
"Papa, ayo."
"Sebentar, Sayang. Papa ambil kunci mobil dulu."
"Pakai motor saja, Pa."
"Ini sudah malam, tidak bagus untuk kesehatan kamu."
"Padahal biasanya aku juga sering keluar malam, kok."
"Karena ini bukan biasanya, kamu bawa calon cucu Papa itu."
"Sudah, Pa, suruh Jeno jemput Katrina saja. Bandel banget emang anak satu ini." Karina sudah lelah dengan kelakuan saudarinya sejak tadi menyusahkan sang papa.
"Jangan jadi kompor ya kamu." Katrina cemberut.
"Aku manusia tuh ...." Jawab Karina tidak mau kalah.
"Nah, itu, lihat pasangan kalian masing-masing. Emang biasanya begini ya kalau sedang kumpul?" Saudari kembar itu kompak menoleh kepada Chanyeol yang mengarahkan ponselnya kepada mereka berdua.
"Papa telpon siapa?" Tanya Karina.
"Siapa lagi?" Tanya Chanyeol balik.
"Biasanya tidak seperti itu kok, Pa. Tegur saja kalau mereka bandel." Suara Jeno menimpali.
"Dih, kok aku juga kena?" Karina sewot tidak terima.
"Oh jelas, kita kan kembar." Jawab Katrina dengan bangganya.
"Mama, lihat putri Mama satu itu, kerjaannya bikin pusing orang saja." Adu Karina melihat mamanya turun dari lantai atas.
"Mama lapar mau masak. Kalau mau berantem mending di lapangan sana." Jawab mama Wendi acuh. Dulu suami saja putrinya yang biang ribut, sekarang suami dengan si kembar, tambah satu personil lagi. Jangan saja nanti cucunya juga ikut-ikutan. Yang ada Wendi bisa gila.
"Memangnya mau ke mana, Pa?" Tanya Mark.
"Biasa, ibu hamil satu itu, katanya ingin jalan-jalan sambil beli cemilan. Biasanya dulu mana mau dia pergi sama Papa." Chanyeol sedikit menyindir Katrina yang dulu sangat anti padanya. "Jangan-jangan cucu Papa perempuan lagi, makanya suka dekat-dekat sama Papa. Papa kan ganteng." Kata Chanyeol dengan nada yang sangat percaya diri.
__ADS_1
"Menurut Mama saja kali Papa ganteng." Sindir Katrina balik. Memang, papanya ini entah kenapa suka sekali mengganggunya.
"Tapi benar sih, Papa memang ganteng." Ungkap Karina jujur. Bahkan dia masih tidak menyangka punya ayah kandung sesempurna ini. Kalau statusnya bukan anak kandung, dan dia seorang wanita karier, kalau dijodohkan dengan orang modelan papanya ini, Karina tidak akan menolak pasti.
"Karina memang putri tercinta Papa."
"Dih!" Katrina lelah dengan drama ini. "Jadi, kapan kita perginya? keburu semakin malam nanti." lanjut Katrina mengingatkan.
"Karina siap-siap juga sana, kita pergi bertiga." Chanyeol mematikan panggilan telepon dengan menantu dan calon menantunya. "Papa mau tanya mama dulu ada tidak yang mau mama dititip."
Katrina yang memang sudah siap dari tadi, ia mengistirahatkan tubuhnya sebentar, akhir-akhir ini dia mudah sekali lelah, padahal perutnya belum terlalu besar, dan itu sudah banyak mempengaruhi kebiasannya.
Ting ...
Suami Karin
Hati-hati di jalan. Jangan bandel, jangan jauh-jauh dari papa.
Katrina membaca pesan itu, dia menghela napas, dia belum terlalu terbiasa diperhatikan begini sama orang. Biasanya dia suka bikin papa sama mamanya pusing. Pokoknya dia di cap bar-bar sekali oleh keluarganya. Eh sekarang, tidak ada habis-habisnya dia diperhatikan dan diingatkan begini, ada sesuatu yang janggal di hatinya, namun, bersamaan dia juga merasa ada perasaan hangat dalam hatinya.
"Sebenarnya, kamu itu sudah berstatus istrinya Jeno juga. Sebut saja suamimu." Ucap Karina santai. Dia sudah berpenampilan rapi, lalu duduk di samping kembarannya.
