Wisata Terakhir

Wisata Terakhir
WAKTU YANG TEPAT


__ADS_3

"Tidak peduli seberapa keras aku mencoba, hasilnya akan selalu sama. Kemalangan ini, aku harus bisa menerimanya."


Sinar matahari yang menembus jendela kamar Hana telah membangunkannya. "ah kenapa terang sekali. baiklah, mulai hari ini aku tidak akan menemuinya lagi, tidak akan pernah" gumamnya sambil melihat foto mesra mereka berdua di layar ponselnya. Tiba-tiba nomor tak dikenal menelpon hana.


"Halo"


"Apakah benar dengan Hana dan Evin?"


"Ya"


“Kami dari travel pariwisata Pulau Sipora, tanggal yang sudah Anda tentukan adalah tiga hari dari keberangkatan. Semua kebutuhan bisa Anda persiapkan mulai sekarang.”


"Oh iya.. terimakasih infonya"


"Terima kasih telah mendaftar, kami akan mengirimkan tempat dan jadwal melalui email"


Hari ini seharusnya menjadi berita paling membahagiakan bagi mereka berdua. Namun kali ini, kabar tersebut menjadi kabar buruk yang membuatnya sedih.


...


Tanpa disadari ia langsung berlari menemui evin di studionya dan menceritakan apa yang terjadi tadi pagi. Dia mengulangi semua percakapan yang dia lakukan di telepon dengan kegembiraan dan antusiasme. Tetapi..


"Jangan konyol Han, kita ini sudah cerai," kata Evin sambil mengemasi barang-barangnya seperti mau pindah rumah.


"Tidak, aku bahkan tidak menandatangani surat itu, kita belum resmi bercerai."


"Tapi aku tidak ingin pergi denganmu. Aku tidak ingin bepergian dengan mantan istriku."


“Tapi kamu berjanji pada ulang tahun pernikahan kita. kita akan pergi berlibur bersama.”


"Itu dulu waktu kita belum bercerai, jangan keras kepala, sekarang situasinya telah berubah"

__ADS_1


Hana meraih tangan Evin dan menatap matanya dalam-dalam seolah memohon. Evin langsung membeku. "Bukankah ini waktu yang tepat, aku tidak akan mengganggumu di sana. Aku hanya ingin melakukan perjalanan ini. kita hanya akan pergi begitu saja tanpa melakukan apa-apa" Hana bertekad dan memaksa Evin untuk pergi bersamanya.


"Ini untuk pasangan. Aku tidak ingin kita berpura-pura menjalin hubungan."


"Aku akan pergi, apapun yang terjadi aku akan pergi"


"Baiklah, pergilah dengan yang lain" tolaknya sambil menghela nafas, Evin yang mulai kesal dengan tingkah Hana.


“Tapi namamu tercantum di sana, aku tidak mungkin pergi dengan orang lain. Vin.. dengarkan aku.. aku butuh waktu, aku sedang mencoba memahamimu, aku selalu mencoba melihat sisi hatimu setiap saat. Kali ini kamu harus mencobanya untukku. Nanti aku sms kamu soal waktu dan tempatnya." Hana segera berbalik dan pergi. Evin terdiam mendengar perkataan Hana, kata-kata yang menyentuh hatinya.


...


Pagi-pagi sekali Hana sudah sampai di bandara, sudah banyak orang datang yang juga merupakan peserta dalam tur itu. Mereka semua sangat bersemangat dan penuh kegembiraan. Hana yang datang sendiri hanya bisa menatap kemesraan mereka. ia harus tetap percaya diri hana harus tetap terlihat bahagia. Beberapa orang menanyakan keberadaan suaminya. Tapi hana tidak mengatakan bahwa suaminya tidak akan datang. Dia hanya menjawab "mungkin dia terlambat", "kalau terlambat dia akan menyusul langsung ke sana", itulah kata-kata yang dia buat untuk menenangkan dan menghibur dirinya sendiri. Hana sudah mempersiapkan perjalanan ini dengan matang, dia bahkan membawa banyak keperluannya, berdandan, dan memakai baju baru.


Dia tidak ingin mengecewakan siapa pun, bahkan dirinya sendiri.


