Tukar Raga Saudari Kembar

Tukar Raga Saudari Kembar
Karina Katrina 22


__ADS_3

Chanyeol dari tadi cuma diam saja walaupun dia di gandeng kiri kanan oleh putri kembarnya. Alasannya, kedua putrinya itu tidak terima jika banyak yang melirik-lirik ke arah papa katanya, Chanyeol yang memang merasa ganteng sih senang-senang saja, tapi kedua putrinya malah tidak terima. Jadilah dia berada ditengah-tengah.


"Kita duduk sini saja, Pa." Karina menunjuk tempat duduk kosong tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tempat di depannya yang jual sate ayam.


"Ya sudah kalian duduk saja dulu, Papa yang pesan." Suruh Chanyeol.


"Aku saja deh yang duduk, kakiku kayaknya agak pegal sedikit, kamu temenin Papa sana."


"Oke. Kamu jangan kemana-mana." Peringat Karina.


"Iya, lagian kalian tidak lebih dari dua meter begitu."


"Siapa tahu kamu malah diam-diam pergi." Karina berbalik menyusul sang papa yang sudah memesan untuk mereka. Karina memeluk lengan sang papa, lalu menyenderkan kepalanya di bahu papanya.


"Ngapain ikut ke sini, duduk saja coba." Heran Chanyeol. Dia tidak akan di goda orang juga, sampai segininya dia di jaga. Ada-ada saja kelakuan anak-anak.


"Lho, aku cuma mau bermesraan sama Papa, kok." Elak Karina.


"Iya deh, Papa percaya."


"Papa pesan berapa tusuk?"


"Cuma dua, buat kalian saja, Papa kurang tertarik sama ayam." Karina ngangguk mengerti.


Beberapa menit kemudian, pesanan mereka sudah siap. keduanya menyusul ke tempat Katrina duduk. Sebenarnya, meja mereka sudah penuh oleh makanan yang mereka beli tadi, barulah mereka mencari tempat duduk sekarang.


"Akhirnya kita makan~" Katrina berseru senang, matanya sudah berbinar-binar seakan ada bintang di sana.


"Coba deh cumi-cumi bakarnya." Karina menyodorkan kepada Katrina. Katrina tentu saja membuka mulutnya dengan senang hati. "Menurutku sih lumayan enak." Lanjutnya.


Katrina ngangguk mengiyakan. "Agak kematangan sih, tapi tetap enak." Komentar Katrina.


"Papa nih coba juga, masa liatin kami makan. Nih coba Odeng." Chanyeol membuka mulut menerima suapan Karina.


"Papa tuh sering makan di restoran, lidah Papa kurang cocok sama rasa di sini." Beber Katrina, dia cari kesempatan buat mencari masalah dengan papanya itu.


"Papa kan sibuk, tidak punya waktu untuk keliling begini." Alasan Chanyeol.


"Aku percaya kok, Pa." Timbal Karina.

__ADS_1


Chanyeol menyipitkan matanya menatap Karina. "Tapi kamu kelihatannya tidak percaya."


"Benar, percaya kok aku."


Katrina terkekeh geli melihat ekspresi papanya. lucu sekali, Katrina tidak pernah bosan untuk mengganggu papanya itu.


Waktu berlalu dengan cepat. Mereka sudah menghabiskan semua makanan yang ada di meja, bahkan perut mereka rasanya sudah menjerit tidak ingin di isi lagi, kecuali satu-satunya pria di sana, dia cuma makan seadanya, itu pun yang di sodorkan oleh anak-anak kepadanya.


"Pulang yuk, aku mengantuk." Memang kalau perut kenyang pasti mengantuk, rasanya mata Katrina tidak bisa terbuka dengan lebar lagi.


"Sebelum pulang ada yang mau di beli lagi tidak?" Tanya Chanyeol.


Karina dan Katrina kompak menggeleng. Ketika sudah kenyang, lalu membahas sesuatu yang diinginkan, maka kebanyakan jawabannya adalah tidak. Seperti sudah ada di dunia lain saja.


"Aku mual kalau maksud Papa itu adalah makanan." Timbal Karina.


"Ayo pulang kalau begitu."


...🕊️...


Sepanjang perjalanan keadaan mobil hening, Katrina bahkan sudah memejamkan matanya, tinggal Chanyeol dan Karina yang terjaga, pun karena Chanyeol menyetir dan Karina yang tidak ingin meninggalkan papanya sendirian menyetir. Situasi terasa nyaman-nyaman saja sebelum Chanyeol menyadari ada mobil yang sepertinya mengikuti mereka.


