
" Ck, lupakan! " Ucap Amanya membuang kain itu kesal, dia kira kain itu milik Ema, eh rupanya dari gorden, yang Amanya sendiri tidak tau sudah di cuci atau tidak.
Ema memungut kain itu kembali, " Kalau tidak begini, anda tidak bisa turun nona " Ucap Ema tersenyum santai.
Amanya mendengus, merampas kain itu dengan muka kesal.
" Aku akan beli cadar sekalian di bawah, agar kain ini cepat menyingkir dari wajah mulus ku! " Ucap Amanya kesal dan memasang kain itu menutupi separuh wajah nya.
" Terus lewat kemana? " Tanya Amanya setelah melihat sekeliling, gak mungkin lewat jendela kan? Liat tinggi nya aja udah buat Amanya merinding, kalau lewat pintu yang ada menjadi pusat perhatian orang dan akan di tanya tanya yang membuat nya tidak jadi pergi ke pasar malam.
" Ya mau bagaimana lagi nona, jalan satu satu nya ya lewat jendela "
" Ngawur kamu, setinggi itu ya kali aku lompat, yang ada patah kaki ku, kalau misal nya nih udah berhasil ke bawah, naik nya juga aku bingung! Kau kira aja itu semua " Rocos Amanya frustasi, akhir nya duduk di kasur nya dengan muka melas.
" Ayolah Nona, setidak nya ada celah untuk nona bergantungan untuk turun, dan memanjat untuk naik " Ucap Ema setelah melirik kebawah dari jendela kamar.
Amanya menaik kan sebelah alis nya, berjalan menghampiri Ema dan melirik ke bawah, seketika senyum Amanya terbit.
" Dari tadi kek ma, hehe.. " Ucap Amanya semangat, langsung ancang ancang untuk turun ke bawah.
" Hati hati Nona cantik " Goda Ema sambil terkekeh kecil.
" Hm, jangan lupa makan makanan ku ya, setelah itu kembali kan piring nya ke dapur, bersikap lah netral sama seperti aku ada di dalam kamar " Ucap Amanya yang langsung di sambut anggukan mengerti oleh Ema.
Bruk.
Amanya melompat tanah sambil menepuk nepuk tangan nya yang sedikit kotor. Tersenyum melihat pasar malam yang akan dia hampiri.
" Pasar di jaman kuno bagus juga, indah dan hiyasan nya apik apik. Tidak seperti pasar malam di jaman moderen yang di penuhi wahana wahana bermain saja " Ucap Amanya tersenyum girang.
Satu persatu Amanya datangi orang orang penjual makanan yang tidak pernah dia coba sebelum nya di dunia moderen.
Amanya tersenyum girang saat merasa kan makanan nya yang sangat enak dan gurih, cadar yang dia pakai menghambat makan nya, alhasil di buka begitu saja dan lanjut makan.
__ADS_1
Seketika hening..
Hanya Amanya yang terlihat santai memakan makanan nya, orang orang tampak tertegun saat melihat wajah Amanya, namun sang empu malah terlihat santai seperti tidak perduli, sebenar nya Amanya bukan tidak perduli, tapi tidak sadar dengan situasi.
" Bibi, makanan nya enak banget, aku mau bungkus lima lagi ya " Ucap Amanya tersenyum manis.
Orang orang yang melihat nya semakin terpana, juga ikut senyum saat melihat Amanya senyum.
" Boleh Nona cantik " Ucap Bibi penjual tersenyum manis.
Amanya tampak binging, sedetik kemudian Amanya melirik kain penutup wajah nya yang tergeletak di lantai, seketika wajah Amanya menjadi panik, buru buru Amanya mengambil kain penutup itu, dan memakai nya.
" Bibi udah belum? " Tanya Amanya panik, ingin buru buru pergi saat tau orang orang di sekeliling sudah menatap diri nya.
Bibi itu memberikan bungkusan makanan kepada Amanya, buru buru Amanya bayar, dan pergi, tanpa tau jumlah uang yang dia berikan kepada Bibi tersebut.
" Eh, nona! Ini terlalu banyak! " Ucap Bibi itu, yang sama sekali tak di gubris oleh Amanya.
