitasi terang-terangan oleh para kapitalis!


Namun, tidak ada yang bisa Pepi lakukan meskipun dirinya sangat geram. "Aku akan melakukannya!"


Baiklah, aku akan bertahan demi masa depan!


"Sekarang adalah waktu yang tepat. Cepat pergi ke pintu masuk desa dan bergabunglah dengan yang lain. Kak Nanda seharusnya sudah ada di sana menghitung jumlah orang. Kamu bisa mengejar pekerjaan hari ini."


Kak Nanda yang bekerja untuk Keluarga Siraga adalah bawahan yang bertanggung jawab melakukan segala macam pekerjaan manual dan tugas keliling.

__ADS_1


Setiap hari, Keluarga Siraga akan menggunakan kereta kuda untuk mengangkut banyak orang dari desa ke pelabuhan kota untuk bekerja dan mengurus barang.


Pepi segera bergegas ke pintu masuk desa.


__ADS_2