Wisata Terakhir

Wisata Terakhir
CAFE FAVORIT


__ADS_3

*KRING* Bunyi bel pintu berbunyi saat seorang wanita cantik berkulit putih susu masuk. Dengan warepack yang keren ia berjalan ke taman taman dan mengambil beberapa peralatan berkebun.


*kreek* ia menebang batang pohon yang menjulang ke bawah.


"Di mana dia, apakah dia sudah mati?" kata wanita yang dipanggil Hana sambil mencoba menelepon seseorang.


"Dia akan menelepon nanti" jawab temannya


"Ya, dia pasti sibuk menyiapkan lagu untuk bandnya"


"apa?dia udah punya band sekarang?apa dia sudah menekan kontrak dengan agensi?"


"Ya, sekarang dia akan menjadi terkenal aaaaa aku sangat bangga" teriaknya sambil melompat-lompat kegirangan. "Ohh tunggu dia nelpon.. "halo vin, kamu pergi kemana aku mencarimu, kamu tidak merindukan aku?"


"Aku tunggu di cafe biasa sekarang" jawab Evin.. suami Hana. Mereka adalah pasangan muda yang sudah menikah.


“oke tunggu sebentar, aku akan berlari secepat kilat”


...----------------...


Ada hal-hal yang muncul meski tidak disambut baik. Hal-hal ini selalu datang sekaligus tanpa peringatan. Kami menyebutnya keberuntungan atau kemalangan.


...


Musik klasik menemani hari para penikmat kopi. Evin sudah menunggu di meja favorit hana. Hana dan Evin duduk berhadapan dengan ice latte mereka. "Aku sudah siap mendengar semua ceritamu. Tapi sebelum itu cium aku" kata Hana dengan wajah manisnya sambil menepuk lesung pipitnya.


Tapi.. evin berkata "Aku ingin kita bercerai" sambil mengeluarkan surat yang sudah ditandatangani Evin.


"Apa? Tunggu, pendengaranku pasti terganggu, aku tidak bisa mendengarmu. Bisa kamu bicara pelan-pelan?"


"Kamu tidak salah dengar, aku tidak bisa tinggal bersamamu lagi" dengan wajah datar dia menatap Hana dengan sinis. Tangan kecil Hana mulai gemetar mendengar ucapan Evin yang tiba-tiba.


"Kalau kamu bercanda, itu sudah cukup vin. Aku sudah hampir marah."

__ADS_1


"Aku sudah sangat ingin menceraikanmu, aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku tidak mungkin membuat keputusan ini tanpa berpikir."


Air mata Hana mulai terbendung tapi dia masih berusaha untuk mempertahankan senyumnya. Dia tidak bisa mempercayainya. Kemarin mereka masih baik-baik saja. "Tidak, aku tidak mau. Kamu tidak boleh seperti ini."


Dia sangat kesal, tiba-tiba Hana menampar pipi Evin di kafe, semua orang memperhatikannya. Tapi hana tidak peduli, dia menangis dan pergi. Hatinya seperti disambar petir, Hana menangis seperti anak kecil di tengah jalan.


...


Hana terus berjalan hingga malam. Dan malam itu dia melewati jalan yang pernah dia lalui bersama. Terlihat lampu jalan yang berkedip-kedip.


"Beberapa kemalangan tidak dapat dipercaya, aku berharap dia akan menjadi aku di kehidupan selanjutnya." Ucap hati hana.


...----------------...


"Kamu ingin berpisah? Apa yang kamu lihat? mengapa kamu tertawa? Apakah kamu menyukai wanita lain?" kata hana sambil melihat foto mereka di bingkai yang di tempel dinding. Bergumam seolah berbicara dengan evin seperti orang tak waras.


Dia ingin tahu kenapa tiba-tiba suaminya itu berubah, saking penasarannya pagi hari dia menunggu evin di depan studionya diam diam, lalu ia melihat evin keluar mengikuti kemana suaminya itu pergi.


Hana segera mengikuti mereka masuk. Dia bersandar dan mengintip di lubang pintu untuk mendengar percakapan mereka. Tapi mereka berbicara dengan sangat pelan dan tidak didengar oleh hana.


"Apa rencana kamu sekarang? Kamu ingin aku yang menjawabnya? Lagipula kenapa kamu tidak memberi tahu Hana saja?" kata wanita itu seperti mencurigakan


"Lalu jika aku memberitahumu?" kata evin dengan ekspresi sedih.


"apa yang mereka bicarakan, katakan lebih keras" bisik hana. *bruukkk* wanita itu membawa barang-barangnya dan tiba-tiba membuka pintu hingga hana terdorong dan jatuh.