"Evin.. kamu benar-benar tidak akan datang?" pikirnya. Dia mencoba meneleponnya, sialnya ternyata ponselnya tertinggal di rumah. Ini benar-benar nasib buruk. Lima menit lagi mereka akan berangkat, ia tidak bisa pulang hanya untuk mengambilnya.


Hana sangat gugup dan bingung "oh itu.. sebenarnya.. dia.."


"Dia langsung menyusul ke sana kan, apa dia bekerja di sana?" salah satu peserta memotong ucapan hana.


Karena dalam situasi itu hana hanya bisa berkata "ah iya".


Kemudian mereka pergi tanpa evin.


...


setelah berjam-jam penerbangan mereka sampai di pulau dengan selamat, semua peserta heboh dan berteriak hore!!! Tapi hana hanya menunduk dan berjalan seperti tak berdaya.


Kemudian seorang pria mendekati Hana dan berkata, "Kamu datang sendiri?"

__ADS_1


"Maaf, aku lagi tidak ingin berbicara dengan siapa pun"


"Oh pak, kami di sini" salah satu staf memanggil pria itu. "Perkenalkan pemandu wisata kami, pak Yejun"


"Halo semuanya, selama lima hari ke depan saya akan menemani kalian semua dalam perjalanan ini, aku mau kita semua lebih akrab. kali boleh memanggil saya yejun. semoga kalian semua bersenang-senang"


"terima kasih" ucap peserta tur.


Hana sangat malu karena pria yang dia pikir sedang menggodanya adalah pemandu wisatanya.


Dalam perjalanan ke hotel orang-orang bertanya tentang kapan suaminya akan datang, apakah Anda yakin dia akan datang. Mereka mungkin merasa kasihan melihat hana pergi sendirian. Namun pertanyaan itu sedikit mengganggu nya. Yejun yang melihat hana di desak oleh pertanyaan-pertanyaan itu merasa tak tega. Hana tak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya ke kaca sambil menahan tangis. Lalu yejun menghampirinya dan duduk disampingnya. “kamu mual?ni..” kata yejun sambil memberinya minuman.


“oh makasih, tapi aku baik-baik aja”. Hana terheran melihat sikap yejun yang perhatian padanya. “andai saja evin yang melakukan ini”batinnya.


...


Hamparan pasir pantai tergeser oleh angin kencang. Air laut yang biru memantulkan sinar matahari, hijaunya pegunungan yang berdiri tegak, dan suara burung yang bersiul menyambut kedatangan mereka.


Hotel berkelas yang mereka tinggali sangat mewah dan indah. Interior dan karya estetika banyak yang ditampilkan di sana. Para wisatawan tampak berjalan-jalan untuk melihat keindahan alam sekitar. Seseorang mengambil beberapa foto mesra dan karya-karya, membuat video kegiatan mereka berdua, tapi hana hanya berdiri di sana dan terus melihat ke pintu luar "apakah dia akan datang" pikir hana. Setelah melakukan reservasi, Yejun memeriksa semua kehadiran peserta, “Oke semuanya, kita sudah sampai. Tunggu sebentar biar aku periksa.. kamu hana?”


"Ya"


"Maaf, aku hanya ingin memastikan, apakah suami kamu tidak datang?"


"Sebenarnya.. aku pikir dia tidak akan datang" .. orang-orang di sana sangat terkejut, begitu juga Yejun. Seketika dia menjadi pusat perhatian. tangannya gemetar, ia sangat gugup menyadari suaminya tak mungkin datang.


Tiba-tiba terdengar suara roda koper berjalan ke arahnya. "Aku datang, maaf aku terlambat" Hana menoleh dan melihat Evin sampai di hotel, “pak evin?” tanya pemandu


“iya evin, dia evin, dia suamiku” kata hana dengan penuh semangat.


ekspresi murungnya langsung berubah menjadi berseri-seri. Yejun hanya mengangguk karna terheran melihat wajah Hana seperti orang yang berbeda setelah suaminya datang. Meskipun Evin tampak tidak senang, dan masih tetap memasang wajah datarnya. Tapi bagi Hana itu sudah cukup, kehadirannya sudah cukup untuk membuatnya bahagia. seperti tidak terjadi apa-apa hana terus menatap wajah evin sambil bertanya padanya. Tapi Evin tidak menjawab sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2