
Keesokan hari nya.
Amanya berdiri di depan cermin dengan wajah datar dan malas nya, kemudian menatap lemari yang penuh dengan baju baju kuno.
Amanya menggeram kesal, " Agghh.. kalau seperti ini siapa yang akan mau dengan ku, kuno sekali. Sama sekali tidak ada gaun yang bagus di tubuh cantik ku " ucap Amanya kesal luar biasa.
Tak lama Ema masuk kedalam kamar Amanya.
Amanya menatap horor melihat Ema yang masuk tanpa mengetuk dulu, sebab saat ini diri nya masih memakai handuk.
" Ck, ketok dulu kek.. apa kek gitu, main nyelonong masuk aja " Dengus Amanya kesal.
" Heheh.. maaf kan aku putri, apa putri perlu bantuan ku? " Tanya Ema tersenyum manis.
" Haiss.. tidak, kau keluar saja sana. Apa yang kau tau tentang perawatan tubuh ku " Ucap Amanya remeh.
" Wahh apa sekarang putri meremehkan kemampuan ku? Selama ini siapa yang membuat kulit putri seputih susu dan selembut sutra itu kalau tidak aku? Bahkan rambut putri berkilau atas bakat ku " Ucap Ema menyombongkan diri.
__ADS_1
Amanya mengernyit kemudian menatap kulit nya, yah.. gadis kecil ini mengatakan kebenaran. Pantas saja dia sesombong itu.
" Ehem.. baik lah, kalau gitu coba kau pilihkan aku gaun yang bagus untuk ku pakai ke kerajaan tetangga " Baik lah, apa gadis kecil ini mampu menyombongkan diri nya kali ini? Sebab di dalam lemari itu kuno semua.
Ema membuka satu lemari lagi, mata Amanya langsung membulat melihat pemandangan itu.
" Ini gaun khusus yang biasa nya putri pakai untuk acara resmi dan juga menghadiri acara penting " Ucap Ema tersenyum manis.
Amanya tersenyum masam, kenapa di ingatan nya tidak pernah menangkap di mana letak barang penting itu? Padahal itu barang nya dan milik nya, Amanya mengambil satu gaun berwarna hitam dan juga selendang dengan warna yang sama.
Ema mengernyit, tidak.. Putri nya tidak biasa nya memakai warna hitam di dalam acara penting seperti ini.
Amanya memandang Ema datar, " Suka suka gue, urusan lo apa " Ucap Amanya kemudian masuk kedalam ruangan pemandian untuk memakai baju nya.
Ema melongo dengan jawaban Amanya yang terlihat asing.
Tak lama Amanya keluar, yah.. Ema memang sudah melihat Amanya memakai nya sebelunya. Tapi entah kenapa untuk kali ini terasa berbeda, seperti bukan Amanya junjungan nya yang memakai, namun dewi fortuna yang sangat cantik.
__ADS_1
Amanya duduk di depan cermin, mulai mempermak wajah nya seorang diri. Ema hanya diam di belakang Amanya sambil memperhatikan gadis itu memoles wajah nya dengan hati hati.
Di dalam hati Ema, " Sejak kapan Putri bisa merias wajah nya sebaik ini? Bahkan aku pun tidak tau dengan teori ini? Apa yang terjadi dengan Putri? " Gumam Ema heran dan bertanya tanya tentang perubahan Junjungan nya itu.
Tak sampai setengah jam wajah cantik Amanya kini terpoles rapih dan sangat menawan. Wajah cantik nya semakin cantik berkali kali lipat. Mengambil selendang itu, melilit kan ke pinggang membentuk seperti pita.
Setelah itu rambut nya di gerai bebas, dengan sedikit pernak pernik di dahi, melingkar seperti huruf U di dahi mulus nya.
Ema terkesima dengan wajah cantik Amanya, sungguh luar biasa junjungan nya ini merombak diri. Sangat cantik, sederhana namun alegan.
Memakai sendal hak, yang sudah di sedia kan, dengan mahkota kecil permata hitam stay di atas kepala Amanya.
" Waw Putri, anda sangat luar biasa, aku tidak pernah mengetahui kalau anda bisa sehebat ini merias diri " Ucap Ema tersenyum haru dengan perubahan junjungan nya.
Amanya tersenyum sambil menatap pantulan diri nya di cermin.
" *Memang itu lah tujuan ku "
__ADS_1
Tbc*