
Lahirnya anak laki laki ditengah keluarga kami sungguh membuat suka cita luar biasa buat semua keluarga, terlebih buat suami dan aku. Rasanya plong, terkadang kalau ada kumpul kumpul keluarga pasti ditanya "anak berapa?, yang laki laki berapa?", walaupun cuma seorang anak laki laki yang pastinya sangat bersyukur. Ayah mertua juga sangat senang setidaknya diusianya yang sudah senja ini, sebelum akhir hayat nya dia sudah tahu bahwa sudah ada penerus marganya, sampai berlinang air mata dan langsung datang untuk menjenguk cucunya yang baru lahir.
Pertumbuhan anak ku yang baru lahir ini sungguh kubersyukur sehat, berat badan naik banyak, tidak rewel, dan aku pun bisa tenang dan memulihkan tenaga pasca melahirkan, anak anak ku yang pertama dan kedua sudah bisa mengerjakan tugas rumah, nyuci, masak, nyapu. Aku pun tidak kewalahan seperti sebelum sebelumnya ketika melahirkan anak 1,2,3.
Walaupun pemulihan pasca melahirkan sangat panjang hampir 1 bulan, sering pusing pusing, tidak kuat jalan dan berdiri lama lama, mungkin karena usia melahirkan sudah 40 tahun, semua lancar karena anak anak sudah pada mandiri.
Banyak dukungan doa dan materi yang kami dapatkan baik keluarga, tetangga, dan teman baik atas lahirnya anak laki laki kami ini, sungguh suka cita yang luar biasa.
Suami pun lambat laun bisa berubah dan mulai terbuka pikiran nya untuk lebih perhatian dan peduli kepada istrinya. Daripada sebelumnya nya ketika aku hamil 3 bulan suami dengan teganya bisa menambah lagi koleksi burung nya yaitu, burung Murai, belakangan kutahu harganya 2 juta sebelumnya suami pernah punya burung murai batu, tetapi mati karena di gigit tikus.
Kali ini burung murai nya agak mahalan karena suami beli yang anakan, baru lahir 1 bulan keistimewaan nya bisa dilatih untuk bersiul dengan nyaring.
"Kok agak lama pulang kerjanya? tanyaku kepada suami karena biasanya suami pulang kerja tepat waktu paling selisih 10-15 menit dari pulang jam kerja, kali ini selisih 2 jam.
"Iya, jemput ini tadi dari rumah teman" jawabnya sambil memindahkan burung yang tadinya di dalam kardus sekarang di pindah ke sangkar kosong.
"Baru lagi" tanyaku penuh tanda tanya
"Ditawari murah tadi sama kawan, lagi butuh uang dia" jawabnya dengan penuh hati hati takut aku marah
Lagi lagi aku hanya diam, begitulah suamiku mana peduli dia mengenai aku, dibulan ketiga kehamilan ku aku mengalami mual, muntah apa apa tidak ada yang masuk dalam tubuhku, terkadang aku lemas karena tidak ada makanan dalam perut ku karena semua sudah dimuntahkan.
Bukannya memberikan aku asupan nutrisi berupa susu hamil, menambah jatah uang bulanan aku kek, alasan selalu bilang tidak ada duit, kalau aku minta selalu bertanya " Yang kemarin ku kasih sudah habis?" selalu itu yang dia bilang.
Sekarang malah beli burung mahal tanpa konfirmasi kepadaku, seandainya konfirmasi pasti lah tak kuizinkan, itulah mungkin penyebab dia tidak izin dulu sama aku.
"Mengapa harus dimasukkan kerumah burung nya?" tanya ku kepada suami, karena setiap malam burung itu selalu dipindah dimasukkan kedalam rumah, padahal rumah sudah ada satpam komplek, pagar sudah di tutup tidak mungkinkan burung dicuri gumanku dalam hati.
__ADS_1
"Burung mahal" suami menjawab dengan keceplosan.
"Emang beli berapa?"aku terus mencoba menyelidiki
"2 juta" suami menjawab
" Kok bisa mahal" tanya ku pura pura tidak menunjukkan ekspresi marah
"Burung anakan, baru lahir 1 bulan, kalau anakan gampang di latih untuk bersiul merdu" jawabnya antusias
"oh" ku hanya manggut manggut
Kalau aku jahat dan kesal harusny sudah kubalaskan sakit hatiku kepada burung, bisa saja aku meracuni nya ketika suami sedang kerja atau tidak di rumah, tetapi karena aku masih waras, tidak mungkin aku balaskan sakit hatiku kepada burung.
Aku hanya diam saja tidak terlalu menggerutu, aku tidak mau kejadian sebelum sebelumnya karena tidak ridho akhirnya burungnya, matilah di gigit tikus, terbang hampir sudah 3 ekor. Burung sudah dibeli seharga 2 juta, sayang kalau mati atau di curi. Malah beli lagi nanti yang lebih mahal.