"Ada yang mengikuti kita?" Katrina mencoba melihat mobil yang mendekati mobil mereka.


"Seperti biasa, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan." Jawab Chanyeol. "Karina bisa gantikan Papa menyetir?" Tanyanya.


Karina yang sadar dari keterkejutannya mengangguk. Keduanya hati-hati dalam bertukar posisi duduk. Sedangkan Katrina sudah membuka barang persediaan yang selalu ditempatkan di dalam mobil siapa tahu ada situasi mendesak seperti saat ini.


"Aku ambil sebelah sini." Tutur Katrina. Ia membuka kaca mobil sebelum melepaskan tembakan ia memperingati Karina untuk tidak terkejut, lalu membuat mereka bisa celaka.


Dor


Dor


Katrina melepaskan tembakan bersahutan-sahutan dengan balasan dari musuh di belakang. Karina yang menyetir sebisa mungkin menghindar dari mobil yang mendekat, lalu menambah kecepatan mobil semampu yang dia bisa. Lagian, kenapa ada kejadian begini malah jalan begitu lenggang, jadi tidak ada tempat untuk bisa menghalau mobil di belakang.


Dor


Brak!

__ADS_1


Chanyeol berhasil melumpuhkan satu mobil yang kini menabrak trotoar jalan.


Tidak lama dari itu ada mobil lain yang menghalangi mobil yang mengejar mereka. Lalu terdengar suara tembakan yang menyebabkan pengemudi mobil di belakang tertembak hingga mobil itu kehilangan kendali mengakibatkan mobil terguling di aspal.


"Itu mobil Jeno." Gumam Katrina. "Pelankan mobilnya, Rin." Pinta Katrina.


Kemudian mobil itu melaju tepat bersampingan dengan mobil mereka, lalu kaca mobilnya terbuka menampilkan Jeno di dalam. Jeno mengisyaratkan kepada Katrina untuk segera menepi.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Jeno dengan wajah panik yang ketara. Ia sibuk memeriksa tubuh Karina maupun Katrina.


"Kamu bawa mereka pulang, Jen. Papa mau mencari tahu siapa mereka. Kebiasaan mengganggu kesenangan orang saja." Dumal Chanyeol. Untung tidak banyak yang mengikuti, dia khawatir karena satu putrinya tengah hamil, dan satunya belum terlatih menghadapi situasi seperti barusan.


Jeno ngangguk mengiyakan. "Nanti beri aku kabar, Pa." Pinta Jeno.


"Tentu."


"Ayo masuk." Ajak Jeno, menuntun keduanya masuk ke dalam mobil. "Apa kita ke rumah sakit sebentar, periksa." Tawar Jeno. Dia melihat kedua wanita yang sudah duduk di kursi belakang.


"Tidak usah. Kami baik-baik saja, kok." Tolak Katrina.


"Langsung pulang saja, Jen. Takutnya ada yang mengikuti lagi." Ucap Karina.


"Kalau ada keluhan langsung beritahu aku, mengerti?" Peringat Jeno kepada keduanya.


"Mengerti." Jawab keduanya kompak.


"Tidak usah antar ke rumah papa, Jen, pulang ke rumah kita saja." Pinta Karina.


Jeno ngangguk mengiyakan. "Sudah, kalian tidur saja, nanti ku bangunkan kalau sudah sampai."


Katrina yang sudah kepalang terkejut tidak bisa tidur lagi. Dia cuma diam memandang ke depan. Di kepalanya menebak kira-kira siapa itu tadi? Pasti karena mereka sudah memata-matai sedari tadi, lalu bersaksi ketika mereka tahu diantaranya ada yang lemah. Tentu saja mereka tahu seperti apa Karina yang tidak terlatih yang merupakan istri Lee Jeno.


Dulu sebelum ketahuan, Karina tidak akan menjadi incaran walaupun itu musuh bisnis Jeno sendiri. Karina tidak pernah keluar jauh dari rumah kalau bukan dengan Jeno dan dengan pengawalan jika pergi tanpa Jeno. Musuh Karina sudah ada di dalam rumah itu sendiri.


Hah .... Karina memang harus terbiasa.


...🕊️...


Note

__ADS_1


Ini mengetik kilat, jadi mohon maaf jika ada typo.


__ADS_2