
Dengan pikiran yang berkecamuk
Leon memeluk erat Lea memasuki mansion dengan jantung yang berdetak lebih kencang melihat wajah Lea yang berubah semakin pucat
“CEPAT PANGGIL DOKTER” teriaknya
Salah satu maid yang mendengarnya langsung melaksanakan perintah tuannya
Sedangkan Arvin dan Laura yang berada di ruang tamu kaget mendengar suara daddynya
Meraka saling pandang dan berlari keasal suara
Leon menaiki lift menuju kamarnya berlari terburu-buru
Mebuat pada bodyguard yang bekerja disekitarnya menunduk serempak
Sampai didepan kamarnya “BUKAA” titahnya menatap tajam para bodyguard
Salah satu bodyguard membukakan pintu dengan bergetar takut
Memberingkan tubuh Lea dikasurnya perlahan dan mengusap halus surai Lea lalu mengecupnya
Keberadaan mansion Wiston memang cukup jauh dari jalan raya, Leon sengaja membangun mansion jauh dari hiruk pikuk asap kendaraan hanya mengikuti permintaan sang istri yang begitu menyukai Susana ASRI, tapi ia pun tak mengabaikan masalah kesehatan, Laon memiliki dokter pribadi tak jauh dari kediaman Wiston, kebetulah salah satu sahabatnya
Richard Stevano baru saja dating memasuki mansion melangkah masuk menuju kamar Leon, setelah mendapat telpon dari maid di kediaman Wiston
Arvin dan Laura menuju lift kebetulan Richard muncul sedikit berlari menahan lift dengan tangannya
Membuat Arvin dan Laura memandang Richard dengan heran
Richard yang dipandang mencoba menjelaskan “saya dipanggil daddy kalian, siapa yang sakit?”
“Maksudnya siapa om? Ga ada yang sakit juga?” Laura
Arvin hanya diam malas bicara
“Mungkin abang kalian Revan”
“Dia ga sakit om Richard, sehat malah”
Ting
Pintu lift terbuka menghentikan pembicaraan
Richard berjalan terburu-buru membuka pintu
Leon melihat kearah belakang
“Kau lambat, cepat periksa” tekannya dengan wajah yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja, sedikit pucat melihat kondisi Lea yang belum terbangun
Richard menatap seorang gasid kecil yang terbaring di Kasur king size mirip mendiang Raisa istri Leon, ia menganyahkan hal itu, bukankah putri bungsu Leon yang telah meninggal, langsung memeriksa Lea
Arvin dan Laura yang baru sampai melihat kearah gadis kecil yang sedang diperiksa
__ADS_1
“D-dad, siapa dia?”
mirip batinnya Arvin terdiam menatap wajah Lea rindu sosok ibunya telah terbayar dengan melihat wajah Lea dengan air mata menetes melangkah mendekat
“Dad-“ perkataannya terhenti
“Keluar” Leon menatap Arvin dan Laura
“Dad, aku hanya-“
“Keluar” tekannya
Ingi nsekali ia memeluk tubuh mungil yang tertidur itu, rasa rindunya akan terobati hanya dengan melihat wajah Lea. Tapi ia tak bisa membantah perkataan Leon pernah sekali dalam hidupnya membantah dan ia mendapat hukuman 20 cambukan rasanya sangat sakit
Melangkah mundur diikuti Laura
Laura mengepalkan tangannya kuat hingga kuku jarinya menusuk kulit
Entah apa yang ia pikirkan
Leon menyuruh mereka keluar karena ia tak ingin diganggu
Ia hanya ingin menanyakan banyak hal tentang kesehatan gadis kecil yang terbaring tak lain adalah put
rinya kepada Richard
Setelah selesai memeriksa Lea
Revann yang baru saja sampai ia hanya melatih dirinya melamiaska rasa yg berkecamuk di hatinya
Baru saja kakinya melangkah masuk suara bell berbunyi
Membuat maid yang tak erada jaiiuh dari sana membuk pintu dan mempesilahkan teman-teman arvin masuk
Arvin turun dari tanggga tak mengunakan lift tak terasa ikiranna hanya terbayang gadis kecil di kamar daddynya
Ema tak sengaja berpapasan dengan tuan mudanya
Megerutksn dahinya biggungmelihat wakah yg basanya dingin terlihat sedih melanjutjan memasuki dapur
“ema gue ada berita terbaru loh, terpercaya no tipu-tipu”
Malas meldeni teman sefrofesinyaini melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti
“dengerin deh lo tau gak-“
“gak”
“is lo mah jangan di otong dulu”
“tadi tuan leaon bawa anak peremuan digendonganya loh”
Nona seketika menhentikan ktiitas mencuci piring
__ADS_1
“dan lo tau wajah dinginnya berubah waktu dia gendng anka kecil itu.kaya anik gitu di tambah dia manggil dokter pribadinya”
“anak kecilnya mungkin sakit ya? Tapi miripsama lea kalo gue liat sekilas”
"Eh mana mungkin tuan lean mau ngakuin anaknya secara dia smdiri yg buang lea tingggal di gudang ya gak?”
Nina melangkah terburu buru keluar khawatir dengan lea ingin melihatnya di gudang ia ingat lea tengah menahan lapar,meninggalkan rina dengan gerutunya.
“ck bisanya gue masih cerita ditingggal”
“bagaimana kondisinya?”leon khawatir
richard menhela nafas mencium kening lea merasa sedih dengan keadaan gadis kecil yg tertidur seusai menyuntikan obat
“dia harus di infus,ditambah punya penyakit lambung dari gejala yg gue periksa mungkin dia sering telat makan di tambah gizinya kurang baik.”
Membuat lean terdiam mencerna semua perkataan ricard.
“gue saranin bawa dia keruah sakit guna siperiksa lebih lanjut untuk skarang biarin ia istirahat disini”
Menatap leon
“lo ketemu dimana?”
Mengabaikan perkataan sahabatnya melangkah keluar dengan amarah yang membuncah.
“ROBIN SIALAN”teriakan lean cukupmembuat bodyguard kaget.
“BAWA BEDEBAH ITU KEHADAPAN SAYA SEKARANG.”
10 bodyguard langsung melaksanakan perintah Leon
Revan melihat para bodyguard yang turundati tanggan dengan terburu buru mengerutkan dahinya binggung
Tak auh berbeda dengan arvin yang baru saja sampai meliahat bodyguard daddynaya terburu buru, menatapteman-temanya sudah datang dududk di ruang tamu.
“ada apa nih?”bisik gilang
Devin menata gilang dengan wajah datarnya
”ish lo mah gak asik”mengaruk tenggkuknya yaang tak gatal”
“lo udah tau devin begitu sifatnya masih diganggu”aksa
“ya maaf”gilang
Sedangkan bima menahan tawanya
“tawa mah tawa aja kali”medenggus kesal
Arvin menhampiri teman temanya
Jangan lupa vote
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak