Transmigrasi, Menjadi Ratu Harem

Transmigrasi, Menjadi Ratu Harem
Episode 4


__ADS_3

Mendengar Orden ingin ikut dengannya, Pepi pun langsung berbalik dan memandangnya dengan tajam, "Boleh saja kamu ikut, tapi camkan baik-baik! Jangan berbuat ulah dan berbalik menyusahkanku. Kamu juga harus jujur denganku apapun yang terjadi."


Orden mengangkat alisnya, "Sayang, jangan khawatir. Aku pasti akan jujur!"


Pepi menyipitkan matanya, memandanginya dengan rasa curiga.


Setidaknya dengan janji ini, meskipun Orden akhirnya bertindak macam-macam, Pepi akan memiliki alasan yang kuat untuk memukulinya.


Pepi membuka pintu Yurdha dan menjulurkan kepalanya, "Aku harus pergi sebentar. Apa kamu akan baik-baik saja di rumah sendiri?"


Yurdha terkejut. Kapan Pepi mulai berpergian dan pulang seperti ini? Sejak kapan pula ia peduli dengannya? Ini pertama kalinya, dan Pepi bahkan pamit dulu pada Orden.


"Um... kamu bisa pergi. Aku akan baik-baik saja." Yurdha terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Baiklah, aku pergi. Aku akan kembali sebelum tengah hari agar sempat memasak untukmu," Pepi berkata sebelum menutup pintu.


Sudah sewajarnya kalau dia merawat Yurdha, mengingat kaki Yurdha yang cidera.


Tapi, ketika kata-kata itu keluar dari mulut Pepi, Yurdha sangat terkejut sehingga dia menjatuhkan barang-barang di tangannya. Apa yang dia katakan? Dia akan kembali memasak untuknya?!


Wanita ini yang dulu selalu menginginkannya atau menghina kecacatannya, sekarang berkata dia akan memasak untuknya?!


——


"Sayang, kita mau ke mana?"


Pepi mengusap dagunya, "Mari kita berkeliling dan menjelajah terlebih dahulu."


Sebagai orang baru di sini, dia perlu mengenal lingkungan sekitarnya. Karena dia sudah memutuskan untuk bertahan di sini, dia harus hidup dengan baik!


Pepi berjalan-jalan di desa bersama Orden, dan setiap penduduk yang mereka temui memperhatikan mereka. Bagaimanapun juga, skandal Keluarga Sigalung kemarin begitu besar sampai-sampai Pepi mencoba bunuh diri dengan melompat ke sumur. Tentu saja, semua orang di desa juga tahu tentang kelakuan Pepi yang mencuri 10 juta dari suaminya sendiri untuk membeli pelacur.


"Pagi-pagi sudah mengajak suami kecilmu keluar berjalan-jalan. Tsk tsk tsk, dia memang terlihat tampan, pasti dari wisma, lihat semangatnya yang hidup." Seorang wanita mendekat dan meraih wajah Orden. Matanya penuh nafsu seolah ingin melihat lebih dalam tentang dirinya.

__ADS_1


Orden segera bersembunyi di belakang Pepi. Sementara Pepi melangkah maju dengan senyuman dan berkata, "Dia sudah menebus dirinya dan menjadi warga negara yang baik. Tidak perlu lagi memanggilnya produk dari wisma. Sebenarnya kamu bicara tentang siapa?"


"Cih, memang dia awalnya dari wisma! Trus kenapa? Apakah orang dilarang membahas itu?" Wanita itu sengaja meninggikan suaranya, "Mari kita dengar pendapat orang lain. Bagaimana bisa ini diabaikan? Sepertinya kita tidak boleh memprovokasi Keluarga Sigalung!"


Penduduk sekitar tentu ikut menyaksikan keributan itu. Ini adalah waktu nganggur untuk bertani, dan semua orang tidak punya hal lain yang lebih penting untuk dilakukan.


Pepi menyipitkan matanya dan berkata, "Kenapa? Kalau anda sudah tahu saya bukan orang yang bisa diganggu, kenapa memprovokasi saya? Terlepas dari apapun, dia adalah suami saya yang telah saya nikahi. Terlepas dari asalnya di wisma atau bukan, apa urusannya bagi anda? Saya kira anda iri karena suami anda jelek dan anda tidak bisa membayar pelacur wisma. Apakah begitu?"


Wanita itu terkejut. Terkejut karena Pepi terkenal sebagai pengecut di Daerah Smolage! Dia tidak punya prinsip atau keberanian. Bukan hanya suaminya yang dengan mudah mengendalikan dia, tetapi kenyataannya juga tidak ada yang memandangnya di desa.


Namun, tak terduga hari ini, dia menunjukkan sedikit ketegaran.


Wanita itu juga marah. Kebetulan dia orang yang emosional. Sambil berkacak pinggang, dia menunjuk Pepi dan berteriak, "Iri? Apakah saya harus iri pada seseorang yang mencuri mahar suaminya dan menghabiskannya untuk pelacur?"