"Hana?" kata evin dengan terkejut.


"Ohh kamu datang untuk mengambil barang-barangmu" kata Hana dengan wajah malu-malu. Evin hanya melongo melihat kelakuan aneh istrinya itu. "Mau kemana? Mau pindah? Pindah ke mana? Apa sangat jauh?" hana bertanya sambil menahan air matanya, dia masih tidak percaya dengan situasi ini, tapi dia masih ingin mendengar alasan evin.


"Tanganmu berdarah" kata Evin


“Bisakah kamu menyekanya untukku? Kan dari dulu kamu cuma kamu yang selalu membersihkan darahku ketika aku terluka”, dengan terbata-bata, hana mencoba mengucapkan kata-kata yang mungkin akan meluluhkan hatinya lagi. Kemudian Evin mengambil beberapa tisu, dan hanya meletakkannya di genggaman tangan Hana. Sejak hari itu Evin tidak pernah lagi menatap wajah Hana dengan lembut, dia berubah begitu saja.

__ADS_1


“Aku tidak akan datang lagi, mulai sekarang aku akan melupakanmu” batin Hana


...


Satu hari.. dua hari.. sudah dua minggu. Hana terus menggedor pintu studio Evin. Pagi dan malam dia terus datang tanpa putus asa. "eviiin" dia berteriak keras di pintu.


Suatu hari dia berjongkok di depan pintu studionya. Evin membuka pintunya "hana, apa yang kamu lakukan disini?" tanya evin


"Kenapa kamu tidak menemuiku, padahal kamu tau aku sudah menunggu"


“Karna kamu selalu datang selarut ini, seperti ini. Kamu berteriak seperti orang gila”


"ayo bicara" dengan nada lembut hana mencoba meredam amarah evin


“Berapa kali aku harus mengatakannya, aku sudah mengatakannya berkali-kali setiap kali kamu muncul seperti ini. Kita sudah pisah"


“Kamu hanya selalu mengatakan hal yang sama. kamu baru saja mengatakannya, ayo kita cerai, hana cukup, berhenti, kita sudah bercerai, hanya itu yang kamu katakan. Apa kamu berkencan dengan wanita lain? Kenapa kamu tidak menjawab?....baiklah, kamu tidak perlu menjawab, aku tak mau mendengarnya."


"Jangan datang lagi, karena aku tidak akan berada di sini lagi. Aku mohon" Evin sama sekali tidak terguncang, dia tidak peduli dengan semua yang hana lakukan. Dia terus mengucapkan kata-kata yang menyakitinya.


"mohon? Jangan lakukan ini vin, jangan seperti ini. Jangan menatapku seperti ini, kenapa kamu menatapku seolah-olah aku adalah sampah yang sulit kamu buang? Seperti aku sangat mengganggumu?" teriak hana dengan suara gemetar dan menangis.


Hana pergi, tapi evin membiarkannya begitu saja setelah menusuk hatinya dalam-dalam.


Hana tidak mengerti dengan keadaan ini, hubungan yang sudah mereka jalani selama bertahun-tahun, hampir kandas tanpa alasan, tanpa penjelasan apapun. Hana tidak bisa melepaskannya begitu saja, dia bahkan tidak tahu di mana letak kesalahannya.


...


Malam hari ini lampu di jalan kecil itu masih berkedip. hana teringat saat evin sedang membantunya mengganti bola lampu yang sering rusak di dekat rumahnya itu.


“hati-hati” kata hana sambil memegangi tangga yang dinaiki evin. Evin pernah berkata “selesai. Sekarang jalannya sudah terang. Hana, ketika jalan yang kamu lewati atau kehidupan yang kamu alami terasa gelap, kamu tidak perlu khawatir. Kamu hanya perlu tahu bahwa kamu penerangnya, aku akan membuat kamu selalu secerah ini.” Ucapnya sambil memeluk erat istrinya.


Mereka berdua pernah saling mencintai, tidak peduli apapun yang terjadi mereka tidak pernah goyah. “Tapi hari ini kenapa dia berubah? Dia seperti orang asing. Aku tidak mengenalnya lagi. Apa karena rasa itu sudah habis? Atau ini hanya penipuan diri sendiri? Kenapa dia tidak memberiku sedikit waktu? Semakin aku mencoba melepaskannya, semakin aku menginginkannya. Dia harus membuatku membencinya, kurasa dengan begitu aku akan merasa lebih baik.” Kini kenangan itu hanyalah bayangan semata.

__ADS_1


__ADS_2