
“Bagiku kejam, eh gak deng… tapi sangat-sangat kejam.”
“ dan lebih parah lagi tak memberikan anaknya pakaian yang layak.” Mendekati isi pakaian yang tak sengaja terlihat oleh matanya.
“eh tapi yang baju aku gunatkan walaupun udah sobek tapi masih bagus” herannya
Dan ia ingat bahwa baju yang ia pakai sekarang ini adalah hadiah dari Emma.
“pantas saja bagus” gumam Lea melanjutkan menyapu setiap ruangan.
30 menit Lea menyapu ruangan
“Dah belles, balu bisa disebut lumah belsih”
Melihat setiap sisi ruangan yang ia bersihkan
“Dia adikku?”
“Bayi yang telah merenggut nyawa mommiy”
“melihat kedua tangannya yang mengcengkram Pundak Lea.”
“Gue ingin menyakiti dia, tapi sesuatu menahan tangan gue untuk berhenti.”
Menatap kosong
Ketika ia mengingat kembali wajah Lea satu kata “Cantik” terbesik dihatinya sama seperti mendiang momminya.
Memikirkan kembali pertemuannya dengan Lea Nampak tangan kurus mungil,
lamunannya buyar mendengar seseorang memanggilnya.
“bang Revan” laura menepuk pundak
“Hmmm” dehem Revan kaget menutupinya dengan wajah dinginnya
Mengerenyutkan dahinya bingung merasa aneh dengan abangnya yang terlihat berbeda, tatapannya sendu yang ia lihat dari kejauhan saat ingin mendekati abangnya tapi lihatlah sekarang raut wajahnya dingin kembali.
Apakah ada masalah disekolah, tapi mengenyahkan hal itu, bangnya kuat mana mungkin karena masalah sekolah.
Dulu pun abangnya pernah diganggu hanya karena pendiam, tapi meraka yang membully abangnya berakhir di Rumah Sakit. Satu kata untuk mereka “salah memilih lawan”.
“Ada apa” tanya Revan
“Eeh, ga Cuma ingin menyapa bang”
Revan hanya menatap sekilas Laura
“Looh bang, pistolnya kok--” sebelum menyelesaikan kata-katanya Revan berlari mengambil pistolnya yang tergeletak
Laura berpura-pura kaget padahal ia sudah melihatnya dari awal abangnya yang melempar pistol kesayangannya.
Meninggalkan Laura sendiri
Laura menatap abangnya aneh seperti menghindari sesuatu.
Biar nanti ia tanyakan pada body goard apa yang sebenarnya terjadi sebelum dirinya dating, pikirnya.
“Aku belasah jadi penculi deh” dengan mengendap-endap setelah cukup jauh dari Gudang yang disebut rumah oleh tubuh yang ia tempati sekarang ini.
Lea menghentikan langkahnya seketika ia sudah berharap memakan buah yang banyak-banyak tapi apa daya semua hanya sebatas hayalannya saja yang dipatahkan oleh kenyataan karena melihat banyaknya body goard yang berjaga di sekitar taman.
Lea pun berbalik arah dengan sedikit berlari, tak sengaja kakinya menginjak sesuatu yang membuatnya masuk ke perangkap jaring hingga menariknya keatas pohon.
Sreeettt
Bruukkk
“Aaaaaduuuhh… Oloongg… Seruuu” teriaknya reflek kaget
Derap langkah kaki mulai terdengar dari arah belakang
Leon terbangun dari tidurnya di meja setelah menandatangani berkas-berkas kantor
Melihat jam waktu menunjukan pukul waktu 12 siang, tak tersa ia tertidur lelap, rasa lelahnya hilang tapi tidak dengan kekosongan yang ada di hatinya
__ADS_1
Melangkah keluar dari ruangan pribadinya dengan wajah dingin yang disertai tatapan tajam ciri khas keluarga Wiston
Membuat para bodyguard yang berjaga serempak menundukan pandangannya dengan sedikit bergetar merasakan aura dari tuannya cukup membuat mereka merasa tertekan dan merasa tercekik.
Leon membangun taman disertai dengan begai macam buah-buahan karena tahu istrinya menyukai perkebunan
Mengingat masa lalu senyum terukir di bibirnya
Melihat para maid mebersihkan kebun, ada yang menyiram dan memetic buah
Diposisi para maid begitu kaget dengan kehadiran tuannya di perkebunan sehingga menghentikan aktivitas mereka
Leon yang melihat tatapan mereka yang tertuju padanya
“Lanjutkan pekerjaan kalian dan berhenti menatapku” sarkasnya
Membuat mereka melanjutkan perkerjaan mereka
Leon melangkah menuju ayunan kegemaran istrinya dulu, memegangnya lamunannya buyar mendengar suara berisisk di balik pembatas kebunnya yang tertutupi pohon-pohon rimbun.
