Tukar Raga Saudari Kembar

Tukar Raga Saudari Kembar
Karina Katrina 23


__ADS_3

Sampai ke rumah, mereka bertiga langsung membersihkan diri sebelum melakukan kegiatan yang lain. Jeno tidak mengizinkan menunda-nunda, alhasil nanti hari makin larut, dan itu tidak baik jika mandi tengah malam. Mereka bertiga menempati kamar yang sama, pun di depan pintu masih ada ukiran 'Karina Lee' dengan lambang angsa putih.


Jeno tanpa ada rasa malu mandi dengan pintu kamar mandi terbuka lebar, membiarkan si kembar bolak balik masuk kamar mandi, entah untuk cuci wajah, gosok gigi, bahkan membersihkan diri. Hanya membersihkan diri tanpa menyiram air ke tubuh, Jeno melarang mereka.


Sekian menit kegiatan tersebut berlalu, akhirnya kini mereka berbaring nyaman di ranjang dengan Jeno tidur di tengah, antara si kembar.


"Kalian benar-benar tidak terluka atau mengalami trauma, kan?" Tanya Jeno kembali. Dia masih belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya.


"Tadi kamu sudah lihat sendiri, kan, tidak ada apa-apa kok." Timbal Katrina.


"Itukan tampak dari luar." Jawab Jeno, dia tetap kekeh.


"Kalau orang trauma tidak akan setenang ini sih menurutku." Celetuk Karina.


Kalau dipikir-pikir benar juga, batin Jeno.


"Aku sudah mengantuk," lirih Katrina. Matanya kembali berair menahan kantuk.


"Tidurlah kalau begitu." Jeno membenarkan selimut menutupi Katrina sampai ke bahu, takut-takut ibu hamil itu kedinginan lalu jatuh sakit. "Kamu belum mengantuk?" Jeno beralih kepada Karina.


"Ntahlah, kalau di pejamkan beberapa menit mungkin saja tertidur."


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan? Bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Oh ya, menurut kamu bagaimana dengan keadaan kita saat ini? Maksudku, apa kamu tidak keberatan dengan hubungan kita seperti ini? Kamu tahu sendiri kan hubungan kita ini mau bagaimanapun terlihat tidak normal di mata orang-orang." Kata Karina. Walaupun dari awal Jeno bilang tidak masalah dengan keadaan seperti ini, tetap saja dia merasa khawatir.


Jeno mengulas senyumnya sebelum menjawab. Dia mengerti rasa khawatir yang timbul dari pasangannya itu, memang, dilihat bagaimanpun mereka tampak aneh. Tapi mau bagaimana lagi, mereka berdua sudah menjadi satu kesatuan.


"Kan sudah aku katakan dari awal, di mataku kalian berdua itu sama. Jiwa kamu ada di tubuh Katrina, jiwa Katrina ada di tubuh kamu, kalian itu satu bagiku, dan apa bila dipisahkan, itu lebih aneh lagi, karena aku kehilangan sebagian. Terlebih calon anak kita tengah berkembang saat ini." Jelas Jeno sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa khawatir perempuan yang tentu saja masih berstatus sebagai istrinya.


"Iya ya, tanpa salah satunya memang terasa kurang." Gumam Karina. "Ngomong-ngomong, kamu seperti punya dua istri, lho, Jen."


Tiba-tiba Jeno terkekeh pelan. "Aku sepertinya beruntung sekali." Ucapnya dengan bangga.


"Laki-laki memang suka sekali poligami, dasar." Desis Karina.

__ADS_1


"Eh, kalau aku beda cerita, ya." Elak Jeno. Dia tidak akan poligami kalau tidak terpaksa.


"Halah, alasan."


"Itu hanya tak tik saja, walaupun ya, aku tetap menyentuh dia." Ucap Jeno pelan diakhir kalimat.


"Potong saja adik kesayangan Jeno, Rin." Celetuk Katrina tiba-tiba. Walau begitu, matanya tetap terpejam.


Lalu Jeno menatap Katrina dengan pandangan horor.


"Sepertinya ide yang bagus." Timbal Karina. "Kamu sudah main dengan tiga perempuan, Jen. Serakah sekali. Mana semuanya suka rela lagi."


"Y-ya, kan, semuanya berstatus istri, jadi tidak salah." Ucap Jeno membela dirinya.


"Aku belum jadi istri kamu ya kalau kamu lupa." Celetuk Katrina lagi.


"Kan aku tidak tahu tadinya." Jeno mengerutkan keningnya, ia tidak ingin dipojokkan.


