Witchcraft Land

Witchcraft Land
BAB 5(BLACK)


__ADS_3

Warning: typo,alur gajelas.


Happy reading


Sihir,kekuatan, dan yang lainnya?!


Mungkin kau akan gila jika kau sendiri yang datang ke sini!


Tapi percayalah, jika kau datang ketempat ini, kau tak akan menyesal seumur hidup mu!


Kau tertarik?


Lonicatesa


Aku disini. Berjalan mengelilingi aula tempat kami makan. Aku ke sini untuk sarapan.tentunya.


Ku lihat segerombolan manusia yang sedang sarapan sambil mengobrol. Aku mendekat ke arah mereka, dan yah... di sana ada Hinata dan Tenten.


"Ino, duduk. " baru aku sampai di hadapan mereka, tenten langsung menarik ku duduk. "Sabar Ten, baru saja aku sampai" aku memutar bola mata malas.


"He he he, kau sih... lama sekali." Tenten berucap sambil menyondorkan napan yang berisikan segelas susu, Telur mata sapi, roti, dan selai. Melihat nya saja sudah membuat perut ku bersorak menanti datang nya makanan itu.


"Oh! Terima kasih." Aku hendak memulai sarapan ku dengan segelas susu lebih dahulu.


"Kenapa kau lama sekali?" Ku lirik Naruto yang sedang meminum jus jeruk. Dia menatap penuh tanya pada ku


"Entahlah, tadi malam aku sulit untuk tidur" aku hanya berucap cuek sambil melanjutkan sarapan ku.


Aku melanjutkan makan ku, sambil sesekali menanggapi cerita mereka


Mereka berceloteh ria-ralat- hanya kiba dan naruto yang berceloteh, sedangkan Sasuke dan Neji hanya berwajah datar, Tenten sesekali tertawa menanggapi mereka dan hinata dengan wajah memerah nya.


'Teng....Teng....Teng'


Itu....hm... bunyi nya seperti bunyi jam tetapi sebenarnya itu adalah tanda bahwa pelajaran akan di mulai.


"Ayo, kita awali pagi ini dengan semangat!yosh!" Naruto berdiri sambil meninjukan tangan kanan nya ke arah atas, bertanda bahwa dia siap untuk memulai pelajaran.


Aku terkekeh kecil dibuatnya. Kami bangkit berdiri dan berjalan menuju kelas kami masing-masing.


Kalau tidak salah jadwal ku sama seperti Hinata Dan Tenten. Walaupun aku tidak tau yang mana kelas nya.


Sejarah.


Jadwal pertama pagi ini.


"Ck. Dobe. Pelajaran pertama kita adalah tentang Hewan dan Tumbuhan sihir. Apa kau masih mau bersemangat?" Aku melirik Kiba yang tadi berbicara. Kulihat wajah nya lebih berbinar daripada Naruto. Dan Naruto malah sebalik nya. Wajah nya menjadi tampak lesuh dan tidak bersemangat.


"Hahaha.. mana semangat mu tadi Naruto?" Tenten menatapnya seolah mengolok. Aku semakin ingin terbahak melihat reaksinya.


Tak terasa kami sampai di depan ruangan yang cukup luas. " jadi, kami deluan yah" ujar Tenten sambil tersenyum manis lalu memasuki ruangan.


"Ka-kami delu-an." Hinata mengulang ucapan Tenten terbata dengan pipi bersemu. Uhh ingin rasanya ku cubit pipi gembil itu.


"Ya.. Sampai bertemu nanti Hinata" Naruto menyengir yang di hadiahi tatapan membunuh oleh Neji.


Aku hanya tersenyum singkat kearah ke4 pria di depan ku lalu menyusul Tenten Dan Hinata.


End ino pov


Sunyi.


Itu lah keadaan kelas sejarah pagi ini. Di meja masing-masing siswa telah tersedia buku yang tebal nya sejengkal balita. Ino mendengarkan dengan seksama pelajaran yang di ajarkan oleh Iruka-Sensei.


Seingatnya dulu dia sangat membenci pelajaran sejarah. Tapi entah setan apa yang datang pada nya, hingga sekarang dia sangat antusias untuk pelajaran tersebut.


Beda lagi dengan seluruh penjuru kelas. Ada yang telah tertidur, Menatap bosan, berhayal, dan sebagainya. Hey! Hanya dia dan hinata yang benar-benar menyimak.


Sungguh kelas ini membuat Ino  sangat tertarik. Yang di pelajari bukan sejarah Jepang, melainkan sejarah tentang leluhur penyihir, bagaimana sekolah ini didirikan, dan jenis-jenis cakra.


Ini hal baru bagi nya, oleh karena itu dia menyukainya.


"Jadi, begitu sejarah terjadinya pemecahan sihir menjadi sihir hitam dan-" Iruka terdiam saat mendapati hanya dua mahluk hidup yang masih fokus pada nya saat ini.


Ino dan Hinata bersipandangan lalu kembali menatap ke arah Iruka-Sensei.