Pepi tertawa terbahak-bahak. "Jika kamu tidak iri, maka jangan terus menatap suami orang lain, dan jangan berani menyentuhnya! Dari sikapmu, orang akan berpikir kamu belum pernah melihat lelaki seumur hidupmu."


Wajah wanita itu memerah karena marah. Dia meloncat maju, bermaksud menyerang Pepi. Penonton berpikir bahwa Pepi akan berada dalam masalah. Dengan tubuh mungilnya, dia bahkan tidak bisa mengalahkan suaminya sendiri, apalagi melawan wanita yang kuat ini.


Bahkan Orden pun terdiam kagum. Tidak ada seorang pun yang bisa menyangka bahwa Pepi, dengan tubuh kecilnya, memiliki keterampilan seperti itu.


Pepi bertepuk tangan dan tersenyum sinis, "Kamu meremehkanku, Ya?"


Kamu pikir aku menghabiskan segitu lamanya berlatih bela diri dengan sia-sia? Ketika aku masih muda, aku adalah ketua geng preman di gang kami!


Sayangnya, setelah lulus dari universitas, aku menjadi pekerja yang malang. Aku mengumpulkan uang beberapa tahun untuk membeli mobil kecil, hanya untuk melihatnya terjun ke dalam sungai. Memilukan rasanya!


"Berhati-hatilah dengan kata-kata dan tindakanmu mulai sekarang. Jangan berpikir aku orang yang santai dan bisa kamu hina!" Pepi menghela nafas dingin dan pergi.


Wanita itu terjatuh di atas tanah dengan keras. Dia bahkan tidak bisa bangkit. Penonton spontan terkejut dengan mulut terbuka lebar. Pepi memiliki keterampilan seperti itu sehingga dia bahkan membuat suaminya ketakutan?


Orden dengan cepat mengejar dan berseru dengan antusias, "Sayang, kau luar biasa!"


Pepi mengangkat dagunya dengan bangga dan berkata, "Biasa saja. Ingatlah, aku ada di belakangmu. Tidak ada yang berani mengganggu kamu!"

__ADS_1


Pepi tampaknya telah merasakan kembali rasanya menjadi ketua geng preman. Dia dengan mudah mengucapkan kata-kata tersebut.


Orden mengaguminya. "Oke, Sayang!"


Pepi telah berkelana di desa, menjelajahi ladang, bahkan berani melangkah ke kaki gunung.


Namun, dia tidak bisa menemukan cara untuk menghasilkan uang. Bagaimanapun juga, dia adalah seseorang yang telah bertransmigrasi, jadi seharusnya dia tidak berada dalam kesulitan seperti ini.


"Sepertinya aku perlu pergi mengecek kota."


Pada akhirnya, sudut pandang penduduk desa terlalu terbatas, dan dia tidak mengetahui situasi khusus di sana, apa yang kurang, apalagi potensi untuk menghasilkan uang.


"Aku familiar dengan kota itu! Kita bisa pergi ke sana sekarang!" Seru Orden dengan bersemangat.


"Sekarang sudah agak siang, jadi lebih baik kita kembali dan makan siang dulu. Kita bisa membicarakannya di sore hari."


Pepi ingat kalau dia masih harus merawat orang cacat di rumah.


Orden cemberut dan mengomel, "Kamu masih memikirkan orang lain."


Pepi meliriknya dan bertanya, "Apa, mau berkelahi lagi?"


Orden mendengus, namun ia tetap menurut dan mengejarnya meski sedikit kesal.


Sesampainya di rumah, Pepi langsung menyibukkan dirinya di dapur. Sementara itu, Orden dengan patuh mengikutinya, menjadi tangan kanan Pepi.


Tidak ada banyak bahan makanan di rumah. Minyak dan garam hampir kosong. Beras juga tinggal sedikit. Pepi dengan hati-hati mengambil segenggam beras dan meletakkannya di panci. Ia berpikir akan membuat bubur.


Kemarin malam, mereka menyantap ubi jalar. Lalu, pagi ini, sarapan mereka adalah roti. Jadi, mereka butuh asupan karbohidrat untuk makan siang.


Pepi pergi ke halaman untuk memetik beberapa lembar daun kol kecil, mencincangnya, dan menambahkannya ke dalam bubur. Buburnya dimasak dengan sederhana karena berasnya tidak banyak. Namun, Pepi berusaha untuk membuat makan siang ini cukup variatif dengan mengukus beberapa ubi jalar dan menggoreng sebutir telur.


Saat Pepi selesai memasak hidangan dan membawanya ke ruang utama, dia melihat bahwa Rizqi juga telah kembali. Dia berdiri di pintu, terdiam. Ekspresi di wajahnya seperti sedang melihat hantu.

__ADS_1


__ADS_2