Sesampai nya di balik bangunan, suasana tampak gelap dan sunyi, Amanya ngos ngosan sambil membuka cadar nya. Nafas nya terasa tersendat, dan tenggorokan nya seret, ingin sekali Amanya minum, tapi gak mungkin Amanya kembali ke pasar itu lagi.
" Minum lah, lari dari orang orang juga butuh tenaga " Ucap Seorang pria bercadar, eh tunggu.. apa wanita ya? Tapi suara nya seperti pria.
" Maaf, anda laki laki bukan? " Tanya Amanya memastikan, sebab rambut orang di depan nya ini panjang, bahkan hampir sama panjang nya dengan milik nya, tidak.. mungkin memang sama.
Alis orang itu naik seperti bingung dengan pertanyaan ku, memang kedengaran nya sih konyol, tapi untuk orang moderen seperti Amanya apa hal itu bisa di sebut konyol? Ini pertanyaan yang wajar, sebab manusia di depan nya ini terlihat seperti seorang wanita.
" Aku seorang Pria, bagaimana bisa kau bertanya seperti itu? " Tanya nya heran.
" Rambut kau panjang, baju kau pun tidak terlihat seperti seorang pria, emm.. baju model apa ini? Model nya sama dengan Ayah ku gunakan, aneh dan kuno.. emm, laki laki biasanya kan pakai celana " Ucap Amanya polos.
Dia seperti nya sudah melupakan fakta, bahwa tanah yang dia pijak sekarang adalah daratan kuno.
Pria tersebut tertawa, " Kau berasal dari mana? Iya memang yang kau bilang itu benar, tapi untuk orang orang agung hal ini di wajib kan, untuk memperhatikan sopan santun " Ucap Pria itu yang nada bicara nya mulai santai.
__ADS_1
" Emm.. kau berarti orang agung seperti ayah ku " Ucap Amanya meminum air di dalam gelas yang di berikan pria tersebut.
" Iya " Jawab nya membenar kan.
Kami duduk di tanah sambil senderan di dinding bangunan.
" Oh, jadi nama mu siapa? " Tanya Amanya penasaran.
" Eren.. Hyukaning Eren.. Putra Mahkota Kerajaan Devandes, kerajaan tetangga. Aku mampir ke sini karna baru pulang dari berperang, siapa sangka aku bertemu dengan gadis cantik nan ceroboh seperti mu " Ucap Eren terkekeh gali mengingat kejadian di pasar tadi.
Yah, Eren juga melihat kejadian memalukan di pasar tadi.
Amanya kaget, menatap mata pria di samping nya yang ternyata adalah calon suami nya sendiri, seketika Amanya terdiam.
" Dan kau sendiri? Siapa nama mu? " Tanya Eren, menatap lekat wajah cantik Amanya yang sangat menenang kan bagi nya.
" Amanya, Putri perdana mentri Kerajaan ini " Jawab Amanya tanpa melirik, Amanya berharap pria di samping nya ini tidak tau kabar bahwa diri nya akan di rekomendasi kan menjadi istri nya.
Pria itu tampak mengangguk santai, " Ternyata kau gadis yang akan di hodoh kan dengan Adik ku " Ucap Pria itu tersenyum.
Amanya menghela nafas, " Dan aku tidak mau jadi selir! Kau faham kan? Cita cita ku sedari dulu adalah mempunyai satu suami, yang akan menjadi milik ku sampai akhir hayat ku. Tapi siapa sangka nasip ku akan seperti ini " Tidak, itu bukan akting, semua itu Amanya ucap kan tulus dari dalam hati nya.
Amanya memang tidak mau di madu, apa lagi menjadi harem suami nya sendiri, tanpa menyandang istri sah! Buat apa wajah cantik nya selama ini kalau hanya bisa jadi selir?
Eren terdiam, menatap wajah Amanya yang tampak tak bersemangat lagi.
" Apa kau ingin bebas dari perjodohan ini? " Tanya Pangeran Eren tersenyum lembut, seperti mendapat angin segar untuk Amanya.
" Kau bisa? " Tanya Amanya tersenyum manis.
" Tentu, namun sebagai ganti nya, kau menjadi istri ku "
Seketika Amanya terdiam.
__ADS_1
Tbc