"Jadi kalau sekarang ditawari main bersama apa kamu tidak akan menolak?" Karina memiringkan tubuhnya menghadap ke Jeno. Ia menampilkan ekspresi menantang pria itu.


Karina mengidikkan bahunya, "tidak juga. Aku cuma ngomong kok."


"Halah, bilang saja kalau mau." Balas Jeno menantang.


"Kalian kalau mau lanjut mending cari kamar lain." Katrina kembali membuka matanya. Tidak bisa dia mendengar obrolan aneh seperti ini.


"Kenapa harus pindah? kamu juga kan ikut." Ucap Jeno santai tanpa ada rasa malu sedikitpun. Maklum, urat malunya mungkin sudah putus.


"Kamu yang keenakan!"


Buk!


Karina memukul Jeno dengan bantal. Sebal sekali rasanya.


"Aku cuma menawari solusi yang terbaik dan adil. Siapa tahu kalian mau." Jawab Jeno tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Menurutnya itu ide yang paling bagus dan adil tentu saja.

__ADS_1


"Dasar mesum." Desis Katrina.


"Salah lagi." Jeno menghela napas. Laki-laki memang selalu salah di mata perempuan.


"Sudah-sudah, tidur. Ini sudah tengah malam." Suruh Karina. Dia sudah membenarkan posisi tidurnya. "Kalau kamu mau ya nikahi dulu Katrina." Ucap Karina lagi.


Jeno berbaring terlentang dengan menerawang langit-langit kamar. Lalu ia bergumam, "bagaimana kalau akhir Minggu ini, ya?"


"Kamu sakit, Jen." Katrina menempelkan punggung tangannya di dahi Jeno. "Tidak panas." Tuturnya.


"Kalian iseng banget." Ucap Jeno dengan ekspresi menyedihkan. Ternyata punya istri dua dan akur itu ada sisi buruknya juga.


Si kembar malah tertawa lepas, membuat Jeno semakin menekuk bibirnya ke bawah.


"Calon daddy jangan sedih." Katrina menepuk-nepuk kepala Jeno pelan.


"Lagian masih ada hari besok dan seterusnya, hari ini kita semua kelelahan, dan itu tidak bagus untuk memulai hari besok." Ucap Karina lembut. Ia mendekat lalu memeluk suaminya, pun dengan Katrina ikut memeluk dari sisi yang berbeda. Katrina memang tidur menyamping semenjak usia kandungannya sudah semakin tua.


"Selamat tidur." Jeno balik mendekap dua perempuan itu dengan senang hati.


...🕊️...


Pagi buta kediaman keluarga Lee lebih tepatnya kamar utama yang ditempatin oleh tiga orang dengan status masih dipertanyakan itu tampak gaduh. Pasalnya sang kepala keluarga sibuk mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi sejak beberapa menit yang lalu. Kedua perempuan itu tentu saja ikut terjaga karena demi apa pun keadaan memang seheboh itu.


"Kamu kenapa sih, Jen? Salah makan atau memang tidak makan kemarin?" Karina berjongkok di samping Jeno dengan mengurut leher Jeno perlahan. "Tapi tubuh kamu tidak panas."


"Ini minum dulu." Katrina menyodorkan gelas, dia berdiri di samping Jeno. Katrina agak takut jika harus ikut berjongkok, perutnya sedikit mengganjal dan dia terlalu parno. Takut saja terlalu menekankan perut lalu mengakibatkan pendarahan lagi.


"Kamu tidak usah ke kantor hari ini. Kita ke rumah sakit sudah sarapan nanti." Tutur Karina. "Kamu temani Jeno saja, aku mau buat sarapan dulu." Pinta Karina kepada saudarinya.


Katrina mengangguk dengan menggandeng Jeno yang terlihat lemas kembali ke ranjang. "Kamu tiduran lagi saja. Pejamkan matanya." Suruh Katrina. "Kepala kamu pusing tidak?"


Jeno menggeleng, "cuma mual saja." Jawabnya lemah.


Katrina mengambil minyak angin di atas narkas, lalu dia duduk di tepi ranjang samping Jeno. Ia membuka baju piyama Jeno, lalu tangannya dengan telaten membaluri minyak itu merata di perut Jeno. Terakhir, Katrina mengoleskan sedikit minyak angin di ujung hidung Jeno. Semoga saja aromanya bisa meredakan rasa mual yang Jeno rasakan.

__ADS_1


...🕊️...


__ADS_2