Aku pikir itu pasti harganya mahal, karena yang biasa saja, suami pernah cerita dia beli 200 ribu, sekarang yang ukurannya besar, pengaitnya juga besar seperti di ukir ukir pasti mahal banget harganya gumanku dalam hati.
"Ada lagi yang baru" jawabku pura pura senyum tidak menunjukkan kekesalan.
"Iya, kredit dari Ali" jawab suami tanpa rasa bersalah
Ali adalah teman kerja suami, Ali bisa memberikan pinjaman kredit apa saja sesuai permintaan konsumen, Kali ini suami minta kredit untuk beli sangkar burung.
"Emang kenapa rupanya sangkar lama?" tanyaku kepada suami
" Sangkar lama sempit" jawab suami
__ADS_1
Burung murai yang baru dibeli suami sayap ekornya panjang, sangkar yang lama terlalu kecil, Kalau dia lagi ambil minum atau ambil makanan yang dibagian sudut, sayapnya suka nyangkut di celah celah sangkar itu, terkadang bulunya jadi rontok.
Apa yang bisa kuperbuat, aku hanya seorang istri yang tidak bekerja yang hanya tergantung dari pemberian suami. Mau protes pasti alasannya " daripada aku nongkrong nongkrong di warung, aku masih suami yang baik tidak suka keluyuran, selalu langsung pulang kerja" itulah segala ucapan dan pembelaan suami terhadap dirinya seolah-olah dia benar.
Entah gara gara apa suami tiba tiba marah, mungkin gara gara tingkah anak anak yang tidak sesuai keinginannya, suami malah menuduh aku "inilah kalau anak suka dimanja, ngajarinya terlalu lembek kalau susah susah diajari ngapain capek capek ngoceh atau teriak teriak, mendingan anak itu langsung ditampar biar jera, kalau tidak begitu, besok anak anak itu akan menginjak injak kamu" kata suami kepadaku dengan penuh emosi.
Lantas ngomong juga keanak anak" Kalau mau kau injak injak mamamu, injak injak lah situ, tetapi kalau sama aku kau gitukan ku hajar kau" maksudnya apa ngomong seperti itu. Menurut suami aku terlalu lembek ke anak anak, aku tidak mengajarkan yang baik baik kepada anak anak.
Aku kesal dengan anggapan suami seperti itu, mana ada seorang ibu mengajarkan yang tidak baik ke anak anaknya, memang aku tidak menghajar yang terlalu keras paling Cubit paha, teriak dan ngoceh berkepanjangan.
Entah pengajaran dari awal yang salah, makanya anak jadi keras dan pembangkang. Aku pun lantas menyangkal perkataan suami, kalau sudah marah suami ngomongnya jadi kasar dan ketus, paling pintar membuat orang sakit hati, dan karena aku juga protes mengenai sifatnya dia pun semakin marah dan hampir main pukul.
Aku pun langsung menangkis tangannya sambil berucap " hati hati kau bertindak ya, sekali kau buat aku sakit hati, jangan sampai aku keluar dari rumah ini, kalau aku sudah keluar dari rumah ini, sampai kapan pun aku tidak akan kembali".
Suamipun langsung menahan tumbukan tangan nya yang hampir saja mendarat di muka ku.
Lantas aku juga berucap" Apa kau menghargai ku, kau tidak tahu malu, apa kau pernah memberi sesuatu sama aku, satu gram emas pun tak pernah kau beri sama aku, padahal kau, beli burung sampai sudah berapa kali, coba kau hitung itu berapa sudah yang keluar kan untuk itu" aku penuh emosi dan air mata menyampaikan segala sakit hatiku kepada suami.
Dia pun hanya terdiam, masih terus berkeras. "Aku juga apa, Aku tidak pernah nongkrong di warung, aku tidak makan sembunyi sembunyi, kalau ada punjungan makanan dari tempat kerja terkadang ku bawa ke rumah, tidak malu malu nya aku bawanya, sabar lah kamu, nanti kan ada waktunya, kalau ekonomi kita membaik"
"Memang sih kamu baik di sisi itu, tetapi di sisi lain kamu egois, mana pernah kau peduli kan perasaan ku" ucapku membela diri.
Keributan kami sempat membuat Anak keempat kami yang sudah berumur 4 bulan menangis mendengar kami berantam hebat, kakak kakak nya juga hanya terdiam setelah semuanya kusuruh masuk ke kamar mereka.
Biasanya kalau kami berantam aku yang selalu mengalah dan menyudahinya. Prinsipnya kalau kami berantam pagi jangan sampai gelap tidak selesai, harus selesai sebelum gelap, kalau pas gelap atau malam berantam jangan sampai terang masalahnya, harus selesai sebelum pagi hari. Intinya masalah itu jangan sampai berhari-hari harus selesai hari itu juga.
Supaya tidak berkepanjangan aku mengalah, minta maaf, dan akhirnya kami bisa berdamai lagi.
__ADS_1