"Nona dan tuan, selain Nona Hyuga dan Nona Senju. Saya minta kalian semua meringkas sejarah tentang sihir hitam dan putih. Dan Tugas ini HARUS sudah di kumpul BESOK PAGI di ruangan saya"


Secara ajaib, seluruh murid mengangkat kepala dengan ekspresi yang wow!


Dengan rasa tidak bersalah Iruka-Sensei keluar dari ruangan menyisakan keheningan yang melanda kelas sejarah pagi ini.


Yah, begitulah. Guru sejarah memang selalu mengasyikkan bukan???


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


WITCHCRAFT LAND.


"Huahhh! Iruka-sensei jahat sekali!" Seru Tenten saat mereka sudah sampai di kamar.


Yang benar saja? Bukankah dia yang dengan lancang nya tidur di jam pelajaran sejarah? Yahh mau tak mau dia harus dapat ganjaran untuk itu .


"Hihihi. Kau sih Ten, tidur seenaknya." Ino tertawa renyah dan Hinata hanya menanggapi dengan senyuman.


"Hahahahaha! " Ino masih saja tidak berhenti menertawakan Tenten.


"Hei... sudah Ino. Lebih baik kita mandi. Lalu menuju aula untuk makan malam" Hinata menengahi mereka sambil berjalan lebih dulu ke kamar mandi.


"Iyah iyah." Ino berjalan kearah lemari nya yang ada di samping jendela.


Sekilas dia melihat bayangan melintas dari kaca jendela. Dia berjalan ke jendela sambil melirik sisi kiri kanan jendela tersebut.  Ino yakin , dia benar-benar melihat bayangan itu.


Tapi masa iya ada yang lewat. Jelas-jelas kamar nya ini di lantai 3. Apa sungguhan orang?  Bukan kah dunia ini berbeda dengan dunia nya, jadi mungkinkan jika ada orang yang bisa terbang? Tapi jika pun itu manusia, apa yang dia lakukan disini?


Pikiran Ino berkemucuk memikirkan segala kemungkinan hingga tidak menyadari bahwa Hinata memanggil-manggilnya.


"Ino! Apa yang kau pikirkan?


Hinata menghampiri Ino yang tersentak karena kedatangannya.


"Ti-tidak! Tidak memikirkan apa-apa. Hei, kau sudah selesai mandi?" Ino mengalihkan pembicaraan sambil melihat rambut Hinata yang basah.


"Sudah mulai tadi ino. Aku tadi menyuruh mu untuk mandi, tapi kau malah melamun. Jadi, Tenten mandi duluan. " Hinata menjelaskan sambil mengeringkan rambutnya dengan Handuk dan tak menyadari bahwa Ino kembali sibuk dengan pemikirannya.


"Mungkin aku terlalu lelah hari ini." , yakin ino pada dirinya sendiri. Walaupun dia tidak merasa lelah sedikitpun.


Ino yang melihat tenten keluar dari kamar mandi langsung mengambil pakaian nya dan masuk kekamar mandi. Dia butuh merilekskan pikiran.


"Kita malam ini mau makan apa?" Tenten bertanya saat mereka sampai di aula.


Tapi belum lagi mereka duduk sesuatu lewat dari atas kepala mereka.


"Pesan dari Kepala sekolah. Setelah jam makan malam selesia, seluruh murid segera berkumpul di Aula Utama. Dan jangan lupa bawa Tongkat Sihir kalian"  cukup dengan itu, tanpa memberikan kesempatan untuk murid bertanya lebih lanjut, Sizune kembali terbang entah kemana (?).


Dan para murid pun mulai berbisik-bisik tentang kejadian tersebut.  Ino menatap kesekeliling lalu matanya tertuju kepada dua teman sekamarnya.


"Apa selalu seperti ini??" Ino bertanya sambil mereka berjalan untuk mengambil makan malam.


"Tidak. Baru kali ini" jawab Tenten dengan raut yang sulit di baca.


"Firasat ku buruk. Apa yang sebenarnya terjadi??"


Itu suara pemikiran Hinata. Sangat jelas terdengar, gadis itu tengah khawatir.


Tentu saja Ino mendengarnya.  Melihat situasi yang mendadak, memang sangat mencurigakan jika tidak terjadi apa-apa.


Ino memilih bungkam dan mungkin lebih baik dia makan saja. Tapi suasana makan kali ini beda seperti yang kemarin malam.


Jika kemarin malam para murid melalui makan malam dengan candaan atau gelak tawa, maka malam ini sangat sunyi. Hanya terdengar beberapa bisikan.


Mata Ino memandang sekeliling lagi dan tanpa sengaja dia menatap satu dari beberapa pria yang duduk di sebrang sana. Pria itu bermata onyx dan memiliki rambut berwarna Hitam kebiruan.


'Uchiha Sasuke!'


Ino ingat. Itu Uchiha Sasuke. Dan teman-temannya.  Mereka terlihat tengah terlibat dalam pembicaraan serius.


Seketika Onyx itu menatap tepat di Aquamarine nya.


Ino mengerjit kaget. Lantaran ketauan sedang memelototi orang.


Dia memilih melanjutkan makan nya dalam diam.