Katrina yang mendengar itu merubah posisi duduknya jadi menyamping, menghadap kearah kembarannya. Ia menatap sang kembaran serius. "Coba jujur padaku, sebenarnya kamu ada rasa cemburu kalau aku dekat Jeno tidak sih?"
"Hm, sebenarnya aku juga masih bingung sama perasaanku sendiri. Kalau dibilang cemburu sepertinya tidak, biasa saja. Mungkin juga karena aku bisa melihat apa yang kamu lihat, jadi, aku merasa aku selalu di dekat Jeno."
"Masih belum menjawab pertanyaan ku."
"Ya mau bagaimana lagi. Situasi kita saja masih belum jelas." Ujar Karina. "Lalu, perasaan mu dengan Jeno dan Mark Oppa bagaimana? Kamu kan dekat dengan Mark Oppa selama ini." Gantian Karina yang bertanya, dia juga penasaran ngomong-ngomong. walaupun mereka berdua bisa berbagi penglihatan, tapi urusan hati beda cerita.
"Mark Oppa ya .... Selama ini kalau dekat dengan Mark Oppa aku merasa nyaman saja. Dia pengertian, atau saat aku membuat masalah, dia memberi penjelasan kalau yang aku lakukan tidak benar atau berbahaya buat diriku, tidak seperti papa, malah aku diomelin." Dengus Katrina kesal. Papanya itu memang musuh bebuyutan abadinya.
"Lalu Jeno?"
"Kalau Jeno, kalau nyaman juga iya, kadang dia tiba-tiba melintas dalam pikiranku tanpa sebab, kadang juga kalau bertemu dia mengesalkan, tapi aku tidak bisa marah lama. Entah ini maksudnya bagaimana."
"Sepertinya itu gejala jatuh cinta deh." Gumam Karina, yang tentu masih di dengar Katrina.
__ADS_1
"Mungkin." Katrina mengidikkan bahunya, dia juga tidak yakin. "Memangnya kamu dengan Jeno bagaimana? kan kalian saling mencintai."
"Seperti aku ingin selalu mendekapnya." Jawab Karina tanpa pikir panjang.
"Kalau itu mesum namanya."
"Mana ada!" Salak Karina kesal, "aku cuma ingin memeluknya kok."
"Halah ...." Katrina mengibaskan tangannya tidak perduli.
"Kalian itu membahas apa? suaranya sampai terdengar samar dari dapur." Chanyeol bersedekap dada, menatap si kembar lelah. Entah kenapa hari ini dia lelah sepanjang hari.
"Kalau orang sedang jatuh cinta, lalu ingin memeluk orang yang dicintai terus, itu namanya bukan mesum kan, Pa?"
"Lho, jelas bukan!" Bantah Chanyeol mentah-mentah. "Malahan itu sesuatu hal yang menyenangkan tanpa ada unsur mesumnya. Kalau mesum itu, sampai berhubungan setiap saat, seperti tidak ada hari esok saja."
Katrina melongok mendengar papanya menjelaskan dengan menggebu-gubu begitu.
"Cocok sekali ya kalian berdua menyudutkan aku." Katrina membuang muka seolah merajuk.
"Cup, cup .... Ada bayi ngambek." Chanyeol menepuk-nepuk pelan kepala Katrina. "Kalau kamu ngambek begini, kita tidak jadi keluar, lho."
"Mana bisa begitu." Tolak Katrina. "Ayo kita pergi." Katrina beranjak dari duduknya, kemudian dia berjalan duluan. Enak saja main membatalkan tiba-tiba. Huhuhu .... Katrina jadi kangen Jeno.
"Kita mau ke mana dulu?" Tanya Chanyeol.
"Aku mau odeng, Papa. Tapi kita bukan ke restoran atau mall lho ini." Katrina sudah mewanti-wanti. Biasanya papanya suka ke tempat mewah terus.
"Oke. Demi calon cucu Papa, apa sih yang tidak bisa Papa turuti." Timbal Chanyeol bangga. Pokoknya dia harus lebih unggul daripada besannya.
"Ngomong-ngomong, kita belum pernah menginap di rumah daddy Jay." Karina mengingatkan Katrina.
Lho, pas sekali dengan pikiranku, batin Chanyeol yang mulai was-was.
"Iya, ya .... Kita bertemu di rumah Jeno terus sih. Aku jadi lupa."
"Habis menginap di sini, kita tempat daddy Jay." Final Karina.
__ADS_1