Sreeekk
Bruuukk
“Aaaaaa Oloong Aduhhh”
“Anak kecil” gumammnya, bingung melangkah mendekati asal suara
Melihat pergerakan tuannya body goard yang berjaga ditaman mendekati langkah tuannya
Emma mengejakan banyak tugas selain di dapur
Sekarang ia bertugas membersihkan kolam renang dengan maid lainnya
“Apa kau tidak aneh dengan kepala mansion yang ditugaskan tuan Leon” Rina
Rina, maid gemar bergosip terpercaya di kediaman Wiston
Emma terdiam “akupun merasa curiga padanya”
“ Heeii aku berbicara denganmu Emma!”
“apa kau tau waktu kemarin tuan Leon memberikan ia uang yang tak sedikit, aku tak sengaja lewat dan mendengar percakapan mereka”
“Apa?” penasaran
“Aku hanya mendengarnya sedikit, tuan mengatakan belikan bahan pokok makanan dan pakaian.”
“Hanya itu yang kudengar, dan kauu tau saat tuan Leon meninggalkannya ia mencium uang itu dan disimpan di dompetnya.”
“Aku curiga ia tak memberikan uang nya dengan benar, entah untuk siapa?”
“Apa mungkin” gumamnya yang masih terdengar oleh Rina
“Apa?” penasaran Rina
Tak jauh dating seorang laki-laki berusia 30 tahun yang tengah digosipkan Ana menghampiri mereka
“ Kalian ingin bekerja atau bergosip, daritadi kulihat kalian mengobrol, mau kupotong gaji”
“Eh maaf pak Robin, ini juga mau dikerjain, ya ga Emma” kaget Rina
“Hmm iya” angguk Emma
Robin pun meninggalkan mereka
“Kenapa orang jahat selalu Panjang umur” dengus Rina
“Maksudmu?” bingung Emma
“Kata orang sunda kalua kita lagi ngomongin seseorang terus orang yang diobrolin dating artinya Panjang umur.”
Emma menggeleng
“Itu hanya sekedar katanya, belum tentu” melanjutkan membersihkan kolam renang
__ADS_1
Tapi ia tatap memimikirkan perkataan Rina
Arvin terbangun dari tidurnya terduduk memegang kepalanya yang terasa pusing.
Mengambil air minum yang sudah tersedia di sampingnya
“Hari minggu” gumammnya
Memutuskan mengambil handpone dan membuka aplikasi whatsapp
Vin ngumpul yuk
Iya ni, gue bosen sambil main game
Café?
Kali ini di mansion
Wah gue otw
Otw
Otw
Mematikan handpone melangkah keluar
Memanggil salah satu maid
“Siapkan makanan ringan diruang tamu” melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban
Maid yang disuruh terdiam kaku menghebuskan nafasnya
“Seram” menyiapkan apa yang disuruh tuan mudanya
Laura setelah ditinggal pergi abangnya duduk di ruang tamu posisi tidur
Arvin yang melihatnya menggeleng
“Lo ga main?”
Sementara Laura mendengar suara abang keduanya menatap Arvin
“Malas mending diam dirumah”
“Pindah sana”
“Apa sih dating-datang ngusir”
“Oh, eh seru kak Devin dating juga dong”
serunya seenang
Arvin membuka bola matanya malas, ia tau
adiknya ini menyukai salah satu temannya
“Hmm”
“Gue mau disini aja deh” senengnya
“Serah jangan ganggu”
“Okey”
Lea yang masih tergantung didalam jarring
perangkap
“cucah kelual” mencoba keluar dengan terus bergerak
“Hiks oolong” teriaknya sekali lagi memegang perutnya yang terasa melilit
“Hiks hiks sakiit”
Leon sampai dengan beberapa bodyguard gemetar mungkinkah dia putrinya yang ia lupakan dan ia buang, dan ia pun bergegas berlari kedalam mansion diikuti para bodyguard
__ADS_1
Dengan pikiran yang berkecamuk
Leon memeluk erat Lea memasuki mansion dengan jantung yang berdetak lebih kencang melihat wajah Lea yang berubah semakin pucat