Mereka telah selesai makan. Dan sekarang mereka akan menuju kamar untuk mengambil tongkat sihir. Belum lagi mereka berdiri dari duduk, para pria sudah datang menghampiri mereka. Yah... Naruto dkk.


"Sebaiknya kalian langsung menuju aula utama saja. Jangan pergi kemana-mana. Setelah sampai disana bergabunglah dengan keramaian. Hindari tempat yang gelap. Biar kami yang mengambil tongkat sihir kalian" mereka terbengong mendengar ucapan panjang Neji. Yah benar. Hyuuga Neji.


"Ta-tapi kenapa?" Hinata menatap sepupunyaitu penuh tanya.


"Tidak ada apa-apa Hinata-Chan. Yang penting sekarang segeralah kalian pergi ke Aula utama. Dan katakan, dimana kalian letakan tongkat sihir kalian? Dan jangan lupa kunci kamar nya" Naruto menyodorkan tangan nya ke depan.


"Errr.. itu... tongkat sihir kami berada di atas meja belajar di samping lemari yang didekat jendela. Ini kuncinya" Tenten memberi intruksi lalu menyerahkan kunci kamar itu ke tangan Naruto.


Naruto menerima kunci itu lalu berbalik pergi mersama Teman-temannya. Neji, Sasuke, dan Kiba.


"Ya sudah. Lebih baik kita pergi ke Aula utama saja" kata Tenten memecah keheningan saat mereka memperhatikan ke4 pemuda itu sampai hilang dari pandangan mereka.


Hening

__ADS_1


"Yak!! Ada apa dengan kalian?! Ayo cepat!"


Tenten dengan paksa menarik tangan kedua teman nya yang hanya bengong menatap kosong depan mereka. Terlebih lagi Ino. Yang sejak tadi hanya terdiam.


.


.


.


.


.


.


.


.


WITCHCRAFT LAND


.


.


.


.


.


.


.


.


"Jadi. Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Ino yang berdiri di antara Hinata Dan Tenten. Dan mereka bertiga berdiri diantara puluhan murid yang sudah berkumpul. Sedang murid lain mungkin sedang di perjalanan.


"Huft. Aku tak tau. Lebih baik kita menunggu." Tenten hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Hinata pun tak jauh beda.


Tak lama kemudian, seluruh murid sudah berkumpul.


Dan yang membuat semakin bingung adalah para guru yang langsung menutup seluruh pintu dan jendela yang mengarah masuk ke Aula itu.


Seketika, Tak ada suara yang mengisi aula itu. Sunyi. Seperti tak berpenghuni. Sampai akhirnya Tsunade selaku kepala sekolah mulai berbicara di depan seluruh murid.


"Dengarkan dan simak baik-baik.  Aku mengumpulkan kalian di sini karena ada masalah serius. Jadi tolong perhatikan. Kemarin malam, Para Sensei yang memiliki Cakra tipe sensor merasakan bahwa ada sihir hitam yang masuk ke wilayah Sekolah ini." Tsunade menjelaskan dan kemudian menghela nafas.


"Bagaimana mungkin?"


"Mustahil"


"Bukankah patung Guardian menjaga sekolah ini?"


"Mungkin saja patung itu rusak"


Dan bisik-bisik mulai berterbangan di Aula itu. Dan yang Ino lihat di depan sana bahwa  Tsunade sedang memijit pelipisnya. Dan beberapa Guru menghampirinya untuk sebuah pembicaraan serius.


Pukk


Ino melonjak kaget saat seseorang menepuk bahunya. Dia segera menolah kebelakang dan mendapati Sasuke yang menyodorkan sebuah Tongkat sihir kearah nya.


Ino menerima Tongkat itu .


"Te-terima kasih" dengan gugup. Siapa yang tidak gugup jika ditatapi sepasang Onyx yang terlihat mengintimidasi?


"Hn"


Oh..! Apa dia serius? Hanya itu?


'Ck. Sudah lah Ino. Lupakan saja'


Tsunade kembali menarik perhatian seluruh murid.


"Jadi kami memanggil kalian ke sini agar kalian terhindar dari sihir hitam. Apa lagi tongkat kalian. Bisa saja sihir hitam masuk ke tongkat sihir dan menguasai kalian. Dan malam ini semua murid bermalam di sini. Nanti Para sensei akan membagikan kantong tidur. Jadi, masih ada yang kurang jelas?"


Sebuah tangan mengacuh ke Udara. Semua mata menatap ke arah pemilik tangan itu.


Kiba.


"Apa yang ingin di katakan dia?" Naruto berbisik lirih menatap Kiba yang dengan percaya dirinya mengacungkan tangan.


"Apa yang ingin kau tanyakan Tuan Inuzuka?" Tsunade hanya menatap malas seolah tidak penting.


"Bagaimana dengan Akamaru? Maksud ku dengan Hewan-hewan sihir?" Benar saja. Memang itu hal yang penting. Tapi haruskah saat begini dia...


"Di pikiran nya hanya Anjing itu saja" celutuk Naruto malas.


Hanya memikirkan Hewan.


Tbc.


Itu aja dari saya.


Bye..bye..

__ADS_1


Sampai ketemu chap depan😊


__ADS_2