
Rasanya keadaan Jeno masih belum membaik, setelah selesai sarapan pun Jeno kembali merasakan mual, alhasil semua isi lambung kembali keluar. Wajah Jeno sudah pucat pasih, pun dia seperti kehilangan tenangnya. Tidak mau hanya menerka-nerka apa yang terjadi, Karina dan Katrina memutuskan untuk membawa Jeno ke rumah sakit. Sebelum mereka meninggal kediaman Lee, mobil Mark masuk ke pekarangan, dan itu membuat niat mereka tertunda.
"Kalian mau ke mana?" Mark melongok lewat kaca mobil yang terbuka.
"Kami mau ke rumah sakit memeriksa Jeno. Oppa ikut saja kalau tidak ada pekerjaan mendesak." Timbal Katrina.
"Jeno sakit?" Mark melirik Jeno yang terlihat lemas seperti hidup segan mati tak mau. Tumben sekali dia sakit sampai segitunya.
"Pak, saya saja yang antar." Ucap Mark kepada supir pribadi Jeno.
"Baik, Tuan."
Mark masuk menggantikan posisi supir. "Tolong parkiran mobil saya, ya." Pintanya kepada pak supir.
Karina yang semula duduk di belakang, pindah jadi duduk di depan, Mark kan bukan supir, tidak enak kalau cuma dia di depan. Jadi Jeno bersandar lemas dengan Katrina mendekap dirinya.
Selama perjalanan ke rumah sakit disambut keheningan, Jeno yang nampaknya mudah sekali terusik, pun gejala mual nya kian menjadi.
Sampai rumah sakit Jeno langsung dilarikan ke UGD. Ketiganya menunggu di ruang tunggu. Saking khawatirnya Karina sibuk bolak balik sampai Mark menariknya untuk duduk.
"Jeno tidak keracunan atau makan-makanan expired, kan?" Tanya Katrina.
"Seorang Jeno mana mungkin makan sembarangan, Rin. Kecuali dia diracuni dengan sengaja. Tapi kalau memang kerancuan sepertinya gejalanya bukan seperti itu." Timbal Katrina.
Diam-diam Mark menghubungi sekretaris Jeno menanyakan apa yang dikonsumsi Jeno kemarin. Dan jawabnya kalau dia mesan makanan di restoran langganan bosnya itu.
"Sepertinya bukan kalau diracuni." Ucap Mark, "memang imunnya sedang turun saja." Lanjutnya menenangkan keduanya.
"Ya, semoga saja." Gumam Karina.
Beberapa saat menunggu akhirnya dokter selesai melakukan pemeriksaan. Namun wajah dokter terlihat kebingungan yang mana membuat ketiganya juga tampak bingung.
"Suami saya sakit apa ya, Dok?" Tanya Karina.
"Pasien mengeluh mual tapi tidak ada riwayat gerd ataupun asam lambung. Atau--" Mata sang dokter melirik perempuan yang juga berdiri di dekatnya. "Apa istri pasien tengah hamil?" Tanyanya.
__ADS_1
"Iya, saya hamil, Dok." Jawab Katrina.
Dokter bingung yang bilang istri siapa, yang hamil siapa. Tapi toh itu bukan urusannya. "Saya sarankan coba konsultasi ke dokter kandungan. Ini terdengar aneh, tapi kasus seperti ini pernah terjadi. Pasien bisa saja mengalami fase morning sickness."
Yang mendengar tentu saja tertegun. Masa iya sih? Masalahnya ini bukan lagi diawal kehamilan, sudah jalan bulan ke 5 kok.
"Baik kalau begitu, Dok. Terima kasih bantuannya." Ucap Mark.
"Nanti bisa langsung ke dokter kandungan setelah cairan infusnya habis. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Silahkan, Dok."
"Masa sih?" Katrina masih menolak percaya.
"Kamu pas hamil muda pernah mengalami morning sickness tidak?" Tanya Karina.
"Hm, seingatku tidak. Ngidam pun aku alami setelah bertemu denganmu." Tutur Katrina.
"Kata dokter kandungan tempat kamu periksa apa?" Tanya Mark.
"Ya tidak apa-apa, selagi ibu dan calon bayi sehat-sehat saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Coba aku tanya jadwal jam dokternya dulu. Kita tidak ada janji masalahnya." Katrina merogoh ponselnya di dalam tas, ia menanyakan jadwal secara pribadi. Karena Jeno cukup dekat dengan sang dokter jadi Katrina tidak sungkan untuk bertanya.
"Ayo kita masuk dulu, kasihan Jeno sendirian." Ajak Karina. "Oppa sudah ini langsung pergi ke kantor saja. Aku juga mau menanyakan jadwal kepada sekretaris Jeno apakah ada jadwal penting hari ini."
Mereka masuk ke dalam dengan Jeno yang memejamkan matanya, pun tangannya tengah dipasang infus. Tentu saja dia kekurangan cairan, toh semuanya dia keluarkan tadi.
"Sudah ini kita ke dokter kandungan ya, kenalan kamu ada jadwal satu jam lagi." Katrina memberi tahu Jeno.
"Kok ke sana?" Tanyanya dengan suara yang terdengar lemah.
"Dokter curiga kalau keadaan kamu ini bawaan bayi." Jelasnya.
"Huh?"
__ADS_1
"Sudah tidak usah dipikirkan."
"Kamu tidak usah datang bekerja hari ini. Biar aku yang menggantikan. Kalau ada hal mendesak yang harus kamu tangani, nanti aku jelaskan, dan kamu cukup mendengar dan beri keputusan. Kasihan sekretaris kamu keteteran." Ucap Karina kepada Jeno.
"Kalau mau ke kantor sekalian saja sama aku. Jangan pergi sendiri."
"Ah benar, sama Mark Oppa saja, Rin. Nanti aku kabarin hasil pemeriksaannya." Tutur Katrina.
Karina mengangguk, "aku pulang dulu siap-siap." Pamitnya. "Semoga cepat sembuh, ya ...." Karina mengelus rambut Jeno pelan.
Jeno ngangguk lemah, "hati-hati."
"Kami pulang dulu."
"Iya, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Peringat Katrina.
"Nanti aku suruh pak supir jemput kalian." Ucap Karina sebelum menghilang dari pandangan.
Perhatian Katrina balik ke Jeno. "Kamu tidak ingin memakan sesuatu gitu?" Tawarnya.
"Aku tidak kuat kalau harusnya mengeluarkannya lagi."
"Mau bagaimana lagi, masa kamu tidak makan, Jen."
"Nanti saja, tunggu hasil pemeriksaan."
"Oke."
...🕊️...
"Biasanya memang morning sickness terjadi diawal kehamilan, akan tetapi tidak menutup kemungkinan juga sekarang. Memang tidak ada hasil penelitian yang menunjukkan jelas kenapa sang ayah yang merasa morning sickness, hal ini sudah cukup sering terjadi. Kalau kata orang, itu merupakan efek sang ayah begitu mencintai ibu dan bayinya. Jadi selagi keadaan sang ayah baik-baik saja, bisa jadi itu memang penyebabnya. Aku akan meresepkan obat pereda mual nanti." Jelas sang dokter.
"Terdengar aneh, tapi Jeno memang baik-baik saja."
Dokter tersenyum mendengar respon pasiennya. "Ya begitulah .... Efek kehamilan terkadang memang aneh."
__ADS_1
Katrina merasa lega walaupun dia masih cukup aneh dengan penyebab Jeno jadi lemas begini. Tapi mau tidak percaya bagaimana? Buktinya Jeno memang baik-baik saja.
...🕊️...